
Rara masih membeku di tempatnya. Dia menatap Bara tak percaya. Bagaimana bisa lelaki itu adalah pria yang menghabiskan malam dengannya sepuluh tahun yang lalu.
"Maaf Tuan, mungkin Anda salah orang," kilah Rara yang berusaha menepis segala kenyataan.
Rasa sakit itu masih kian menyeruak masuk di dalam dadanya. Laki-laki ini memang tidak salah, mereka sama-sama melakukannya karena pengaruh obat bius. Tetapi tetap saja Rara tak bisa melupakan kejadian yang masih terekam jelas di kepalanya tersebut.
"Aku tidak salah, kaulah wanita itu," tegas Bara.
Rara menghela nafas panjang. Dia juga tidak salah, Bara adalah pria yang sudah mengambil mahkotanya.
"Lupakan saja, Tuan," ucap Rara. "Lagian itu masa lalu," sambungnya. Untuk apa di ingat, toh semua tidak akan mengembalikan kondisi dirinya.
"Aku ingin kau bertanggungjawab," ucap Bara menatap Rara dalam.
Rara mendelik seraya memutar bola matanya malas. Enak saja lelaki ini meminta dirinya bertanggungjawab padahal dia tidak salah sama sekali.
"Bertanggungjawab bagaimana maksudmu?" tanya Rara yang tak paham dengan pemikiran Bara.
Bara tersenyum devil, lalu mendekat kearah Rara membuat wanita itu bergidik ngeri. Tatapan Bara sama seperti malam itu, terlihat buas dan panas.
"Stop! Jangan mendekat!" hardik Rara menahan dengan tangannya. "Kau mau apa, Tuan?" tanya Rara was-was.
"Tidak banyak, hanya ingin kau bertanggungjawab," sahut Bara enteng dan santai, dia suka Melia wajah Rara gugup. Hal itu mengingatkannya pada kejadian panas sepuluh tahun yang lalu.
"Jangan aneh-aneh Tuan, kau tidak hamil. Kenapa aku harus bertanggungjawab?" cetus Rara jenggah.
Bara semakin berjalan dekat, "Kalau begitu izinkan aku menghamili mu," ucapnya setengah berbisik.
Bulu remang Rara berdiri ketika mendengar bisikan Bara yang begitu dekat dengan telinganya. Lelaki ini sepertinya bisa membuat Rara jantungan tiba-tiba.
"Apa mau mu, Tuan?" Rara mendorong dada Bara yang hampir menempel padanya. Untung saja para pria berbaju hitam yang membawanya tadi tidak ada disini, jadi dia tidak perlu menahan malu.
Bara tersenyum licik. Entahlah, kenapa hatinya bisa berdebar menatap wajah Rara? Sudah lama dia menantikan pertemuannya dengan wanita tersebut, bodohnya Bara tidak peka padahal sudah sering dan hampir setiap hari dia bertemu dengan wanita bernama Rara ini.
"Menikahlah denganku," pinta Bara.
"What's?" pekik Rara terkejut.
Bara santai saja. Setelah di ceramahi oleh sang ibu atas perlakuannya yang mencoba menggagalkan rumah tangga Bastian dan Bee, akhirnya lelaki itu sadar. Bagaimanapun dia berusaha merebut hati Bee, wanita itu takkan menjadi miliknya. Apalagi setelah Bara menemukan wanita yang tidur bersamanya sepuluh tahun silam, seperti membuatnya berkesempatan untuk melupakan Bee.
__ADS_1
"Iya, menikahlah denganku," ucap Bara sekali lagi.
"Ck, tidak mau," tolak Rara.
"Aku tidak menerima penolakan," tegas Bara.
"Aku tetap ingin menolak," bantah Rara.
Rara masih trauma atas rumah tangganya yang gagal. Hal itu membuat dirinya enggan membuka hati untuk orang yang baru. Dia tidak mau salah pilih pasangan lalu menyesal seperti yang sudah-sudah.
"Jika kau menolak itu tandanya kau mau," ucap Bara tersenyum sambil duduk kembali.
"Ck, siapa yang mau. Aku tidak mau!" tolak Rara dengan tegas. "Pernikahan bukan permainan, Tuan. Jangan seenaknya," geram Rara.
"Aku tidak mengatakan jika pernikahan adalah permainan, aku mengajakmu menikah karena ingin kau menjadi istriku."
.
.
"Kak." Zahra mengenggam tangan Bryan dengan mata berkaca-kaca.
"Tenang ya, Sayang. Aku akan memintamu langsung kepada kedua orang tua mu," ucap Bryan.
"Jika kita berjodoh, restu akan turun," jawab Bryan menyatukan tangan mereka.
Bryan juga sedikit was-was, hubungannya dan Zahra hingga kini belum di ketahui lebih tepatnya tidak di setujui karena keyakinan tersebut. Eric adalah orang yang mengutamakan agama begitu juga dengan orang tua Zahra. Sedangkan mereka berdua memiliki Tuhan yang berbeda.
"Ayo masuk," ajak Bryan.
Keduanya masuk ke dalam rumah mewah Zahra, orang tua Zahra pemilik pesantren terbesar di Ibukota. Tentu mereka memiliki ikatan yang tinggi terhadap sang pencipta.
"Kakak."
"Semua akan baik-baik saja."
Keduanya di sambut oleh para asisten rumah tangga yang bekerja disana. Zahra sudah memutuskan untuk mengikuti kepercayaan dari Bryan jika keduanya mendapat restu, sebab seorang wanita akan mengikuti sang suami. Tetapi keduanya belum tahu bagaimana ending dari hubungan yang sudah mereka perjuangan dengan susah payah tersebut.
.
__ADS_1
.
Zahra menunduk sambil menangis segugukan. Dia adalah anak yang tidak bisa melawan apa yang orang tua nya katakan.
"Abi, aku mencinta Kak Bryan. Aku tidak mau berpisah dengannya," ucap Zahra terisak, wanita berhijab tersebut menangis segugukan. Dia pikir sang ayah dan ibu akan menerima keputusannya.
"Kau dengar, Zahra. Apa kau mau kehilangan Tuhan-mu demi cinta yang belum tentu bertahan denganmu? Kau mau menduakan Tuhan yang selama ini sudah memberi nafas hidup padamu? Kau juga mau melihat Abi dan Umi menyalahkan diri sepanjang hidup karena gagal menjagamu?" Pertanyaan bertubi-tubi terucap dari mulut Rahman, ayah dari Zahra.
Zahra hanya menunduk sambil menangis sulit dia jelaskan bagaimana perasaan nya saat ini. Apa yang dikatakan ayahnya memang benar tapi bolehkah aku tidak setuju dengan ucapan ayahnya tersebut?
"Abi, aku sangat mencintai Kak Bryan. Dia cinta pertama ku," ucap Zahra lagi.
"Kau salah, Zahra. cinta pertama mu adalah Abi," sahut Rahman mengusap bahu putri bungsu nya itu.
"Abi tahu kau sangat mencintai Tuan muda Bryan tetapi kau juga harus sadar bahwa cinta beda agama tidak akan mudah untuk bersatu. Apa kau sudah menyanyakan padanya kalau dia mau mengikuti Tuhan-mu? Atau kau akan mengikuti dia dan meninggalkan Abi dan Umi?" cecar Rahman. Sebenarnya dia kasihan pada putrinya ini, tapi bagaimana lagi tidak ada toleransi. Dari awal dia sudah menentang hubungan Bryan dan Zahra tetapi keduanya masih saja keukeh untuk melanjutkan hubungan mereka.
Zahra terdiam, sekilas pertanyaan ayahnya membuatnya tak berkutik. Dia memang mau mengalah dan mengikut kepercayaan Bryan. Tetapi bagaimana dengan kedua orang tua nya? Ayahnya pemilik pesantren terbesar.
"Kau bingung bukan?" Rahman menatap putrinya.
"Aku siap mengikuti kepercayaan Kak Bryan," tegas Zahra.
"Bag kalau Tuhan-mu dan Tuhan-nya tidak merestui, apa kau juga tidak akan peduli?" ucapan Rahman langsung membuat Zahra bungkam. "Kay harus tegas pada hidupmu. Kau tidak bisa meninggalkan Allah SWT demi cintamu itu. Bagaimana jika suatu hari cinta yang kau pilih itu pergi meninggalkan mu? Akankah kau kembali pada Allah SWT dan minta maaf padaNya atas rasa kehilangan mu?" Rahman geleng-geleng kepala melihat kekerasan hati putri nya ini.
"Aku akan tetap ikut Mas Kak Bryan Abi. Aku minta maaf," ucap gadis itu mantap sambil menyeka air matanya.
"Dengarkan Abu, Zahra kalau kau sampai memilih dia, Abi tidak akan menganggap mu sebagai anak Abi lagi."
Deg
"Sayang."
"Kakak." .
Bryan tersenyum hangat ketika mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.
"Kakak." Zahra mengenggam tangan Bryan.
"Abi. Umi." Bryan tersenyum hangat.
__ADS_1
Wajah Rahman berubah dingin. Dia tak masalah jika Zahra dan Bryan menikah, asal Bryan mengikuti agama putrinya. Apa kata dunia jika seorang ustad dan pemilik pesantren memiliki menantu non muslim? Bisa-bisa dirinya di cibir oleh para ulama.
Bersambung....