
Bee duduk tak tenang. Walau dia tak percaya apa yang diucapkan Ragil tadi. Tetapi jujur saja dia benar-benar penasaran, apa benar jika selama ini suaminya adalah seorang ketua Mafia?
Wanita menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Berusaha untuk tenang dan tidak panik. Jujur saja, dia benar-benar takut jika bersangkutan dengan dunia hitam tersebut. Bee tahu betapa kejamnya seorang mafia walau hal tersebut hanya dia ketahui lewat film atau novel yang dia baca.
"Tidak mungkin Bastian ketua mafia. Dilihat dari sisi manapun dia bocah yang masih labil. Bagaimana bisa bocah labil seperti nya seorang mafia?" gumam Bee.
Wanita itu terus bermonolog sendiri. Bee sudah mencintai Bastian sangat malah, dia tak mau suaminya jatuh kedalam dunia gelap tersebut dan menjadi bagian dari mafia.
Bee bahkan tak konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Pikirannya berkelana sangat jauh. Membayangkan wajah menyebalkan Bastian berubah serius saat menjadi mafia, membuat Bee bergidik ngeri. Wajah Bastian sama sekali tidak menyeramkan, suaminya itu terlalu imut untuk dijadi mafia.
"Bee kenapa?" tanya Willy yang mengantar berkas laporan pada Bee.
"Tidak," kilah wanita itu.
"Ini laporan yang kau minta langsung saja acc sama Tuan Bastian. Ini proyek akan meluncur bulan depan," jelas Willy.
"Berapa M?" tanya Bee mengambil berkas tersebut lalu membolak-balik isinya.
"10 M," jawab Willy.
"Baiklah, nanti aku coba berikan pada Tuan Bastian," sahut Bee.
Willy belum tahu jika Bastian adalah suami dari Bee. Bee memang melarang Rara untuk memberitahu siapapun tentang hubungan pernikahan mereka. Bukan karena Bee belum menerima Bastian sebagai suaminya, dia hanya tidak mau ada gosip yang beredar tentang dirinya.
"Kau yakin tidak ada masalah, Bee?" tanya Willy sekali lagi sambil memastikan bahwa wanita yang di di depannya ini memang tidak ada masalah.
"Aku baik-baik saja," kilah Bee.
"Ya sudah aku balik ke meja," pamit Willy. "Hem, sepertinya Tuan Gilang dari tadi memperhatikanmu. Aku rasa dia tertarik padamu. Ayolah, Bee dia sangat tampan. Andai dia mau padaku, aku rela berubah jadi perempuan!" seru Willy tertawa lebar. Dia saja yang laki-laki tertarik pada ketampanan Gilang apalagi yang perempuan.
Bee tak menanggapi lebih tepatnya tidak peduli. Suaminya sangat posesif jika memuji lelaki lain, bisa-bisa dirinya dihukum tidak bisa keluar kamar.
__ADS_1
Willy merenggut kesal ketika Bee tak merespon ucapannya.
"Dasar wanita kulkas!" sindirnya menatap Bee jenggah seraya berjalan menjauh.
Bee yang mendengar tetap tak peduli. Wanita itu seperti bisu dan tuli. Apapun yang orang lain bicarakan tentang nya dia selalu saja tak peduli, seperti bukan urusannya.
Bee berusaha fokus pada pekerjaan tetapi tetap saja dia sama sekali tak bisa berpikir. Pikirannya terus tertuju pada suaminya, entah kenapa ucapan Ragil tadi benar-benar menghantui dirinya. Dia berharap semua tidak benar. Dia berharap apa yang diucapkan oleh mantan kekasihnya itu hanya menakut-nakutinya saja.
Sejenak Bee terdiam, beberapa hari ini sikap Bastian memang aneh. Lelaki itu lebih sering bermain ponsel. Biasanya Bastian sangat anti bermain ponsel saat bersamanya.
"Apa aku jemput Bastian makan siang saja?" gumam Bee. "Tidak, bertemu saja nanti di restaurant," sambungnya menggeleng.
.
.
"Ayo," ajak Rara.
"Tidak kalian pergi saja. Aku ingin menyelesaikan game ku," jawab Willy.
Keduanya wanita itu berjalan menelusuri koridor perusahaan. Lagi-lagi banyak yang menatap Bee tak suka, seolah dirinya mencari sensasi di perusahaan tersebut.
"Bee, kulihat kau dari tadi diam saja? Apa kau ada masalah? Katakanlah, siapa tahu aku bisa bantu," ucap Rara melirik sahabatnya tersebut.
"Tadi aku bertemu Kak Ragil," sahut Bee.
"Lalu?" kening Rara mengerut heran.
"Dia mengatakan kalau Bastian ketua mafia Black Dragon," sahut Bee.
"What's?" pekik Rara terkejut. "Seriously?" sambung wanita itu lagi setengah tak percaya.
__ADS_1
Rara melihat Bastian adalah seorang anak remaja yang memasuki usia dewasa. Rasanya kurang percaya jika Bastian salah satu ketua mafia. Bukankah mafia itu menyeramkan yang sering membunuh orang dan melakukan pekerjaan di dunia bawah?
"Aku tidak tahu apakah itu benar, Ra? Rasanya aku tidak percaya jika suamiku seperti itu! Dia masih bocah," jelas Bee.
Jujur ini benar-benar menganggu pikirannya. Bagaimana jika benar bahwa Bastian seorang mafia? Bee tak bisa bayangkan seperti apa nanti nasib rumah tangga mereka. Apakah tetap utuh seperti sekarang atau malah terpecah belah? Bee sangat takut pada hal-hal yang bersangkutan dengan dunia hitam.
"Jangan terlalu percaya, Bee. Bisa saja itu hanya akal-akalan Kak Ragil memfitnah Bastian, agar kau membenci suamimu sendiri," ucap Rara menenangkan sekaligus menasihati sahabatnya tersebut.
Bee mengangguk, dia juga berusaha untuk tidak percaya. Tetapi hal tersebut malah berdiam nyaman didalam kepalanya, seakan-akan memaksanya untuk percaya pada sesuatu yang belum dia ketahui kebenaran.
"Percayalah, suamimu itu orang baik. Walau dia masih muda dan tergolong bocah tetapi dia mencintaimu. Selama ini aku melihat Bastian benar-benar memperlakukanmu seperti ratu."
Bayangan kebersamaannya dengan Bastian terngiang di kepala wanita itu. Memang selama ini Bastian tidak pernah berlaku kasar padanya. Suaminya itu sangat menghormati dirinya. Bahkan selama mereka menikah, Bee tidak pernah melihat suaminya marah. Entah seperti apa wajah Bastain kalau sedang marah?
"Aku berusaha tidak percaya, Ra. Tetapi aku tak bisa melupakan kata-kata Kak Ragil." Bee mendesah pelan.
"Sudah aku katakan, ini hanya taktik Kak Ragil untuk memfitnah Tuan Muda Bastian, supaya hubungan kalian renggang," jelas Rara. "Ehh tapi dari mana Kak Ragil tahu kalau kau dan Bastian menikah?" tanya Rara heran.
"Dia tidak tahu kami menikah tetapi dia tahu jika aku memiliki hubungan dengan Bastian," jelas Bee.
"Kak Ragil tahu hal itu dari siapa?" ulang Rara sekali lagi.
"Aku tidak tahu," jawab Bee menghela nafas panjang.
Jika selama ini benar Bastian membohongi Bee siapa dia sebenarnya. Mungkin Bee tidak akan percaya lagi pada kata cinta. Mungkin saja dia akan sulit percaya pada orang lain. Seandainya hal itu memang benar, mungkin Bee akan pergi meninggalkan Bastian sebab dia tak bisa hidup dalam satu rumah dengan seorang pembunuh.
"Hem, sebaiknya tanyakan saja pada Tuan Muda Bastian," saran Rara yang bakal membaca semburat kekhawatiran di wajah sahabatnya itu.
"Apa saat aku bertanya dia akan menjawab dengan jujur?" Bee sedikit ragu dengan hal tersebut. Walau dia tahu selama ini Bastian selalu terbuka dengan nya, bisa saja kan suaminya itu berbohong untuk hal-hal yang sudah lama dia sembunyikan.
"Aku yakin dia akan jujur kalau dia mencintaimu."
__ADS_1
Bersambung.....