
Ayana tersenyum saat melihat Jemia yang masuk ke kamarnya sambil membawakan yogurt katanya untuk bundanya.anak itu berlari dan memeluk Ayana yang sedang berdiri di depan lemari baru saja memakai pakaian setelah mandi.Ayana mengelus kepala Putri sulungnya itu dengan lembut.
"Semalam teteh dari mana sama oma dan opa?"
"Makan dulu Bun.ini aku yang pilih rasa buah peach enak loh bun." sebelum menjawab Jemia memberikan satu cup yogurt pada sang ibu yang di terima dengan senang oleh Ayana." Kemarin kami dari rumah Ayah,Bun." jawab Jemia membuat Ayana membulatkan matanya." Kami dari kuburan Nenek.bunda tau ga?Nenek di kubur di dalam tanah loh,Bun." jelas gadis kecil itu.
"Ne_nek siapa yang di kubur Jemi?" seluruh bulu di tubuh Ayana berdiri semua bahkan ia menahan napas menunggu jawaban anaknya.
"Nenek Mia,nenek Teh Billa juga,Bun. Mamahnya Ayah." jawab Jemia membuat Ayana limbung dia langsung mencari pegangan pada ujung meja rias.anaknya segera membantu menahan Ayana agar tidak jatuh meski tenaganya tak seberapa.
"Nenek Mira?" suara Ayana bergetar ia menatap putrinya yang mengangguk membuat pertahanan Ayana runtuh." Ibu." wanita itu tergugu mengabaikan anaknya yang menatap kehernan padanya.
"Bun,jangan nangis." Jemia mengusap bahu sang ibu yang terguncang.ia bingung harus melakukan apa melihat ibunya yang menangis itu.tapi ikut menangis seakan ia merasakan kesedihaan sang ibu.
"Jemi.." Ayana memeluk Jemia mereka nenangis bersama." Nenek udah pergi Jem." tangis Ayana semakin menjadi. segala kenangan manis dan kebersamaannya dengan Mira langsung berputar di ruang ingatan.ia tersedu membayangkan kepergian sang ibu mertua yang seperti ibu kandung baginya. kebaikan Mira tak dapat di jelaskan dengan kata-kata saja.wanita itu terlalu sempurna untuk di katakan baik.
Selepas makan siang Monica memutuskan untuk pulang ke rumah sekalian ingin melihat cucu-cucunya sedang apa mereka sekarang.itu terus yang selalu ia pikirkan saat sedang berada di luar rumah.baru saja wanita baya itu mendudukan diri di meja makan saat pelayan selesai menata makanan di atas meja besar itu.seketika ia menoleh saat melihat Ayana berjalan menuju meja makan.
"Ay?" Monica berdiri dari duduknya saat melihat Ayana menghampirinya dengan wajah sembab.
"Kenapa Mamah gak bilang sama aku kalau ibu udah gak ada?" tanpa basa-basi Ayana langsung mencecar sang ibu." Bener ibu udah gak ada kan?." Ayana mengigit bibirnya melihat anggukan Monica." Kenapa kalian semua gak ada yang ngasih tau aku?semuanyaa pada diam kenapa Mah?kenapa."
"Aya," Monica menarik napas berat kemudian mendekati Ayana yang sedang menghapus air matanya itu." Kami punya alasan untuk itu,kami sengaja gak bilang dulu ke kamu.kondisi kamu kurang sehat, Ay.keadaan kamu gak stabil.Mamah gak mau kamu nanti drop dan kenapa-napa."
Ayana menggelengkan kepalanya melihat sang ibu dengan tatapan tak percaya." Gak seharusnya kalian menutupi semua ini dari aku.Mamah tau kan kalau ibu itu adalah orang tua kedua bagi aku?kenapa pada saat dia pergi aku gak ada di sisi terakhirnya." Monica mengusap air mata mendengar dan melihat Ayana tergugu.sebagai seorang ibu dia bisa merasakan bahwa Ayana memang benar-benar tulus menyayangi besannya itu.Monica juga merasa bersalah karena sudah menutupi kabar duka itu.
"Maafkan Mamah,Sayang." Monica memeluk putrinya yang sesenggukan.
Keesokan paginya Frans dan Monica yang sedang sarapan itu hampir tersedak melihat Ayana yang baru turun dari kamarnya.pagi ini Ayana terlihat berbeda, wanita beranak empat itu tampil elegan dengan menggenakan blouse turtleneck berwarna hitam yang memiliki lengan panjang di padukan dengan kulot bahan berwarna putih.Ayana juga terlihat menggenakan aksesoris seperti gelang dan jam tangan juga cincin di jari-jarinya, hanya saja cincin pernikahan itu tidak terlihat di jari manisnya.
"Mau kemana dek?pagi-pagi udah cantik bagitu." Frans tersenyum menatap putrinya yang barusan nendudukan diri di samping sang ibu.
Ayana melahap roti tawar yang di sodorkan Bi Narti kepadanya." Ke makam ibu." Ayana menjawab dengan wajah masam.
"Gapapa emang langsung pergi-pergi begitu,padahal kan kamu belum boleh keluar rumah?." hati-hati sekali Frans bertanya takut menyinggung perasaan anaknya.
"Cuma kerumah ibu kok Pah.bukan jalan-jalan gak jelas." sahut Ayana ketus sekali membuat Frans pasrah." Aku berangkat sama Ajun,Mah." Ayana berdiri meninggalka meja makan dan segera menemui Ajun di luar.dalam perjalanan menuju ke rumah Gio hanya keheningan yang terasa di dalam mobil itu.Ayana memilih bungkam ia hanya menatap jalanan dan sesekali memejamkan matanya tapi tentu saja tidak tidur sama sekali.hampir satu jam perjalanan akhirnya sampai di rumah Gio.
"Itu bukannya istrinya si Gio bukan?" ucap ibu-ibu yang sedang menggerumuni tukang baju kreditan.ia menunjuk Ayana dengan bibirnya.ciri khas tukang gosip yang sudah pro sekali.biasanya orang-orang seperti ini sudah malang melintang menekuni dunia gosip.sehingga sudah paham dan mereka mempunyai kode rahasia seperti itu.
"Iya itu.lah baru nongol dia?bukannya kemarin Teh Mira meninggal tapi kok dia gak datang ya?" timpal yang lain.
"Mertua Gio aja baru datang pas udah tujuh harinya." yang lain ikut menimpali." Sekarang istrinya yang baru nongol pas udah mau sebulan." lanjutnya.
"Biasa lah orang kaya kan sibuk bu." timpal ibu-ibu tukang jamu keliling.
"Halah bu,sesibuk-sibuknya juga kalau besan,keluarga,atau mertua ada yang berduka mah ya datang dong.masa gak bisa datang sih?heran saya mah."
"Perbedaan kasta lah,apa lagi kalau bukan karena itu.secara keluarga bu Mira sama besannya kan udah kaya langit dan bumi, bu Mira punya apa sih?cuma mantan istri polisi yang keberadaannya aja di lupakan, kalau bukan karena di nikahi almarhum Pak Agus,bukan siapa-siapa,cuma mantan perawat kan dia yang gak bisa nerusin profesinya itu." ibu-ibu yang sejak jaman kuda gigit besi menyimpan dendam pada ibunya Gio itu begitu berapi-api menjelekan Mira.ia teramat benci pada Mira karena tidak jadi besanan.lantaran Gio memilih menikahi perawan tua itu ketimbang si Nilam anak gadisnya.
"Iya kenapa gak buka klinik aja ya dia dulu?kan mustahil kalau Pak Agus ga ngasih biaya mah."
"Keburu meninggal Pak Agusnya bu.uang pensiunan juga kan di cabut udah lama itu, kasian saya mah ke si Gio sebenarnya, kenapa harus di asuh sama keluarga yang gak jelas begitu.itu anak nasibnya jadi kaga jelas kan?nikah muda dan di paksa ngawinin perawan tua.meski gak rugi juga secara istrinya sih emang cantik.tapi kan buat apa toh kalau ga ada habisnya di rendahkan mulu sama keluarga istrinya mah?."
"Huss.kita ga tau apa-apa bu jangan menebar gosip.kalau ga bener jatuhnya fitnah.kalau pun bener jatuhnya Ghibah."
"Mirisnya sekarang di tendang kan dia?halah,palingan juga nanti nikah sama Amanda,kalau ga salah denger dia juga udah di cerein si Raka."
"Paling begitu.keluarga mereka juga udah sama deket kan.udah pasti itu mah."
Ayana yang masih berdiri di balik tembok itu meremas tali tas dengan kuat.tadi usai melewati kumpulan ibu-ibu itu ia tak segera pergi melainkan berhenti sejenak ingin mengetahui apakah mereka akan membicarakannya atau tidak.ternyata benar dirinya jadi buah bibir di kampung itu.
"Yang_mm..Ka_mu sama siapa kesininya?" Gio yang membuka pintu itu begitu terkejut melihat siapa yang datang, setelahnya ia terbongong melihat wajah Ayana nyata di depannya.semalam ia mempimpikan wanita ini hingga sampai ke esokan paginya tidak tertidur lagi karena terus kepikiran Ayana." Mm..masuk" Gio mempersilakan Ayana masuk setelahnya menutup pintu.
Seteleh duduk Gio terpana melihat Ayana yang duduk elegan dan angkuh di hadapannya itu.Jantungnya berdegup kencang melihat Ayana yang begitu cantik itu.tampilannya memukau meski lingkaran hitam di bawah matanya yang cekung itu tak dapat di sembunyikan,padahal sepertinya Ayana sudah menutupinya dengan foundation dan concelar.tapi tetap saja masih terlihat jelas oleh Gio.
__ADS_1
"Ka,ada Aya." Gio memanggil Indri yang sedang membereskan barang-barang sisa tujuh harinya Mira yang masih berantakan di belakang rumah.
"Kamu benar-benar keterlaluan. bagaimana bisa kamu gak ngasih tau aku apa-apa tentang kepergian ibu?." Ayana menatap nyalang pada Gio membuat lelaki itu terkejut bukan main." Hubungan kita memang udah berakhir,tapi hubungan aku dengan keluargamu itu akan selamanya terikat."
Gio yang kembali duduk setelah memanggil Indri itu begitu panik." Bukan gitu maksud aku,maksud kami semua, Yang_Mmm..ya.." Gio merutuki dirinya yang terus saja memanggil Ayana dengan panggilan seperti biasa.bagaimana bisa ia mengganti panggilan itu setelah lidahnya sudah kebiasaan dengan panggilan kesayangan itu.
"Kami sepakat biar kamu gak tau dulu, sampai kamu pulih setelah melalui hal berat itu.Sayang.kami,aku dan semuanya gak mau kamu kenapa-napa,itu saja Yang." jelas Gio setelahnya ia berdehem kembali menyadari mulut langcangnya.ia yakin Ayana sudah tidak sudi di panggil dengan panggilan dan kata itu lagi.
"Ini bukan hal sepele.tapi ini soal kepergian ibu." lirih Ayana dengan mata mengembun Gio mengangkat wajahnya menatap Ayana yang sedang mengusap air matanya.ia kira wanitanya ini akan mengamuk dan menyerangnya membabi buta karena tidak di beri tahu oleh Gio perihal kepergian Mira.
"Maaf." hanya itu yang bisa Gio ucapkan, rasanya gatal sekali ingin memeluk Ayana yang kini duduk dan menangis di hadapannya itu.
Indri tergopoh begitu mendengar panggilan Gio tadi,namun urung dan hanya berdiri di pintu sekat antra ruang tamu dan ruang keluarga." Ya allah ka Aya?" Indri tersenyum setelah memutuskan untuk menemuni Ayana,karena ia melihat keduanya hanya diam tanpa obrolan.
Begitu Ayana melihat Indri segera ia berdiri menubruk tubuhnya dan menangis."Ka Indri."
"Maaf belum bisa ngabarin." bisik Indri di sela tangisnya.
"Kenapa seolah aku gak di anggap oleh kalian?kenapa Ka?apa emang aku ini bukan keluarga ibu?bukan anak ibu?" tangis Ayana menjadi-jadi di pelukan Indri.
"Bukan begitu,sama sekali nggak begitu Ka." Indri menggelengkan kepalanya membantah ucapan Ayana.keduanya masih terus menangis Gio yang duduk di kursi itu hanya diam sesekali menyusut sudut matanya yang basah.ia memang cengeng dan mudah menangis rasanya akhir-akhir ini air matanya terus menerus berjatuhan.
...ππππππ...
"Bahagia selalu di sana ya Ibu.sampai bertemu nanti di alam yang sama.jangan lupakan aku ini anak ibu juga dan akan selamanya begitu." Ayana mengusap nisan yang terpampang nama Mira di sana.tadi setelah merasa jauh lebih baik mereka bertiga memutuskan ke makam Mira dulu sebelum Ayana pulang.namun sekarang ia hanya berdua dengan Gio karena Indri pulang lebih dulu.
"Doakan juga ya Bu,supaya kami kembali bersatu.ibu tau kan wanita yang paling aku cinta satelah ibu itu?Ayana.cuma Aya,Bu." Ayana menoleh ke samping saat Gio berucap seakan sedang bicara dengan Mira.Ayana menjadi kikuk sendiri ia mencoba memalingkan wajahnya ke tempat lain.dan pura-pura tak mendengar apa-apa.
"Gimana anak-anak?" tanya Gio setelah mereka baru beberapa langkah meninggalkan area pemakaman.
"Baik.mereka sehat." jawab Ayana singkat.
Gio membalikan tubuhnya menghadang Ayana yang berjalan di belakangnya. langkah Ayana terhenti dan mendongakan wajah nenatap wajah Gio yang sedang menatapnya itu." Bisa kita bicara sebentar?" tanya Gio pelan dan hati-hati.
Setelahnya Gio mengajak wanita itu duduk di sebuah lempengan kayu jati yang di jadikan kursi oleh warga sekitar letaknya berada di pinggir jalan.ia meminta Ayana duduk dengan nyaman bahkan ia mengambil kayu balok dan meletakannya di bawah kaki Ayana menyuruh perempuan itu menaruh kakinya di atas balok itu." Buat apa sih?" ketus Ayana.
"Biar kaki kamu gak gantung.habis lahiran pamali kan gak boleh ngegantung nanti bengkak.harusnya keluar rumah aja kamu belum boleh loh,Yang.ini malah ke kuburan." ujar Gio kemudian berdiri dan segera duduk." Gapapa sih.semoga ga apa-apa ya." lelaki itu melihat sekeliling." Jangan ganggu ya,kita masing-masing aja.istriku cuma numpang lewat." ucapnya pada penghuni di sana.
Ayana menahan napas mendengar dan melihat bentuk perhatian Gio padanya.ia mantap rindu pada lelaki itu ingin sekali menubruk tubuhnya dan mencium rahangnya yang sekarang di tumbuhi bulu halus.
"Hey?" tegur Gio ia tersenyum saat Ayana hanya diam menatapnya." Kangen aku ya?" katanya sembari mengulum senyum.
Ayana mendekus malas." Kamu tadi mau ngomong apa?" tanyanya mengalihkan rasa malunya karena keperegok menatapi Gio.
"Ahhhhh..." Gio menghembuskan napas ia melihat sekeliling sambil bergumam." Ternyata hanya aku yang rindu,kukira kamu juga rindu sama aku.ternyata nggak yahhhhh." ia menoleh kesamping pada Ayana yang duduk hampir berdempetan dengannya.dan seketika hampir saja wajah keduanya beradu.hanya menyisakan jarak satu centi meter saja bahkan hidung bangir keduanya hampir bersentuhan.tatapan mereka terkunci sorot mata keduanya memancarkan kerinduan yang dalam.
"Ishh." dekus Ayana ia pura-pura menepuk nyamuk di tangannya.menjauhkan wajahnya dan sibuk mencari nyamuk padahal nggak ada karena dia memakai pakaian panjang.
Gio mengulum senyum." Yang di gigit nyamuk itu kaki aku,kamu kan pake serba panjang,Yang.mana ada di gigit nyamuk sih. "katanya sambil menahan tawa melihat Ayana yang kelimpungan sendiri.
"Kata siapa?ini tuh nyamuknya ganas nembus baju." kilah Ayana tetap harus terlihat jual mahal.karena gengsinya yang tinggi melebihi tumpukan sampah di bantar gebang.
"Ganas?" Gio menatap Ayana dengan senyum penuh arti membuat wanita itu mendengus.
"Kalau ga ada yang mau kamu omongin mah.aku pulang aja deh." Ayana hendak berdiri namun tangannya segera di tahan oleh Gio.mau tak mau ia kembali berdiri.
"Hati-hati." ujar Gio saat Ayana berhasil duduk kembali." Maaf,aku cuma kangen kita itu aja kok." lanjutnya raut wajahnya menjadi datar.
"Rencananya setelah ini aku mau_" kalimat Ayana terhenti karena Gio memotong lelaki itu seperti paham apa yang akan ia katakan.
"Rujuk kan?iya setelah ini aku janji akan meminta kamu kembali sama Papah dan Mamah." ucap Gio dengan antusias menyembunyikan hatinya yang ketakutan akan kalimat Ayana yang belum selesai itu.
Ayana menarik napas lelah setelahnya menatap Gio dengan wajah serius." Gi,aku ini serius.aku kalau nggak ya nggak.kita udah berakhir sebagai pasangan sampai di sini.tapi sebagai orang tua untuk anak-anak.kita akan terus selamanya menjadi orang tua bagi mereka.aku udah mantap pisah.jadi tolong jangan menghalangi keputusan aku lagi."
Gio tak menjawab mengapa Ayana begitu tega mengatakannya,bahkan Gio masih dalam suasana duka.kuburan Mira saja masih basah tapi perempuan ini sudah kekeuh ingin mengajukan perceraian mereka ke pengadilan.apa Ayana ini sebegitu ingin secepat itu mereka pisah.
__ADS_1
"Sesepele itu." Gio menatap lurus ke depan melihat rumput di sisi jalan yang bergerak tertiup angin yang siang ini cuaca dan udaranya begitu sejuk." Hari-hari dan waktu kebersamaan kita selama 4 tahun ini semua gak ada artinya ya?ternyata selama ini hanya aku yang berjuang,yang mencintai kamu.aku pikir kamu juga.kita sama-sama saling mencintai.ternyata aku di bodohi oleh ekspetasiku sendiri selama ini.kupikir kita ini akan menjadi keluarga yang bahagia yang saling mencintai,yang akan menua bersama hingga di pisah oleh takdir yang akan memanggil salah satu dari kita."
Ayana bungkam hatinya tertohok sebetulnya ia pun sama seperti Gio.bahkan ia pernah berjanji tidak akan melepas lelaki itu dan akan menggenggam selamanya. namun apa daya jika hatinya tidak menerima di saat Gio meragukan anak mereka.sejak saat itu angan-angan dan harapan Ayana seolah hancur dan berhenti sampai di situ.
"Aku mencintaimu,Aya.sungguh.aku tau walau pernikahan kita di mulai dengan kesalahan.tapi aku berharap pernikahan kita ini adalah yang pertama dan terakhir untuk kita." Gio menoleh ke samping melihat Ayana yang hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun." Cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku cinta.dan sekarang hanya kamu harapan terakhir aku setelah ibu pergi.tapi sayangnya kamu tetap kekeuh ingin kita pisah." Gio terkekeh miris ia menjilat membasahi bibir tebalnya itu.
"Kukira kamu tempat terakhir untuk aku pulang.ternyata aku salah.aku bisa apa kalau kamu tetap memaksa.ya sudahlah, gapapa.silahkan lakukan apa yang membuatmu bahagia." setelahnya Gio terdiam cukup lama karena Ayana tetap bungkam.
"Kalau memang hanya itu.ya sudah,pulang yuk udah panas banget ini.dede juga kamu tinggal lama kan?" Gio mengajak Ayana pulang dan wanita itu menurut meski hanya diam.
"Mau aku anterin?" tawar Gio memecah keheningan di antara mereka.
"Gak usah,tadi sama Ajun." tolak Ayana yang di angguki oleh Gio.
...πππππ...
"Oh iya." Gio diam ia mengusap tengkuknya bingung.
Ayana menatap heran lelaki itu.ia sedang merapikan bajunya hendak pulang karena terlalu lama meninggalkan bayinya." Apa?"
"Udah di kasih nama belum anak kita?" tanyanya dengan hati-hati takut menimbulkan kemarahan di hati Ayana.
Benar saja Ayana terlihat malas untuk menjawab." Belum." jawabnya singkat.
"Boleh aku yang kasih nama?" Gio menatap Ayana penuh harap membuat wanitanya itu terdiam tak langsung menjawab." Nanti aku kerumah ya,pengen ketemu anak-anak dan kalau kamu bolehin mau bawa Jem nginep."
"Ya." Ayana menjawab sekenanya.hanya
ya dan tidak tahu itu kata Ya untuk yang mana.namun walau begitu Gio tak apa ia sudah cukup senang.
"Hati-hati Bun.kabari kalau udah sampe. tidur yang cukup ya kamu kurusan sekarang.kamu juga terlihat lelah." ujar Gio membuat Ayana membeku di tempat." Capek ya?andai kita belum seperti ini aku yang akan menggantikan kamu merawat dede.sayangnya sekarang udah beda dan mana bisa ya." Gio bicara sendiri saat mengantar Ayana menuju mobil yang terparkir di sisi jalan.
"Dah,hati-hati." Gio melambaikan tangan saat Ayana sudah memasuki mobil." Hati-hati mas Ajun.banyak anak-anak di depan." ucapnya saat Ajun membunyikan klakson.
Di dalam mobil Ayana menangis ia tak kuat menahan air matanya lagi.ia sesegukan membuat dada Ajun ikutan sesak." Sabar Non.semua akan baik-baik saja." ucapnya menenangkan.
"Dia lelaki yang saya cinta,Jun.dia ayah dari anak-anak saya.saya benci dia tapi saya gak bisa bohong kalau perasaan ini masih sama.gak berubah sama sekali." Ayana mengusap air matanya yang membanjiri pipi mulusnya.ia tidak malu dan sudah mengangap Ajun seperti adik baginya.jadi tak apa cerita seperti ini dengan lelaki itu.
"Kalau begitu.kembali aja Non.setiap manusia punya kesalahan,kita tidak ada yang sempurna.maafkan kesalahan mas Gio,saya yakin dia hanya khilaf.sebagai sesama lelaki saya paham mas Gio hanya kelepasan.dia tidak mungkin dengan sengaja mengatakannya." selama ini Ajun memang sudah tau mengenai hubungan Ayana dan Gio.sesekali Ayana cerita maka ia sedikit mengetahui.walau Ajun ragu mengatakannya pada Ayana tapi harus memberanikan diri.Ayana perlu seseorang untuk menyadarkannya.
"Tapi dia menceraikan saya,Jun." sahut Ayana masih dengan tangisnya.
"Kan menuruti permintaan,Non.non Aya yang maksa kan?saya rasa mas Gio gak bakal menjatuhkan talak begitu saja kalau non gak maksa." balas Ajun.namun sesat kemudian ia tersadar dan langsung mingkem.
"Hari ini kamu kurang ajar sama saya,Jun." ujar Ayana setengah kesal.
"Iya saya tau.tapi saya gak nyesel Non.non Aya harus sadar jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru.kasian anak-anak yang jadi korban,termasuk non Aya sendiri." ucap Ajun masa bodo jika Ayana menjambak rambutnya setelah ini." Non Aya tau gak?"
Ayana yang sedang menyusut matanya itu menjawab." Nggak.Apa emang?"
"Temen saya yang gay sempet ketemu sama mas Gio waktu itu.pas saya nganter mas Gio ketemu orang lapangan." Ajun menghentikan kalimatnya.
"Terus?" Ayana menatap ke depan menunggu Ajun menyelesaikan kalimatnya.
"Temen saya naksir sama mas Gio dan sempet minta kontaknya." beritahu Ajun membuat Ayana membulatkan mata." Nggak saya kasih kok non,tenang aja." Ajun tahu Ayana hendak menyemprotnya dengan kata-kata pedas.
"Gak usah temenan sama orang-orang kaya gitu lagi,Jun.nanti kamu kebawa-bawa." ujar Ayana mendadak tak suka pada teman si Ajun.
"Iya Non,nah saya takutnya itu setelah non Aya pisah sama mas Gio.ada banyak perempuan yang ngejar bapaknya Jemi itu.gak cuma perempuan saya rasa.tapi lelaki pun banyak yang ngejar deh.secara duda hot anak tiga non,beuhh lagi hot-hotnya itu_"
"Setelah ini kamu lebih baik di rumah Nenek Mel aja,Jun.kamu saya pindahkan ke rumah Nenek.di sana kamu bisa anter jemput mereka.gak usah di sini lagi.soal Mamah ada Pak Rudy." potong Ayana cepat.
"Loh,non kok gitu?" seketika Ajun menjadi panik dan ia mulai ketar ketir.
"Saya rasa bukan temanmu itu,tapi kamu yang agak lain." ketus Ayana membuat Ajun mingkem ia merapatkan bibir sampai rumah.
__ADS_1