Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
63


__ADS_3

Tidak ada yang berbeda dari hari ke hari sama saja,Ayana tetap setia mendampingi Gio.sebetulnya Gio sudah bisa di bawa pulang ke rumah.namun pada saat di pindahkan ke rumah Ayana,Gio hanya bertahan dua minggu saja.kondisinya kembali menurun,maka karena itu Frans meminta agar Gio kembali rawat di rumah sakit saja untuk sementara hingga menantunya itu benar-benar bisa di rawat di rumah.


Melihat perkembangan Gio yang sudah mulai membaik.Ayana semakin gencar dan bersemangat untuk terus mendorong Gio agar segera pulih.Ayana selalu rutin membuatkan bubur dan makanan sehat lainnya untuk suaminya itu.ia selalau menyiapkan segala kebutuhan suaminya seorang diri.Ayana tidak peduli meski Gio jarang memakan makanan buatannya itu. entah mengapa.sudah tiga hari ini Gio mogok makan.lelaki itu hanya mau minum susu dan yogurt saja.sepertinya Gio bosan dengan masakan Ayana.atau mungkin saja lelaki itu memang tidak mau lagi memakan apa pun yang Ayana buatkan untuknya.


"Kamu mau apa,mm?kok semuanya gak mau makan sih?nanti kamu kurus lagi loh kalau cuma minum susu doang gak kenyang atuh.tambah lagi yuk,ini klapetart enak banget deh.tadi pagi aku bikin ini nyempetin siapa tahu kamu doyan."Ayana bersuara lembut membujuk Gio supaya mau makan.tapi laki-laki itu tetap tak bergeming dengan wajah datar.Gio juga terlihat sinis pada Ayana akhir-akhir ini tidak tahu mengapa tapi Ayana merasa tidak mempunyai salah.tapi Gio malah seperti memusuhinya saat ini.


"Kamu marah ya sama aku?kok ngelihatinnya sinis gitu sih?emang aku ada salah apa ya?perasaan aku gak buat salah apa-apa deh,kok kamu kaya marah banget gitu sama aku?." Ayana bertanya sembari duduk di samping Gio.


"A_ku.kesal sama.kamu." jawab Gio yang terlihat begitu kesulitan menjawab pertanyaan Ayana.


"Apa?kurang jelas?" tanya Ayana lagi sembari mendekatkan wajahnya pada Gio membuat lelaki itu mundur sedikit.Gio tidak menjawab tapi hanya mendengus dengan sebal.dia sudah bersusah payah padahal tapi Ayana malah mengatakan suaranya kurang jelas katanya.


"Kalau gak tulis aja deh di sini nih,katakan kenapa kamu tiba-tiba seperti ini sama aku." Ayana memberikan kertas beserta pulpen dari tasnya.


Gio menerimanya dia segera menulis dan menuangkan segala isi hatinya.segala bentuk kemarahannya pada Ayana,ia merasa kesal pada wanita itu.mengapa dia setiap hari datang kemari dan mengomeli Gio,jika Gio mogok makan.tidak hanya itu saja sebenarnya.tapi yang membuat Gio membenci Ayana.karena dia kerap kali membuat kepala Gio sakit.tidak hanya kepala saja.tapi seluruh hati dan perasaannya.maka dengan itu,Gio ingin Ayana tidak menemuinya dulu untuk beberapa waktu.Gio ingin terbebas dari rasa sakit ini.rasa yang selalu menyiksa Gio setiap kali melihat wajah Ayana.wajah itu seperti ingin membunuh Gio.karena kepala Gio seperti ingin pecah saat melihatnya.


~Dengan berat hati saya harus mengatakan ini.saya meminta mbak untuk tidak datang kesini dulu,sebelumnya saya minta maaf.jujur saja,saya merasakan sakit di kepala dan dada saya setiap kali melihat mbak di sini.tidak hanya di sini saja.tapi setiap saya melihat mbak.kepala saya sakit karena seakan di paksa untuk mengingat sesuatu yang tidak mampu saya ingat.saya sudah berusaha untuk mengendalikannya Mbak.tapi tidak bisa saya terlalu lemah untuk melawan rasa sakit ini.~


~Saya meminta sama Mbak dan mohon pengertiannya.jika saya sudah merasa baikan mbak boleh kemari lagi.maaf saya terpaksa harus mengatakan ini~


Ayana membaca ungkapan Gio dalam tulisan tangannya yang begitu rapih dan indah itu.namun begitu nenusuk hati Ayana rasanya bagai ribuan tombak yang menancap seketika dan menghantam dada Ayana saat ini.perasaan Ayana di buat runtuh saat membaca setiap bait kata yang Gio tulis di kertas ini.Ayana melipat kertas itu lalu mengangkat kepalanya ia tersenyum pada Gio yang sejak tadi tak henti terus menatapinya.Ayana menarik napas sepenuh dada sebelum ia membalas ungkapan Gio itu.


"Kalau itu bisa buat kamu merasa lebih baik.aku akan melakukannya.mulai besok aku gak kesini lagi sampai kamu baikan tapi aku akan terus masak dan buatin makanan untuk kamu ya,nanti aku akan titip Mbak di rumah,nanti dia bakal anterin setiap hari." ucap Ayana dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.senyum itu kamufalse hanya untuk menutupi luka hatinya yang menganga dan masih segar luka yang baru saja Gio ciptakan dan ini untuk yang pertama kalinya bagi Ayana.


Gio tak bergeming hanya menatapi wajah Ayana yang sedang menutupi kesedihannya itu.tentu saja Gio tahu dan paham mungkin saat ini hati wanita itu begitu terluka.tapi bagaimana lagi,Gio terpaksa melakukan ini agar rasa sakit yang menyiksanya itu berkurang,walau sedikit saja.


"Ya udah aku pulang dulu ya Gi.kebetulan mau mampir ke super market kebutuhan Jemi udah habis semuanya,aku belum sempat belanja,dan hari ini aku sempetin lah mungpung kamu gak mau ketemu aku. kamu baik-baik ya,cepat sehat dan harus semangat terapinya biar kamu bisa jalan lagi." pesan Ayana,lalu ia melangkah ke kamar mandi untuk membereskan alat-alat dan barangnya yang tersimpan di sini Ayana juga sudah membereskan semuanya dia akan membawanya pulang ia mengangkut semuanya ke mobil dengan cara menyicil sedikit-sedikit.


Ayana beberapa kali mondar-mandir dari parkiran ke ruangan Gio.dan semua itu tak luput dari perhatian Gio yang sejak tadi terus memandanginya dengan pandangan sendu.Gio tidak tega melihat Ayana yang kesusahan sendiri dengan perutnya yang membesar itu.tapi apa daya,dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam seperti orang bodoh di ranjang ini.


"Huh.ternyata banyak juga barang-barang aku selama di sini.gak kerasa di cicil tiap kesini bawain perintilan.lama-lama numpuk ternyat." ujar Ayana sembari meraih tas dan ponselnya dari meja.


"Ya udah kalau gitu.aku pulang ya Gi,dah ayah.sehat-sehat ya,aku pasti kangen kamu banget nanti.doain ya aku dan adek sehat sampe lahiran." Ayana mengecup pipi Gio lalu mengusap lengan lelaki itu dan membenarkan selimbut Gio kemudian segera melangkah dari sana.


Gio tak merespon hanya air matanya yang menetes melihat punggung Ayana yang hilang saat pintu tertutup." Maaf." ujar Gio namun hanya dalam hatinya.dan Ayana tidak bisa mendengarkan itu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Ayana berjalan menuju parkiran dengan air mata yang sudah sejak tadi meleleh membasahi pipi mulusnya.ia mengusap kasar dengan punggung tangannya.Ayana langsung saja menjalankan mobil itu keluar dari area parkiran dan melesat menuju jalan raya.Ayana sama sekali tidak marah pada Gio,ia hanya kecewa pada lelaki itu mengapa setelah sekian lama ia rawat dengan telaten dan sepenuh hati,ternyata Gio tidak menyukainya selama ini ternyata kehadiran Ayana hanya membuat Gio tambah sakit.


Dan hari ini Gio mengusirnya secara tidak langsung apakah lelaki itu sama sekali tidak mengingat Ayana walau sedikit saja apakah memang semua kenangan tentang mereka telah melebur bersamaan dengan hilangnya memori Gio.mengapa Gio seolah asing padanya.pandangannya yang dulu selalu hangat dan memuja itu,kini berbeda.kini pandangan Gio seakan dingin dan datar.lelaki itu sepertinya sudah benar-benar melupakan Ayana.jika memang begitu Ayana bisa apa coba.ia sudah berusaha mengembalikan dan memulihkan ingatan Gio,namun pria itu malah menolaknya dan ingin Ayana menjauh darinya.


"Aku bisa apa Gi?selain menuruti kemauan kamu.asalkan kamu baik-baik aja walau pun tanpa aku di samping kamu.aku harap kamu akan segera membaik dan mengingat semuanya,mengingat kenangan manis tentang kita.agar aku bisa mendampingimu lagi hingga kita menua." Ayana menelungkupkan kepalanya pada stir mobil.saat ini dirinya berhenti di pinggir jalan Ayana menumpahkan tangisnya di sana.karena sejak tadi pandangannya mengabur akibat air mata itu terus saja berjatuhan tanpa bisa ia cegah.


"Sehat-sehat ya adek.doain ayah supaya cepet sembuh sebelum kalian lahir." Ayana mengusap perutnya lalu kembali menjalankan mobilnya menuju super market.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Waktu terus berjalan,pagi berganti siang sore berganti malam.Gio melewatkan harinya begitu suntuk dan membosankan Gio semakin muram dari hari ke hari.tidak ada lagi yang mengomelinya karena tidak mau makan jus buah,tidak ada lagi yang menegurnya saat baru saja makan Gio langsung tidur.keadaan Gio memang sempat membaik namun hanya beberapa hari saja.nyatanya setelah Ayana tidak lagi datang kesana,hati dan perasaan Gio tambah sakit.ia begitu merindukan wanita galak itu.walau Gio tidak mengingat siapa wanita itu,namun ia telah berhasil membuat Gio merasa kehilangan.


Kini suara itu sudah hilang,Gio tidak pernah mendengarnya lagi.wajah cerah itu tidak pernah lagi tiba-tiba nongol di pintu kamar mandi lalu bertanya." Udah selesai?." sembari merentangkan tangan dan membawa Gio ke pelukannya agar bisa pindah ke kursi roda.di meja kecil itu tidak ada lagi cangkang permen yang berserak lipstick yang tidak tertutup sempurna.dan tisu basah yang kecokelatan bekas Ayana membersihkan wajahnya.katanya malas cuci muka.dasar jorok.ujar Gio secara tidak sadar.

__ADS_1


"Sekarang dia lagi apa?." batin Gio sembari menatap langit-langit ruangannya.tak lama pintu terbuka ada seorang perempuan muda masuk.perempuan yang sama setiap harinya datang membawakan jus dan bubur untuk Gio.


"Di makan ya mas.ini Non Aya pagi-pagi dia udah ke pasar katanya mau masak ini buat mas Gio." ujar asisten yang di kirim Ayana untuk mengantarkan makanan untuk Gio.


"Mmm." Gio menjawab dengan berdehem dokter masih melarangnya untuk bicara. sebenarnya Gio sudah bisa membuka dan menggerakan mulutnya.terapi yang rutin di lakukannya berhasil membuat Gio cepat pulih.Gio memakan bubur oatmilk itu dengan lahap.dirinya begitu menikmati makanan buatan Ayana ini.bahkan Gio sampai menghabiskan semuanya,Gio berjanji besok-besok ia akan memakan semuanya.jika Ayana memasakan makanan lagi untuknya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Pagi-pagi sekali Ayana sudah menyiapkan bahan untuk membuat kue.hari ini dia akan membuat cake untuk Gio,sepertinya lelaki itu akan suka jika di buatkan cake kesukaannya saat Gio masih sehat dulu. saat Ayana akan memecahkan telur ke wadah tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit dan rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya.Ayana menghentikan kegiatannya untuk beberapa saat seraya merasakan perutnya yang semakin rutin itu tanpa pikir panjang dirinya langsung menemui Monica.


"Siap-siap kalau gitu biar Mamah telepon Papah dulu.kita langsung ke rumah sakit aja kayanya si kembar mau keluar itu." ucap Monica sembari menelepon Frans


Di rumah sakit Ayana langsung di tangani oleh dokter,benar saja ternyata sudah ada pembukaan tiga.rupanya si kembar ingin lahir lebih cepat mungkin ingin menemani ayahnya yang sedang berjuang untuk sembuh.sembari menunggu pembukaan Ayana mengambil kertas biru polos lalu ia menulis di sana.kemudian Ayana melipat kertas itu dan memasukannya ke dalam paper bag yang berisikan cake yang di belinya di loby rumah sakit.karena Ayana tidak sempat membuatnya keburu mules-mulas,rencananya ia akan mengirimkannya pada Gio.


Sudah hampir sore namun pembukaan belum juga bertambah.tetap di bukaan empat.itu pun berjarak hampir tiga jam lamanya baru nambah satu.membuat dokter mengambil tindakan lain.tadi Ayana dan keluarga memang sempat di beri tahu oleh dokter jika pembukaan berjalan lambat.maka jalan satu-satunya harus melakukan oprasi,karena ketuban Ayana sudah merembes.


"Berdoa ya sayang,Mamah di sini jangan takut.jangan memikirkan apa pun.kamu dan anak-anak pasti selamat dan sehat." Monica memeluk putrinya sebelum Ayana memasuki ruang oprasi.


"Tetap fokus pada persalinan Dek ingat,kamu akan memiliki bayi kembar betapa menyenangkannya merawat mereka ketika udah lahir nanti." Frans mencoba mengalihkan rasa takut Ayana.


Frans melihat putrinya yang menegang itu bahkan tangannya terasa begitu dingin karena ketakutan.Ayana tidak suka jarum dan pisau karena itu lah dirinya sangat takut di oprasi." Gio,Mamah." tangis Ayana begitu terdengar sangat pilu.Monica bahkan tak dapat membendung air matanya.dirinya tak kuasa melihat putrinya yang akan berjuang antara hidup dan mati mempertaruhkan nyawanya di dalam sana. untuk mengeluarkan bayinya.


"Mamah tahu.sabar sayang.Gio juga pasti di sini kalau dia sehat,tapi sekarang Aya tahu sendiri kan,kalau Gio sedang sakit?dia mana mungkin di sini.tapi doa Gio pasti akan menemani kamu.percayalah." Monica berusaha menenangkan Ayana dengan kata-kata lembutnya.


Benar saja Ayana terlihat sudah sedikit tenang,bahkan tubuhnya terlihat melemas juga matanya semakin sayu.sepertinya obat bius telah bekerja dengan baik.dokter sengaja memberikan bius total,karena Ayana tidak sanggup jika masih dapat merasakan sayatan di perutnya.meski itu tidak sakit.


"Baik,kami akan mulai Bu,Pak.mari berdoa." ujar dokter yang langsung di angguki semuanya.


"Hmmm,enak juga." batin Gio.sembari melahap potongan kue itu hingga habis dua bungkus.setelah selesai ia menaruhnya namun tak sengaja matanya melihat kertas berwarna biru muda yang di tempel stiker lucu.langsung saja Gio membuka dan membacanya.


[Halo Gio,kamu lagi apa sekarang?pasti baru aja bangun ya?oh iya,aku dengar kata ka Indri kamu udah bisa menelan dengan sempurna.kamu juga katanya udah bisa makan nasi lembek ya sekarang?bagus deh,aku seneng dengernya.kiriman kue dari aku ini di makan ya Gi.kalau kamu suka tapi,kalau gak suka ya jangan biar ibu atau ka Indri aja yang makan.makasih ya kemarin-kemarin makanan yang aku buatkan selalu kamu habiskan kata ka Indri sih gitu.tapi gak tahu juga sih,kan aku gak lihat langsung.]


[Oh iya,kemarin adalah hari terakhir aku masak untuk kamu ya,soalnya sekarang aku di rumah sakit nih,lagi nunggu bukaan anak kita mau lahir kayanya Gi.padahal ini belum bulannya sebenarnya.cuma anak-anak kamu kayanya mau lahir lebih cepat biar bisa nemenin Papahnya masa penyembuhan.tadi pagi aku udah mules-mules banget dan gak lama air ketuban aku udah rembes.kaya waktu itu loh pas lahir Mia.kita malah nyangkanya aku ngompol waktu itu.lucu ya kita waktu itu,masa iya ketuban di sangkanya ngompol.


[Udah ya segitu aja dulu.aku mau di cek bukaan dulu sama suster nih,kalau ada kamu sih udah pasti marah-marah nih,dulu juga kan gitu.kamu marah banget pas dokter dan suster meriksain aku hihihi minta doanya ya Gi,supaya prosesnya lancar dan kami selamat dengan sehat,aku sayang kamu suamiku,Gio]


Gio termenung membaca semua tulisan itu dirinya mendadak merasakan perasaan yang aneh.jantung Gio berdegub begitu kencang hingga keringat dingin mengucur dari tubuhnya.perasaan apa ini,pikir Gio mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh seperti ini.


"Pak Gio,ada apa?apa yang sakit Pak?" tanya suster yang baru saja masuk akan memberikan obat pada Gio.


"Sus-ter...saya.mau-kelu_ar." ucap Gio susah payah.


Suster itu memicing tidak paham dengan bahasa Gio." Pak,jangan di paksa bicara dulu ya kalau belum bisa dan masih susah." pinta suster dengan lembut.


"Mmm.." Gio menggelengkan kepalanya menatap suster dengan kesal.karena suster itu tidak peka dengan apa maunya.


"Saya panggil Ibu Mira dulu ya." suster keluar sebentar memanggil Mira yang sedang keluar entah kemana.


Gio berusaha turun dari ranjang menuju kursi roda.dia tidak bisa berdiam seperti ini Gio harus menemui Ayana yang entah di mana adanya.tidak peduli Gio harus segera keluar.rasa ini menyiksanya dirinya ingin bertemu Ayana,ingin menemani wanita itu.tidak peduli walau Gio belum mengingat dengan jelas siapa itu Ayana apakah dia istrinya atau bukan.Gio hanya ingin Ayana saat ini.


"Ya ampun Gio.jangan turun bahaya." Teriak Mira saat membuka pintu dan melihat Gio sedang berusaha turun.

__ADS_1


"A-ku.mau.kete-mu.diaa." ucap Gio terbata dan terputus bahkan Mira susah payah setengah mati mencerna ucapan anaknya itu.


"Turun kemana?kamu harus diam di sini sayang." pinta Mira.


Gio menggeleng dia kekeuh meminta turun. "Aya-na.aku-mau.dia" amuk Gio bahkan untuk mengelurkan kata itu ia sampai berkeringat dan ngos-ngosan begitu sulit untuk Gio ucapkan.


"Mau ketemu Ayana?gak bisa sayang, Ayana mau melahirkan sekarang.tadi ibu udah lihat kesana kata dokter harus di oprasi karena bukaannya gak bertambah padahal dari pagi loh.ibu gak tega lihatnya udah lemas dan pucet banget dia." jelas Mira dengan wajah sedih.awalnya dirinya tidak ingin memberitahukan kepada Gio bahaya jika anak itu terganggu pikirannya meski belum tentu juga Gio peduli akan hal itu.hal yang menyangkut Ayana.karena selama ini Gio memang bersikap acuh kepada semua orang.termasuk pada Mira sendiri.


"Mmm.mau.kesa_na." paksa Gio dengan suara keras.membuat Mira terhenyak.


"Gak bisa sayang.mana boleh kamu kan lagi sakit." cegahnya.


"Mmmm.bu.." amuk Gio sembari meronta. andai saja ia bisa berjalan mungkin Gio sudah berlari menemui Ayana.Gio menangis dan memasang wajah memohon membuat Mira sedih dan terpaksa menurutinya.


"Iya iya.ayo ibu bawa kesana mudah-mudahan belum mulai oprasinya ya." ujar Mira mengalah.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Mira mendorong kursi roda Gio dengan cepat.ia meminta ijin pada dokter untuk membawa Gio pada Ayana.namun dokter tidak menginjinkan Gio bertemu dengan Ayana.karena Ayana sudah akan melakukan oprasi.


"Saya mohon dokter.kasihan dia dari tadi pengen ketemu istrinya." mohon Mira dengan sangat.


"Baik.tapi hanya bertemu aja ya bu.soalnya Gio ini kan masih sakit.bahaya untuk keduanya.karena harus sama-sama steril." dengan berat hati dokter mengijinkan asalkan Gio tidak menemani Ayana selama proses kelahiran.Gio tersenyum mendengarkan dokter itu.lalu Mira membawanya ke ruangan di mana Ayana berada.sesampainya di sana Mira dan Gio terdiam mendengarkan ketiga orang itu.


Frans dan Monica sedang mengobrol dengan.dokter di iringi tangisan wanita itu Gio mendengar semuanya dengan perasaan pilu.ia mendengar dan melihat ketakutan Ayana.wanita itu terlihat begitu ketakutan saat ini bahkan ia menangis dan memeluki ibunya.namun sepertinya Ayana sudah setengah sadar.karena perlahan tubuh Ayana terlihat melemas.saat dokter sudah memimpin doa sebelum memelakukan oprasi suara Gio menghentikannya.


"Ayana.." panggil Gio membuat semua orang menoleh kepadanya.Frans dan Monica terkejut melihat Gio yang sudah menurunkan kakinya sepertinya akan turun dari kursi roda itu.sayup-sayup Ayana mendengar suara itu.namun dirinya tidak kuas untuk membuka matanya saat ini rasanya begitu mengantuk dan berat sehingga Ayana tak mampu untuk membuka kedua matanya.


"Gio.jangan turun." cegah Monica langsung menghampiri Gio.


"Ayana.." panggil Gio dengan meronta hendak mengejar Ayana saat dokter sudah akan menutup pintu ruangan karena oprasi harus segera di lakukan.


"Iya sayang.Ayana mau melahirkan.kamu doain ya supaya dia dan anak-anak selamat dan sehat.kita tunggu di sini aja sampai selesai." ujar Monica.namun Gio tidak mendengarkannya.ia malah meronta semakin kuat dan menggeram ingin masuk ke dalam sana.namun terlambat dokter sudah meminta perawat untuk menutup ruangan itu.


Gio menangis tergugu dan merosot ke lantai.dia sudah lepas dari kursi roda karena mengamuk.tangan yang perlahan sudah memiliki daging itu memukul-mukul tembok dengan kuat.ia kecewa pada dirinya sendiri.mengapa Gio seperti ini mengapa Gio begitu tega mengabaikan Ayana pada saat perempuan itu masih menemaninya.


"Berhenti Gio.kamu akan sakit sayang." Mira menangis memeluki Gio yang terus mengamuk.


"Aya-na.bu.Ayanaa.." ucapnya jauh dengan suaranya sudah mulai terdengar dengan jelas.


"Iya.doain aja sayang." sahut Mira dengan lembut.namun Gio tetap menangis dan mengamuk.namun lambat laun lelaki itu terdiam dengan tubuh menyender pada kursi roda.Gio begitu serius bahkan ia menahan kantuk hanya untuk menunggui Ayana.setelah beberapa waktu terdengar suara tangis bayi yang melengking membuat semua yang ada di sana mengucap sukur.kemudian terdengar satu lagi tak kalah kencangnya.Monica dan Frans sudah berpelukan dan menangis haru mengabaikan Mira dan Gio.


Gio bagai di sihir mendengar tangisan bayi itu.Gio mengerang dan memegangi kepalanya yang terasa seperti akan pecah saat ini." Akhhh.sakiit.shhh.." erang Gio tertunduk meremas rambutnya,bahkan ia ingin mencopot saja rambut itu agar kepalanya tidak sakit seperti ini.


"Istigfar,Gio" pinta ketiga orang tua itu namun Gio mengabaikan dan tetap meraung sembari memegangi kepalanya.


"Sakitt_akhhh." raung Gio dengan mata terpejam merasakan kepalanya yang berdenyut dan dunia ini seakan berputar. puing-puing ingatan itu bermunculan berputar ibarat kaset kusut.begitu macet di kepala Gio.beberapa ingatan Gio tetap berputar dan bermunculan bak sebuah video yang di putar.bayangan wajah Ayana begitu jelas dan nyata semua memenuhi isi kepalanya saat ini.


"Aya.." kepala Gio terkulai dengan lemas. ketiga orang tua itu langsung memeriksa keadaan Gio yang sepertinya jatuh pingsan.


"Gimana ini Pak?" tanya Mira dengan panik.

__ADS_1


"Saya bawa dia ke ruangan.panggil dokter Mah cepat." ucap Frans.lalu mendorong kursi roda Gio membawanya ke ruangan yang tidak jauh dari sana.


__ADS_2