Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Wedding day Bara dan Rara


__ADS_3

Rara merenggut kesal sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia akui bahwa dirinya memang sangat cantik memakai gaun penggantin pilihan Bara.


Rara melakukan segala cara agar pernikahannya dan Bara tidak pernah terjadi. Tetapi lelaki itu malah berulah dan mengadukan pada orang tua Rara bahwa mereka telah melakukan hal yang tidak-tidak, sehingga harus menikah. Sialnya lagi kedua orang tua nya malah percaya, apalagi wajah Bara yang menyakinkan membuat orang tua Rara memberikan restu pada Bara yang ingin mempersunting Rara sebagian istrinya.


"Sudahlah, Ra. Jangan mengomel terus," ucap Bee yang duduk di bibir ranjang, perutnya semakin membesar. "Terima saja, percayalah Kak Bara itu lelaki yang baik," sambungnya tersenyum hangat pada sahabatnya itu.


"Dih, aku sama sekali tak mencintainya, Bee. Seenaknya dia mengajakku menikah," gerutu Rara.


"Aku dan Bastian juga tidak mencintai saat menikah tetapi cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu," ucap Bee.


Wanita hamil itu berdiri dari duduknya dengan susah payah, usia kehamilannya memasuki bulan ke-8, sebentar lagi gelar ibu tersebut akan di sematkan di depan namanya.


"Bee, pelan-pelan," ucap Rara berdiri.


Bee tersenyum hangat, dia menatap kagum wajah Rara yang cantik dengan balutan gaun mahal tersebut. Dia bahagia akhirnya Rara menemukan cintanya, walau saat ini belum ada benih-benih cinta tumbuh di hati Bara dan Rara.


"Aku berharap kau bahagia, Ra," ucap Bee tersenyum hangat.


Rara menghela nafas panjang, "Jujur aku masih takut memulai hubungan dengan Tuan Bara," ungkap Rara.


"Aku paham. Aku pernah berada di posisimu. Tetapi jangan biarkan hatimu terjebak karena perasaan masa lalu," jelas Bee.


"Maaf Nona, Anda sudah di tunggu," ucap asisten yang di tugaskan menjemput Rara.


"Iya Kak," balas Rara.


Rara berjalan di atas karpet merah. Dia tak memakai cadar, sehingga senyuman tercetak jelas di wajah cantiknya. Tanyanya memeluk lengan sang ayah. Ini bukan pernikahan pertamanya, walau begitu tak bisa di pungkiri jika dia gugup bukan main.


Di altar, Bara sudah menunggu bersama seorang pendeta yang akan mentasbihkan pernikahan mereka hari ini. Raut wajah Bara terlihat gugup, meski hingga kini dia bertanya-tanya, apakah bisa mencintai Rara? Bara hanya ingin mengobati luka di dalam hatinya.


Bara menatap calon istrinya itu dengan mata berkaca-kaca. Sepuluh tahun lamanya dia hidup dalam rasa bersalah karena sudah merusak masa depan seorang gadis tak bersalah seperti Rara. Sepuluh tahun dia terjebak dalam perasaan yang seolah menjadikannya tiada. Bertahun-tahun dia mencari siapa wanita yang telah menghabiskan malam dengannya, setelah pencarian cukup lama dan akhirnya hari ini dia akan di persatukan dalam ikatan pernikahan yang suci.


"Silahkan saling berhadapan!" titah sang pendeta.


Kedua orang itu saling berhadapan, wajah keduanya sama-sama gugup dengan telapak tangan yang dingin.


Acara berlangsung mewah, para tamu undangan berdatangan memenuhi tempat pernikahan.

__ADS_1


"Ra, selamat ya," ucap Bee memeluk sahabatnya itu.


"Terima kasih, Bee," balas Rara membalas pelukan Bee.


"Kak Bara, selamat," ucap Bee juga pada kakak iparnya tersebut.


Bara nengangguk sambil tersenyum. Kini dia sadari betapa bodohnya dirinya yang dulu berencana menghancurkan rumah tangga Bastian dan Bee. Padahal adiknya itu selalu saja baik padanya.


"Terima kasih Bee. Semoga dia sehat," ucap Bara tersenyum hangat.


"Kak Bara, Kak Rara. Selamat, Kak," timpal Bastian ikut menyalami kedua pasangan penggantin tersebut.


"Terima kasih, Bas," sahut Bara dan Rara bersamaan.


Rara menatap suaminya dengan sendu. Semoga kali ini dia tidak gagal lagi. Semoga kali ini pernikahan terakhirnya. Dulu, dia pernah aborsi karena tidak menemukan ayah dari bayi dalam kandungannya. Lalu Tuhan mengutuknya hingga tak bisa hamil lagi. Tetapi Rara berharap malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah kehidupan bahagianya.


.


.


"Kak aku bisa berjalan sendiri," protes Rara saat Bara mengangkat tubuhnya.


Rara gugup bukan main, apalagi dia mendengar degupan jantung suaminya yang sudah berdisko di dalam sana. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Bara. Belum ada cinta di hati keduanya, tetapi rasa canggung itu tetap ada.


Ini bukan malam pertama mereka. Namun, rasa canggung itu membuat keduanya seolah seperti orang yang baru pertama kenal.


"Kak, apa selama ini kau mencariku?" tanya Rara menatap wajah sang suami. Tak bisa dia pungkiri jika di lihat dari dekat, wajah Bara sangat tampan. Apalagi di tumbuhi dengan kumis tipis dibagian rahangnya.


"Iya dan sudah lama," jawab Bara.


"Tapi Kakak suka sama Bee. Masih?" Rara memincingkan matanya menatap sang suami penuh selidik.


"Masih," jawab Bara jujur.


Wajah Rara langsung cemberut. Kenapa rasanya sakit sekali saat mengetahui bahwa sang suami menyukai teman nya sendiri.


"Tetapi aku sedang berusaha melupakannya. Jangan takut, aku tidak akan menganggunya," jelas Bara.

__ADS_1


"Terserah," cetus Rara.


"Kau cemburu?" Bara terkekeh.


"Tidak," kilah Rara.


Istri mana yang takkan cemburu saat suaminya mengatakan suka perempuan lain.


"Syukurlah," sahut Bara menahan senyumnya.


"Ihhh kok syukur," protes Rara.


Bara terkekeh pelan. Lalu meletakkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Dia membelai wajah lembut Rara. Bayangan adegan panas mereka sepuluh tahun silam seperti terekam kembali.


"Kau tahu? Setelah malam itu aku tak lepas dari rasa bersalah," ucap Bara menghela nafas panjang.


"Kak," panggil Rara menatap sang suami yang berada di atasnya.


"Iya, kenapa?" tanya Bara.


"Sebenarnya, aku pernah hamil anakmu...." Hal yang tidak pernah Rara akui pada orang lain selain sahabatnya Bee.


Bara terkejut, "Lalu?" Kening Bara mengerut tampak tak sabar menanti jawaban dari sang istri.


"Aku minta maaf, aku mengugurkannya," sahut Rara dengan wajah sendunya. Ada rasa bersalah telah membunuh bayi tak berdosa tersebut.


Deg


"Waktu itu aku bingung, Kak. Siapa yang harus mempertanggungjawabkan bayi dalam kandunganku. Sementara aku sudah memiliki kekasih, Papa dan Mama juga tidak akan terima jika aku hamil diluar nikah," ungkap Rara, air matanya leleh saat merasakan rasa sakit ketika benda itu masuk ke dalam area sensitifnya lalu keluarlah gumpalan darah segar. Hancur semua perasaan itu runtuh bersama tanah.


"Aku...."


"Stttt." Bara meletakkan jari telunjuknya di bibir Rara. "Lupakan semuanya. Aku berjanji kali ini tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku akan berusaha membuka hati untukmu," ucap Bara mengusap pipi basah sang istri.


"Terima kasih, Kak. Aku juga berjanji akan belajar mencintaimu," sahut Rara.


Bara mengecup bibir ranum istrinya. Malam itu dia sampai lupa diri hingga menghabiskan malam-malam panjang bersama Rara tanpa saling kenal.

__ADS_1


Ini bukan malam pertama bagi keduanya tetapi malam ini akan menjadi saksi perjalanan cinta mereka.


__ADS_2