Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
68


__ADS_3

Di kedai bakso yang malam ini lumayan ramai itu,Gio menemani istrinya yang sedang menyantap bakso berukuran jumbo Ayana terlihat bahagia hanya dengan semangkuk bakso. membahagiakan Ayana tidak perlu berlebihan cukup beri dia santapan sederhana yang harganya tidak seberapa ini perempuan itu sudah sangat bahagia. Ayana sudah bergelimang kemewahan sejak ia kecil.setelah dewasa seperti sekarang ini dirinya tidak membutuhkan apa pun.Ayana hanya butuh kasih sayang dan perhatian dari lelaki yang menjadi pendampingnya.ia tidak butuh barang mewah Ayana sudah bosan dengan semua itu,bahkan hanya melihatnya saja.Ayana sudah malas.


"Pelan-pelan,yang.aku di sini kok gak kemana-mana." ucap Gio saat melihat sang istri begitu rusuh menyantap bakso.


"Enak,sedep banget ini sausnya di banyakin gini jadi tambah seger.dan uwahhh." ujar Ayana sembari mengipasi mulutnya.jika di pilem-pilem,mulut Ayana saat ini sedang mengeluarkan api. perempuan itu mengambil tisu untuk mengelap keringatnya.Ayana tersenyum pada Gio sembari mengelap ingusnya yang terdengar bunyi srottt,dengan bibir dower dan air mata beserta ingus yang sudah pada berontak keluar,sudah seperti balapan saja.


"Kira-kira dong yang,nanti di tegur orang." peringat Gio,ia melihat Kanan kiri takut-takut pengunjung lain terganggu akan suara ingus Ayana.


"Iya,Ayah." sahut Ayana lalu melanjutkan makannya.Gio hanya memandanginya sambil sesekali bermain ponsel.Gio tersenyum sembari menatapi Ayana. perempuan judes dan sombong bin galak itu kini sudah berubah menjadi perempuan sederhana,perempuan impian Gio.tapi sifatnya memang masih melekat dan kambuh sesekali.dulu Ayana selalu menolak makanan berlemak dan tidak sehat namun sekarang apa saja masuk ke dalam lambung perempuan itu.


"Habis ini mau kemana lagi?." tanya Gio saat Ayana sudah menghabiskan satu mangkuk bakso,dan sekarang sedang memakan kerupuk kemplang.


"Makan burger enak kali ya,jadi pengen.ke mukidi aja yuk abis ini." ajak Ayana membuat Gio menggeleng,perasaan bakso saja belum sampai ke lambung Ayana tapi sudah minta burger lagi.tapi tetap memaklumi.istrinya itu sedang menyusui dua bayi sekaligus sudah pasti porsi makannya banyak.


"Oke.habisin dulu kerupuknya.baru kita jalan." ucap Gio lalu ia pergi membayar semua Makanan Ayana.Gio memang tidak makan apa pun,karena ia sedang tidak berselera memakan bakso." loh udahan?." tanya Gio saat Ayana mengintil di belakangnya.


"Di makan di motor aja lah." jawabnya.Gio hanya mengangguk setuju saja.


"Siapa Gi,istri?." tanya Fikri yang bekerja di sana.salah satu teman Gio saat sekolah.


"Iya,Fik." jawab Gio.


"Dapet di mana?cantik banget bini lo." ucap Fikri sembari menatap Ayana yang sedang duduk tak jauh dari sana.


"Dari lotre,di warung teh Susi." jawab Gio bercanda.mendengar itu Ayana mendengus sebal dan mengunyah kerupuk dengan brutal.


"Hoki bener ya,padahal mah lotrenya cuma lima ratus perak dapatnya bidadari,gue juga pengen atuh.kuncinya apa Gi?" ujar Fikri dengan tawa renyahnya.


"Kuncinya lo harus ganteng dulu sih,baru bisa dapat yang begitu tuh." sahut Gio narsis seraya menunjuk istrinya.membuat Fikri terbahak.berbeda dengan Ayana yang memanyunkan bibirnya lalu komat-kamit memaki Gio,persis seperti dukun yang sedang membaca mantra.


"Iya juga sih,minimal ganteng lah ya." balas Fikri masih tertawa." Tapi kayanya ngempaninya gak susah ya Gi.bakso aja doyan dia."


"Nggak dong.botok ikan asin buatan ibu aja dia doyan kok Fik.gak susah sih apa aja mau.makanya gue perpanjang lah,kalau bisa sampe log out." sahut Gio.mendengar itu Ayana ikut terbahak apa lagi Fikri.


"Ck.lo kira gue SIM?pake di perpanjang segala." dumel Ayana ia menggigit kerupuk menyembunyikan tawanya.usai itu mereka langsung menuju mukidi.katanya Ayana ingin makan burger beserta embel-embelnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


"Yang." panggil Gio.saat mereka sudah berada di tempat yang di tuju.Ayana menoleh perempuan itu sedang membuka tasnya mencari tisu basah untuk membersihkan celananya yang terkena saus.


"Apa?" tanya Ayana.


"Perempuan yang tadi di lampu merah emang siapa?kamu kenal dia apa nggak?." tanya Gio akhirnya.jujur saja ia sedikit penasaran dengan perempuan itu.entah mengapa Gio seperti mengenalnya,namun tidak yakin akan hal itu.


"Oh,kamu penasaran ya? " sahut Ayana sembari mencolekan kentang goreng ke saus lalu memakannya terlebih dulu seraya menunggu jawaban Gio.


"Nggak sih.cuma nanya aja kamu kenal apa enggak.kok agak aneh gitu,kenapa dia ngelihatin kita dan ngelihatin aku kaya aneh banget?" ujar Gio.


"Amanda.mantan kamu itu." jawab Ayana mulutnya tidak diam tetap mengunyah apa pun yang ada di depannya.


Kening Gio yang glowing dan mengkilap paripurna itu mengerut,hingga alisnya bertaut." Mantan aku?emang aku punya mantan?."


"Mau aku jelasin?." tawar Ayana dengan tatapan horor menurut Gio.


Gio melihat wajah istrinya dan ia paham arti tatapan itu.kemudian menggeleng." Nggak usah.kalau pun emang mantan aku ya sudah biarin aja,toh aku juga gak peduli."


"Kenapa begitu?kan biar kamu gak penasaran siapa perempuan itu.siapa tahu setelah kamu ingat dia,gimana kalau ternyata dia begitu berarti buat kamu?." ucap Ayana dengan perasaan sakit tentu saja.


"Sayang,kalau pun itu benar mantan aku ya sudah biarin aja.lagian aku gak ingat juga sih.aku cuma nanya aja tadi bukan berarti penasaran." sahut Gio.


"Tapi dia cantik ya,Gi?" tanya Ayana.


Mulai nih mulai.


"Gak tahu,kan tadi gak lihat mukanya dengan jelas.perasaan biasa aja sih cantikan juga bundanya Mia dan si kembar." jawab Gio seraya menyeruput freshtea di depannya.


Ayana tak menjawab,pipinya malah bersemu dan ia langsung menunduk kemudian menyantap burgernya dengan cepat." Ih apa sih?kok gue kaya anak remaja aja." dumel Ayana dalam hati.


"Yang" panggil Gio.Ayana yang fokus makan burger pun mendongak padanya." Ada si tikus noh lagi antri." tunjuk Gio pada Jerrian yang sedang mengantri pesanan.


"Ngapain dia kesini?." ujar Ayana.


"Ini kan tempat umum." sahut Gio.


"Mau pindah tempat apa nggak?."tawar Ayana mengerti suaminya itu suka cemburuan sama seperti dirinya.


"Nggak ah mager.di sini aja udah enak banget,kita pura-pura gak lihat aja." ujar Gio.


Ayana menurut saja tak lagi mempedulikan apa pun.niatnya malam ini hanya ingin ngedate dengan Gio sepuasnya.semenjak kelahiran anak mereka yang kedua waktu untuk bersama jadi semakin berkurang. bahkan untuk hubungan suami istri saja mereka sudah sangat jarang melakukannya di karenakan Ayana yang sering kali kelelahan dan selalu tidur lebih dulu.Gio juga tidak berani untuk memaksa alhasil mereka mengurangi kegiatan menyenangkan itu.namun sekalinya terjadi akan lebih hot dari biasanya,kata Gio sih begitu pemirsah.



...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Waktu terus berjalan,hingga anak kembar Ayana dan Gio sudah berusia lima bulan. anak-anak mereka itu begitu tumbuh dengan pesat.tubuhnya gempal dan sangat aktif begitu menggemaskan.tiada hari tanpa Gio lewatkan untuk selalu mengucap sukur atas apa yang ia miliki dan dapatkan itu.Istri yang cantik dan pintar,juga anak-anak yang sehat dan menggemaskan.saat ini Gio tidak pernah meminta apa pun pada sang pencipta hanya meminta di berikan umur panjang dan kesehatan,supaya ia bisa terus mendampingi Ayana juga putra dan putrinya hingga mereka dewasa.


"Jadi gak ke Bali?." tanya Gio saat baru saja menududukan dirinya di samping sang istri.


"Kamunya juga gak libur-libur,sebel aku kerja mulu,kaya nggak,tipes iya." dumel Ayana sejak tadi ia sudah badmood pada Gio.

__ADS_1


"Iya juga ya,suami mbak Aya.ini malah tambah dewasa bukannya tambah kaya." Gio membalas candaan Ayana.meski ia tahu sang istri tidak sedang bercanda.


"Ish,aku serius loh,kalau kamu gak ada waktu ya uda gak usah jadi ke bali.kamu pacaran aja sana sama kerjaan Papah." sungut Ayana kesal.


Gio terkekeh pelan lalu memeluk istrinya dari samping." Iya-iya maaf ya cantik suamimu ini lagi banyak kerjaan,nanti aku bilang ke Papah ya." bujuk Gio.


Ayana tetap menepis tangan suaminya yang sudah melingkar di perutnya itu." Awas ih,gerah gak usah peluk-peluk." sewot Ayana.


"Galak amat sih,Mbak.padahal mah aku kangen tau,tiga hari gak ketemu berasa dua tahun." ujar Gio.pemuda tengil itu memang baru kembali dari Kalimantan menggantikan ayah mertuanya untuk menengok lahan di sana.rencananya Pak Frans akan membangun pabrik katanya di sana.


"Halah modus doang.kalau siang juga anak-anak telepon gak pernah di angkat. padahal anaknya nangis,tapi lebih mentingin kerjaan mulu." Ayana bersungut kesal ia masih sebal kepada Gio.


"Ya udah demo aja ke Papah.lagian aku kan udah di pecat sama Papah.jadi gak apa kalau kamu mau demo juga." ujar Gio membuat Ayana menoleh padanya dengan membalikan badan.


"Di pecat gimana maksud kamu?kamu udah gak kerja lagi sama Papah?kamu bikin kesalahan apa gimana?." cerocos Ayana bak bajay tanpa rem.


"Aku bilang ke Papah mau nikahi janda di kampung aku.itu loh sayang,yang rumahnya sebelahan sama mang Aris.eh niat baik aku malah di tolak dan berujung di pecat juga." sahut Gio santai sambil mengurut betisnya yang pegal.


"Eh,maksud kamu?" Ayana mengerjap beberapa kali ia tak paham.namun sejurus kemudian ia paham apa yang di katakan Gio." Minta di keplak emang kamu ini ya?niat baik apaan itu?."ucap Ayana sembari mencubit Gio.


"Aws,sakit atuh" ringis Gio dengan wajah tengilnya itu." Kan emang niat baik menolong yang kesusahan agar rejeki kita lancar." sahut Gio akhirnya.


"Itu kalau jandanya udah tua mah gak apa lah kalau macem si mbak itu mah,bukan menolong itu namanya.tapi napsu berkedok membantu.menolong?menolong si mbak yang kesepian,begitu maksud kamu?." tanya Ayana membuat Gio terbahak.


"Nggak sayang,aku bercanda." ujar Gio kemudian merogoh ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.dan ponsel Ayana pun bergetar pertanda ada nontif masuk ke ponselnya." Cek dulu." pinta Gio yang langsung di turuti oleh Ayana,dan tak lama perempuan itu terkejut kemudian menatap Gio.


"Gi,ini apa?." tanya Ayana sembari menunjuk ponselnya.


"Semua gaji aku.kamu yang pegang aja semua.itu Papah yang kasih kemarin katanya untuk bekal kita." jawab Gio.


Alis Ayana bertaut dirinya bingung akan ucapan Gio itu." Bekal?maksudnya?."


"Dua hari lagi kita akan pindah rumah."


"Kok?pindah kemana?maksud kamu kita akan pisah dengan Papah dan Mamah?." tanya Ayana dengan wajah luar biasa syok.


"He'em.kan aku udah pernah bilang ke kamu kalau aku pengennya mandiri.mau sekecil apa pun rumah kita,asal rumah sendiri pasti akan terasa lebih nyaman.dan sebesar apa pun rumah ini,ini tetap rumah orang tua kamu.aku gak mau selamanya tinggal di sini.numpang sama kamu.aku pengen sekarang kita belajar mandiri." ucap Gio membuat Ayana melongo menatapnya,ia tidak menyangka bahwa Gio benar-benar akan ucapannya pada waktu itu.Ayana pikir,Gio hanya asal berucap pada saat itu karena ada Althea yang selalu berkunjung kesana,dan membuatnya merasa tidak nyaman.


"Gio,jadi kita beneran mau pindah?aku kira waktu itu kamu gak serius.terus pindah ke mana?ke rumah Papah bukan?." tanya Ayana.


Gio mengangguk dan tersenyum lalu menarik Ayana agar duduk di pangkuannya." Kita akan pindah ke X sebelum kecelakaan aku beli rumah dengan cara kasbon ke Papah.aku renov ulang dan aku buat sesuai gaya kamu.aku banyak tanya-tanya ke Papah apa yang kamu suka dan tidak.aku puter otak gimana caranya supaya itu rumah jadi.eh malah kena musibah.alhasil kemarin itu terbengkalai.dan aku lanjutin lagi,dalam dua bulan ini udah kelar semua.kita tinggal nempatin." jelas Gio,Ayana hanya termangu mendengarkan suaminya itu bercerita.


"Kemarin Papah udah minta Pak Surya untuk mengurus surat-surat dan aku meminta atas nama kamu."


"Kok kamu gak bilang ke aku?kalau kamu bangun rumah,kan kalau bilang gak perlu kesusahan,aku bisa bantu kamu.gini-gini istrimu pernah kuliah ngambil arsitek.walau putus di tengah jalan dan pindah haluan ke bisnis manajemen." ujar Ayana sembari menatapi suaminya yang juga sedang menatapnya itu.


"Maaf.aku tadinya mau buat surprise pas kamu ulang tahun.tapi di pikir-pikir,gak usah lah nanti surprisenya yang lain aja." sahut Gio.


"Kadonya udah tiga,yang.anak-anak kan sama aja kado terindah buat aku.udah tua gini gak usah mikirin surprise-surprise.aku tuh cuma mikirin kebahagiaan kamu dan anak-anak aja kok.dan bagaimana caranya agar aku bisa mencari uang sebanyak-banyaknya untuk masa depan kita dan anak-anak kita." ujar Gio seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Ayana.


"Terus itu uang buat apa kok di kasih ke aku?" tanya Ayana.


"Buat belanja kebutuhan lah.buat kita dan anak-anak" jawab Gio.


"Tapi kamu gak pegang emang?."


"Pegang dikit.nyisahin buat bensin dan ongkos kalau lagi mendadak ada kerjaan."


"Tapi kamu gak perlu segininya banget Gi kok di kasih ke aku semua,emang gak takut aku abisin uangnya?."


"Kenapa musti takut?uang aku ya uang Kamu juga.jadi mau kamu abisin juga itu hak kamu.yang.tugas aku mencari dan mencukupi." ucap Gio membuat Ayana semakin bangga pada remaja yang sudah menjadi ayah itu.ternyata umur bukan patokan dari kedewasaan.Ayana bisa melihat Gio begitu dewasa dari umurnya padahal umurnya masih dua puluh tahun tapi pemikirannya sudah sangat luas. ternyata Gio bukan hanya mateng karbitan tapi mateng di pohon.


"Gio.aku bangga banget sama kamu,tahu?jadi pengen mangis." Ayana berbalik dan memeluk leher Gio dengan erat,bahkan air matanya sudah menggenang di pelupuk.ia melingkarkan kakinya juga di pinggang Gio dan menemplok seperti anak monyet.


"Apa lagi aku,aku tuh bangga banget punya Kaka." balas Gio.


"kaka?." tanya Ayana sembari mengurai pelukannya.


"Biar mengenang masa-masa jadi pengantin baru yang tersiksa.aku rindu masa-masa itu.dimana aku di judesin.di maki-maki,di katain kalau aku gak bisa muasin mbak-mbak yang katanya sudah sangat pro sekali dalam hal cocok tanam dan gak tahunya_"


"Cukup," potong Ayana.


"Gak tahunya Istri aku ini ternyata polos banget.gayanya aja sok paling pro,padahal mah mau keluar aja gak tahu caranya dan nanya dulu,aku mau pipi_hmpp." kalimat Gio terputus oleh ciuman Ayana,dari pada menunggu Gio yang terus mengoceh dan semakin mempermalukannya,lebih baik Ayana bungkam saja bibir penuh itu. berciuman lebih menyenangkan ketimbang mendengar ocehan Gio.


"Lanjut yang,gak tahan nih." bisik Gio saat ciuman mereka sudah panas.


"Ada Papah di sana." tunjuk Ayana pada halaman samping rumahnya,disana ada Frans yang sedang mengamati beberapa tanaman.


"Kita kan di sini,Papah gak lihat ini."bujuk Gio.


"Ya ud_ahhh." sahut Ayana terputus karena tangan Gio bandel.dan akhirnya permainan pendek itu berlangsung di ruangan itu.padahal itu tempat yoga Monica.untung saja mertua Gio itu sedang pergi Arisan jadi aman.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Usai jam pelajaran selesai,Gio pergi ke kedai kopi yang tidak jauh dari kampus itu di sana ia menikmati segelas kopi dan cake red Velvet kesukaannya.namun sesaat di buat terhenyak karena Sally duduk langsung di kursi yang ada depannya.


"Hai Gio.join gapapa ya?aku sendirian kebetulan." ucap Sally dengan wajah ramah beserta senyum manisnya.Gio melihat sekeliling kafe itu memang tampak ramai.


"Oh,boleh." jawab Gio datar.sebenarnya tentu saja tidak boleh.namun ia memilih cuek toh ia juga sedang bermain ponsel berbalas pesan dengan istrinya.

__ADS_1


"Makasih Gi,oh iya,minggu depan kaka aku mau menikah di hotel Maris deket MG itu.kamu datang ya,Ka Wenda kamu tau gak kaka senior?" ujar Sally sembari memberikan selembar undangan pada Gio.


"Oh.iya tahu pernah ketemu juga.iya kalau gak sibuk nanti datang bareng istri." balas Gio seraya mengambil undangan itu dan menaruhnya di tasnya.


"Sendiri aja Gi,sekalian bisa menikmati pestanya soalnya ada Syahrini dan Tulus loh.kamu kan suka sama Tulus." ujar Sally masih dengan bahasa yang halus di buat seenak mungkin untuk di dengar.


"Gak bisa kalau sendiri berasa gak enak aja gitu.kalau sama istri kan ada temen ngobrol." balas Gio.


"Sama aku aja jalannya bareng ke hotelnya soalnya aku juga gak ada temennya Gi. gapapa sesekali mah kita kan temen." ucap Sally cepat dengan wajah berharap.


Gio tak segera menjawab ia menatap Sally dan berpikir perempuan ini gila." Kalau gitu kamu cari orang lain aja Sall.aku gak bisa datang kalau gak bareng istri."


"Istri kamu ngintil mulu ya kemana pun?masa pergi gitu aja kamu gak bisa.kamu bilang aja kalau kamu mau kondangan ke senior kampus gitu,jadi istri kamu juga pasti paham lah.masa gak bisa ngertiin sih." Sally menatap Gio yang sedang mengunyah cake dengan gerakan lambat itu ia menjadi ketar-ketir apakah ucapannya menyinggung lelaki itu apa tidak." Ehm.Gi maaf maksud aku gak gitu." Sally meralat ucapannya,takut Gio tersinggung.


"Nggak,gapapa.tapi maaf aku gak bisa datang bilang sama ka Wenda ya." ujar Gio lalu berdiri dan membereskan barangnya akan segera ke kantor.


"Eh Gi,maaf loh.kamu marah sama aku?." tanya Sally sambil berdiri mengejar Gio.


"Kok marah?gue duluan Sall." pamit Gio sambil setengah berlari menuju motornya yang terparkir di depan kafe itu.


Sally menghentak kakinya ke lantai karena kesal.Gio itu susah sekali untuk di dekati. padahal ia sudah berusaha terlihat baik di depan lelaki itu.Sally harus bersikap bagaimana lagi supaya bisa mendapatkan perhatian Gio walau sedikit saja.


"Aku harus gimana coba,supaya bisa deket sama kamu?gak bisa milikin kamu seutuhnya gak apa apa.yang penting aku bisa ngerasain gimana rasanya bercinta dengan kamu,Gi.sukur-sukur benihmu numbuh." gumam Sally sembari melihat kepergian Gio.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


"Ish ganggu kesenangan orang aja." rutuk Gio seraya menjalankan motornya.padahal ia tadi suka sekali nongkrong di sana karena tempatnya juga nyaman dan cocok sekali.tapi malah ada dedemit itu yang mengganggunya.mau tak mau Gio harus cabut sebelum Sally mengoceh lebih banyak lagi.di perjalanan sebelum ke kantor Gio melihat ada wanita tua yang menjual jamu di kedai kecil.ia melihat si Emak penjualnya sudah tua dan renta.tak pikir panjang Gio memberhentikan motornya di pinggir jalan dan menghampiri si Emak.


"Mak,jual jambu?." tanya Gio padahal ia sudah melihat kalau si Emak itu jual jamu bukan jual diri,eh maksudnya jual besi.si Emak itu terkekeh menatap Gio.


"Jamu jang.jambu mah yang suka di rujak." ucapnya dengan tawanya.


"Eh iya,salah sebut saya Mak." cengir Gio." Saya mau kunyit asem dan,yang buat kebugaran istri itu loh Mak.biar kita semangat terus,Mak pasti ngerti dong."Gio mengedipkan matanya pada si Emak. membuat Emak Emak itu itu hampir meletoy.jika saja ia masih muda,mungkin saja Gio sudah di culiknya.


"Ada nih,ini jamu paling bagus andalan Mak.banyak pelanggan Mak yang balik lagi dan lagi.katanya kalau minum ini suaminya nempel mulu susah lepas." kata si Emak.


"Waduh Mak,yang biasa aja ada gak?nanti kalau saya susah lepas repot juga Mak nanti yang kerja siapa,terus anak dan istri saya makan apa dong?." cetus Gio sembari menggaruk kepalanya.


"Yang ini aja kalau gitu.ini bikin langsing juga dek.kalau yang ini suruh minum sesekali aja istrinya ya,biar menggigit." ucap si Emak


"Oke deh Mak.saya Beli tiga botol deh yang gak bisa lepas itu satu botol aja mau nyoba dulu." ujar Gio kemudian mengeluarkan dompetnya." Berapa Mak?." tanyanya.


"Murah kok dek.empat ratus lima puluh ribu aja." jawab si Emak.membuat kedua bola mata Gio hampir gelinding mendengarnya.


"Mak ini jamu terbuat dari apa kok mahal pisan?sampe opat ratus lima puluh rebu geningan?kira-kira wae atuh Mak?." Gio tak habis pikir akan harga jamu ini.sudah seharga kolornya saja pemirsah.


"Hih ari kamu mah jang.ini teh jamunya bahannya kualitas premium semua kunyitnya aja di impor dari india.jahenya dari china.asemnya asli dari Jawa, kencurnya asli dari Sunda.dan lainnya nanam sendiri sih." jelas si Emak itu dengan serius,sampai Gio di buat ternganga mendengarnya.luar biasa pikirnya.apa si Emak ini mengarang atau memang betul-betul.entah lah Gio tak mampu berkata-kata.


"Oke deh Mak.saya ambil,ini gak usah kembali buat Mak aja sisanya." ujar Gio sembari memberikan uang lima ratus ribu kepada si Emak.


"Eh gak usah jang.ambil aja kembaliannya. Mak gak butuh,Mak juga ada uang kok.gak susah-susah amat jang.biar tua-tua gini juga Mak ini dulunya mantan penari.duit tabungan Mak banyak,jadi sekarang tinggal menikamtinya aja." beber si Emak dan lagi-lagi membuat Gio tambah melongo seketika saja mentalnya ambruk ke tanah.


"Nih ambil aja buat jajan sekolah." kata si Emak seraya memberikan uang lima puluh ribu ke tangan Gio.


"Kayanya nini-nini kolot itu udah pikun deh. bukannya gue beli jamu untuk istri,terus kenapa malah bilang buat jajan sekolah?." rutuk Gio sembari menaiki motornya.


Kemudian Gio pergi dari sana dengan wajah yang terlihat memperihatinkan." Ampun gusti.gue salah sedekah.taunya gue lebih miskin dari itu nini-nini." ratap Gio sembari melajukan motornya.rupanya Gio kena mental pemirsah.Ayana yang sedang mengaduk puding buah untuk anak-anaknya terhenti mendengar suara ponselnya.ia memeriksanya rupanya itu pesan dari Gio.


...Brondong mesum...


[Yang,aku beli jamu untuk kamu,katanya ini bagus untuk merawat dan mengencangkan tempat lahir beta.nanti di minuman ya sayang]


^^^[Gak usah ngadi-ngadi.mana ada yang buat mengencangkan gitu,yang ada tuh cuma keset doang.emangnya aku udah gak kenceng lagi?]^^^


[Aduh gak gitu sayang.maksud aku tuh biar seru aja dan tambah uhh gitu lah]


^^^[Udah ah males]^^^


[Yang,jangan marah dong.ya udah jamunya aku kasih ibunya si Rehan aja ya kalau gitu?]


^^^[Ya jangan dong,bawa aja pulang.biar aku minum,sayang udah beli masa di kasih ke orang]^^^


[Ok ini jamunya]



Ayana tersenyum saat melihat gambar yang Gio kirimkan." Ganteng banget suami gue." pujinya dan mesem-mesem sendiri. Ayana pun kemudian mengirim fotonya juga hasil tadi di depan rumah.



Tak lama ada balasan pesan dari Gio.


[Siapa yang fotoin?]


^^^[Di fotoin ncus Titi pas tadi ke depan beli es kelapa]^^^


[Tunggu aku pulang.nanti kita cobain jamunya ya]


Pesan itu di sertai emot melet dan ketawa. Ayana tak membalasnya bisa panjang kalau sudah membahas urusan ranjang mah.

__ADS_1



...Bonus pas ayah lagi kuliah cuakepppnya😍...


__ADS_2