Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Hamil


__ADS_3

Bee mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia terkejut ketika melihat wajah Bastian yang berada didepanya. Tangan lelaki itu memeluk pinggangnya dengan agresif.


Bee heran kenapa dia bisa ada di kamar? Bukankah terakhir dia duduk di sofa sambil menunggu lelaki itu pulang.


"Umpphhh."


Bee menutup hidungnya ketika merasakan seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam perut.


"Huwek."


Sontak wanita itu melepaskan tangan suaminya dan menyimak selimut.


"Ayang." Mata Bastian sontak terbuka.


"Huwek."


Bee turun dari ranjang, perutnya seperti di kocok- kocok dan serasa ingin keluar.


Bee berlari kearah kamar mandi. Bastian segera menyusul bahkan dia lompat dari ranjang saling paniknya.


"Huwek, huwek, huwek, huwek."


Bee memuntahkan isi perutnua. Namun, yang keluar hanya cairan bening.


Tangan Bastian mengurut batang leher Bee wajahnya panik dan ketakutan. Bagaimana kalau istrinya itu menderita penyakit berbahaya?


"Ayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Bastian panik. "Ayang, katakan padaku di mana yang sakit?" cecar Bastian.


Bee masih mengeluarkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas, kepalanya sangat pusing dan berdenyut sakit.


"Bas." Wanita itu terduduk dilantai.


"Ayang," teriak Bastian panik.


Mata Bee terpejam, tubuhnya terasa patah dan tulangnya remuk.


Brak


Bee jatuh kedalam pelukan Bastian dengan mata terpejam. Lelaki itu panik luar biasa. Dia menggendong tubuh istrinya dan keluar dari kamar. Dia berlari menuju mobil dan memasukkan sang istri kedalam. Lelaki itu bahkan tak memakai alas kaki.


"Ayang, aku mohon jangan tinggalkan aku. Bertahan Ayang, hiks hiks," ucap Bastian sambil menangis lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bastian terus melirik istrinya yahh terpejam di sampingnya. Apa yang terjadi pada istrinya? Kenapa bisa pingsan? Apa Bee baik-baik saja? Bastian tak bisa bayangkan seperti apa hidupnya tanpa sang istri. Bee adalah jantung hatinya, bahkan berpisah beberapa jam saja sudah membuatnya benar-benar merasakan rindu tak tertahan pada sang istri.


"Ayang." Bastian masih terisak.


"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih.

__ADS_1


Sampai dirumah sakit lelaki itu langsung turun dari mobil. Dia setengah berlari sambil menggendong istrinya. Bahkan Bastian meneriaki para dokter agar cepat menangani sang istri.


"Tolong istri saya, Dok," mohon Bastian.


"Baik Tuan. Kami akan menangani Nona, silakan Anda menunggu," ucap sang dokter.


Bastian mengangguk. Lelaki itu duduk di kursi tunggu sambil mengotak-atik ponselnya dengan wajah panik. Apalagi saat mengingat wajah istrinya yang pucat fasih membuat Bastian ketakutan bukan main.


"Ayang, kau harus baik-baik saja. Jangan pernah berpikir meninggalkanku. Aku tidak sanggup tanpamu, Ayang," gumam Bastian sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia masih memakai piyama tidur dan tanpa alas kaki. Bangun tidur istrinya langsung muntah-muntah setelahnya terduduk di lantai lalu pingsan. Bagaimana Bastian tak panik?


"Bas."


Tampak Eric dan Laerra berjalan tergesa-gesa ketika mendapat kabar dari Bastian kedua pasangan paruh baya itu bergegas ke rumah sakit. Ada Ruah juga menyusul dari belakang.


"Dad. Mom."


"Bagaimana kabar Bee, Son?" tanya Eric.


"Masih diperiksa, Dad," jawab Bastian dengan wajah frustasinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanya Ruah.


"Tolong urus semua perawatan istriku, pastikan dia mendapatkan yang terbaik," titah Bastian.


"Baik Tuan Muda."


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" cecar Bastian.


Dokter itu kembali terdiam saat Bastian menyebut nama istri. Dia heran, kapan Tuan Muda-nya itu menikah? Setahu dia Bastian baru saja lulus sekolah.


"Dok, kenapa diam saja?" tanya Bastian lagi seolah tak sabar.


"Selamat, Tuan. Istri Anda positif hamil."


Deg


Bastian mendengar hal tersebut tak percaya. Dia menatap dokter dengan mata berkaca-kaca. Apakah benar istrinya hamil?


"I-istri sa-ya hamil, Dok?" tanya Bastian memastikan.


"Iya Tuan. Kandungan istri Anda sudah memasuki Minggu ke-lima. Untuk memastikan nanti saya akan meminta dokter kandungan untuk menjelaskan lebih detailnya," jelas sang dokter.


Bastian tak mampu menahan harunya. Tanpa sadar lelaki itu menangis bahagia. Dalam hidupnya tak pernah terpikirkan akan menjadi seorang ayah secepat ini. Dirinya yang masih pria muda dan bahkan belum mengerti apa-apa. Tetapi Tuan berikan satu kesempatan untuk menerima penghargaan tersebut.


Eric dan Laerra juga terharu dan bahagia. Laerra juga meneteskan air mata bahagianya.

__ADS_1


.


.


"Ayang, bangun," panggil Bastian.


Lelaki itu menggenggam tangan istrinya lalu mengecup punggung tangan Bee dengan sayang. Bee masih belum sadarkan diri.


"Pasti kau bahagia, Ayang. Bastian Junior akan segera hadir ditengah-tengah kita, Ayang. Ayo bangun," ucap Bastian sekali lagi seraya tersenyum.


Bastian sangat bahagia dan bahkan dia tak bisa ungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.


Perlahan mata Bee terbuka. Dia seperti di sadarkan oleh suara suaminya.


"Ayang!" seru Bastian.


Bee menatap langit-langit kamarnya yang terasa asing. Kepalanya masih sedikit pusing tetapi mualnya berkurang.


"Ayang."


Bee melihat kearah suaminya. Wajah wanita itu datar dan sulit ditebak.


"Ayang, apa kau tahu? Kau hamil, sebentar lagi kita akan punya anak!" seru Bastian.


Deg


Bee langsung membeku ditempatnya. Harusnya dia bahagia mendapat kabar tersebut. Tetapi kenapa rasanya ada sesuatu yang menganjal di dalam hatinya.


"Ayang, aku bahagia."


Bastian memeluk Bee yang masih berbaring diatas brangkar. Dia tak bisa ungkapkan dengan kata-kata betapa bahagia nya dia saat ini. Hatinya terlalu bahagia sampai lupa bagaimana mendeskripsikan perasaan tersebut.


Mulut Bee masih kaku, jujur dia bahagia sangat bahagia. Siapa yang tak bahagia menjadi seorang ibu di dunia ini? Semua perempuan memiliki keinginan yang sama yaitu menjadi seorang ibu, termasuk Bee.


Melihat istrinya tak ada respon Bastian sontak melepaskan pelukannya. Dia menatap Bee yang juga tengah menatapnya. Tatapan mereka berdua bertemu dan saling beradu satu sama lain.


"Ayang tidak senang?" tanya Bastian menatap istrinya. "Apa Ayang tidak ingin punya anak dari aku?" sambungnya dengan hati teriris sakit. Apa karena Bee belum menerima dia? Apa Bee belum mencintainya? Bukankah wanita itu mengatakan jika dia sudah mencintai suaminya.


"Siapa kau sebenarnya, Bas?" tanya Bee menatap suaminya dingin


Deg


Bastian lagi-lagi membeku ditempatnya. Apa Bee tahu siapa dia sebenarnya? Atau mengetahui apa yang dia kerjakan sekarang?


"Apa maksudmu, Ayang? Aku tidak mengerti," kilah Bastian pura-pura tak mengerti padahal hatinya sudah ketar-ketir dengan pertanyaan Bee.


"Jawab, Bas. Aku tidak butuh pertanyaan. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menutupi apapun? Aku berharap kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku."

__ADS_1


Mulut pria tersebut langsung terkunci ketika mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari istrinya. Apa yang harus dia jawab? Apakah ketika Bee tahu siapa dia, wanita itu akan tetap menerima dia apa adanya? Bastian takut Bee meninggalkannya. Dia belum siap kehilangan sang istri dan bahkan takkan pernah siap sampai kapanpun.


Bersambung...


__ADS_2