
"Bas," panggil Bee.
"Iya Ayang, kenapa?" tanya Bastian tersenyum hangat pada istrinya.
"Kau mencintaiku?" Bee menatap suaminya dengan tatapan sendu dan memohon.
"Tentu, aku sangat mencintaimu Ayang," jawab Bastian.
"Jika begitu katakanlah siapa dirimu. Aku berjanji akan menerimamu apa adanya walau itu berat," ucap Bee.
Bastian langsung terdiam. Dia takut jika Bee tahu siapa dia yang sebenarnya, dia malah kehilangan wanita itu dalam hidupnya. Apalagi Bee sedang menggandung anaknya.
"Ayang." Tangan Bastian mengusap perut buncit Bee dan usia kehamilan gadis itu sudah memasuki bulan ke-enam.
"Katakan Bas," desak Bee.
Bastian menghela nafas panjang. Lalu lelaki itu berjongkok dan mengenggam kedua tangan Bee.
"Ayang, berjanjilah untuk tidak pergi dan meninggalkanku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tolong jangan pergi, saat tahu siapa aku sebenarnya," pinta Bastian.
Bee menatap suaminya dalam. Jujur awalnya dia sempat berpikir meninggalkan Bastian. Tetapi dia tidak mau egois, dia mencoba menerima masa lalu suaminya. Bukankah semua orang pernah bersalah dan semua orang selalu memiliki kesempatan untuk berubah.
Bee mengangguk, "Iya Bas, aku berjanji. Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Apalagi kau ayah dari bayi dalam kandunganku," ucap Bee.
Mata Bastian kembali berkaca-kaca. Bee adalah tempat ternyaman untuk dia pulang. Bee adalah rumah yang selalu dia idam-idamkan. Bee adalah sosok terbaik untuknya bersandar.
Bastian menarik nafas dalam sangat dalam, lalu dia hembuskan perlahan. Sejenak lelaki itu menatap wajah Bee penuh cinta.
Lalu Bastian menceritakan siapa dirinya. Dia adalah ketua mafia terkenal di dunia bawah. Tetapi walau begitu dia tidak membunuh sembarangan jika orang tersebut tidak mencari masalah dengannya. Bastian juga menutupi semua kedoknya melalui wajah polos dan pura-pura tidak tahu. Dia pewaris utama Schweinsteiger Group, atas nama kakeknya.
Untuk sesaat Bee seperti kehilangan kesadaran saat mendengar penjelasan suaminya. Wanita itu menatap wajah sang suami yang penuh penyesalan. Jujur saja dia sebenarnya keberatan saat tahu Bastian adalah seorang mafia. Walau dari awal dia sudah menduga bahwa apa yang dikatakan Ragil adalah kebenaran.
"Ayang, maaf." Bastian menunduk.
"Bas." Bee tersenyum hangat. "Sini, peluk." Dia merentangkan tangannya agar lelaki itu memeluknya.
"Ayang."
Bastian berhambur memeluk istrinya dengan sayang.
__ADS_1
"Aku memaafkan mu, asal kau meninggalkan semuanya," pinta Bee.
Bastian nengangguk. Dia sama sekali tidak keberatan meninggalkan dunia mafia asal Bee mau memaafkan dan menerima dia kembali. Bastian rela kehilangan segalanya dari pada kehilangan Bee karena wanita ini lah yang segalanya bagi Bastian.
"Terima kasih, Ayang," ucap Bastian lirih.
.
.
"Mama."
"Bee."
Ibu dan anak itu saling memeluk. Memang sudah lama Bee tidak bertemu dengan Dalina, ibu kandungnya. Dia pernah marah dan kecewa karena mama-nya itu memintanya menikahi Bastian. Tetapi sekarang Bee sadar bahwa suami pilihan ibunya adalah yang terbaik.
"Maafkan aku, Ma," lirih Bee.
Bee sadar bahwa sikapnya telah melukai hati sang ibu. Apalagi sebentar lagi kecebong Bastian akan menetes. Sejak dia hamil, dia menyadari bahwasanya menjadi seorang ibu bukanlah perkara yang mudah.
"Maafkan Mama juga, Nak," ucap Dalina.
"Selamat ya, Nak. Sebentar lagi kau akan jadi ibu," ucap Dalina.
Burgha dan Belvi tersenyum simpul. Sudah lama Dalina tidak tersenyum bahkan sejak Bee menikah, wanita paruh baya itu juga sering sakit-sakitan.
Begitu juga dengan Bastian yang tersenyum senang, dia baru bisa mempertemukan istri dan mertuanya tersebut karena kesibukannya dalam bekerja dan kuliah. Apalagi sejak Bee menggandung dia tidak memperbolehkan wanita itu masuk kantor karena takut Bee sakit. Semua karyawan kantor juga sudah tahu tentang status pernikahan antara kedua manusia berbeda usia dan jenis kelamin tersebut.
"Terima kasih, Ma," sahut Bee dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama Sayang," sahut Dalina mengecup kening putrinya dengan sayang.
Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan Dalina. Walau dia dan Bee sempat berselisih paham karena pernikahan tersebut tetapi akhirnya Bee menemukan lelaki yang tepat.
.
.
"Lepaskan, kalian siapa?!" hardik Rara berusaha memberontak.
__ADS_1
"Nona, jangan banyak bertanya. Ikuti saja kami," ucap salah satu pria berbaju hitam dengan badan besar dan kekar karena terlihat dari otot-otot tangannya yang menonjol di balik baju yang dia kenakan.
Rara mendengus kesal, tiba-tiba saja mobilnya di cegat oleh orang-orang tersebut lalu memaksanya keluar dari mobil.
"Ayo masuk, Nona," titah salah satunya.
Rara masuk ke dalam mobil dengan wajah ditekuk. Wanita itu terus mengumpat, kira-kira dia akan di bawa kemana oleh orang-orang berbadan besar ini.
"Saya mau di bawa kemana sih?" protes Rara.
"Ikut saja, Nona. Nanti Anda akan tahu," sergah salah satunya.
Mobil yang ditumpangi Rara berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah dan besar. Wanita itu semakin bingung dan bertanya-tanya, rumah siapa ini?
Rara turun dari mobil setelah salah satu pria itu membuka pintu untuknya. Wanita itu menatap rumah mewah yang ada di depannya.
"Ayo, Nona. Silakan masuk," ajak salah satunya.
Rara tak lagi memberontak, wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Walau dia masih bingung kenapa dia bisa ada disini dan kenapa dia di ajak kesini?
Rumah ini sangat mewah dan lengkap dengan segala fasilitas. Di depannya saja sudah di suguhkan dengan pancuran air yang keluar dari dua patung manusia yang berdiri di depan rumah.
"Tuan Bara," gumam Rara saat melihat Bara duduk di sofa seorang diri.
Dalam hati wanita itu bertanya-tanya, ada apa Bara membawanya kesini? Dia memang mengenal lelaki ini tetapi mereka tak sedekat itu untuk sekedar saling bertanya kabar atau menyapa.
Bara mengangkat pandangannya. Lelaki itu sontak berdiri ketika melihat wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya itu. Sepuluh tahun lamanya dia mencari Rara dan betapa bodohnya dia, ternyata wanita ini ada di sekitarnya dan setiap hari hampir bertemu.
"Rara," lirih Bara.
Kening Rara mengerut, ada apa dengan lelaki ini. Kenapa menatapnya kian lekat?
"Aku adalah lelaki yang tidur bersamamu sepuluh tahun yang lalu."
Deg
Rara mendengar tak percaya. Dia menatap Bara penuh selidik, berusaha mencari kebohongan dari tatapan mata itu. Namun yang dia temukan adalah kebenarannya. Bagaimana bisa pria yang merenggut mahkotanya adalah Bara, pria paling berpengaruh di Ibukota ini. Rara bahkan sudah lupa suara lelaki yang tak mau mendengarkannya itu.
Jantung Rara berdegup kencang. Dia tidak tahu, apakah harus senang atau malah membenci Bara karena gara-gara lelaki ini dia mendapat caci maki dari suami dan mertuanya hanya karena dirinya sudah tidak perawan lagi.
__ADS_1
Bersambung....