
Setelah beberapa pekan berlalu hari-hari Gio terasa memuakan.ia mewati waktu dengan sepi dan sunyi.tak ada lagi anak-anaknya yang berlarian menyambutnya pulang kerja.biasanya saat dia pulang dari aktivitasnya di luar rumah rasa lelah yang di rasakan oleh Gio akan menguap begitu saja kala melihat binar bahagia dari mata-mata penyemangatnya itu.namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Seperti sekarang ini Gio duduk melamun di ruang tamunya setelah pulang kerja.Billa tidak ada di rumah sepertinya anak itu ngaji bersama bundanya yang kini sibuk jualan kue basah dan jajanan anak-anak. sebetulnya Gio sudah melarang kakanya berjualan dia tidak mau Indri capek karena ia masih sanggup menghidupi kaka dan ponakannya itu namun Indri tatap kekeuh dia merasa masih bisa mencari makan sendiri tanpa harus mengadah tangan terus menerus kepada Gio.
"Kaka gak ada kerjaan,Gi.bosen diam aja di rumah nungguin Billa sekolah dan ngaji. mending jualan lumayan untungnya bisa buat makan sehari-hari dan jajan Billa sukur-sukur kalau ada sisanya jadi bisa di tabung." ujar Indri waktu itu.
"Tapi capek Ka,nanti lama-lama si Billa ga keurus.belum lagi pas hujan emang gak repot?udahlah di rumah aja aku masih sanggup nyari duit.gak usah kawatir meski anaku banyak.tapi aku bisa menghidupi kalian." kekeuh Gio dan tetap ngotot melarang.
"Gi,kamu juga punya kewajiban memangnya duitmu hanya untuk anak-anakmu aja?kamu juga harus nyisihin untuk Ka Aya,udahlah,kaka biar kerja dan cari makan sendiri untuk kita. udah saatnya gantian kaka yang cari makan."
"Lagian Kaka ini sehat dan masih muda heran aja rasanya kalau cuma duduk diam doang di rumah mending cari uang.jualan kaka ini laku,Gi.peminatnya banyak dan selalu habis sebelum jam lima sore.kerjaan rumah juga beres.apa lagi yang kamu kawatirin?."
"Ka_"
"Udahlah,kaka cuma jualan kok bukan kuli nyangkul.gak capek gak perlu peras tenaga juga.kamu ini berlebihan.uangmu simpan dan berikan sama istri dan anakmu jangan di kasihkan ke kaka.Billa dan kaka ini harusnya tanggung jawab si Bian bukan kamu."
Gio akhirnya mengangguk setuju ia mengalah." Ya udah.tapi kalau seumpama gak sanggup lagi dan capek gak usah di terusin."
Gio berdecak mengingat perdebatannya beberapa waktu lalu dengan Indri.kakanya itu ngotot sekali ingin bekerja sendiri agar tidak merepotkan Gio lagi.nyatanya ini apa pikir Gio.pakaian kering dari jemuran di tumpuk begitu saja di ruang tamu.Gio memalingkankan wajahnya melihat pakaian dal*m milik Indri yang berserakan di lantai.sepertinya keranjang baju ini di tabrak oleh kucing berantem yang biasa masuk ke rumah.
"Ck,katanya bisa kepegang semua." gerutu Gio sambil membereskan pakaian itu." Merepotkan." komentarnya kesal saat mengambil bh berwarna terang milik kakanya setelahnya ia pergi ke dapur dan benar saja rumah masih berantakan sepertinya Indri tidak sempat membereskannya sejak pagi.mungkin sibuk mempersiapkan jualannya.Gio merapikan isi rumahnya hitung-hitung mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya.jika hanya berdiam diri ia akan melamun dan terus memikirkan keluarga kecilnya.rasa rindu pada mereka terus mengukung dan semakin menyiksa.jika saja Gio punya keberanian ia sudah datang sering-sering melihat anak-anaknya.
Tapi Gio masih punya rasa malu setelah beberapa pekan lalu datang kesana dan ia mendapat omelan pedas dari nenek Melani sejak saat itu Gio memutuskan tidak sering datang.karena nenek-nenek itu masih menginap di sana.
Usai semuanya beres Gio mandi dan setelahnya merebahkan dirinya di kamar tak lama ia mendengar suara Indri dan Billa yang sepertinya baru datang.Gio memutuskan tak keluar kamar ia sibuk sendiri menghitung bulanan yang harus ia berikan pada Ayana.tabungannya menipis karena di pakai untuk keperluan anak-anaknya.
Minggu lalu sebelum ke rumah istrinya itu Gio pergi belanja membeli susu dan keperluan lain untuk semua anaknya. sebetulnya Ayana menolak karena ia dan keluarganya tentu saja lebih dari mampu tapi Gio tetap kekeuh karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang ayah.apa lagi sekarang anak mereka bertambah bukan nominal yang sedikit yang harus ia keluarkan,melainkan sekali belanja saja untuk anak-anaknya bisa membeli motor baru.
Beruntungnya ia masih bekerja di tempat Frans,jadi Gio tidak terlalu pusing mencari kerjaan baru di tengah kesibukannya.dan yang paling membuat Gio bersukur juga di sana ia di berikan gaji lumayan.tapi tetap saja sebulan gaji di sana tak cukup untuk membiayai anaknya.ia harus memutar otak lagi mencari kerjaan baru untuk menambah penghasilan.beruntung sekarang ia sudah menemukan ide akan membuka usaha baru." Jemi tidur ya?." tanya Gio setelah teleponnya di angkat oleh Ayana.ia memutusakan untuk meneleon Ayana karena merasa jenuh sejak tadi.untungnya wanita itu mau mengangkat.
"Udah,tadi di ajak Mamah pergi katanya main di mall sama cucunya temen Mamah. pulang-pulang ketiduran." jawab Ayana di sebrang sana.
Gio manggut-manggut seolah Ayana ada di depannya." Nenek masih nginep gak?aku mau bawa Jemia nginep di sini."
"Masih,katanya lusa baru pulang." balas Ayana cepat." Kenapa gak kamu aja yang nginap?kan bisa tidur di kamar Jemi."
"Gak enak sama yang lain_" kalimat Gio terhenti karena Indri memanggilnya." Aku makan dulu deh ya.belum makan." ujar Gio pada Ayana.namun ia tak mendapat respon karena Ayana hanya diam." Halo?"
"Makan aja,hapenya gak usah di matikan." sahut Ayana membuat Gio mengulum senyum.
"Oke.yuk temenin." katanya sambil pergi ke dapur lalu ikut gabung dengan kaka dan ponakannya itu.
"Sayurnya mau?atau ini aja?" tanya Indri saat mengambilkan Gio makan ke piring.
"Banyakin sayurnya,pake mendoan aja deh males makan ikan." ujar Gio sambil menuangkan air ke gelas." Billa mau minum juga?" tawarnya pada Billa yang di angguki anak kecil itu.
"Cobain deh Ka.mendoannya kok asin banget ini." Gio menyodorkan mendoan pada Indri dan meminta agar kakanya itu mencicipi.
"Asin ya om." timpal Billa membuat Gio terkekeh.
"Ya ampun.gak ke aduk tadi berarti." Indri tertawa sambil mengunyah tempe mendoan itu,begitu pun Gio.lelaki itu terkekeh kala mengunyah garam yang tidak tercampur dengan adonan mendoan ini.
Ayana hanya diam menyimak obrolan Gio dan kakanya.di sudut hatinya ada yang terusik mendengar interaksi mereka.jujur ia cemburu mengingat Gio dan Indri ini bukan lah kaka dan adik kandung.mereka tidak sedarah.mereka sudah dewasa dan tinggal bersama di dalam satu rumah.apa saja bisa terjadi." Makan sama apa sih enak banget kedengerannya?" tiba-tiba Ayana menyeletuk membuat Indri melebarkan matanya.
"Kamu lagi teleponan sama ka Aya,Gi?" tanya Indri kaget.Gio hanya mengangguk saja dengan santai.
"Iya,katanya dia cuma pengen dengerin doang." sahut Gio setelah menelan makanannya.
"Ya ampun.Ka Aya,makan sini.kami makan sama tumis kangkung dan mendoan.ada pindang ikan ekor kuning juga nih kesukaan kaka." Indri mendekatkan mulutnya pada telepon." Kapan kita makan rame-rame lagi ya Ka?"
Ayana di sebrang sana tertawa mendengar Indri." Kapan-kapan ya Ka Indri.aku kangen tumis genjer loh."
"Makanya kesini nanti aku bikinin."
"Oke deh.nanti aku maen." balas Ayana. kemudian obrolan mereka selesai dan Gio juga sudah kembali ke kamar.obrolan keduanya masih berlanjut hingga hampir malam.tak lama Gio kembali mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.Indri memanggil kembali karena ada pak rt datang dan tiga orang warganya.
"Yang,ada orang ke rumah.aku tutup dulu ya teleponnya.nanti kita sambung lagi." ucap Gio.
"Siapa?"
"Pak rt dan tetangga.gak tau ada perlu apa mereka kesini."
__ADS_1
"Gak usah di matikan.kamu bawa aja hapenya aku ga akan bersuara kok.cuma pengen denger mereka mau ngapain." titah Ayana.kemudian Gio menurut ia pergi menemui pak rt dan tetangganya.
"Eh,Pak.tumben ada perlu apa?" tanya Gio kepada empat orang lelaki itu.mereka sepertinya baru pulang dari mesjid." Silakan duduk dan mangga di minum Pak." kalau sudah cakap-cakap dengan warga sini Gio selalu menggunakan bahasa daerah.
Keempat lelaki itu tersenyum mengangguk lalu mulai membahas mengenai maksud dan kedatangannya." Begini,Gi maksud kedatangan kami kesini ada yang ingin kami sampaikan.maaf ya malam-malam mengganggu kalian." ujar pak rt yang umurnya kisaran empat puluh lebih itu.Gio hanya mengangguk menunggu pak rt melanjutkan kalimatnya.
"Begini,kamu dan kakamu kan bukan kandung ya,setau kami?dan kalian pun mungkin sudah tahu itu." ujar pak rt membuat dahi Gio langsung berlipat." Semenjak teh Mira meninggal.saya lihat kalian tinggal bersama sekarang.dan maaf saya denger-denger kamu juga sudah pisah dengan istrimu.jadi kalian tinggal bersama sekarang?,"
Gio dan Indri terkejut namun mereka berusaha tak menyela hanya diam mendengarkan.Gio sendiri tetap santai namun berbeda dengan Indri yang terlihat tidak terima karena ia sudah tahu akan mengarah kemana pembicaraan ini.
"Kamu tau,Gi?beberapa warga melaporkan kepada saya.beberapa dari mereka merasa ada yang risih mengenai kalian.secara kalian ini bukan kandung. rasanya tidak etis untuk tinggal bersama apa lagi sama-sama pisah dari pasangan jadi statusnya kalian janda dan duda saat ini." pak rt menatap Gio dan Indri bergantian.kedua orang itu diam menunduk dan Indri terlihat menahan emosinya.
"Saya hanya ingin mengingatkan kalian agar jangan lagi tinggal di atap yang sama hanya berdua saja.meski ada Billa,tapi dia kan masih kecil.tolong mulai saat ini kamu mungkin bisa mencari tempat tinggal baru, Gi.kalau kakamu kan gak mungkin keluar dari rumah ini?"
"Jangan sampe nantinya kalian akan menimbulkan fitnah-fitnah lain kedepannya.lebih baik dari sekarang mungpung belum ada berita-berita buruk yang menyebar hingga kemana-mana. tolong pengertiannya,Gi,Ndri."
"Pak,kami ini saudara dan gak mungkin ngapa-ngapain.jangan aneh deh.kami dari kecil bersama gak mungkin dong berbuat aneh-aneh dan tak senonoh?" Indri tak terima dan langsung angkat suara." Saya gak terima bapak bilang gitu.seakan saya dan adik saya telah berbuat atau akan berbuat macam-macam.konyol sekali rasanya."
"Ndri.bukan begitu maksud saya.iya saya tau kamu dan Gio tidak akan berbuat yang aneh-aneh.tapi perempuan dan lelaki dewasa tinggal satu atap itu akan menimbulkan fitnah,dan bisa saja hal buruk akan terjadi.mengingat kalian ini sudah sama-sama dewasa dan pernah menikah bukan gak mungkin tapi kita berusaha untuk mencegah hal-hal buruk kedepannya." pak rt mencoba memberikan pengertian kepada Indri yang tak menerima itu.
"Iya Pak,saya paham." ujar Gio lalu menatap Indri yang masih memasang wajah setengah kesal." Pak Iksan benar Ka udahlah,besok aku mau cari kontrakan."
"Gak bisa,Gi.kamu ngontrak biaya mahal. emangnya warga sini mau gotong royong bayarin kontrakan kamu?nggak kan?ya udah ngapain ngontrak coba?." tolak Indri masih kekeuh.
"Ka_"
"Udah-udah.begini aja kalau nggak." sela pak rt kemudian." Bagaimana kalau kalian berdua menikah saja?sama-sama single kan?ya sudah apa susahnya menikah saja itu lebih baik.biar kita sama-sama enak."
Baik Indri mau pun Gio keduanya sama-sama terkejut.keduanya menatap pak rt dengan tatapan tak percaya." Pak. kami ini saudara gimana bisa menikah?" ucap Indri berapi-api." Gio adik saya bagaimana bisa saya menikah dengan adik saya sendiri?ngaco deh."
"Ka." tegur Gio tak suka sikap kakanya yang kurang sopan itu.
"Loh kenapa Ndri?kalian kan tidak sedarah apa salahnya?malah lebih erat jadinya kalau menikah.gapapa cinta mah nyusul lambat laun.kalian juga cocok dan masih sama-sama muda." ucap Pak Armadi tetangga Gio.dengan entengnya dia berucap.
"Kalau nggak,Gio nikahi aja si Amanda itu dia kan janda juga.ya sudah lebih enak kan malah?" timpal pak Hanung kaka dari Kang Aris suaminya teh Susi.
"Kalau gitu.biar saya cari kontrakan aja pak besok saya udah gak tinggal bareng Ka Indri lagi.terima kasih buat bapak-bapak sudah peduli juga mengingatkan saya dan kaka saya." ujar Gio kemudian ia ingin segera mereka cepat pergi dari sana." Saya janji besok udah gak di sini lagi Pak."
"Mending kamu yang gak usah dengerin mereka,ngontrak itu banyak biaya yang keluar,Gi.biaya makan dan lain-lain.belum listrik dan air." ucap Indri masih belum bisa mengatur emosinya.
"Paling berapa sih Ka.aku ga boros kok. roko juga mau di kurangi.ketengan aja lah." Gio terkekeh melihat Indri yang mendelik padanya." Gak usah galak-galak gitu lah jadi serem kaya singa betina aja." lanjutnya lalu berteriak pelan." Bill bundamu lagi emosian." katanya membuat Indri melemparinya dengan boneka ipin milik Billa.
Gio hanya tertawa sembari Masuk kamar. kemudian merebahkan tubuh di kasur dan ia tersentak saat mendengar suara orang bersin yang sepertinya itu berasal dari ponselnya yang berada di kantung.segera saja Gio memeriksa ponselnya benar saja panggilan telepon masih terhubung dengan Ayana." Yang?"
"Mm?."
"Ya ampun,aku kira teleponnya udah mati dari tadi.lupa aku." Gio menggigit bibirnya menunggu jawaban Ayana.apakah perempuan itu sudah mendengar semuanya tadi saat ia bicara dengan pak rt kalau sudah ini sih gawat banget.Ayana pasti salah paham sukur-sukur wanita itu tidak beranggapan yang tidak-tidak tentang dirinya dan Indri.
"Tadi tuh_"
"Besok sore datang kerumah,temui Papah. kalau sampe nggak datang.jangan harap bisa melihat anak kamu lagi." ucap Ayana tegas membuat Gio menahan napas telepon itu di putus oleh Ayana tanpa bicara lagi.
...πππππππ...
Usai telepon di matikan Ayana menarik napas berat.matanya memanas membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bersarang di kepalanya itu dan bisa saja terjadi.selama mendengarkan obrolan Gio dan pak rt tadi Ayana di rundung ketakutan semua yang ia bayangkan itu bisa terjadi ke depannya.tidak ada yang tidak mungkin pak rt benar jika Gio dan Indri tatap tinggal satu atap mereka bisa saja kelepasan.tidak ada yang tahu setan bisa saja menghasut keduanya.
"Nggak,nggak mungkin kan?mereka saudara." Ayana menggelengkan kepalanya." Gak boleh,Amanda juga gak boleh menang dari gue.wanita itu gak boleh besar kepala." dada Ayana naik turun menahan luapan emosi dan rasa takut yang menghampirinya bersamaan.
"Nggak bisa.ini nggak bisa." racu Ayana sambil mondar-mandir di kamarnya.ia duduk di kursi sambil menyandar kemudian memejamkan mata berharap rasa cemas ini segera berlalu.tapi yang ada malah tambah kacau ia berteriak karena bayangan Gio dan Indri yang sedang memadu kasih mampir di kepalanya.
"Gak boleh." teriak Ayana sambil berdiri ia kembali berjalan mondar-mandir.segera saja ia mengangkat Jeivan dan menepuk-nepuk pipinya agar anak itu bangun benar saja Jeivan menangis karena ia mencari susu namun Ayana sengaja tidak segera memberikannya setelahnya ia menelepon Gio.
Cukup lama Gio mengakat teleponnya hingga beberapa saat baru terdengar lelaki itu bicara di sebrang sana." Halo?" suara Gio terdengar serak sepertinya lelaki itu sudah tidur.
"Kesini" pinta Ayana tanpa basa-basi lagi ia mengubur gengsinya sementara untuk kali ini aja kok.
"Hmm?kemana?" sepertinya Gio masih linglung belum mengerti maksud Ayana." Itu Jei kenapa kok nangis?minta susu dia?."
"Kamu kerumah cepetan Jei nangis terus dari tadi.aku capek gak bisa tidur gendong mulu dari tadi.bantuin dong sini.jangan cuma mau bikinnya doang.aku tuh capek rewel banget dia ini." bohong Ayana tanpa ragu.ia sengaja menggunakan anaknya agar Gio mau datang.tak mungkin ia sendiri yang meminta Gio untuk datang.
"Udah malam ya ini.duh mana ngantuk lagi." Gio terdengar berucap pelan." Ya udah aku cuci muka dulu bentaran."
__ADS_1
"Iya cepetan ya." balas Ayana sambil menahan senyum dan setelahnya panggilan mereka terputus.ia mencium Jeivan dengan lembut dan berbisik." Ayah mau datang dong.kamu seneng gak?." bayi itu terlihat menggeliat dan tersenyum seakan mengerti apa yang bundanya ucapkan." Bunda kangen ayahmu.pengen deket-deket terus.kamu kangen gak bobonya di peluk sama ayah?dulu suwaktu kamu di perut ayah suka peluk kamu." setelahnya ia meletakan Jeivan di kasur.
Ayana ke kamar mandi merapikan wajahnya.ia sedikit memoles lipbalm agar bibirnya terlihat lembab.tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya agar wangi saat Gio datang.setengah satu malam Gio baru tiba di rumah Frans.ia menghubungi Ayana namun tak di jawab hingga beberapa kali panggilan.tak lama Gio di minta masuk oleh kang Maman." Non Aya nyuruh Langsung Masuk aja mas. udah titip ke saya tadi." Gio menurut dan segera ke kamar Ayana meski merasa tak nyaman karena datang malam-malam begini.ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban lalu memutuskan untuk masuk saja begitu pintu terbuka Gio langsung melihat Ayana yang tidur di kasur bersama anaknya.
"Capek banget ya pasti." ucap Gio pelan sembari membetulkan selimbut ke tubuh Ayana.setelahnya ia mengambil putranya lalu meletakan di boxnya.namun anaknya itu malah menangis sepertinya ia haus segera saja Gio memberikan botol susu. Gio memandangi wajah Ayana yang terpejam begitu cantik dan damai.namun guratan sedih terlihat jelas olehnya.Gio tahu mata cantik itu selalu menangis akhir-akhir ini.lingkaran hitam yang menghiasi mata Ayana tak memudarkan kecantikan wanita itu.dalam kondisi apa pun Ayana ini tetap cantik di mata Gio.
"Gi?" Ayana bangun setelah merasakan elusan hangat di dahinya.rupanya Gio tengah merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya.
Gio tersenyum begitu Ayana membuka mata." Capek ya?boleh gak aku pijitin?kalau boleh miring coba." titahnya namun tak segera mendapat respon dari Ayana perempuan itu hanya menatapnya dalam." Hey?."
"Ah,iya boleh." Ayana mengangguk dan salah tingkah sendiri.selanjutnya ia memiringkan tubuhnya memunggungi Gio karena ingin di pijat bagian belakang. setelahnya ia di buat melayang oleh pijatan lembut namun tetap terasa dari tangan Gio Ayana tersenyum sambil memejamkan mata merasai betapa nikmatnya pijatan itu.
"Kamu tidur aja,biar aku yang jaga Jei." bisik Gio setelah setengan jam memijat Ayana.ia membetulkan selimbut wanitanya itu setelahnya hanya diam memerhatikan kamar mereka yang sekarang bukan lagi tempatnya.Gio menyandarkan punggungnya ke sofa dan pikirannya menerawang ke masa lalu saat pertama kali memasuki kamar besar ini.ia tersenyum membayangkan dulu ketika mereka melakukan malam pertama di kasur besar itu.saat itu ia dan Ayana sama-sama pertama kali melakukan ibadah suci dan itu merupakan yang pertama bagi keduanya.
Namun kini sayang semuanya tinggal kenangan.semua kenangan manis itu hanya akan menjadi bagian dari masa lalu entah kedepannya mereka berdua akan seperti apa.karena saat ini hubungan keduanya hanya sebatas orang tua bagi anak-anak mereka.
"Gi.." Gio tersentak saat suara Ayana yang serak itu memanggilnya.langsung saja ia bangun menghampiri wanita itu di atas kasur.
"Iya?"
Ayana terlihat mengucek matanya dan segera duduk kemudian menatap Gio." Aku kira kamu pulang." katanya dengan suara pelan.
"Nggak.aku kan janji mau gantian jaga Jei sampai pagi.masa iya pulang." jawab Gio sembari mendudukan dirinya di pinggir ranjang.Ayana mengangguk dan setelahnya terdiam kedua tangannya meremas selimbut yang membungkus bagian bawah tubuhnya itu.ia berdehem karena bingung apa yang akan mereka bahas selanjutnya.begitu pun Gio lelaki itu hanya diam menunggu Ayana bicara lebih dulu karena ia tau sepertinya wanita di depannya itu akan bicara sesuatu.
"Gimana tanggapan kamu mengenai obrolan dengan pak rt tadi?." tanya Ayana pelan sekali.
Gio berdehem dan langsung menjawab." Nggak tau.tapi ya mungkin aku sama ka Indri_"
"Nggak boleh.kita belum cerai,Gi.di buku nikah kita masih suami istri.dan kamu gak boleh nikahin kaka kamu sendiri bagaimana bisa kalian seperti itu." sela Ayana cepat ia menatap Gio garang membuat lelaki itu kebingungan.
"Maksudnya_"
"Aku gak terima.dan aku menantang.apa kata dunia nanti kalau kamu nikahin kaka kamu sendiri?meskipun kalian boleh-boleh saja menikah.tapi kalian adik kaka tapi masa iya?kamu itu suami aku,dan aku gak akan terima sampai mati pun,Gi." tegas Ayana dengan berapi-api membuat Gio tambah bingung." Demi tuhan,aku gak terima kamu nikahin Ka Indri.bagaimana dengan Jemi dan Billa nantinya?hubungan mereka akan seperti apa jadinya?." tak mempedulikan apa pun Ayana mulai menangis ketakutan dengan semua yang mampir di kepalanya.membuat Gio mendekatinya namun ragu untuk memeluk ia takut Ayana menolak.
"Gak boleh.pokonya kalian gak boleh menikah kamu itu punya aku,dan akan selamanya milik aku.jangan pergi,Gi.tetap di sini." Ayana sesegukan di tempatnya membuat perasaan Gio tak menentu namun ada rasa yang perlahan membuat hatinya bahagia ketika mendengar pengakuan Ayana.
Tangan besar Gio terulur menghapus air mata yang mengaliri pipi putih Ayana." Jangan menangis.Sayang." ucapnya pelan dan sangat manis.ia mengkesampingkan rasa sakit hatinya penghinaan yang terlontar dari mulut wanita itu beberapa waktu lalu masih membekas di hati.saat melihat air mata Ayana semuanya seolah sirna berganti dengan rasa iba yang memenuhi dadanya." Jangan menangis. aku di sini."
Ayana mengangguk dalam tangisnya." Jangan pergi.jangan tinggalin aku,maafin aku." kembali Ayana sesegukan mengingat semua ucapan jahat yang keluar dari mulutnya pada Gio." Aku minta maaf untuk semuanya.aku tau aku jahat.tapi bisakah kamu maafin aku,Gi?" Ayana mengadah menatap wajah Gio yang berjarak beberapa centi saja darinya.mata lelaki itu memerah menatapnya." Gi..?"
"Iya-iya.Sayang.aku akan selalu maafin kamu." balas Gio pelan.ia mendekat dan membawa Ayana ke pelukannya." Jangan menangis,aku di sini dan akan selalu bersamamu jika di inginkan.tapi aku akan pergi jika kamu yang meminta." Gio mengelus punggung Ayana yang bergetar.
"Kamu benci ya sama aku?" cicit Ayana di sela tangisnya.
"Mana mungkin aku benci sama ibu dari anak-anak aku,hmm?kamu itu perempuan yang paling aku cinta.mana mungkin sih benci sama orang yang kita cintai?itu gak masuk akal." jawab Gio sambil terus mengelus lembut.
"Tapi ada yang beda dengan sikapmu sekarang."
"Masa?yang mana yang beda,hmm?"
"Beda aja.nggak tau yang mana tapi aku ngerasa begitu."
Pelukan Gio makin mengerat ia mencium kepala Ayana dan berbisik di telinga wanitanya itu." Gak ada yang berubah dari lelaki yang memelukmu ini.lelaki ini tetap sama dengan yang dulu.tetap mencintaimu sampai menggila.tetap menunggumu hingga hati kamu berubah melunak dan mau menerimaku kembali. semuanya tetap sama."
"Benar itu?" tanya Ayana sambil melonggarkan pelukan ia menatap Gio mencari kesungguhan di sana.
"Ya."
"Mmm." Ayana memalingkan wajahnya kesamping telinganya memerah sama dengan kulit wajahnya.ia terlalu malu untuk mengutarakan keinginnnya." Bisa kita kembali dan memulai semuanya dari awal lagi?melanjutkan mimpi-mimpi yang pernah kita rangkai dulu?" selanjutnya ia menahan napas menunggu jawaban dari Gio.Gio tak segera menjawab melainkan menatap Ayana dengan mengulum senyum." Gimana?" tanya Ayana yang tak sabaran.
"Tentu,dan itu yang kutunggu." jawabnya membuat senyum Ayana melebar." Mari kita lanjutkan semua mimpi-mimpi itu."
Tangan Gio membingkai wajah Ayana yang sembab.ia mencium dahi wanita itu beberapa detik lalu melepasnya namun Ayana masih memejamkan kedua matanya pandangan Gio lurus pada bibir merah alami milik Ayana yang begitu menggoda itu.ingin ia cicipi namun tak berani karena setatus keduanya yang sudah berubah.
"Eh?" Gio tersentak dan reflek menjauhkan wajahnya kala Ayana mendekat dan hendak menciumnya." Mm_Maaf.gak gitu masksudnya." Gio tersenyum canggung karena reflek menolak.
"Gak mau aku cium ya?" cicit Ayana dengan wajah kecewa.
"Bukan gitu.tapi sekarang kita udah haram bersentuhan lebih dari ini,Yang." balas Gio cepat dan ketakutan Ayana salah paham.
"Iya aku tau." Ayana mengangguk di sertai senyum tipis namun wajahnya tidak demikian.
__ADS_1
Gio mendekatkan wajahnya kemudian." Mmhh." lenguh Ayana dan selanjutnya Gio mencium bibir tipis itu dengan brutal dan mel*matnya selama beberapa detik hingga napas keduanya memburu.segera ia melepaskan takut kebablasan jika di teruskan.dia mengusap bibir basah Ayana dengan ibu jarinya." Demi tuhan,tunggu sebulan lagi ya sampai masa iddah kamu habis.aku akan memintamu kembali pada Papah.aku janji akan mengambilmu lagi, Sayang." ucap Gio sambil menatap jatuh ke dalam manik mata Ayana yang jernih.