
Bee duduk dengan tak tenang dan setelah makan siang tadi dia meminta Bastian agar pulang cepat. Padahal hari pertama masuk kuliah tetapi Bastian mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki tugas yang harus dikerjakan.
"Kenapa Bastian belum pulang?" tanya Bee terus menatap kearah pintu masuk.
"Bas, jangan membuatku curiga. Aku tak ingin perasaanku dipengaruhi oleh orang lain. Kumohon Bas, buktikan bahwa apa yang Kak Ragil katakan itu salah," gumam Bee.
Wanita itu menyandarkan punggungnya. Akhir-akhir ini kepalanya sering pusing. Dia juga mudah lelah. Entah karena terlalu banyak berpikir atau memang ada penyakit lain didalam tubuhnya.
"Kepalaku pusing sekali," lirih Bee memijit-mijit kepalanya.
Lama menunggu suaminya pulang. Wanita itu tertidur duduk di sofa dengan bersandar. Hari ini cukup menguras emosi Bee. Pagi-pagi dia harus bertemu Ragil dan lagi lelaki itu mengatakan jika suaminya adalah seorang ketua mafia.
Kenapa Bee sangat takut jika Bastian benar-benar terjun ke dunia gelap tersebut? Karena hal itu sangat berbahaya untuk keselamatan suaminya apalagi jika para musuh sudah mengejar kemana-mana. Bee takut Bastian tidak aman apalagi dan memiliki banyak lawan.
Wanita itu tampak terlelap entah karena kepalanya pusing atau memang ada pikiran lain yang sedang berkelana didalam sana. Seharian ini emosi Bee tidak stabil, dia seperti di uji antara percaya dan tidak percaya. Dia seperti berada diujung jalan serta bimbang harus memilih jalan yang mana.
.
.
Bastian memasukkan mobil didalam garasi. Lelaki itu tampak menghela nafas panjang. Hari ini dia baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertinggal sejak dia menikah.
"Semoga senjata itu bulan depan tiba di pelabuhan," gumamnya.
Pria muda tersebut keluar dari mobil. Jam sudah menunjuk pukul 9 malam. Sang istri pasti khawatir mencari keberadaannya.
Bastian masuk kedalam rumah mewah mereka. Sepertinya dia perlu asisten rumah tangga, kadang dia kasihan melihat istrinya yang kewalahan mengurus rumah sebesar ini. Padahal sejak awal Bastian sudah menawarkan agar mencari assiten rumah tangga. Tetapi Bee menolak dengan alasan ingin mandiri. Namun, sekarang wanita itu malah mengeluh ketika membersihkan rumah mewahnya.
"Ay_"
Terpampang senyum di wajah tampan lelaki muda itu. Pasti Bee menunggunya hingga tertidur. Semua rasa lelah ditubuh Bastian seketika menghilang saat melihat wajah damai Bee, dia selalu berharap jika hubungannya dengan Bee baik-baik saja.
Bastian berjalan mendekat. Dia berjongkok menatap wajah Bee dari dekat. Lelaki itu berdecak kagum melihat pahatan Tuhan paling sempurna yang tengah terpejam didepannya ini.
"Ayang, maaf karena menungguku kau sampai tertidur disini," ucap Bastian menyingkirkan anak rambut yang menutupi bagian wajah istrinya. "Aku berharap kita akan tetap baik-baik saja saat kau tahu siapa aku. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup menjalani hidupku tanpamu, Ayang," lirih Bastian.
__ADS_1
Bagi Bastian Bee adalah seseorang yang begitu penting dalam hidupnya. Dia rela kehilangan apapun, asal jangan kehilangan istrinya. Bee yang sudah membuatnya menemukan cahaya ditengah gelapnya perjalanan menjalani kehidupan.
"Aku mencintaimu, Ayang." Bastian mengecup kening sang istri.
Pria muda berstatus suami itu mengangkat tubuh istrinya menuju kamar. Lelaki itu tampak tersenyum ketika mendengar dengkuran halus dari mulut istrinya. Bayangan pertemuan pertama mereka terngiang dikepalanya. Bastian tersenyum sendiri betapa lucunya dia saat itu memanggil Bee dengan panggilan tante.
Bastian meletakkan tubuh Bee dengan pelan. Lalu lelaki itu menyelimuti tubuh istrinya. Lagi dan lagi Bastian tak bisa menolak pesona dari wajah sang istri. Terlalu sayang untuk dilewatkan, betapa beruntungnya dia menjadi suami Bee.
Bastian menatap bibir merah muda tersebut, dia mengecupnya dengan sayang sangat sayang. Kalau istrinya bangun sudah pasti dia akan ditendang. Jadi, karena Bee tidur dia manfaatkan saja situasi tersebut.
Bastian terkekeh sendiri, lalu mengusap bibir sang istri. Lelaki itu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merenggut kesal ketika melihat darah bersimbah dibagian baju nya. Untuk saja Bee tertidur, jika tidak sudah pasti istrinya itu akan melihat kondisi dirinya yang banyak darah. Dia tidak tahu harus jawab apa, jika Bee bertanya ini darah apa?
.
.
"Sial!" umpat Bara kesal.
Lelaki itu menendang apa saja yang ada di depannya.
"Siapa Bastian sebenarnya? Kenapa sulit sekali mengalahkan dia? Dia seperti memiliki banyak jiwa," gerutu Bara dengan nafas memburu dan wajah merah padam.
Brak
Tidak sengaja Bara menabrak seseorang. Tangannya reflek memeluk pinggang wanita tersebut. Untuk sesaat tatapan mereka bertemu satu sama lain.
'Kenapa tatapannya mirip sekali dengan lelaki malam ini?' batin sang wanita.
'Siapa dia? Aku merasa tatapannya berbeda. Aku seperti pernah melihatnya!' batin Bara.
Secepatnya wanita itu melepaskan diri dari pelukan Bara. Dia berusaha menteralisir jantungnya.
"Kalau jalan itu pakai mata," omel wanita itu memalingkan wajahnya kesembarangan arah.
Alis Bara saling bertaut, "Aku baru kali ini mendengar jika jalan pakai mata. Bukannya kaki?" ucap Bara tampak berpikir dan heran.
__ADS_1
Bara menatap wanita itu penuh selidik. Kenapa rasanya wanita ini tidak asing? Tetapi di mana dia pernah bertemu dengan perempuan tersebut?
"Kenapa Tuan?" tanya wanita itu heran.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Bara penuh selidik.
Wanita itu terdiam, ternyata bukan hanya dia yang merasa hal tersebut lelaki ini merasakan hal yang sama.
"Jelas pernah, kita bertemu di mall" jawab wanita itu asal. "Ahh sudahlah, tidak penting," cetus nya berjalan menjauhi Bara.
Bara masih berdiri ditempatnya sambil menatap wanita itu dengan tatapan tak biasa. Perasaannya mengatakan bahwa dia pernah begitu dekat dengan perempuan itu, tapi di mana dan siapa serta kapan?
Lelaki itu berjalan masuk kedalam mobilnya. Lalu dia menghela nafas sangat panjang.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Bas. Lihat saja nanti, aku akan menyingkirkanmu," ucapnya tersenyum licik.
Wanita tadi menoleh kearah mobil Bara yang menjauh. Sejenak dia terdiam lalu berpikir sangat keras.
"Kenapa tatapan mata Tuan Bara seperti tidak asing?" gumamnya.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar. Dia melanjutkan langkah kakinya masuk kedalam cafe.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanyanya pada seorang pria.
"Iya dan kau tahu aku hampir saja jemuran," cetus lelaki itu.
"Hem." Dia duduk dengan tenang.
"Kenapa wajahmu?" tanya lelaki itu dengan tatapan penuh selidik.
"Tadi aku bertemu Tuan Bara," jawabnya.
"Lalu?"
"Entahlah, kenapa tatapannya seperti tidak asing," jelasnya
__ADS_1
"Bukankah dia kakak dari bossmu, jelas kau pernah melihatnya," ucap pria tersebut dengan suara kekehan.
Bersambung...