
Ayana sudah harus kembali ke kantor setumpuk pekerjaan sudah menunggunya dengan sabar di sana setelah lebih dua minggu ia tinggalkan.Gio juga sibuk dengan aktivitas barunya di daerah banten membuat waktunya tersita lebih,namun lelaki itu tetap mengupayakan agar tetap bisa berkabar dengan keluarganya.jika ada yang bertanya mengapa Gio sesibuk itu padahal kan setatusnya adalah menantu Frans jawabannya tentu saja karena Gio juga setatusnya adalah pekerja bukan pemilik seperti Ayana dan Frans.mereka berdua saja yang notabenenya adalah pemilik perusahaan itu kadang kala begitu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak ada waktu apa lagi Gio yang hanya sebagai kepala bagian.
Makan siang kali ini di temani oleh klien dari kalimantan Pak Franki dan istrinya. Ayana yang mewakili karena Frans tidak bisa datang lantaran harus terbang ke singapore untuk chek up kesehatannya bersama dengan sang istri.usai menemani tamunya Ayana memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum ia kembali ke perusahaan.kali ini ia mengajak Lita untuk menemaninya keluar ia mendadak ingin memakan durian montong.mereka berdua pergi ke kedai durian yang tempatnya tidak begitu jauh dari area kantor.
"Bu,ini banyak banget tapi" Lita mulai membereskan sisa durian yang belum mereka makan ke dalam pelastik,tadi Ayana menyuruhnya untuk di bawa pulang.
"Gak apa sih Lit,bawa aja buat keluarga kamu di rumah,saya sih gak mau bawa nanti mobil saya bau " ujar Ayana sambil mencuci tangannya dengan air yang sudah di sediakan oleh pemilik kedai tersebut.Lita mengangguk senang,tadinya ia sudah merasa tak enak karena duriannya begitu banyak tapi Ayana memintanya untuk ia bawa pulang.Ayana memesan sekitar enam buah durian dan sudah di buka semua tapi yang wanita itu makan hanya setengah buah dan sudah keburu kenyang.
"Ya udah kamu duluan aja.saya mau ke istana kado dulu temen si Jemi ada yang ulang tahun." pamit Ayana sembari pergi dari sana setelah meninggalkan 10 lembar uang untuk membayar durian dan ongkos untuk Lita balik ke kantor.Ayana mengendarai mobilnya menuju istana kado setelah sampai ia memarkikaran mobilnya di tempat yang ia tuju mata cantiknya itu melirik pada sekumpulan remaja yang sedang gitaran di sebuah ruko yang menjual kebab tepat sebelah istana kado.
Sembari mencepol rambutnya Ayana keluar dari mobil mewah yang ia kendarai tersebut,kaki panjangnya melangkah dengan anggun.tas yang harganya selangit ia tenteng yang isinya sudah dapat di tebak pasti terdapat dompet mahal di dalamnya yang berisikan beberapa kartu tanpa limit.
"Co,bidadari woy,sikat apa gimana nih?sabi kali,Kha?" ujar salah satu pemuda yang berada di ruko sebelah.
"Selain cantik,bau duitnya juga tercium sampe sini,Kha."
Pemuda yang di sebut pun mellirik ke sebelah ia tersenyum dan menggeleng." Gas." jawabnya lalu meminum es jeruk yang sudah tinggal es batunya saja.
"Lagaknya doang mau kawin,ngeliat yang bening-bening aja langsung naik." decak temannya yang lain dan kekehan pun terdengar makin ramai.pemuda itu malah terkekeh sambil memerhatikan Ayana yang sedang memilih barang dari kaca toko di sebelahnya itu.
"Adek gue agresif soalnya,kaya langsung konek gitu kalau ngelihat yang bening seakan dia tuh ngerti gitu sarang yang pantas di kunjungi."
"Si Anying."
"Mintain akun IG nya coba Tu," titah pemuda itu pada temannya yang setatusnya adalah babu di sana." Soalnya bakal susah ngajak kenalan kalau gak tau nomor dan akunnya mah.buru sana Tu suruh gue gitu." perintahnya yang sama sekali tak bisa di bantah.
...ππππππ...
"Oke,makasih ya." Ayana segera keluar usai urusannya itu selesai.baru sampai di pintu ia di kejutkan oleh remaja dengan pakaian layaknya anak motor.pemuda itu tersenyum pada Ayana dan sepertinya ada maksud lain." Ada apa?" tanya Ayana karena ia bisa menangkap kalau pemuda di depannya ini ingin menyampaikan sesuatu padanya.
Pemuda itu mengusap tengkuk dan mengeluarkan ponselnya." Ka,maaf nih. bos saya minta akun IG kaka,boleh bagi gak nih?"
Ayana mengerutkan kening seketika." Untuk apa ya?dan mana bosmu?"
"Di sebelah,Ka."
Ayana melongokan kepalanya ke ruko sebelah sebelum kembali bicara." Akun IG saya buat apa ya?mau promosiin jualannya?"
"Eh,anu_bukan ka.buat kenalan aja sih." Buset di kira mau ngendors" lanjutnya dalam hati.
Ayana memutarkan kedua matanya malas." Setidaknya kalau mau minta sesuatu itu di pastikan dulu ya.tanya dulu sudah punya suami apa belum,kamu tau gak?saya udah punya suami dan anak bilang sama bos kamu itu lain kali kalau mau kenalan jangan nyuruh orang lain dia sendiri yang datang,dasar buaya cemen."
Ayana segera melangkah dari sana meninggalkan pemuda itu yang sedang berdiri dengan wajah bengong." Kalau bos dengar pasti marah nih."
"Gimana Tu?"
"Apa katanya?kok dia langsung pegi?"
"Dia marah sama lu,atau apa?"
"Jangan bilang lo gak dapat nomornya Tu?"
Pemuda itu langsung di bondong dengan beberapa pertanyaan,mereka tadi memasang pendengaran baik-baik meski tidak melihat ke arah keduanya,namun sayang suara kendaraan yang bising membuat obrolan Ayana dan Restu tidak terdengar." Gak di kasih bos,katanya udah punya suami dan anak.tadinya gue mau paksa tapi gak enak kan kalau udah berkeluarga,kecuali single.gue gak mau cari masalah bos." papar Restu dengan jujur.
Decakan dari beberapa temannya kemudian terdengar." Usaha lo kurang Tu namanya cewek kan suka pura-pura udah berkeluarga dia lagi jual mahal itu,harusnya lo tadi paksa aja,dasar lembek lo,gitu aja gak bisa"
"Bener,ah lo gak bisa di andelin." Restu hanya mencebik mendengar mereka yang menyalahkannya.
"Kha,bukannya milik orang lebih menantang gak sih?"
Pemuda yang kembali di sebut namanya itu tersenyum lalu kembali memetik gitarnya." Dalam waktu dekat ini,dia akan berada dalam genggaman gue." gumamnya pongah sambil mengambil bungkus rokok.
Sementara Ayana sedang misuh-misuh di dalam mobilnya.ia mengetik pesan pada Gio mengatakan bahwa dia sedang kesal karena di ganggu oleh pemuda tanggung tadi,bibirnya yang tipis itu kembali mengerucut karena melihat balasan dari Gio yang tambah membuatnya kesal.
...~Hubby~...
Hahaha,bencong juga kalau ketemu kamu mah langsung sembuh yang,normal lagi dia.
Emot ketawa jungkir balik beserta stiker ngakak menyusul,Gio meledeknya membuat Ayana tambah kesal.ia tak membalas pesan Gio dan itu membuat lelaki itu tambah menggodanya dengan berbagi kata-kata.
__ADS_1
"Niat ngadu malah di ledek." grutu Ayana sambil membelokan stirnya menuju rumah mendadak kangen anak-anak.
...πππππππ...
Sementara di tempat kerjanya Gio beberapa kali di buat salah fokus oleh karyawan perempuan yang rata-rata usianya sepantaran dengan Gio,sedang ranum-ranumnya,mereka begitu terang-terangan menggoda Gio dan membuat darah muda lelaki itu kerap kali berdesir.namanya juga lelaki normal,meski ia tidak tergoda secara keseluruhan tapi tetap saja jiwa lelakinya sering berdesir. daerah sunda memang terkenal dengan mojangnya yang cantik-cantik.tak heran banyak lelaki yang tergoda oleh perempuan asal daerah tersebut.
"Astaga,nyebut Gi,sadar anak bini lo di rumah nungguin,bapaknya malah jelalatan." Gio merutuk dalam hati,ia harus menguatkan iman dan menundukan pandangan,seperti kata ibunya.
"Mojang sunda emang gak ada obat ya Gi?" Gio menoleh saat temannya yang sama-sama dari jakarta itu nyeletuk.
"Biasa aja" balas Gio namun dalam hati membenarkan.meski sampai kapan pun tak akan pernah ada yang bisa menggantikan Ayana dan menandingi kecantikan sang istri di matanya.
"Alah,gak usah munalah kita sama kok, secantik-cantiknya yang di rumah kalau lihat yang bening begitu mah tetap aja ada hasrat pengen ngelonin.langsung naik gue" pemuda bernama zaki itu pun tertawa menggoda Gio,mereka seumuran jadi tak heran keduanya tak canggung dan memang satu frekuensi juga.
"Anjing emang." balas Gio ia terkekeh kemudian meneguk minuman isotonik yang baru keluar dari kulkas." Masa baru lihat bokong deplon aja naik,gue di sodorin susu biasa aja,kayanya gue imponten kalau sama cewek lain.beda kalau sama Aya baru nempel kulit aja udah belingsatan."
"Goblog." Zaki terkekeh sampai ngikngik. jika mereka di satukan akan ada saja bahasan nyeleneh.namanya juga laki-laki bahasannya tidak jauh dari sana.
"Yang tadi jangan aduin ke bu Aya dong tega banget lo sama gue." Gio mendelik sambil menggelengkan kepalanya.tak ada satupun karyawan yang tidak takut kepada Ayana,semuanya takut dan tidak berani berurusan dengan perempuan itu.aura bengisnya hampir sama dengan Frans membuat mereka tidak berani mengahadap putri tunggal kaya raya tersebut.terkadang terbesit rasa bangga di hati Gio karena ia bisa menaklukan wanita itu bahkan sudah memberinya anak sampe 3 biji pula.ia tersenyum jumawa.
"eh tapi,lo gak pernah kan di tindes gitu sama bu Aya?misal lo buat dia kesel terus lo tidur di luar atau di usir dari rumah. pernah gak kaya gitu Gi?"
Senyum sombong Gio langsung redup berganti dengan delikan." Nggak lah,mana mungkin suami ganteng kaya gini suruh tidur di luar" jawab Gio narsis membuat lelaki itu ingin muntah.
"Pede bener lo,bu Aya noh bodynya kaya gadis aja,banyak yang pengen ada di posisi lu,secara emak-emak rasa gadis gitu siapa yang gak mau_"
"Gue timpuk lo,ngapain lo merhatiin bini gue?" kesal Gio dengan mata melotot.
"Dih sapa yang merhatiin?gue mah cuma mengagumi aja_"
"Hari ini lo lembur sampe kiamat Zak" Gio meninggalkan Zaki yang terkekeh senang menggoda Gio.
"Gi jangan marah,gue kan beneran"
"Tai." sahut Gio dari dalam ia sedang menyeduh kopi karena matanya mendadak sepet.terdengar suara tawa Zaki yang menggeleger di sana.
...πππππππ...
"Gimana?rasanya menurut kamu enak gak?" tanya Jerrian sembari ikut duduk di depan Ayana dengan satu cup eskrim di tangannya juga dua cup milksahke boba untuk Ayana cobai.
Ayana mengangguk." Enak banget sumpah.kamu dapat ide dari mana Jerr buka kedai minuman dan eskrim kya gini?"
"Iseng aja sebenarnya.temen nawarin katanya dia buka di tangerang eh laris,ya udah dia nawarin,aku buka aja iseng.gak taunya ramai juga,emang rezeki mah gak kemana." balas pria itu." Kalau kamu mau buka coba aja,nanti aku ajarin cara buka dan narik pelanggan."
"Nggak ah,aku pusing harus kontrol sana sini,kerjaan yang lain aja keteter.garmen, kayu,helm.itu aja udah buat kepala aku mau meledak rasanya." tolak Ayana dengan cepat.ia tidak menginginkan membuka usaha apapun lagi karena kesibukannya begitu padat.
"iya sih,udahlah gak usah nanti kamu malah tambah kaya,entar bingung uangnya mau di kemanain."
Ayana mendengus sembari memakan eskrimnya." Sekarang aja bingung uangnya mau di apain." balas Ayana dengan santai,lalu keduanya mengobrol membahas pekerjaan dan lain-lain sambil menikmati eskrim di sana.
Setelah beberapa saat Ayana merasa tak nyaman karena ia merasakan bahwa Jerrian tengah memperhatikannya,benar saja saat ia mendongak pria itu tengah menatapinya dengan pandangan lembut dan memuja.bukan kepedean tapi Ayana tahu dan bisa membedakan mana tatapan biasa mana tatapan penuh cinta.karena ia adalah perempuan dewasa yang sudah bersuami dan juga pengalaman karena Gio sering menatapnya seperti itu.pura-pura tak sadar Ayana tetap memakan eskrim yang sudah mulai mencair itu,buru-buru ia menyendokan ke mulut agar eskrim tersebut cepat habis.namun sesaat kemudian jantung Ayana di buat membeku saat ibu jari Jerrian mengusap sudut bibirnya dengan lembut.
"Pelan-pelan makannya Ay,tenang aja gak ada yang minta kok,masih banyak kalau kurang aku ambilin lagi." ujar Jerrian dengan lembut sorot matanya jatuh ke dalam manik mata Ayana yang jernih itu.
Ayana buru-buru menjauhkan wajahnya." Ehem,ah iya.duluan ya Jerr gue minta jemput Ajun aja." dengan cepat Ayana berdiri lalu membereskan barang bawaannya.ia pergi ke kasir bermaksud ingin membayar eskrim yang ia makan tadi meski lelaki itu bersikeras melarang tapi Ayana tak mempedulikan,saat ia akan membuka pintu dengan cepat Jerrian menghadangnya lelaki itu mencekal tangan Ayana.
"Sama aku aja,kan kamu gak bawa mobil gak usah di jemput Ajun kita bareng aja."
"Gak usah,udah gapapa." tolak Ayana cepat ia sudah merasa tak nyaman dengan lelaki itu.
"Udah hayok,kamu kenapa sih kaya buru-buru banget?" tanya Jerrian sembari membuka pintu kedai dan hendak meraih tangan Ayana namun keburu di tepis oleh perempuan itu.
"Gak usah pegang-pegang" hardik Ayana ia membetulkan tasnya yang hampir jatuh.
"Maaf,ay,astaga.maaf banget aku gak sengaja reflek aja tadi." raut wajah Jerrian terlihat begitu menyesel.namun Ayana tak peduli ia segera pergi dari sana sembari menghubungi Ajun.
Jerrian mengekor di belakang sambil terus mengucapkan kata maaf." Ay,maaf.maaf aku tadi gak sengaja dan yang pas di dalam tadi,aku gak ada maksud apa-apa,sumpah ay"
Ayana tak menggubris Jerrian yang terus meminta maaf dan menyesal karena refleknya tadi.Ayana mengabaikan semua itu tujuannya sekarang ingin pulang dan malas dengan pria yang ada di depannya saat ini.Jerrian di buat menjadi serba salah, berkali-kali dan sempat ia hampir saja meraih tangan Ayana,namun kesadaraannya tiba dan ia tidak sampai melakukan hal itu.tak berapa lama mobil Alphard berwarna putih tiba dengan Ajun di dalamnya.Jerrian memandang langkah Ayana dengan perasaan sendu.
__ADS_1
Jerrian masih berdiri di sana dengan perasaan bersalah.bagaimana tidak, bagaimana ia tidak kelepasan saat dirinya berdekatan hampir setiap hari dengan perempuan yang ia sukai,berpergian dan selalu bersama,makan siang dan mengobrol juga begitu sering mereka lakukan,ia selalu tak bisa menahan diri ketika bersama dengan Ayana seperti tadi.
Saat melihat wajah perempuan itu selalu ia berhayal ingin membelainya lalu merengkuh pundaknya,membawa ke dalam pelukannya,dan bibir tipis itu selalu menggodanya ingin ia raup sampai kehabisan napas.Jerrian tahu dan sadar betul bahwa Ayana sudah mempunyai suami,bahkan anaknya sudah ada tiga,tapi semua itu tak mampu menghentikan rasa cintanya,malah semakin hari semakin berkembang dan meronta ingin memiliki dan menggenggamnya.dengan gilanya hampir setiap malam ia selalu membayangkan Ayana berada di atasnya bahkan menggauli perempuan yang memiliki suami menjadi kahayalan yang menyenangkan untuknya,Jerrian dengan fetish gilanya.
"Seandainya kita bertemu lebih awal Ay, seandainya." gumam Jerrian dengan hati yang sakit.sakit karena tidak bisa memiliki Ayana dan kini perempuan itu menjauh karena kecerobohannya." Apa hebatnya Gio?dia bahkan masih anak-anak.aku gak yakin dia bisa membahagiakanmu,Aya." Jerrian menggelengkan kepalanya tak mengerti mengapa Ayana bisa jatuh ke dalam pelukan lelaki bau kencur itu. sementara di banding dirinya yang sudah matang dan keperkasaannya juga tidak perlu di ragukan lagi.ia yakin Ayana pasti tahu akan sinyal dan kode darinya,Ayana perempuan dewasa sudah pasti paham mana lelaki yang tertarik padanya dan mana yang tidak.
...ππππππ...
Di sebuah kamar mewah Rehan membuka matanya,ia merasai kepalanya yang pusing dan berat seperti habis tertimpa batu sebesar gunung.lelaki itu melenguh melirik kanan kiri namun kosong tapi pahanya terasa berat sekali seperti ketindih sesuatu.ia mencoba menggerakan kaki kanannya itu tapi sangat berat dan sulit sekali untuk gerak.
"Ya allah kalau memang ini karma,jangan sekarang ya allah.aku belum ngebahagiain ibu,kerjaanku juga masih gak jelas begini." Rehan ketakutan dan pikiran buruknya sudah kemana-mana,mencoba memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa dirinya sekarang.
"Nanti aja ya allah nanti.aku belum punya apa-apa buat bekal ibu kalau seandainya aku kena karma.nanti aja kalau bekalku udah cukup_hikss.ya allah bu,maafin aku yang begajulan begini bu_"
"Ish berisik banget sih,orang lagi tidur ganggu aja." mata Rehan melotot mendengar suara perempuan di sebelahnya.lalu ia merasakan pergerakan dan pahanya tidak seberat tadi,ya allah ini kunti apa bukan pikir Rehan.
"Bangun lo,payah." perempuan itu memukul paha Rehan dengan keras bahkan lelaki itu sampai meringis.
Rehan yang tersadar pun segera bangun dan duduk karena perempuan itu juga duduk.mata Rehan yang belo itu hampir saja lompat dari tempatnya melihat siapa yang ada di hadapannya itu.ia hampir tidak mengenali perempuan itu karena penampilannya terlampau acak-acakan tapi setelah perempuan itu menyibakan rambutnya tentu ia mengenali siapa dia.
"M_Mbak?ngapain mbak di sini?" tanya Rehan terbata dan beringsut ke dipan sambil menarik selimbutnya.takut di perkosa dia.
"Cih,malah nanya" Aneska menatap Rehan dengan tatapan kesal." Lo yang bawa gue kesini gelo,malah nanya ngapain gue di sini?"
"Loh,loh,kapan saya bawa mbak kesini?dih ngawur_Aws,sakit Mbak" Rehan mengusap lengannya saat Aneska mencubit kulitnya dengan keras.
"Pala lo ngawur.semalam lo mabuk berat dodol,kita papasan di lorong dan lo narik gue sambil ngeracu gak jelas." Rehan mengerutkan kening mencoba mengingat apa yang semalam ia lakukan.
"Terus kenapa mbak gak nolak?"
Aneska terlihat gelagapan mencari jawaban." Ya,ya karena lo maksa gue mana bisa gue nolak" sangkalnya membuat Rehan menautkan alis
"Sengaja gak nolak karena mbak juga mau.gitu?" tebak Rahan dengan senyum jahil di bibirnya.
Bantal dan guling segera melayang ke wajahnya dari tangan lentik Aneska." Sembarangan lo,kalau bukan karena terpaksa gue juga gak bakal ada di sini,dan mau masuk terus tidur sama lo" Rehan menganggukkan kepalanya namun senyuman mengejek masih is sematkan untuk Aneska.dan itu membuat Aneska meradang.
"Jangan kepedean lo ya,kalau bukan karena si botak itu gue gak akan masuk ke sini,gue kepaksa karena,semalam gue di jadiin taruhan sama bapak-bapak mesum. dan si botak yang menang.gue kabur ketoilet dan si botak itu ngikutin gue,dia maksa gue buat wleowleo,gue ogah amit-amit jabang jenglot harus ewita sama bapak-bapak buncit itu,meski semalam kita juga melakukan itu,ya tapi setidaknya gue bersukur ngw sama lo dari pada sama si botak itu." Jelas Aneska panjang pendek ia tidak mau lelaki di depannya ini menganggap kalau ia dengan suka rela masuk ke kamar ini.
"Oh gitu,jadi mbak gak mau wleowleo sama si botak itu,tapi mbak mau wleowleo sama saya ya?mbak suka ama saya. mbak?" tanya Rehan dengan penuh arti membuat perempuan di depannya ini melotot." Jelas dong suka ya mbak?dari pada di garap si buncit itu mending sama saya yang masih kuat dan gagah." Rehan menaik turunkan alisnya membuat mata Aneska menajam
"Kuat dan gagah kepala bapak lo,udah barang kecil dan loyo gitu,baru juga asalamualakum udah walaikumsalam aja mana kecil lagi,gak berasa tau." ujar Aneska membuat harga diri Rehan lebur seketika.
"Mbak tega." Rehan menatap Aneska dengan wajah terluka membuat perempuan itu mengerjap seketika ia tersadar akan ucapannya barusan,ia kira ucapannya itu biasa saja tapi ternyata melukai perasaan Rehan.
"Eh,ma_Maksud gue bukan begitu...mm_"
"Gapapa mbak,saya tau kok.terima kasih udah buat harga diri saya jatuh." Rahan turun dari ranjang mencari pakaiannya dan segera menggenakannya dengan cepat ia mengambil ponsel dan barang-barang lain miliknya." Kamar ini mbak yang pesan atau saya?saya lupa soalnya." tanya Rehan sambil melihat jam di ponselnya.
Aneska tertegun di atas ranjang dan perasaan bersalah makin terasa di hatinya. harusnya dan tak sepantasnya ia menghina lelaki itu,tidak seharusnya ia berkata dengan sangat keterlaluan begitu bagaimana pun semalam barang lelaki itu begitu memuaskannya meski kecil dan imut di banding dengan milik mantan-mantannya dulu.
"Ya udah saya tanya kebawah aja deh," Rehan melangkah dari sana namun langkahnya terhenti karena Aneska menuburuk punggungnya.wanita itu memeluk Rehan dari belakang dan mengatakan kata maaf membuat Rahan menahan tawa." Kenapa minta maaf mbak?yang mbak katakan emang bener kok.saya terima itu" ujar Rehan membuat hati Aneska tambah merasa bersalah.
"Maaf,gue salah,gak seharusnya gue ngehina lo tadi.jujur semalam gue puas kok,skill lo oke dan gue suka,maaf ya" aku Aneska dengan jujur.
"Pfffttt,Hahahhaha." Aneska terdiam mendengar tawa Rahan dan ia terhenyak saat pemuda itu membalikan tubuh lalu menghadapnya.
"Kenapa lo ketawa?" tanya Aneska.
"Lucu aja,kok mbak gemesin banget sih?" jawab Rehan yang membuat Aneska segera tersadar.
"Lo ngerjain gue?" tanyanya marah apa lagi saat tawa rehan kembali terdengar.
"Nah gitu dong,minta maaf.setidaknya makasih kek karena mbak secara gak langsung saya selametin dari si botak itu apa jadinya kalau mbak di wewew sama dia?ih,geli pasti kan?ini mah mbak malah ngehina saya sampe-sampe harga diri saya udah runtuh tak terisa asal mbak tau aja?untung yang mbak hina itu saya,bukan lelaki lain,entah apa jadinya kalau lelaki lain yang mbak hina seperti tadi.mungkin bisa aja sore nanti beredar kasus pembunuhan seorang wanita di temukan tergeletak di kamar hotel,mbak mau_"
"Gila,jangan doain gue kaya gitu dong ngeri amat gue dengernya.ya udah gue minta maaf.gue salah," sela Aneska cepat.
"Ya udah,kalau gitu gimana kalau kita pacaran aja mbak mau gak?mbak jomblo kan?sama saya juga jomblo.kita udah tau dan udah ngerasain satu sama lain,jadi nunggu apa lagi mending kita pacaran." ajak Rehan to the point membuat Aneska membelalak.
"Sinting ini orang." Aneska menatap tak percaya.
__ADS_1