
Ini adalah malam minggu Ayana dan Gio sedang berada dalam perjalanan menuju rumah Frans,katanya mereka pengen menginap di sana.kebetulan ibu dan kaka Gio sudah kembali setelah dua minggu tinggal di rumah mereka.kemarin Ayana dan Gio ikut mengantarkan Mira dan Indri sekalian mencari sekolah yang sekiranya bagus dan cocok untuk Abilla Shena ponakan Gio.rupanya tidak terasa gadis kecil itu sudah mulai masuk TK.meski sebetulnya masih terlalu kecil untuk sekolah namun si gempal itu yang meminta untuk sekolah.lantaran di rumah sepi tidak ada teman.dan ibunya tidak memberikannya adik bayi,katanya.
"Setelah ngelihat Billa masuk sekolah dan ikut nganterin.aku jadi gak sabar pengen Jemi cepet sekolah juga." Ayana mengungkapkan apa yang dirasakannya sejak kemarin.ia merasa menjadi orang tua Billa.karena ia dan Gio yang mendaftarkan anak itu,Ayana juga yang membayar biaya uang pangkalnya juga untuk bulanannya hingga dua tahun ke depan.karena Billa sudah mereka anggap anak sendiri.
Gio hanya melirik sebentar kemudian fokus pada kemudinya." Kamu suka ngerasa gini gak sih Gi?kaya kehidupan itu cepet banget rasanya.nih ya,perasaan baru aja kemarin aku ngelahirin Jemi dengan seluruh tenagaku setengah mati,eh tau tau sekarang udah gede aja.bentar lagi sekolah dong,ya gak dek?"
Ayana menoleh ke belakang tersenyum pada anak sulungnya yang berada di belakang duduk anteng di sebalah adiknya Vindi.balita itu tak mersepon karena ia tak paham dan fokusnya memang hanya pada permen yang sedang di jilatinya itu." Adiknya juga pada cepet gedenya,heran." sambungnya.
"Jangan ngomongin itu yang.aku jadi ingat sama perjuangan kamu ngeluarin pala itu bocah.tuh kan jadi merinding aku" Gio melihat bulu di tanganya berdiri semua lantaran ia ngilu dan entahalah rasanya susah di jabarkan.
"Ayah lebay ya dek," Ayana terkikik sambil menciumi Raven yang sedang memegang dot di pangkuannya.
"Terserah lah ya mau di bilangnya apa,tapi demi kerang yang ada di dalam laut.saat itu tuh nyawaku juga serasa ikut ketarik." ujar Gio dengan wajah seriusnya.
"Aku rasa itu gak seberapa Gi,kalau di banding pas ngelahirin si kembar mah." Gio menoleh seketika namun ia tak bicara membiarkan Ayana melanjutkan kalimatnya." Kamu tau gak?rasanya itu kaya aku udah beda alam.aku ngerasa aku gak akan bisa ngelihat kamu lagi,aku ngerasa kaya hidup aku akan berakhir di sana.di ruang oprasi yang mengerikan itu kamu pasti juga ngerasa kan?kalau ruang oprasi itu dinginnya minta ampun?,"
"Gak tau,aku gak ngerasa." sahut Gio jujur kan pada saat ia masuk ruangan itu Gio dalam kedaan tidak sadar alias koma." Namanya ngelahirin itu walau caranya dengan beda tapi tetap aja taruhannya nyawa,yang," ujar Gio kemudian sembari tetap fokus pada jalanan.
"Iya,tapi bagi aku saat si kembar lahir ini yang serem banget mah.kamu bayangin saat itu aku dalam keadaan kacau.kamu masih sakit dan waktu itu kamu benci sama aku.di tambah aku takut banget sama jarum dan segala jenis benda yang tajam,saat itu aku bener-bener ngarasa kaya mau mati rasanya." di akhir kalimatnya Ayana sempat bergetar suaranya.dia mengingat betul dengan jelas hari di mana nyawanya hampir melayang.
Tak bicara tapi sebelah tangan kiri Gio menggenggam tangan kanan Ayana lalu membawanya pada bibirnya untuk ia kecup." Kan aku bilang kamu ini wanita hebat,kamu sangat sempurna,Sayang." dia menempelkan tangan itu pada pipi kirinya." Aku cinta kamu pake banget,jadi jangan di terusin lagi ceritanya bikin aku semakin ngerasa bersalah sama kamu.dan maaf untuk masa masa itu dan di masa terberat kamu aku tidak ada di sana.maafin aku Sayang."
"Sama sekali gak nyalahin kamu,itu semua kan takdir.aku lebih cinta sama kamu,Gi jadi jangan selingkuh ya?apa lagi kawin lagi.kalau sampe itu terjadi aku pastikan kamu akan aku buat nangis darah." ancam Ayana yang membuat Gio terkekeh.
"Iya,betewe makasih loh atas ungkapan cinta yang sangat sangat romantis ini.jujur aku terhura," kembali Gio terkekeh karena Ayana memukul tangannya.
"Udah fokus nyetir,noh Papah udah nulak pinggang nungguin cucunya pasti." tunjuk Ayana ke arah Frans yang sedang tolak pinggang di halaman rumah luas itu, sepertinya pria berkumis putih itu sedang menunggui mereka.mobil Gio terhenti di halaman rumah ia mematikan mesin mobilnya.lalu turun lebih dulu untuk mengambil alih Raven yang sedang tidur di pangkuan Ayana.ia membiarkan istrinya turun dengan bebas.dan menyalami tangan mertuanya dengan sopan.
"Loh pada tidur mereka," Frans membuka pintu tengah mobil Gio dan melihat cucunya sedang pada tepar.
"Belum lama sih itu tidurnya." ujar Ayana sembari membuka seatbelt carseats anaknya.ia di bantu oleh Frans untuk mengeluarkan kedua anaknya ke kamar.
"Lama banget gak lihat Den Gio,bibi kesepian di sini setelah kalian pindah," ujar Bi Narti saat menyajikan teh dan aneka minuman untuk majikan dan anak menantunya.
"Sehat sehat aja kan Bu?," tanya Gio.
"Alhamdulilah Den.sehat sehat aja." sahut Bi Narti." Oh iya,saya permisi mau nyiapin buat makan malam." lanjutnya undur diri.
Saat makan malam tiba mereka mengobrol sembari menyantap masakan Bi Narti yang hari ini menunya adalah olahan khas Manado.ikan cakalang super pedas,ayam rica rica.ayam suir kemangi,dan ikan bakar sambal dabu-dabu.tidak lupa Bi Narti juga menyajikan bubur Manado yang kaya akan sayur.Ayana dan Gio sangat menikmati ikan bakarnya yang gurih dan nikmat bahkan Jemia juga suka ikan tongkol bakar ini.hanya ini menunya yang bisa si kecil makan.karena semuanya indentik dengan cabai.
"Ingus Yang," bisik Gio pada istrinya.Ayana terkekeh lalu mengambil tisu dan mengelap ingusnya.sambal dabu-dabu ini memang pedasnya minta ampun campuran irisan cabai dan tomat juga sereh dan bawang merah.semuanya serba mentah lalu di siram dengan minyak panas wangi cabai yang khas langsung membuat napsu makan meningkat.
"Pedes banget,tapi enak ya?" ujar Ayana yang di angguki Gio yang sedang huh hah dengan bibir dowernya.bayangkan saja bibirnya yang tebal nan penuh itu jeding seketika.
"Gi,rencana kan Papah sama Mr Han mau buat Pabrik somil di daerah banten.nah kebetulan di sana kan kayunya masih banyak kaya di Pati dan Tegal kemarin. mungpung lagi musim panas begini nih orang-orang pasti pada jual kayu karena ngangkutnya gampang.coba kamu besok kesana dengan Jerrian.lihat dulu tempat yang lebih enak buat bangun lahannya dimana.soalnya Papah ada kunjungan ke Surabaya jadi minta kamu aja yang kesana." Ujar Frans setelah menyulut cerutunya.
Gio mengangguk usai menghembuskan asap rokonya.wes mangan ngudud kan wenak." Iya Pah," katanya.
"Emang Papah udah pernah ke daerah sana?" tanya Ayana ikut nimbrung usai meminta para mbak menemani anaknya main.
"Udah sekali.minggu lalu sempet kesana survey lokasi dan nyari tanah yang harganya miring.kalau di sisi jalan susah dapat harga yang standar.tinggi semua." sahut Frans.
"Oh jelas Papah kamu udah pernah kesana bahkan sering.mantan pacar Papah kan orang banten sana Ay.Anisah namanya orang pantai sana.katanya sih mantan terindahnya.tapi tetep tuh di tinggal kawin dia lebih memilih menikah sama nelayan ketimbang sama Papahmu yang kaya raya." Sindir Monica dari dapur seraya menyajikan puding dan pisang kipas kalimantan yang masih anget.
__ADS_1
Lantas Gio dan Ayana menoleh pada ibu mertuanya itu." Hah?serius,Mamah?" tanya Aya.
"Lah Mamah kamu kan suka ngawur orangnya." sahut Frans.
"Ngawur apanya?wong kamu tergila-gila kan sama mojang banten itu?sampe sampe rela ngeluarin biaya buat bangun rumah calon mertuamu itu.eh taunya gak jadi nikah.makanya kalau belum jadi itu gak usah berlebihan mentang-mentang kaya" sindir ibu mertua Gio.
"Aduh,Papah pengen istirahat dulu." Frans mengundurkan diri ia berdiri dari duduk enaknya." Besok kita ngobrol lagi Gi." ujarnya kemudian berlalu begitu saja.
Ayana dan Gio hanya menahan tawa melihat tingkah aki aki itu.ada ada saja mereka itu masih membahas mantan pacar yang sudah puluhan tahun.untuk apa pikir Gio,karana hanya akan menimbulkan pertengkaran.wajar lah Gi istrimu kan juga gitu.
"Dasar aki aki baperan." rutuk Monica lalu menyusul suaminya ke kamar.
Gio berdecak dan terkekeh ia geli sendiri dan mulai berpikir apakah mereka juga akan seperti itu ketika tua nanti." Kayanya emang perempuan mah rata-rata begitu ya.bahas terus sampe tua.gak heran sih sekarang aku paham." ucap Gio membuat Ayana memicing merasa tersentil akan ucapan Gio.
"Maksudnya?"
"Ha?A_ah.nggak itu.ke kamar yuk anak-anak mau bobo kali." Gio buru-buru berdiri menghampiri anaknya yang berada di ruang tv.
"Apa dia mau bilang kalau gue nurun dari Mamah ya?." gumam Ayana heran sendiri dan sepertinya ia sedikit tersadar akan sikapnya selama ini yang suka mengungkit dan membahas mantan dan masa lalu hingga Gio gumoh.
...πππππππ...
Keesokan paginya Gio sudah siap akan pergi ke daerah banten.jujur saja meski ia tidak suka jika harus pergi bersama Jerrian tapi karena ini soal perkerjaan.dan atas suruhan Frans bisa apa dia selain menurut saja.jika di tanya suka atau tidak bersama Jerrian si tikus itu.jawabannya tentu saja Gio akan menjawab ia lebih suka dan memilih pergi sendiri.
"Ayah hati-hati disana,kabarin terus sama kita ya.nanti beli ikan ya Gi," ujar Ayana seraya memeluk suaminya dengan wajah mendongak ke atas.
Gio menunduk dan mengecup ujung hidung lancip istrinya." Iya,aku mau beli cumi nanti kita bikin cumi pete ya."
"Siap.hati-hati Sayang.kalau ngantuk istirahat dan gantian aja sama Jerrian nyetirnya." terakhir ia mengecup bibir Gio sebelum suaminya itu mendekapnya sebentar.tidak bisa lama-lama karena Jerrian sudah menunggu di luar.
"Oke,bentar."
"Apa_Akhh.ish,udah sana." Ayana mendorong Gio yang sedang mencuri ciuman lagi dan meremas dadanya.lelaki itu hanya terkekeh dengan wajah jahil.
"Buat bekal di jalan biar gak loyo dan ngantuk." ucapnya sebelum keluar karena Ayana mencubit perutnya yang keras itu.
Keduanya turun dari lantai atas menuju garasi melihat Frans dan Jerrian sedang mengobrol sembari berdiri dekat mobil entah sedang bahas apa mereka itu.tapi Gio yakin palingan juga bahas kerjaan terkadang terbesit rasa iri di hati Gio ketika ia melihat Jerrian dan ayah mertuanya saat sedang mengobrol membahas bisnis. lagi-lagi harus itu yang mengganggu pikiran Gio,dan memang ia merasa bahwa Gio kalah di bidang ini.kalau soal fisik dan skill yang lain boleh lah di adu pikir Gio.
"Ya sudah kalian hati-hati." ujar Frans sebelum menjalankan mobilnya.setelah tadi mendengar Gio dan Jerrian yang terlihat sedikit debat mengenai mobil siapa yang akan mereka bawa kesana.akhirnya mobil Gio lah yang di bawa.
"Oke,ayo." ajak Gio pada Jerrian dingin dan tidak ramah.lelaki itu tak menjawab hanya masuk seraya melambai pada Ayana membuat Gio meradang." Najis banget ini bujang lapuk,genit banget sama istri orang." rutuk Gio dalam hati seraya menyalakan mesin mobil,namun sebelum menjalakan mobilnya ia memanggil Ayana." Yang sini bentar."
Ayana yang berdiri di garasi itu pun mengerjap dan segera menghampiri Gio." Ya.kenapa?" Gio meraih tangan Ayana yang tergantung bebas lalu ia menarik istrinya mendekat dan Ayana reflek mencondongkan kepalanya setelah itu Gio memagut sebentar bibir istrinya membuat bola mata Jerrian hampir gelinding ke luar pagar rumah Frans.
"Hmmm,di depan sana macet gak ya kira-kira?." Jerrian pura-pura membuka map di ponselnya guna memeriksa takut ada kemacetan di depan sana.padahal jelas yang macet itu hatinya.nama istri dari lelaki yang ada di sampingnya itu yang macet tidak bisa keluar dari hati Jerrian.
Ayana langsung tidak enak hati pada Jerrian.ia malu.namun berbeda dengan Gio yang sepertinya muka tembok." Aku pergi ya.Sayang." Ayana mengangguk dengan senyum manis,Gio membelokan stir mobilnya dan melaju dari halaman rumah Frans.
Diam,Jerrian seperti bisu di samping Gio. lelaki itu hanya diam menatap lurus ke depan dapat Gio lihat buku-buku tangannya yang memutih itu.dan kepalan tangannya yang kuat di bawah lututnya.
"Rasain,emang enak.akan gue buat lo kebakaran sendiri.gak ada celah buat lo masuk ke dalam rumah tangga gue." Gio bersorak dalam hati.meski tidak secara terang-terangan bahwa Jerrian menyukai istrinya,tapi sebagai lelaki dan insting suami Gio bisa melihat dan merasakan kalau lelaki yang sedang duduk anteng di sebelahnya ini memiliki rasa pada sang istri.hampir di sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara hanya sekedarnya saja.seperti saling bicara mengenai rute yang mereka tempuh.
"Di rest area depan mampir dulu Mas,gue kebelet kencing," ujar Gio saat ini Jerrian yang menyetir karena Gio ngantuk.entah beneran apa bohong pikir Jerrian.
__ADS_1
"Oke,gue juga.sekalian makan dulu yu kita belom makan.laper gue." sahut lelaki itu kemudian membelokan stir mobil ke rest area.
Keduanya makan dengan tenang tanpa oborlan sama sekali.Jerrian mengelap mulutnya dengan tisu ia mulai berdehem untuk memberi kode." Gi,sorry nih ya.kalau terus kaya gini di antara kita keknya agak sedikit kurang nyaman yah?kita kan kerja nih di bawah pimpinan om Frans,dan di perusahaan yang sama.kita juga bekerja sama kan?jadi,gue rasa untuk masalah pribadi atau mungkin hal-hal yang ngebuat lo kurang nyaman entah sama sikap gue atau apa.gue harap sih kita gak sangkut pautin dengan kerjaan.kita profesional aja bro.bisa kan?"
Gio mengangguk mantap seraya menenggak air mineral." Bisa.emang ada masalah di antara kita,nggak kan?"
Jerrian menatap Gio entah apa yang ia pikirkan." Untuk secara jelasnya nggak ada sih.tapi gue rasa lo kek kurang welcome gitu sama gue dari pertama ketemu.hey bro.gue bisa ngerasain itu." jujur Jerrian.
Tak segera menjawab Gio memilih menyulut rokonya terlebih dahulu sebelum ia menghisap benda yang membuatnya candu itu.lelaki dengan bulu mata lebat dan lentik itu membuang asap rokok ke samping." Lo suka sama bini gue.itu yang buat gue gak suka sama lo"
Jerrian sempat terkejut namun ia berusaha menutupi dengan tawa." Gila,kok bisa lo sampe kepikiran kesana sih?emang lo bisa lihat gue suka sama Aya?gue gak serendah itu atuh,suka sama istri orang," tawanya kembali meledak meski tak kencang.namun Gio biasa saja tak menanggapi tawanya,ia sibuk menghisap rokok.
"Lo pikir gue buta?" sahutnya santai namun mampu membuat tawa Jerrian terhenti." Jangan panggil Ayana dengan itu.itu panggilan kesayangan keluarganya.lo bisa panggil dia Disha atau Ayana." Mendengar itu Jerrian hanya tersenyum menutupi rasa malunya.jujur saja ia malu karena Gio bisa menebak dengan semudah itu perasaannya.
Pria matang itu mengetrukan debu rokok pada asbak di depan mereka." Tapi sorry Gi.untuk ini lo salah.gue gak suka sama Ayana,gak ada rasa apa-apa.gue cuma suka kinerja dia di kantor.dia pintar dan woman independent banget kan?"
Gio mengangguk saja walau terlihat malas." Iya serah lo.dah ah,gue ke toilet dulu kebelet berak." lelaki itu pergi dari sana entah kemana,ia meninggalkan kunci mobil di meja di depan Jerrian.
"Tadi kebelet kencing.sekarang kebelet berak?." Jerrian menggelengkan kepalanya lalu ikut pergi menuju mobil
...πππππ...
Ayana terlihat sibuk membongkar pajangan yang berisi kosmetiknya.ia meminta Rini art di sana untuk membantunya mengelap dan membersihkan kamarnya.isi kamar itu masih lengkap seperti sedia kala.karena pada saat Ayana pindah ia tak membawa serta barang yang ada di kamarnya ini.namanya juga orang kaya untuk apa bawa yang di rumah beli saja yang baru.
Saat sedang membuka botol body lotion Ayana terlihat kesusahan,botol itu sangat susah untuk di buka sehingga tangan Ayana sampe lecet.ia membawanya ke samping rumah di sana ada Gio sedang memindahkan ikan hias karena kolamnya baru ia kuras.lelaki itu terlihat sedang berjongkok menangkap ikan koi.ia hanya menggenakan kaus dalam dengan celana bahan jeans selutut.tak lupa kalung yang selalu menggantung di lehernya.juga anting yang membuat penampilannya terlihat seperti anak remaja.
"Gi,tolong bukain ini dulu." pinta Ayana seraya duduk di pinggir kolam.suaminya menoleh dengan sebatang rokok yang nyempil di antara bibir tebalnya.lelaki itu memicing sebentar dan ia mengangguk kemudian menaruh ikan koi ke dalam bak yang sudah terisi air.
"Sini," katanya.
"Susah di buka,lihat tangan aku sampe merah." adu Ayana.Gio melirik tangan istrinya yang memang benar merah.kan emang putih juga sih kulitnya.jadi gampang merah.
"Lagian kenapa ga pake tenaga dalem?kek gini nih." Bapak bapak tiga anak itu menaruh rokonya di bibirnya,sampai matanya menyipit karena asap roko.ia mencontohkan gerakan pakai tenaga dalam katanya.sampe otot tangannya yang ughhh banget itu muncul semua pada saat lelaki itu membuka botol.tak perlu pakai tenaga kuat-kuat botol itu terbuka.
"Nih.udah sana,bau anyir ikan di sini.udah cantik dan gemesin begitu masa bau anyir?aku otewe mandi abis itu kita gas gatot lagi pen nyelem." katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ha?" Ayana malah cengo di tempat.
"Ck.gitu aja ha ho ha ho?sambil nonton 365 day,kita coba dan sesekali kamu jadi Anna,Yang." jelas Gio yang langsung membuat Ayana mendengus namun mengangguk juga.
"Oke,mau merah apa hitam?"
"Merah dong_"
"Hm.Papah nyari serokan,taunya di sini." Frans mengambil serokan ikan yang tergeletak di samping Ayana.sontak keduanya langsung salah tingkah.hampir saja Gio mengunyah puntung roko saking malunya.
"Oh,iya Pah.eh I_ini ikan arwananya mau Papah pindahin juga?ini koinya juga yang di kolam samping udah pada gede pindahin sini aja kali ya Pah?oh itu ikan muajer udah pada gede tuh Pah gak di panen?atau gak aku ambilin aja kali ya panggil pak satpam,rame rame?." Gio begitu nyerocos tanpa henti membuat Frans bingung sendiri jawabnya jadilah pria tua itu mengangguk saja.
"Ambil aja.panggil si Eman dan sarif suruh mereka bawa jala.kalau gak di jala susah nangkepnya.biar Papah telep Kevin dulu biar bantuin." Frans kemudian menoleh ke samping teras ia melihat Ayana setengah lari masuk ke dalam rumah.ia terkekeh pelan melihat kelakuan anak dan menantunya itu.
"****.grogi banget gue Sat." rutuk Gio setelah Frans meninggalkannya.
__ADS_1