
Sudah lebih dari seminggu Ayana hanya diam di rumah.ia selalu mengeluh kakinya yang membengkak dan sakit.di kehamilan yang ini lebih banyak nikmatnya yang bisa Ayana rasakan.kehamilan yang ini jauh lebih sulit untuk melakukan apa pun dari pada saat kehamilan pertama dan kedua. padahal dulu pada saat hamil si kembar ia lebih leluasa dan merasa sehat.bahkan saat hamil tua saja Ayana masih bisa mengurus Gio yang sakit dan bebas melakukan perjalanan bolak balik antara rumahnya dan rumah sakit.tapi di kehamilan yang ini jangankan untuk berpergian,untuk cek kandungan kerumah sakit saja ia sudah kewalahan.apa lagi kalau sampai menunggu antrian.
Monica meminta Ayana duduk bersamanya dan Frans.katanya ayahnya itu ingin di temani makan pizza.barusan pria tua itu baru memesan beberapa kotak pizza untuk di nikmati bersama anak dan cucunya.juga para pekerja di rumahnya.
"Jemi mau?" tawar Ayana pada putrinya yang baru saja ikut bergabung di sana.
"Pizaaaaa.mau bun." teriak anak itu girang membuat Frans terkekeh.
"Ada pizza.Aven mau osis." teriak Raven di susul oleh Vindi.
"Vindi mau pageti,nda."
"Makan nak,makan yang banyak,ayok." Frans mempersilakan cucu-cucunya untuk makan sepuasnya.mereka duduk di karpet bersama dengan semua pekerjanya.
"Apa ini?" tanya Ayana setelah menerima dua potong pizza dari putrinya.lalu putri Gio itu menjadikan paha ibunya bantalan kepala.
"Ini untuk ayah,bun.simpan ya,nanti kalau ayah pulang kasih ya." ujar Jemia membuat ketiga orang dewasa di sana kompak melihatnya.para pekerja Frans memang sudah pada undur diri.tinggal Frans dan Monica juga Ayana yang ada di sana.
Ayana tersenyum namun hatinya teriris bagai luka yang di taburi garam.perih rasanya.bagaimana bisa anak sekecil itu sudah memiliki empati yang tinggi.mustahil rasanya anak sekecil Jemia sudah memikirkan perut sang ayah.
"Terima kasih teteh Jemi.biar bunda simpan ya." ujar Ayana lalu mencium pipi anaknya itu dengan gemas.Ayana tertawa menyusut sudut matanya yang berair.dan mengadakan kepalanya ke atas agar air matanya tidak tumpah.
"Setelah melihat anakmu yang begitu peduli dan mencintai ayahnya.kamu masih tetep kekeuh dek,mau cerai?" Frans yang semula memalingkan wajahnya itu karena tak kuat melihat hal manis yang di tujukan oleh cucu sulungnya itu,menoleh pada Ayana.
"Kalau sampai itu terjadi.kamu akan melukai anak-anak,Ay.kasihan mereka yang jadi korban." timpal Monica seraya mengusap air matanya." Pikirkan lagi baik-baik.jangan langsung ambil keputusan buru-buru begitu. Mamah udah bilang intropeksi diri masing-masing renungi kesalahan-kesalahan kalian. jangan main-main dengan pernikahan."
Kedua orang tua Ayana itu masih menasehati dan membujuk putrinya agar mengurungkan perceraian.dua hari lalu Ayana membuat keduanya syok setengah mati.karena tidak ada angin tidak ada hujan Ayana mengatakan ingin bercerai dari Gio.
"Pertimbangkan lagi dek.tidak mudah menjadi single parent dengan 4 anak meski Papah akan menjamin hidup kalian. tapi tetap saja anak-anak akan merasa kosong karena mereka tidak mempunyai keluarga yang lengkap.Papah ingin cucu-cucu Papah merasakan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya.kami membesarkanmu dengan setulus hati segenap jiwa.selalu bersama dan kompak dalam hal apa pun." Frans menjeda ucapannya ia melihat sang putri yang membisu sambil menyusut air matanya.
"Jangan sampai anak-anak merasakan kesedihan,mungkin kamu akan melihat anak-anak tampak baik-baik saja tanpa ayahnya.karena kita akan memberikan yang terbaik untuk mereka.tapi itu hanya luarnya saja.namun siapa yang tahu batin mereka merasakan kekosongan tanpa hadirnya seorang ayah.apa lagi si kaka yang udah paham dan mengerti dan dia juga nempel banget ke ayahnya kan?"
"Mungkin setelah perpisahan kamu akan merasa lega dan bebas,serta puas karena keinginanmu terwujud.tapi apa kamu sudah seyakin itu?bagaimana kalau setelah perpisahan itu kamu malah yang terpuruk merasa kehilangan sosok lelaki yang begitu memujamu hingga ia mengabaikan dirinya sendiri?bagaimana jika keadaannya malah begitu,tidak sesuai dengan harapanmu?"
"Kamu lupa bagaimana saat Gio sekarat?saat dia terbaring di rumah sakit selama hampir satu tahun lamanya.bagaimana kamu merawatnya tanpa lelah setiap hari hampir setiap detik kamu berada di sisinya bahkan kamu melupakan dan mengabaikan dirimu sendiri?lalu setelah semua itu kalian lalui kamu ingin berpisah apa semua itu gak terasa sia-sia dek?Papah gak percaya bahwa cintamu hilang begitu saja,masa hanya karena satu kesalahan Gio lalu semua yang kalian lalui serta waktu dan masa-masa indah hilang begitu saja?."
Frans melihat lagi Ayana yang sudah bercucuran air mata itu.putrinya yang tersayang terisak pilu membuat hatinya kian perih.ia tidak tahu pasti permasalahan Ayana dan menantunya itu.tapi bagaimana pun sebagai seorang ayah yang tak ingin rumah tangga anaknya berantakan Frans akan mengupayakan berbagi cara agar pernikahan Ayana tatap utuh.tapi melihat kesedihan putrinya yang tetap kukuh ingin bercerai itu Frans bisa apa.jika memang dengan sebuah perpisahan bisa membuat Ayana bahagia serta bebas dari rasa yang mungkin membelengu hatinya maka Frans akan menyetujui meski sangat berat sekali pun.
Namun lama Frans berpikir,apa lagi Monica dan Ayana yang membisu sejak tadi.ia berpikir hal lain jika saja apa yang dia lakukan sekarang dapat membuat Ayana malah tertekan dan menderita.lalu untuk apa ia melakukannya.lebih baik Frans mengikuti keinginan putrinya meksipun berat menyetujui hal itu. biarlah,biar semuanya berjalan sesuai takdir dan kehendak sang pencipta.meski ia mengupayakan berbagi cara pun jika pada akhirnya semuanya tak berjalan sesuai keinginan dan anaknya justru tambah tertekan dan menderita maka percuma saja.jalan satu-satunya adalah perpisahan.
"Tapi kalau semua itu membuatmu tertekan dan tidak bahagia.maka lakukan dan lepaskan.kamu tidak perlu menjalaninya sepanjang hidupmu.kau juga punya hak untuk bahagia.jadi jika pernikahanmu tidak membuatmu bahagia maka bercerai adalah pilihan terakhir meski itu menyakitkan.tapi setidaknya bisa membebaskanmu dari beban yang selama ini mungkin kamu pikul sendirian.jika bercerai adalah pilihan terbaik dari segala upaya yang sedang kau pertimbangkan maka lakukanlah.bahagiamu adalah milik Papah.senyum dan tawamu milik kami dan anak-anakmu."
Ayana malah sesegukan hingga Monica yang terisak pelan itu merangkulnya.Ayana meraung di pelukan Monica sampai Frans sendiri memalingkan wajahnya ke arah lain tangis pilu dua wanita yang paling berharga di hidupnya itu begitu menyayat hati dan perasaannya.
"Mamah akan mendukung apa pun yang menjadi keputusanmu." bisik Monica seraya menghapus air mata Ayana.
"Ini berat Mah.tapi untuk melanjutkan pun rasanya tidak sanggup." lirih Ayana.
"Semua ada pada kamu,kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung keputusan kamu.kami tidak berhak ikut campur soal rumah tanggamu dek." Monica mengelus kedua tangan Ayana dan menggenggamnya hangat." Jangan berlarut dalam kesedihan.kalau memang udah gak bisa lanjut lagi,ya jangan di paksakan."
"Besok Papah carikan lawyer ya,yang bagus biar bisa di proses dengan cepat sebelum aku lahiran." pinta Ayana membuat Frans menggelengkan kepalanya.
"Dek.wanita hamil itu gak bisa di cerai pamali.paling bisa juga setelah lahiran." ucapnya memberitahukan pada putrinya." Dan kalau pun mau bercerai.tunggu nanti setelah kamu melahirkan dan harus pelan-pelan.bicarakan dulu sama Gio dari hati ke hati.minta baik-baik ungkapkan alasanmu dengan benar.bukan grasak grusuk seperti ini.kasihan Gio walau bagaimana pun dia masih suamimu.iman kamu dan ayahnya anak-anak.hargai dan dengarkan apa yang menjadi alasannya. jangan seperti ini,Aya."
"Percuma Pah.Gio sibuk apa lagi ibu masuk rumah sakit.mana ada waktu dia buat bicara dari hati ke hati.lagi pula aku udah mantap bercerai gak perlu di obrolin lagi." sahut Ayana yang lagi-lagi tidak masuk ke logika ayahnya.
"Jangan gegabah dek.kau akan menyesal karena salah mengambil langkah." ucapnya memperingati agar putrinya itu berpikir lagi.mungpung masih ada kesempatan dan Gio belum mengetahui hal ini.Frans takut jika anak menantunya itu tahu dan tertekan dan malah jadi tidak bisa fokus pada kesembuhan besannya.
...☘☘☘☘☘☘☘...
__ADS_1
Malam itu tepat setelah tiga minggu Ayana berada di rumah Frans.baru malam ini Gio bisa mengunjungi anak dan istrinya.itu pun karena di minta oleh Ayana dan kebetulan Frans juga memintanya datang katanya ayah mertuanya Gio itu akan mengadakan makan malam dengan anak dan cucunya karena ada Abi dan istrinya juga.sudah selama itu bukannya Gio tidak ingin datang tapi Ayana memintanya untuk tidak datang sementara waktu.karena katanya ia masih marah pada Gio.benar-benar alasan yang tidak masuk di akal.padahal Gio sudah sangat merindukan mereka termasuk merindukan Ayana juga.tapi karena di larang Gio menurut meski harus mati-matian menahan rindu.
"Bun ada ayah." teriak Jemia dari luar.ia sedang main masak-masakan bersama susternya tiba-tiba melihat mobil ayahnya memasuki garasi.
Ayana hanya mengangguk dan tersenyum." Iya,suruh ayahnya masuk."
Jemia berlari mendekati mobil Gio.gadis kecil itu berdiri di samping mobil menunggu ayahnya keluar.begitu Gio keluar Jemia langsung memeluk kaki ayahnya." Jem kangen ayah." ucapnya sambil berkaca-kaca.
Gio tersenyum lebar lalu merunduk merengkuh putrinya membawahnya ke dalam dekapan." Ayah lebih kangen sama kamu Jemi,kangen sama kalian semua. sama Bunda dan dede bayi juga."
"Makasih ya ayah,ayah janji jemput Jem sebelum dede bayi keluar." ujar anak perempuan Gio itu dengan senyum cerahnya.jangan di tanya air mata Gio tiba-tiba meluncur di pipi putihnya tubuhnya sampai bergetar memeluk Jemia dengan erat." Kok ayah nangis sih?kenapa?ayah sakit ya?ayah mau minum obat?" tanyanya membuat Gio tak kuasa membendung air mata.
"Oh iya,Yah.pizza yang Jemi sisakan untuk ayah gak bisa di makan tau.waktu itu sudah basi kata bunda,jadi di buang deh sama Mbak Mimin.padahal Jemi sengaja sisakan untuk ayah kasian ayah takut belum makan." mendengar putrinya yang begitu peduli terhadapnya Gio tak kuasa lagi menahan tangis.tak peduli dia dimana sekarang dan akan ada yang melihat atau tidak Gio tak peduli.tangisnya pecah sambil memeluk putrinya yang keheranan itu.
"Terima kasih sayang.terima kasih udah peduli sama ayah." lirih Gio sambil mengecupi pipi kemerahan milik Jemia.
"Iya,Ayah.ayah kenapa sih kok nangis?"
Gio terkekeh sambil mengusap air matanya." Nggak ada apa-apa.pengen nangis aja.emang gak boleh ayah nangis hmm?"
"Ayah cengeng ih kaya bunda aja suka nangis terus."
"Oh yah?emang nda suka nangis?"
"He'em.nangis terus.waktu itu juga bunda nangis-nangis sama oma.kayanya di omelin opa.padahal kami habis makan pizza sama-sama.ada bi Juju,kang Maman.Mbak,ncus,dan Ibu Narti.setelah makan pizza bunda sama oma malah nangis berpelukan." ucap anak Gio itu." Seperti ini,begini nih." Jemia menirukan suara tangis Ayana dan Monica yang membuat Gio tertawa tapi sedih.
"Gitu ya?kira-kira kenapa itu?"
"Kayanya bunda pengen burger tapi opa malah beli pizza.makanya bunda nangis." tawa Gio pecah ia terkikik geli mendengar ocehan putrinya.sudah jelas bahwa anak itu adalah pelipur lara.luka kita yang menganga seakan terobati dengan tawa dan celoteh riangnya.duh jika sudah begini mana sanggup Gio berpisah dari gadis kecilnya ini.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Makan malam berlangsung dengan obrolan dan cerita dari masing-masing hanya Ayana dan Gio yang tampak diam keduanya hanya menjadi pendengar.dan sesekali menjawab jika ada yang bertanya pada keduanya. mereka semua mengerti terlihat dari wajah Ayana yang masam. berbeda dengan Gio yang terlihat santai walau dalam keadaan hatinya yang berantakan.
Gio yang baru saja menaruh sendok itu mendongak pada ibu mertuanya itu." Belum ada Mah.kata dokter sulit sekali untuk sembuh seperti sebelumnya sekarang aja ibu udah mulai linglung. masalahnya yang kena otaknya,jadi otaknya itu balik kaya anak kecil. malah udah gak ingat sama ka Indri."
Ayana tertegun di genggamnya sendok yang ada di tangannya itu dengan kuat.ada rasa yang seketika menusuk hatinya.
"Ya ampun,ya allah jeng." Monica bahkan menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya itu.
"Terus apa kata dokter?" tanya Frans.
"Gak ada Pah.hanya bisa pasrah tapi terapi gak boleh putus." jawab Gio dengan wajah yang tampak tegar tegar saja.lelaki itu sudah berdamai dengan keadaan.ia pasrah dengan musibah yang menimpa ibunya itu.
"Besok mas kesana.kasih tau aja alamatnya.Gi." ujar Abi.Gio hanya mengangguk kemudian menatap Ayana yang hanya menunduk sejak tadi.
"Kamu mau nengokin ibu,Dek?" tanya Monica.semua orang menatap Ayana menunggu respon wanita itu.
"Besok aku ikut mas Abi." jawab Ayana seraya beranjak dari sana.Gio menyusul sejak tadi ia belum memiliki kesempatan mengobrol dengan Ayana.kali ini kesempatan untuk bicara dengan istrinya itu tidak boleh terlewatkan.Gio mengekor ikut masuk ke dalam kamar setelah berada di dalam ia duduk di sofa menunggu Ayana ke kamar mandi.
"Yang." sapa Gio saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi.Ayana mengambil duduk di depan Gio,ia mengambil bantal kecil menutupi pahanya yang terekspos karena hanya memakai kimono tidur yang lumayan pendek karena perutnya yang maju.
"Kamu tau kenapa aku minta kamu datang?" tanya Ayana membuat Gio langsung menggelengkan kepala." Aku minta di pulangkan ke keluarga aku,Gi.aku udah mantap untuk bercerai.setelah di pikir dan di pertimbangkan berulang kali jawabannya tetep bercerai."
Gio tidak tahu apa yang paling menyakitkan di dunia ini yang pernah ia rasakan selama hidup dengan umur yang hampir genap 24 tahun.rasanya tidak ada selain ucapan yang barusan ia dengar dari mulut istrinya.mulut manis yang selalu menjadi candunya itu kini mengeluarkan racun yang mampu melumpuhkan seluruh saraf di tubuh Gio.aliran darahnya membeku mulutnya terkunci.bahkan tenggorokannya terasa seperti ada yang menghalangi hingga ia tak bisa bernapas dengan baik." Kembalikan aku dengan baik-baik.sekarang,Gi.mungpung ada mas Abi juga sebagai saksi.aku gak mau di nanti-nanti.aku pengen segera bebas biar bisa fokus sama persalinan."
"Kalau aku gak mau dan gak bisa gimana?" lirih Gio setelah sekian menit hanya diam menatap Ayana dengan mata memerah.
"Tapi keputusanku udah bulat.aku ingin kita bercerai.aku janji gak akan menghalangi kamu untuk ketemu anak-anak,kamu ayahnya mereka dan mereka anak kamu.kamu bebas nemuin kapan aja.kita akan menjadi orangtua yang kompak untuk mendampingi tumbung kembang mereka."
__ADS_1
"Sebaik-baiknya orang tua.mereka yang hidup bersama menemani tumbuh kembang anak-anaknya hingga menua. hingga mereka di bawa dan membawa pasangannya masing-masing."
"Ayolah Gi,jangan egois.aku ingin kita pisah.aku gak mau melanjutkan rumah tangga yang udah gak sehat ini." kekeuh Ayana seraya melipat tangannya di dada.
"Dosa aku yang mana yang paling menyakiti kamu?sikap dan perbuatan aku yang mana yang paling membuat kamu mantap untuk mengakhiri pernikahan yang sakral ini,Yang?katakan yang mana kesalahan aku yang tidak terampuni dan termaafkan?" tanya Gio.Ayana menatap Gio dengan tegas lelaki ini harus tau mana sikapnya yang paling menyakiti hati Ayana.
"Sejak kamu mempertanyakan kehamilan aku,sejak kamu ragu sama anak yang aku kandung ini,sejak saat itu pula aku mantap untuk bercerai dengan kamu.sikap kamu yang mana pun aku bisa maafkan,kecuali perselingkuhan dan meragukan anak sendiri.dengan kamu ragu sama darah daging kamu sendiri itu udah cukup menyakiti dan merendahkan aku."
"Semudah itu,Yang?kamu masih cinta kan sama aku?masih bisa kan kita perbaiki dan memulai semuanya dari awal?." Gio meraih tangan Ayana yang kini berada di bantal." Tolong kasih aku kesempatan sekali ini aja.aku mohon beri aku waktu dan kesempatan untuk memperbaiki diri untuk menebus dosa dan kesalahan aku sama kamu.aku janji Yang.aku akan memperbaiki diri.tolong ya kita jangan bercerai.aku akan melakukan apa aja asal kita jangan pisah.asalkan keluarga kita tetap utuh seperti semula.bisa kan Yang bisa ya?"
"Nggak." sahut Ayana cepat membuat Gio mengerjap dengan pandangan sedih.
"Sayang,apa gak ada cinta untukku lagi?walau sedikit aja.dimana cintamu yang?kemana semua itu?kenapa sekarang dengan mudahnya kamu meminta kita berpisah.kenapa Yang"
Ayana melepaskan tangan Gio dan segera bangun." Cinta aku udah gak ada,Gi.dan semua itu akan pergi bersama kenangannya.semuanya sudah hilang setelah kalimat menjijikan itu kekuar dari mulutmu.aku gak butuh lelaki sepertimu. aku hanya ingin hidup bersama anak-anak dan tentunya tanpa kamu."
Ayana melangkah dari sana setelah tangannya hendak membuka pintu lemari ia tersentak saat tiba-tiba Gio menyudutkannya ke tembok.ia terhenyak ketika lelaki itu menghimpitnya menekannya beruntung Gio segera tersadar bahwa ia sedang hamil jadi Gio melonggarkan tubuh mereka.
"Benar itu?benar udah gak ada lagi cinta untuk aku?" Gio menekan Ayana belum sempat istrinya menjawab ia sudah mel*mat habis bibir tipis itu.tak memberi Ayana kesempatan Gio melahap habis bibir mungil itu meski mendapat perlawanan dan penolakan dari sang istri tapi Gio tetap melakukannya.tak sampai di situ saja tangan Gio menelusup ke dalam kimono Ayana mer*mas dada sang istri hingga wanita itu melenguh.entah karena marah atau justru menikmati.setelah ciuman terlepas Ayana bernapas dengan rakus.
"Yakin kamu gak akan rindu dengan ciuman tadi?jika kita bercerai kita gak akan melakukan hal ini lagi,Yang." tangan Gio melesak ke bawah mer*mas b*kong sintal milik sang istri." Setelah kita berpisah kamu yakin gak akan rindu sama semuanya?sentuhan ini dan ini.kamu yakin udah gak mau lagi aku sentuh begini.Yang.hmm?Sayang?." Gio menatap Ayana mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.napas hangat keduanya beradu dan saling memburu.
Ayana yang sudah hanyut itu hanya membisu kemudian kesadarannya kembali ia menyentak Gio mendorong lelaki itu agar sedikit menjauh darinya." Gak akan. semuanya udah berlalu." sahut Ayana sembari memalingkan wajahnya ke samping membuat Gio terpaku.
Tanpa Ayana tahu Gio sudah menumpukan lututnya ia memeluk kaki Ayana,menangis dan memohon agar istrinya berubah pikiran.demi apa pun dia tidak ingin bercerai tidak ingin menceraikan Ayana sampai kapan pun.bahkan sampai ia menutup mata Ayana akan tetap menjadi istrinya,satu-satunya." Aku gak mau,dan gak akan menceraikan kamu,sampai kapan pun gak akan pernah.Yang,tolong beri aku kesempatan sekali lagi.kali ini aja." mohon Gio dengan air matanya tapi Ayana tak goyah sedikit pun.
"Gak bisa.keputusan aku tetap bulat.sana pungut aja mantan kamu itu.sekarang dia udah punya anak kan?bagus dong bahkan nama anaknya aja ada nama kamunya." Ayana bersidekap dada menatap tajam pada Gio yang tengah merunduk itu.sontak saja lelaki itu mendongak.
"Apa maksudmu?" demi apa pun Gio tak mengerti dengan ucapan Ayana barusan. lelaki itu berdiri.
"Gak usah pura-pura gak tau gitu deh. nama anaknya dia ada nama kamunya kok kamu ini spesial banget ya sampe dia segitunya loh." sindir Ayana dengan bibir yang mencetak senyum sinis.
"Sumpah aku gak tau,dan baru tau.dan untuk apa aku mungut dia yang jelas ada suaminya.kalau pun gak ada itu gak mungkin kurang kerjaan banget.kamu udah lebih dari segalanya buat aku."
"Halah,omong kosong.buktinya kamu mengabaikan semua panggilan dan pesan dari aku.demi apa dan siapa?demi Amanda tersayang dong.sampe minta orang lain berhenti bantuin kamu supaya kamu sendiri yang mengangkat mantan terkasih itu ke dalam mobil.bener-bener luar biasa."
"Kamu ngomong apa sih?ngelantur."
"Siapa yang ngelantur?aku ngomong fakta dan aku melihat dengan kedua mataku langsung.pantes akhir-akhir ini sibuk banget taunya bau-bau orang yang lagi nostalgia mengenang masa-masa indah pacaran.bahkan ibu pun keliatannya makin dekat sama calon menantunya itu_"
"Gak usah bawa-bawa ibu ke dalam masalah kita,Yang." potong Gio tak suka menyangkut pautin orang tuanya.apa lagi saat sedang sakit seperti sekarang ini.
"Kenapa emangnya?bener kok.ibu deket banget sekarang sama dia.tiap aku datang mereka pasti lagi jemur bersama sambil ngobrol.bahkan ibu tak segan ngelusin perut dia.atau jangan-jangan kamu juga gitu_"
"YANG" sentak Gio membuat Ayana diam." Gak usah kemana-mana kalau ngomong. kamu itu fitnah tau?mana ada aku melakukan hal itu dan berani nyentuh dia. ngawur." nada bicara Gio meninggi membuat Ayana menahan tangis.
"Ceraikan aku sekarang,aku benci kamu. Gio.benci sangat dan amat.detik ini juga_"
"AYANA." bentak Gio tanpa sadar suaranya mengeleger memenuhi ruangan hingga Ayana membeku.tubuhnya bergetar ketakutan tangisnya menyeruak seumur hidup selama pernikahan baru kali ini ia mendapat bentakan yang amat menyakitkan itu.bahkan ketika di bentak oleh Leonardo satu-satunya orang yang salau berkata kasar padanya tidak semenyakitkan dan semenakutkan ini rasanya.tapi kali ini rasanya Ayana tidak sanggup lagi.ini terlalu menyakitkan.
Gio tersadar ia mengusap wajahnya dengan kasar.menghembuskan napas mencoba menguasai diri." Maaf,maaf sayang.aku kelepasan." tangannya hendak meraih tangan Ayana tapi terhenti saat Ayana mengangkat tangan isyarat bahwa ia tak ingin di sentuh.wanita itu mengangkat wajahnya yang sudah berlinang air mata.
"Giovanno Narendra Pramudya.mulai detik ini juga tolong ceraikan saya." pintanya yang membuat dunia Gio seketika runtuh hancur berkeping hingga tak berbentuk. lantai yang ia pijak rasanya bergoyang seperti jelly.penglihatannya langsung mengabur bersamaan dengan air mata yang berlomba membasahi pipi.
Gio menatap jatuh ke dalam manik Ayana yang sedang memancarkan kesedihan.ia menarik napas lelah lalu maju melangkah mendekati wanitanya itu dan memegang kedua pundaknya.Ayana langsung memalingkan wajah." Tatap aku,dan katakan kalau itu benar.dan dari hatimu."
Butuh beberapa detik untuk Ayana mau menatapnya.wanita itu seakan menyiapkan mental untuk menatap kedua mata Gio.tak lama wanita itu menatap wajah Gio dengan kesungguhan." Ya,itu benar dan dari hati." jawab Ayana membuat Gio terkekeh lelaki itu memalingkan wajahnya dengan air matanya yang kembali melaju.
"Baik,akan aku kabulkan keinginanmu Sayang.jika memang perpisahan ini akan membuat kamu bahagia,maka aku akan mengambulkannya.ayok." Gio menarik pelan tangan kurus Ayana keluar kamar menuju kamar mertuanya.
__ADS_1
...☘☘☘☘...
Kalau kesel sama bab ini Silakan maki saja penulisnya😸🙏🙏