
Sore ini Gio terlihat sudah lebih dulu berada di rumah dari pada sang istri.ini memang akhir pekan maka tidak heran jika pekerjaannya tidak terlalu banyak.selagi menunggu istrinya tiba,Gio mengajak anak-anaknya bermain di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas itu.Gio mengajak putrinya bermain melempar bola ke dalam ring basket yang biasa ia gunakan untuk latihan.dan ada pula ring yang ukurannya lebih kecil ia sengaja membelinya untuk anaknya bermain.
"Lempar bolanya Jem" suruh Gio pada putri sulungnya yang terlihat sedang memungut bola berukuran sedang.Jemia menurut dan mencoba melemparkan bola itu namun tidak berhasil masuk." Kurang kenceng dek.pake tenaga dalam dong masa lemparnya pelan banget?" protes Gio dengan serius.
"Ini udah kenceng ayah.tangan Jem sakit" sahut anak Gio itu dengan wajah kesal.ia marah karena usahanya untuk melempar bola tidak berhasil.
Gio meraih bolanya lalu melemparkannya ke dalam ring yang besar.dan bola itu berhasil masuk dengan sempurna" Nah kaya gitu.belajar dong biar kamu pinter ayah pengen kamu bisa maen basket atau voly,keren tau"
Mendengar ucapan ayahnya Jemia terlihat bersemangat,dengan wajah riang ia mencoba memasukan bola-bola itu ke dalam ring yang lebih kecil dengan semangat empat lima.namun sayang usahanya selalu gagal meski sudah beberapa kali coba." Sini biar ayah ajarin."
Gio membawa tubuh gempal Jemia yang sedang memegang bola dan mengangkatnya tinggi-tinggi.lalu ia arahkan ke dekat ring bakset itu." Ayo lempar ke dalam,pake tenaga. "titahnya yang langsung di turuti oleh sang anak.
Benar saja bola yang Jemia lempar masuk dengan sempurna.membuat gadis kecil itu memekik riang karena usahanya berhasil." Ayah,Mia behasil loh.bolanya masuk ke dalam situ.lagi ya Ayah?" pintanya dengan gembira.
"Ambil dulu bolanya" titah Gio yang di turuti dengan segera oleh anaknya.permainan ayah dan anak itu berlangsung hingga beberapa menit membuat keduanya berhenti karena kelelahan.ralat sih hanya Gio yang memaksa berhenti karena sang anak masih terlihat bersemangat.
Fiuh
Gio menyeka keringat di pelipisnya yang mengucur ke pipi putihnya,mengangkat tubuh gempal Jemia di sepanjang permainan membuatnya kehabisan tenaga dan napas.anak kecil itu benar benar memiliki bobot tubuh yang tidak ringan.
"Udahan ya Dek.ayah mau pingsan ini keleyengan " ujarnya yang tentu saja tidak di setujui oleh putrinya.
"Lagi ayah.Mia masih pengen main lempar bolanya." rengeknya sembari menariki seragam futsal milik Gio.
Gio terduduk di garasi rumahnya yang ubinnya begitu mengkilap itu." Ayah cape loh.lihat ini keringat ayah sampe banjir." wajah Jemia langsung cembetut saat ia melihat keringat yang membanjiri ayahnya tapi gadis kecil itu mana peduli ia hanya ingin bermain sampai puas.
"Ya udah,tapi nanti main lagi ya ayah?main berbi di kamar,ayah yang jadi berbinya ayah mau ya?" ucapnya dengan begitu manis tapi tidak manis bagi Gio karena setelah ini ia yakin wajahnya akan di penuhi bedak dan lipstick.mending kalau tidak di coret coret juga dengan spidol dan crayon.
"Mia main sama ncus aja.ayah ada kerjaan loh." dusta Gio karena ia tidak ingin wajahnya di penuhi oleh benda benda laknat itu.
"Tidak mau.ayah harus maen sama Mia." final Jemia dengan nada tegas dan wajah galak persis emaknya kalau sudah begini.
"Ih kok kamu jadi gemes gini sih,hm?." Gio menjemil pipi anaknya itu sampai memerah lalu ia menggigitnya dengan geregetan." Bunda ya yang ngajarin kamu galak begini?"
"Ayaah...sakit" rengek Jemia karena pipinya terus di gigiti sang ayah.
Gio terkekeh kemudian ia terkejut melihat ayah mertuanya yang sedang berjalan ke dalam garasi rumahnya.pandangannya mengedar dan ternyata mobil Frans sudah terparkir rapih di samping rumah Gio" Lihat tuh ada opa" tunjuk Gio pada putrinya.
"Opaaaaa" pekik Mia begitu riang ia berlari sambil merentangkan tangannya menuju Frans.
Putri sulung Gio itu langsung di sambut dengan pelukan hangat dan ciuman gemas dari sang kakek." Princess Opa lagi main apa sampe keringatan begini?" tanya Frans seraya menyeka keringat dari dahi cucunya.Frans mengusap rambut cucunya yang tipis mewarisi rambut Ayana itu terlihat basah oleh keringat.
"Main bola sama ayah" jawab Mia sembari menyentuh kumis dan brewok abu abu milik opanya.membuat pria tua itu terkekeh dan langsung menghirup aroma cucunya itu yang wanginya khas anak-anak sekali campuran bedak dan minyak telon bikin nagih pokonya.
"Perempuan kok main bola?gak boleh main boneka aja ya" ucapnya yang langsung di angguki oleh Jemia.membuat pria tua itu semakin gemas saja pada cucunya.
"Pah,sama siapa,Mamah?" tanya Gio sembari menyalim tangan ayah mertuanya.
"Sendiri.Mamah lagi ada arisan kayanya" jawab Frans dan setelah itu ia duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.
Begitu pun Gio yang ikut duduk di sana." Papah mau kopi?atau teh?" Frans terlihat berpikir sejenak.
"Teh aja.kopi udah dua kali tadi saat nemuin tamu.nanti Mamahmu marah kalau Papah ketauan ngopi mulu" jawabnya membuat Gio terkekeh.mertuanya yang sangar dan menyeramkan itu ternyata aslinya takut istri.
Gio memanggil artnya untuk membuatkan teh untuk Frans.Diam-diam Gio mengejek dalam hati." Papah ini ada ada aja tampang doang serem.tapi sama istri aja takut."
"Emang kamu nggak?" Gio terkejut mendengar ucapan Frans dan seperkian detik ia tersadar.rupanya ejekan untuk Frans ia ungkapkan dalam ucapan bukan lagi dalam hatinya.Oh ayo lah siapa pun tolong galikan kuburan untuk Gio sekarang malu sekali epribadeh.
"Kamu juga sama kan?" ejek Frans dengan wajah mengejek pula.eh apaan sih bapak mertua ini kok jadi begini sih.
Gio tertawa meski sangat di paksakan dan begitu garing." Hehehe.ya_anak Papah kan emang rada galak soalnya." ucapnya sambil mengusap tengkuk malu woy.
"Tapi cantiknya bukan maen,iya nggak?" goda Frans dengan senyum penuh arti.
"Oh jelas itu mah,hahaha" sahut Gio dan kali ini ia menggaruk rambutnya,membuat Frans ikut tertawa melihat menantunya yang salah tingkah itu.
__ADS_1
"Mana si kembar?Papah pengen gendong jagoan" Frans terlihat celingukan mencari keberadaan cucunya yang lain
"Di dalem Pah.tadi habis maen keringatan, lagi pada mandi kali." Gio mengajak ayah mertuanya masuk ke dalam rumah dan menanyakan pada susternya lalu memintanya untuk membawa mereka ke ruang tengah.
Frans terlihat melepas rindu kepada cucu cucunya.pria tua dengan rambut dua warna abu abu dan hitam itu terlihat begitu bahagia bermain bersama ketiga cucunya." Jagoan opa udah makan?"
"Udah tadi sama Ayah" bukan Raven yang menjawab melainkan Jemia.
"Wih pintarnya.sama apa makannya?"
"Sama ikan calmon dan sayur blokoyi" Jemia begitu semangat menjawab hingga ia tak memberi kesempatan pada adiknya menjawab.dan memang pada dasarnya adik-adiknya itu belum begitu pandai menjawab pertanyaan.
Gio tersenyum hangat melihat interaksi cucu dan kakek itu mereka begitu manis.ia jadi membayangkan jika Agus Rahman-ayahnya masih hidup,mungkin beliau akan melakukan hal yang sama pula bermain bersama dengan cucu-cucunya seperti Frans dan anak anaknya sekarang.
"Aku rindu Yah.rindu masa-masa dulu saat aku kecil.apa ayah bisa melihat kalau sekarang aku udah jadi ayah juga untuk anak anakku?apa ayah bahagia di sana?." lamunan Gio berkelana ia begitu merindukan sosok ayah.tak heran ia menganggap Frans seperti ayahnya sendiri.
"Apa perlu Papah menyimpan ini?" Gio seketika tersadar dari lamunan panjangnya asik melamun hingga ia tak sadar bahwa anak anaknya sudah di ambil alih oleh susternya.dan Frans telah menghabiskan teh hangat itu beserta kuenya.
"Apa ini Pah?" tanya Gio matanya memandang kertas maps di depannya dengan heran.
Frans terlihat mengambil kembali maps itu yang tadi di letakannya,seraya membukanya di depan Gio." Surat perjanjian pranikah kalian,apa Papah tetap harus menyimpan ini.atau malah gak perlu lagi?"
Gio mengerjap beberapa kali ia baru teringat akan apa yang tertulis di dalam maps itu.surat perjanjian yang isinya dulu sempat membuatnya merasa tercekik tertekan,dan di rugikan." Oh itu_" ucapan Gio menggantung begitu saja ia meraih maps itu yang Frans geser padanya.
"Masih di butuhkan apa nggak kira-kira?tapi kayanya udah gak butuh surat surat ini deh.soalnya kamu cinta mati banget ke anak Papah" Frans terkekeh di akhir kalimatnya yang terdengar sangat percaya diri itu.
"Papah simpan aja.siapa tahu kapan kapan di butuhkan.anggap aja itu senjata untuk Papah biar aku gak aneh aneh." ujar Gio membuat Frans lagi lagi tertawa.
"Oke deh.sebagai pengingat juga biar kamu tetep lurus gak belok-belok." sahutnya kemudian mengambil maps itu lalu menyimpannya ke dalam tas kerjanya.
"Aku kan masih punya salinannya Pah masih ada kok dan sesekali aku baca biar ingat terus" Frans mengangguk kemudian dan menepuk bahu lebar Gio.
"Tetap menjadi lelaki yang bertanggung jawab ya Gi.dan pertahankan rumah tanggamu apa pun yang terjadi.jangan salah mengambil langkah,lihatlah wajah anak anakmu" tunjuk Frans pada ketiga cucunya yang sedang bermain lego.
"Yang pasti wajah ibunya juga lah." goda Frans membuat wajah Gio seketika malu ah bapak mertua ini ada ada saja deh.apa aki aki ini lagi puber kedua,batin Gio.
"Apa kalian bertengkar pagi ini?" tanya Frans kembali serius seraya mencomot biskuit cucunya yang terlihat enak di matanya.dan benar saja biskuit itu begitu gurih dan empuk.lebih enak dari pada yang biasa di beli oleh istrinya.
Gio menggelengkan kepalanya dengan cepat. " Nggak kok Pah.kami baik baik aja seperti biasa."
"Masa.tapi kok wajah Aya kaya keleknya si Dino kecut banget tadi pagi.semua orang kena maki sama dia.Papah kira kalian berantem" jelas Frans sambil mengunyah biskuit empuk itu
"Kayanya lagi kurang bagus moodnya Pah." ucap Gio.namun hatinya pun bertanya tanya apakah benar istrinya itu sedang marah.atau bisa saja marah kepadanya karena semalam mereka tidak jadi buka puasa.
Frans bangkit dari duduknya setelah menghabiskan tiga keping biskuit bayi." Gak puas kali Gi.semalam kamu kurang semangat" celetuknya kemudian melangkah dari sana meninggalkan Gio yang terbengong mendengar ucapannya.
"Kan bener,Papah lagi puber ke dua." gumam Gio sembari berdecak heran.
...☘☘☘☘☘☘...
Pukul delapan malam mobil Ayana terlihat baru memasuki garasi.mendengar suara pintu mobil yang terbuka Gio buru buru menyambutnya di depan pintu dengan senyum manisnya.
"Malam Sayang.capek ya?" tanyanya lalu mengulurkan tangan hendak Ayana cium usai itu mengambil tas kerja istrinya lalu membawanya ke dalam.
"Lumayan" sahut Ayana dengan nada dingin dan malas.Gio menuntun sang istri untuk duduk di sofa dan segera memegangi pundaknya lalu memberikan pijatan kecil di sana yang langsung membuat Ayana sedikit rileks sepertinya.
"Maaf ya kalau aku membuat kamu kesel, atau apa lah itu." ucap Gio tiba-tiba membuat Ayana segera menolehkan lepalanya ke samping tepat ada hidung lancip Gio di dekat pipinya.
"Gak ada.aku cuma kurang enak badan aja." sahut Ayana namun tidak sepenuhnya jujur.
"Oh begitu.aku kira marah sama aku" balas Gio dengan gembira rasa yang sejak tadi di takutkannya akhirnya lenyap begitu saja.ia memeluk istrinya yang sedang mendekus karena kesal itu.
"Sana ih geli." usir Ayana sembari menyingkirkan tangan Gio dari pundaknya. dan mendorong pelan wajah suaminya yang sudah menempel pada pipinya." Aku mandi dulu.baru pulang udah di glendotin aja." rutuknya.
Bukannya marah Gio malah terkekeh dan makin gencar menjahili." Mandi bareng yuk.udah lama loh kita gak mandi sambil itu rindu banget pengen kamu nungging di bathub_awss.yang sakit tau." Gio mengusap telinganya yang panas bekas jeweran sang istri.
__ADS_1
"Gak ada jatah seminggu ke depan" ucap Ayana seraya meninggalkan Gio ke kamar.
Gio terbengong dengan keheranan." Gue salah apa sih?kok dia kayanya dari pagi kesel banget gitu?apa bener kata Papah kalau Aya gak puas?." monolognya sembari menerka nerka.apakah benar istrinya itu kecewa karena semalam mereka tidak jadi tempur.
Tak pikir panjang Gio langsung menyusul istrinya ke dalam.namun saat hendak ke kamar mandi ia terdiam karena pintunya terkunci." Yang.buka dong aku pengen cuci tangan" Gio mengetuk pintu kamar mandi dengan alasan ingin cuci tangan padahal air keran bisa di dapur dan di luar juga ada.
"Gak usah banyak alasan Gi.di dapur kan bisa." sahut Ayana dari dalam.
"Di dapur airnya kecil yang.gak puas gak kaya di kamar kita kenceng dan deres." Gio cekikikan setelah mengatakan alasan itu.
"Bodo amat." ucap Ayana dari dalam yang masih bisa di dengar oleh Gio.lelaki itu tertawa pelan kemudian memilih duduk di ranjang sembari menunggui istrinya selesai mandi.selang lima belas menit Ayana keluar dengan hanya memakai bathrobe saja ia menggulung rambutnya ke atas yang baru selesai di keringkan di kamar mandi.ia duduk di meja rias dan tak mempedulikan suaminya yang sejak tadi menatapinya dengan seksama.
"Udah makan belum?" tanya Gio tangannya mengambil hairdryer hendak mengeringkan rambut Ayana.
Ayana mengangguk seraya mengoles lotion pada kedua lengan dan kakinya." Ada tamu tadi.jadi sekalian aja sebelum pulang." jawabnya.Gio dapat melihat wajah istrinya itu perlahan sudah melunak.
"Berarti udah boleh dong sekarang?" tanya Gio bibirnya tersenyum penuh arti.Ayana mengerti akan pertanyaan beserta senyum itu.
"Aku mau nengokin anak anak dulu" sahutnya lalu berdiri dan meninggalkan Gio yang tercengang karena sikapnya dan merasa di abaikan.
"Buset ngambek beneran co,walah auto tutup hordeng berhari hari." ratapnya dengan wajah nelangsa.ia memilih mengerjakan tugas kuliah sembari menunggu Ayana selesai bermain bersama anaknya.Gio sengaja tidak ikut gabung anggap saja malam ini sebelum tidur ia meliburkan diri untuk mengajak anak anaknya bermain.meski ia tahu bahwa menjadi orang tua itu tidak ada hari liburnya.tapi mengambil waktu sejenak tanpa gangguan anak anak boleh kan.
...☘☘☘☘☘☘...
Malam semakin larut Gio sudah menguap beberapa kali.bahkan ia sudah bosan menunggu Ayana cukup lama.bayangkan saja Gio sudah salto roll depan belakang sudah bosan main game,sudah pegal rebahan sambil scroll tiktak juga.bahkan nonton video mukbang sudah lebih dari lima video ia tonton dengan durasi yang cuku panjang.tapi mengapa istrinya itu belum juga masuk ke kamar mereka apakah Ayana sedang balas dendam.
Dengan langkah lebar Gio memasuki kamar anaknya,ia menemukan sang istri yang tertidur sembari memeluk Vindi melihat pemandangan itu hatinya seketika menghangat.ia jadi tidak tega untuk membangunkan Ayana.
"Kasian istri gue pasti cape." ucapnya lalu menaikan selimbut ke tubuh Ayana.namun belum selesai sang istri terbangun dan langsung memandanginya penuh curiga karena saat ini Gio tengah menunduk ke padanya.dan posisinya itu bisa membuat orang salah paham.
"Ngapain?" Gio hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ayana.
"Ngecek kamu,ya udah bobo lagi" sahut Gio lalu berdiri dan membetulkan selimbut pada Jemia dan si kembar.Ayana tak menjawab dan memilih bangun dari tidurnya.ia mencepol rambutnya ke atas memperlihatkan lehernya yang putih mulus dan jenjang.dan semua itu tak luput dari perhatian Gio yang memang sudah sangat haus dan menginginkan berkunjung ke negeri goa yang lembab di bawah sana.
"Ah lama." ujar Gio seraya mengangkat tubuh Ayana ke dalam pangkuannya.
"Lepasin ih,kaya anak kecil aja." tolak Ayana ia berusaha untuk turun namun kakinya di pegang kuat oleh Gio.ia membawa istrinya ke kamar mereka membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya dengan satu kaki.
Dengan pelan ia membanting Ayana ke kasur lalu membuka kausnya dengan gerakan kasar dan melemparnya begitu saja ke lantai.ia merangkak naik lalu menindih tubuh Ayana.ia membuka tali bathrobe istrinya dengan cepat.dan terpampang lah sajian indah milik istrinya yang selalu Gio dambakan itu.Ayana yang kaget campur panik dan hendak bangun namun telat karena Gio sudah menindihnya akhirnya ia hanya bisa pasrah di bawah kungkungan suami brondongnya itu.
"Kamu ngambek soal ini kan semalam,hm?oke kalau itu yang jadi alasannya.malam ini kamu akan aku buat gak bisa jalan." bisik Gio sembari mempraktekan membuat adonan roti di dada Ayana.
"Nggak_Ahhh.apaan sih_shhh.." sahut Ayana yang terbata karena perbuatan ayahnya anak anak.
"Apa?mau ngomong apa?ayo ngomong jangan malah ngambek,kalau pengen sesuatu itu ngomong aja,jangan malah ngediemin dan nyuekin"
"Akh...mm" Ayana tersentak saat dadanya di rem*s kuat oleh Gio.pemuda palsu itu bener bener memang kurang asem." Sakit Gi."
Gio tersenyum dan menyeringai." Sakit apa enak,mm?" Ayana tak menjawab wajahnya malah merona ia menatap wajah Gio yang tepat berada di atasnya saat ini.lama mereka saling menatap tak berpaling sedikit pun.
"Boleh kan?aku pengen kamu." pinta Gio meminta ijin.jujur saja kini Gio sadar meski Ayana ini adalah istrinya tapi bukan berarti dia bisa sesukanya memakainya kapan pun ia mau.karena Ayana adalah istrinya bukan budak napsunya.mulai sekarang ia harus meminta ijin terlebih dulu.
Owalah Sugiono baru sadar rupanya
Ayana yang sempat heran pun hanya mengangguk setuju.karena jujur saja ia pun uring uringan karena sudah lumayan lama tidak bertempur." Lakukan Gi.aku istri kamu milik kamu,kapan pun kamu mau lakukan." jawab Ayana seraya menangkup pipi Gio dan menariknya untuk bisa ia kecup bibir tebalnya itu.tentu saja Gio langsung gas poll tanpa pikir panjang lagi oh ayo lah pemirsah si boy sudah protes terus ingin segera ganti oli.lama tidak ganti oli mesinnya kadang kala mati.
"****.ini enak banget." racu Gio di tengah pergerakannya yang liar dan kasar itu." Nungging yang." titahnya.mau tidak mau Ayana menungging dengan tubuh melengkung sempurna.bahkan Gio sampai pusing melihat lekukan tubuh indah tapi tipis yang sedang menungging dengan sempurna itu,mirip dengan prosotan TK.
"Oughh,bisa gila aku_ohh.." Gio masih terus meracu tidak jelas sambil sesekali menabok bokong Ayana dengan gemas." Fu*k.bisa-bisanya seenak ini.."
"Bisa diem gak Gi?berisik ih." tegur Ayana di tengah desahannya yang membuat Gio tergila gila.lelaki itu terkiki sembari menunduk mengecup bibir Ayana.lalu ia mengusek ibarat membuat adonan cilok di dada sang istri dengan sebelah tangannya dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk menumpu bobotnya sendiri pada tembok karena kan ia sedang push up di atas tubuh Ayana.
__ADS_1