Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Direktur Muda


__ADS_3

Bastian berjalan tatapan matanya terus saja tertuju pada Bee. Lelaki muda itu merenggang kesal ketika melihat istrinya sangat cantik pagi ini, apalagi rok span selutut itu pas sekali ditubuh ramping. Apalagi rambut Bee yang sengaja disanggul sehingga menampilkan leher jenjang milik Bee.


Langkah kaki Bastian berhenti tepat di depan Bee. Membuat semua orang terheran-heran.


"Kenapa Bas?" tanya Eric pada putranya. Apalagi melihat cara Bastian menatap Bee. Bukan apa, Bastian dan Bee sudah sepakat untuk tidak mengumbar status pernikahan mereka di publik.


Bastian mengusap kepala Bee dengan lembut, lalu melepaskan ikatan rambut istrinya. Hal tersebut sukses membuat semua orang tercengang.


"Bas...." gumam Bee tercengang.


"Saya tidak mau lihat ada yang ikat rambut di kantor ini, terutama kau," ucap nya menjauhkan tangannya dari kepala Bee.


Eric menyembunyikan senyumnya. Dia yakin, jika anak lelaki nya ini sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri. Semoga saja Bastian dan Bee menjadi pasangan kekal abadi selamanya.


Sementara Bee menatap Bastian tajam, andai saja mereka sedang tidak di kantor. Sudah pasti Bee akan memukul kepala suaminya tersebut, apalagi Bastian mengedipkan mata jahil.


"Ayang, jangan genit yaa. Aku mengawasi mu," bisik Bastian tersenyum menggoda.


Bee setengah mati menahan nafas nya. Tangannya mengepal kuat, apalagi tatapan para karyawan seperti mengintimidasi dirinya. Seandainya semua orang tahu bahwa Bastian adalah suami yang sudah dia nikahi beberapa bulan terakhir.


Bastian tersenyum menggoda, lelaki berjalan melewati istrinya setelah membuat wanita itu spot jantung akibat ulahnya.


Para karyawan berbisik-bisik membicarakan Bee. Dalam hati mereka bertanya-tanya, apa Bee mengenal Bastian. Sebab selama ini Bee begitu akrab dengan Eric. Bisa jadi juga, Bee mengenal Bastian lewat sang ayah.


"Cie di awasi suami brondong," bisik Rara setengah menggoda.


Bee memutar bola matanya malas. Seperti biasa, wanita jutek tersebut selalu tak peduli dengan tatapan mengintimidasi orang-orang padanya. Toh mereka tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada dia dan Bastian.


Bastian masuk kedalam ruangan nya bersama sang ayah dan asisten yang ditugas oleh Eric untuk membantu putranya.


"Ini ruanganmu, Bas," ucap Eric.


Bastian manggut-manggut paham. Dia suka desain ruangan ini. Suasananya membuat hati terasa damai. Apalagi langsung disuguhkan dengan kepadatan kota Jakarta.


"Not bad," ucap Bastian.


"Mulai sekarang, kau sudah resmi menjadi pemimpin perusahaan ini. Disana ada berkas-berkas yang perlu kau pelajari, jika tidak paham bisa ditanyakan pada sekretaris mu atau Ruah," jelas Eric pada anaknya.


Sebenarnya Bastian masih awam masalah dunia pekerjaan. Apalagi di berikan tugas menjadi direktur muda di perusahaan milik ayah-nya. Jujur saja, ini bukan sesuatu yang mudah Bastian lakukan. Tetapi demi Bee, dia akan lakukan apa saja. Bastian yakin jika dia bisa menjadi seorang pemimpin yang akan mengembangkan perusahaan ini berada di peringkat tinggi.

__ADS_1


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Son?" tanya Eric sambil duduk.


"Bisakah istriku yang jadi sekretaris ku?" pinta Bastian. Dia tidak bisa melihat Bee dekat-dekat dengan lelaki lain.


"Tidak bisa, Bas. Bee memiliki bidang nya sendiri. Daddy sudah pilihkan sekretaris untuk mu," ucap Eric.


Bastian terdiam. Sebenarnya dia ingin memaksa agar Bee saja yang menjadi sekretaris nya. Tetapi Bastian tidak mau membuat istrinya merasa tak nyaman. Apalagi tidak semua orang tahu tentang status pernikahan mereka. Sikap Bastian tadi saja sudah membuat sebagian orang curiga.


"Ya sudahlah," sahut Bastian mengalah.


"Angel," panggil Eric.


Lalu masuk seorang wanita cantik dengan bertubuh seksi dengan pakaian ketat yang membungkus tubuh rampingnya.


"Bas, ini sekretaris mu, Angel," ucap Eric memperkenalkan sekretaris andalannya.


"Selamat siang Tuan Muda Bastian, perkenalkan saya Angel, sekretaris Anda. Jika butuh bantuan masalah laporan Anda bisa meminta bantuan saya," ucap Angel dan tak lupa senyum genit nya pada Bastian. Anggap saja sedang menemukan vitamin A.


Bastian tak merespon lelaki itu hanya mengangguk saja. Dia bergidik ngeri melihat pakaian Angel. Rasanya Bastian ingin menolak Angel. Tetapi dirinya masih baru, jadi dia belum tahu kinerja Angel seperti apa.


"Angel, tolong siapkan data meeting siang ini. Jangan lupa minta laporan keuangan pada kasie!" titah Eric.


"Baik Tuan," sahut Angel. Angel berlalu dari ruangan Bastian.


"Kenapa?"


"Apakah dia memiliki potensi?" tanya Bastian.


"Jangan ragu Bas, semua pilihan Daddy selalu yang terbaik," jawab Eric terkekeh.


Bastian mengangguk, walau dia tidak yakin jika Angel bisa bekerja lebih baik. Penampilan nya saja sudah membuat Bastian risih. Memang hanya Bee saja yang membuat lelaki itu betah. Sifat Bee yang kalem dan terkesan dingin, justru menjadi daya tarik sendiri bagi Bastian.


"Ya sudah ayo, kita ke ruangan meeting. Sekalian Daddy ingin memperkenalkan mu pada para direksi," ajak Eric berdiri dari duduknya.


Eric yakin jika Bastian memiliki potensi untuk mengembangkan perusahaan miliknya, walau Bastian masih sangat muda untuk menjadi seorang pemimpin.


.


.

__ADS_1


"Ayo Bee," ajak Rara.


"Sebentar." Bee mengambil laptop dan tas nya.


"Cie presentasi didepan suami," goda Rara.


"Ra," desah Bee merenggut kesal.


"Woi, tunggu," panggil Willy.


Lelaki gemulai itu berjalan lenggak-lenggok menyusul kedua sahabat nya. Walau Willy tak memakai pakaian perempuan tetapi cara dia berjalan seperti perempuan.


"Bee, aku masih penasaran. Kau memiliki hubungan apa dengan Tuan Muda Bastian?" Willy menatap Bee penuh selidik.


"Mau nya ada hubungan apa?" goda Bee mengedipkan matanya jahil.


"Cih, kalian seperti sudah mengenal satu sama lain. Tatapan Tuan Muda Bastian juga sangat berbeda. Dia terlihat menyukai mu," timpal Willy lagi.


"Kalau dia menyukaiku kenapa? Bukankah normal itu namanya," sahut Bee santai. Namun, hatinya sudah ketar-ketir. Bukan Bee tak ingin semua orang tahu tentang pernikahan mereka. Tetapi Bee merasa dia dan Bastian memiliki perbedaan yang sangat jauh.


"Cih, kau menyukai brondong?" Alis Willy saling bertaut satu sama lain.


Bee terkekeh pelan. Andai saja Willy tahu bahwa Bastian adalah suaminya, mungkin saja lelaki itu akan syok dengan sendirinya.


Sementara Rara tertawa pelan. Willy memang belum tahu hubungan Bastian dan Bee.


"Dih, penasaran," singgung Rara.


"Tentu saja aku penasaran," sahut Willy ketus.


Bee tersenyum seraya menggelengkan kepalanya gemes. Entahlah, kenapa dia senang sekali saat melihat Bastian tadi. Pesona suaminya itu membuatnya lupa diri. Tak bisa Bee pungkiri jika Bastian memiliki wajah yang sangat tampan dan menawan.


Ketiga nya berjalan menuju ruangan meeting. Semua staf ikut meeting bersama direksi.


Brak


Tak sengaja seseorang menabrak bahu Bee.


"Awww." Wanita itu meringgis.

__ADS_1


"Maaf, maaf," ucap lelaki tersebut.


Bersambung...


__ADS_2