
Tidak terasa waktu kian cepat bergulir tanpa bisa di cegah.kini anak pertama Gio sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik seperti ibunya.namun sayang rupanya begitu mirip dengan sang ayah.jadi bisa di sebut cantik tapi juga tampan.anak gadisnya Gio itu sudah duduk di bangku sekolah dasar. tumbuh di tengah-tengah keluarga yang hangat dan banyak saudara membuatnya menjadi pribadi yang begitu riang dan penuh cinta.namun semakin dia tumbuh Jemia perlahan mulai menyadari kalau selama ini ayah dan ibunya itu sibuk bekerja dan kadang saat di rumah keduanya akan sibuk dengan ketiga adiknya.
Jemia sering kali di abaikan menjadi anak pertama dan juga sebagai kaka.membuatnya banyak mengalah dari ketiga adiknya.dia menjadi sedikit pendiam dan hanya terbuka dan riang ketika dengan sang ayah.Seperti sekarang ini jam lima sore Ayana terlihat baru kembali dari kantor.wajah lelah sang ibu tergantikan oleh keriangan dan cerita-cerita dari Vindi yang selalu heboh.gadis kecil itu menunjukan PR dari sekolah yang sudah ia kerjakan bersama suster dan meminta Ayana untuk tanda tangan.
"Bunda tanda tangan di sini,hari ini Vindi karjainnya bareng ncus." ucap Vindi heboh membuat Raven memutar bola matanya jengah.
Ayana tertawa sembari menyahut kertas PR sang anak." Oke,sini bunda tanda tangani dulu." ibu empat anak itu langsung membubuhkan tanda tangannya di sana.
"Raven juga Mi." ucap Raven seraya memberikan kertas yang sama dengan vindi. anak lelaki yang wajahnya mirip dengan Ayana itu memang beda sendiri memanggil sang ibu dengan sebutan mami.
"Sini sayang." pinta Ayana dan langsung melakukan hal yang sama.terlihat Vindi yang mengintip isi PR adiknya itu membuat Raven tersadar.
"Jangan nyontek kamu ya," tangan mungilnya menyahut kertas itu dengan cepat sampai Ayana kaget,kawatir sobek.
"Dih,siapa yang ngintip dan mau nyontek?enak aja.tulisanmu jelek kaya ceker ayam jadi aku tidak bisa membacanya karena terlalu jelek." kilah Vindi karena ketahuan.
Raven menghembuskan napas." Nih baca kamu buta ya?tulisan rapih begini tidak bisa baca,Vin?" Raven menyodorkan kertas PRnya tepat di hadapan wajah Vindi hingga gadis kecil itu kesal.
"Rapih kepalamu?lihat tuh seperti akar bringin acak-acakan." katanya.putri Gio yang satu itu memang paling bisa jika urusan hina menghina.entah turunan dari siapa itu,ehm, sepertinya dari sang ibu deh.
"Vindi,jangan ngomong begitu ya?bunda gak suka loh kamu kasar banget sama saudaramu sendiri." tegur Ayana tak suka. Vindi ini paling susah di bilangi sesukanya sendiri.
"Tuh dengerin mami_"
"Raven." Ayana melotot pada putranya itu membuat Raven langsung mingkem.
Tak lama terdengar suara mobil yang barusan terparkir di carpot rumah besar itu.Jemia yang sedang berdiri di ujung tangga melihat kehebohan sang adik dengan ibunya itu tersenyum dia sudah tahu bahwa sang ayah sudah pulang.ia melangkah turun senyumnya sumringah melihat Gio masuk seraya melepaskan dua kancing kemejanya.
"Ayah pulang,ayah pulang." seru Jeivan berlari menghampiri Gio yang langsung jongkok dan membuka lebar tangan kekarnya.
"Sini bungsu,ayah." Gio mengangkat si bungsu tinggi-tinggi memutarnya seperti pesawat hingga bocah itu cekikikan gembira.
"Ayah bawa apa?" tanya Vindi setelah meletakan buku PRnya.biasanya ayahnya itu selalu membawa camilan atau apa saja untuk mereka.
Raven melotot pada saudara kembarnya itu." Kamu itu ya,kalau ayah pulang jangan suka di tanyai ayah bawa apa.lebih baik tanya ayah capek apa tidak.dasar nyebelin."
"Kamu yang nyebelin,Ven." sahut Vindi tak terima ia berkacak pinggang membuat Ayana mengurut kening.
"Tapi aku gak kaya kamu,bocah." balas Raven sambil mendelik.
Vindi mendorong saudaranya membuat Gio menegurnya." Kamu bilang aku bocah?heh culun,dengar ya.umur kita sama jadi gak usah ngatain aku bocah.dasar cupu." hinanya dengan mata melotot
"Sudah,sudah.Vindi,Raven,sudah nak." tegur Gio saat melihat Raven hendak membalas si cerewet itu.
"Dia nyebelin Yah." keluh Raven dengan wajah sebal.
Gio mendekat dan mengelus kepala putranya dengan sayang." Sesama saudara jangan bertikai ya.harus saling sayang dan akur. sejak dalam kandungan kalian bersama harusnya akur dong."
"Males banget aku akur sama dia." ucap Vindi sambil bersidekap dada." Asal ayah tau di sekolah dia tidak mengakui aku sebagai kembarannya.cih," Vindi mendecih sebal." Dia pikir aku sudi menjadi kembarannya kali,lebih baik aku kembaran dengan hamster."
Mata Raven hampir keluar di mendengarnya." Bagus lah,Vin.kamu memang seperti marmut.cocok kembaran sama mahluk monyong itu."
"Raven."
"Kamu juga monyong,seperti tikus." balas Vindi tak terima.
"Vindi."
"Ayah sama bunda selalu bela Raven.dan selalu Vindi yang di tegur.gak adil tau Yah? kesel deh." Vindi cemberut menatap Gio yang mengerutkan dahinya.
"Kapan ayah sama bunda begitu?kami selalu adil sayang.ayah menegur Vindi supaya Vindi jangan berteriak pada Raven.anak perawan masa ngomongnya kenceng-kenceng?gak baik itu." ujar Gio lembut.
"Tau tuh,dengerin ayah ngomong.dasar nenek lampir." ujar Raven puas sekali dia melihat si cerewet itu kena tegur ayahnya.
"Apa kamu bilang?dasar manusia pocong.aku benci kamu,Raven." Vindi mendorong lagi saudaranya itu hingga Raven terjengkang. keudanya berkelahi saling memukul tak ingin kalah.
Gio segera memisahkan keduanya cukup kesulitan karena mereka ini sama-sama kepala batu.ia melirik Ayana yang sedang memijat pelipis,istrinya Gio itu sejak tadi terlihat tak ada niat membantu.tak lama suster membantu Gio dan perkelahian itu berakhir.
"Lihat aja aku akan balas kamu di kamar." ancam Vindi dengan rambut acak-acakan.
"Siapa takut," balas Raven dengan napas terengah.
"Oke, tunggu aja."
"Oke_"
"DIAM..." teriak Ayana sambil bangkit dari sopa ia menatap kedua anaknya yang langsung menunduk dan bungkam." Elina, kamu bersihkan sepatumu sampai bersih." suruh Ayana membuat sang anak semakin menekuk wajahnya.dia tau kalau sudah begini pasti akan mendapat hukuman.
"Tapi bun_"
"Kerjakan sekarang." titah Ayana tanpa bisa di bantah.
__ADS_1
"Raven,kupas bawang putih jangan pake pisau tapi.bunda mau buat kimchi besok pagi."
"Bawangkan bau Mi_"
"Eliezer,ke dapur sekarang ikut ncus." Ayana melotot menatap putranya itu membuat Raven bergidik ngeri.keduanya langsung melakukan tugasnya dengan cepat mereka takut jika sang bunda sudah memanggil nama lengkap mereka.sudah di pastikan bahwa singa betina itu sangat marah.
Gio menahan tawa dan mengecup pipi gembul Jeivan." Yuk kita ke kamar.takut bundanya lagi galak." ajaknya namun saat berbalik badan ia melihat Jemia yang berdiri tengah anak tangga dan langsung lari ke atas masuk ke kamarnya.
"Yang." panggil Gio membuat Ayana menoleh.
"Kenapa?"
"Jemi kenapa?kok kaya lagi ngambek gitu,lagi kamu marahin?"
"Nggak.aku belum ketemu dia." Ayana mendekat saat Gio hendak menyerahkan si bungsu.
"Aku ke atas dulu." pamit Gio dan langsung menemui Jemia di kamarnya.
"Jemi,sayang.buka pintunya." ujar Gio di depan pintu kamar Jemia,dia tidak bisa masuk karena pintu itu terkunci." Ayah mau ngomong bentar boleh?" masih tak ada jawaban membut Gio bingung." Atau malam aja ya setelah makan malam kita ngobrol?" beberapa detik berlalu masih sama tidak ada jawaban.
Gio menghela napas bingung sepertinya si sulung sedang ngambek padanya entah karena apa." Jemi,kalau memang belum bisa setidaknya kasih ayah jawaban nak." ujar Gio lagi dan tak lama pintu itu terbuka menampilkan wajah Jemia yang datar.
"Hay?" sapa Gio dengan wajah senang.ia berjalan mendekati putrinya lalu memeluk gadis yang sebentar lagi remaja itu." Gimana belajarnya hari ini?apa Jemia kesulitan di sekolah?" ayahnya Jemi itu membawa anaknya duduk di sopa kecil yang berada di kamar putrinya.
"Jemi kenapa?lagi lelah ya?," tanya Gio berusaha mengajak anaknya bicara meski Jemi terlihat malas membuka mulut." Oh,ayah tau.atau Jemi mau nonton little mermaid?kalau mau kita pergi berdua saja,gimana?" tawarnya membuat sang anak mendongakkan kepalanya.
"Kita berdua aja Yah?" tanyanya memastikan.
"Iya dong,saatnya kita quality time berdua aja. biar adik-adik sama bunda dulu." Gio senang karena anaknya mau merespon dan sepertinya sangat senang akan ajakannya itu.
Jemia tersenyum dan mengangguk." Oke,jam berapa perginya Yah?biar Jemi siap-siap dulu." katanya dengan wajah bahagia.
"Jam delapan.nanti jangan bisik-bisik ya."
"Oke,Ayah." Jemi tersenyum begitu manis membuat matanya yang bulat itu berbinar cukup indah.
"Mana hadiahnya?cium ayah dong." pinta Gio sambil mencondongkan pipinya.
Cup
Jemia mengecup pipi Gio dengan sayang membuat sang ayah terkekeh." Thanks, Jemia." katanya sambil mencium kembali dahi putrinya itu.
"Sama-sama Ayah.Jemi mandi dulu ya." ujarnya sambil berdiri lalu segera ke kamar mandi setelah mendapat anggukan dari ayahnya.Gio menggelengkan kepalanya sambil terkekeh mudah sekali membujuk gadis kecilnya itu.
"Pusing juga ya menghadapi anak gadis." ucap Gio sambil menghempaskan tubuhnya di sopa kamarnya.
Ayana berjalan dan duduk di samping Gio." Jemi ngambek,Yah?"
"Hmm."
"Kenapa lagi katanya?itu anak jadi sering ngambek perasaan." Ayana heran semakin besar si sulung itu semakin sering ngambek dan sensitif sekali.
Gio menoleh kesamping kemudian bangun dan duduk sambil menyugar rambutnya ke belakang." Yang,menurut aku Jemi itu udah mulai mengerti dan cemburu.kamu masa nggak tau dia sering ngambek begitu?itu karena cemburu sama adik-adiknya." ujar Gio membuat Ayana mengerenyitkan dahi." Kamu sering kali lupa sama dia."
"Cemburu gimana?dan kapan aku lupa sama dia?dia anak pertama yang kulahirkan mana mungkin aku lupa." bantah Ayana sedikit tak menerima.kapan dia lupa dengan anak-anaknya.ia selalu memberikan kasih sayangnya untuk mereka dengan adil jadi tak terima Gio menyudutkan dirinya begitu.
"Bukan itu yang kumaksud,kamu keseringan asik sama si bungsu dan kembar.Jemi seringkali sendirian dan tak ikut gabung bersama.maksud aku kenapa gak kamu ajakin dulu si kaka dan main bersama.meski cuma ngerjain PR si kembar kenapa gak di kamar Jemi aja biar si kaka juga ngerasain kehangatan.aku perhatikan setiap aku pulang kamu riweuh sendiri sama adik-adiknya. sedangkan Jemi hampir gak pernah ikut gabung." jelas Gio pelan-pelan agar Ayana paham kalau ucapannya itu bukan menyudutkan sang istri.
"Dianya yang gak mau keluar.seneng di kamar sendirian.makan juga susah di meja makan maunya suster yang bawakan ke kamar." sahut Ayana,dia bukan kesal pada Jemia. sama sekali tidak.Ayana hanya heran pada sifat si sulung yang tak dapat di mengerti olehnya.
Gio merangkul istrinya dengan tangan satu. yang satu lagi ia gunakan untuk membuka kemejanya." Dia kaya gitu karena cemburu sama adik-adiknya,Sayang." ayah empat anak itu mengecup bibir istrinya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya." Merasa kamu sibuk sama ketiga adiknya.dan dia merasa tidak begitu di perhatikan lagi.padahal sebetulnya kita sayang sama semuanya.ayolah lakuin apa yang aku bilang tadi." lanjutnya sambil mer*mas bokong Ayana yang masih sintal meski tidak montok.
"Ish,iya,iya,udah sana kamu mandi,bau." suruh Ayana sambil melepaskan diri dari jeratan tangan Gio yang mulai nakal itu.
"Bau?" Gio menaikan satu alisnya menatap sang istri yang menahan senyum." Masa?." katanya seraya menekan tengkuk Ayana memperdalam ciumannya bersamaan dengan senja yang tenggelam berganti gelap malam yang mulai menyapa.
...☘☘☘☘☘...
Ayana mengerenyitkan dahi melihat Gio turun dari lantai dua sambil memakai jam tangan. lelaki itu terlihat keren dengan potongan rambut ala anak muda.pakaiannya juga tak berubah Gio selalu suka style anak remaja yang membuat tampilannya begitu mempesona dengan wajahnya yang semakin matang dan menawan.lelaki itu ikut duduk di meja makan mengecup pipi gembul si bungsu sampe penyok.
"Sakit ayah." protes Jeivan dengan mulut penuh oleh sayur brokoli.
Gio tertawa dan memencet hidung mancung Jeivan." Abis kamu gemesin kaya bunda.anak siapa sih ini cakep bener,heran." sekali lagi pipi anaknya jadi sasaran Gio.
Ayana mendelikan matanya tak suka.Gio ini sering kali tak sadar akan ucapannya yang bisa menyentil hati Ayana.meski lelaki itu tak sengaja atau tak sadar akan ucapannya itu. tapi tetap saja Ayana tak menyukainya. mengingat kelahiran Jeivan lah yang menyebabkan kesalah pahaman tak berujung yang berakhir retaknya rumah tangga mereka.
"Heran deh,suka ngomong Jei anak siapa, anak siapa?gak usah ngomong begitu tinggal ngaca aja kalian berdua." kesal Ayana membuat Gio yang sedang memainkan telinga anaknya itu mendongak.
"Cie cemburu nih ya karena mukanya gak di warisin?" Gio berdiri memutari meja makan untuk sampai pada Ayana.dari belakang ia mengecup pipi sang istri yang selalu wangi bedak mahal." Sudah kubilang bukan?kalau spr*ma aku itu kualitas premium.sampe anak kita semua mirip aku.jangan sedih Yang. masih ada Raven yang sedikit mirip kamu." bisik Gio membuat wajah Ayana memanas.
Ayana menggeplak tangan Gio yang melingkari pundaknya." Jangan ngomong jorok,ada anak-anak." tegurnya tak suka. kecuali kalau mereka lagi di kamar boleh saja karena dirty joke yang selalu Gio gelontarkan itu Ayana menyukainya.dan itu menambah keintiman dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Begitu melihat Jemia menuruni tangga Ayana dan Gio melepaskan diri.mereka tak suka memperlihtkan kemesraan yang berlebihan di depan anak-anak.takutnya mereka terganggu oleh keromantisan orang tuanya yang kadang kelewat lebay itu.
"Cantik sekali,anak bunda mau kemana sih?" tanya Ayana.
Jemia tersenyum menatap ayahnya dengan wajah bahagia." Mau beli buku gambar sama ayah." katanya malu-malu.
"Oh,oke.nanti bunda titip chattime ya pulangnya." pinta Ayana yang langsung di angguki anaknya.
"Teteh sama ayah mau kemana?" seru si kembar yang baru keluar dari kamar bersiap akan makan malam.
Gio menepuk dahinya kacau sudah.kalau ketahuan dua tutup botol itu sudah bisa di pastikan mereka akan merengek ingin ikut dan membuat mood Jemia ancur.bukannya Gio tak ingin mengajak ketiganya atau semua anaknya.bisa-bisa saja ia mengajak mereka pergi bersama.namun dia sudah hapal betul dengan kebiasaan mereka yang sering kali berantem tidak tahu tempat.saat salah satu dari mereka ada yang tidak setuju mengenai usulan yang lain.
Begini lah menjadi orang tua itu tidak mudah. padahal Gio sudah semaksimal mungkin mendidik mereka dengan tegas serta limpahan kasih sayang agar mereka dapat mengerti mana yang boleh di lakukan mana yang tidak.serta merasakan kasih sayang yang sama rata dan sesama tidak saling iri. tapi semua itu belum membuahkan hasil karena sesekali mereka tidak patuh akan larangan orangtuanya.sebetulnya memang yang sering kali membuat keributan hanya si kembar karena si sulung tipe anak yang banyak mengalah serta mengerti sebagai yang tertua ia lebih sering diam.
"Kaka mau keluar bentar." jawab Jemi seadanya.meski dia sayang pada kedua adiknya itu tapi tak dapat di pungkiri masih kesal pada si biang kerok yang bernama Vindi baru kemarin malam anak itu memecahkan mug kesayangan Jemia.
"Teteh mau beli buku gambar dulu,kalian ayo makan keburu dingin nanti gak enak." bujuk Ayana agar keduanya tak meminta ikut.
"Kami gak di ajak,Yah?pensil warna aku juga udah pada patah dan abis." Vindi terlihat mencari cara agar ia bisa ikut ayah dan kakanya.
"Rautan pensil Raven hilang dan_"
"Sudah Ven.kamu itu cari-cari alasan terus. waktu kecil kamu itu pendiam padahal kenapa udah gede jadi cerewet banget sih?" sela Ayana membuat Gio menahan tawa." Nanti aja minggu sama bunda perginya nanti kita sama-sama." final Ayana tak bisa di bantah lagi.kalau Gio masih bisa nego tapi Ayana jangan harap semua yang keluar dari mulutnya adalah mutlak.
Setelah drama kecil itu akhirnya Gio pergi dengan si sulung hanya berdua saja.sambil menunggu film mulai mereka mencari buku gambar dan beberapa pensil warna juga apa saja yang di butuhkan oleh anak pertama Gio itu.keduanya terlihat seperti adik dan kaka. alih-alih ayah dan anak.karena Gio semakin tambah umur semakin terlihat tampan dan keren.tak jarang Ayana mendumel karena suaminya sering mendapat tatapan kagum dari para gadis.
setelah puas belanja dan main Gio dan Jemia akhirnya memasuki ruang bioskop karena film yang di tunggu-tunggu oleh putrinya itu sudah mulai.setelah film selesai keduanya pulang usai membeli berbagi camilan untuk yang di rumah.sepanjang perjalanan anak Gio banyak bercerita mengenai dirinya yang sering merasa tak di perhatikan oleh ayah dan bundanya.ia merasa seperti anak yang di abaikan karena ayah dan bundanya selain kerja sibuk dengan adik-adiknya.
"Jangan merasa begitu lagi ya,ayah sama bunda sayang kalian semuanya.apa lagi teteh anak pertama kami.buah cinta ayah dan bunda yang kehadirannya yang paling di tunggu." ucap Gio sambil mengelus kepala anaknya dengn tangan kirinya.tangan kanan sibuk memegang kemudi serta tak lepas dari pandangan jalan karena malam ini macet ada perbaikan jalan di depan.
"Iya ayah,maafin teteh ya.suka cemburu dan kesal sama adik-adik." ujar anak Gio seraya memainkan jari sang ayah yang di hiasi cincin nikah di jari manisnya dan cincin titanium di jari telunjuknya." Tapi aku sayang sama mereka.meskipun mereka tidak bisa diam dan sering buat Jemi kesal." lanjutnya membuat Gio terkekeh.
"Nah begitu dong,sama saudara harus saling sayang ya.kalian semua anak ayah dan bunda,kami mencintaimu,sayang." Jemia semakin erat menggenggam tangan besar Gio bisa lelaki itu rasakan.tangan yang dulu begitu mungil sekarang sudah hampir menyamai tangan sang bunda.Jemia mempunyai perawakan sama seperti bundanya tinggi dan kurus Gio yakin ketika besar nanti sang anak akan menjadi idaman para lelaki di luar sana.padahal gadisnya itu baru berusia 10 tahun masih lama masih dua atau tiga tahun lagi baru bisa di katakan remaja.tapi sebagai ayah Gio sudah ketakutan ada yang dekati anaknya.tidak semudah itu dia akan menjadi ayah yang posesif jika itu menyangkut anak perempuannya.
"Iya ayah.Jemi sayang ayah banyak banyak." balas anak Gio begitu manis hingga Gio meleleh dan air matanya hampir merembes. bayangkan saja betapa manisnya anak perempuannya itu.sebagai ayahnya yang pertama kali menggendong dan menandikannya serta memakaikan dan menggantikan popoknya.tentu Gio merasa terharu dan bahagia.ternyata semua itu sudah berlalu lama.buktinya bayi merah yang dulu ia timang sekarang sudah bisa bicara dengan nada manis.
Gio tak rela bahwa waktu begitu cepat berlalu itu artinya sebentar lagi anak pertamanya ini akan segera mempunyai dunianya sendiri. akan sibuk sendiri dengan dunia remaja lalu bertemu lelaki kemudian cocok lalu mereka menikah dan meninggalkan Gio.
"Jangan cepat besar Jemi.ayah gak rela kamu itu cepet banget gedenya.tetap jadi putri kecil ayah ya,nak." katanya membuat sang anak terkikik merasa lucu melihat ayahnya itu.
"Ayah lebay deh." ujarnya sambil menggelengkan kepalanya membuat Gio terkekeh lalu memencet hidungnya karena gemas.
...☘☘☘☘☘...
Sementara di tempat lain begitu riuh karena sebentar lagi bayi yang di tunggu-tunggu akan keluar.Andre telihat gelisah di depan ruang oprasi menunggu sang istri yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka.meski mungkin sebetulnya hanya ia yang menantikan anak mereka,tidak dengan sang istri yang begitu membenci kehamilannya yang kedua ini.doa untuk keselamatan keduanya tak henti Andre panjatkan meski tatapan sinis ibu mertua masih terus merongrongnya.
"Jangan hanya berdoa saja,Ndre.uang untuk bayar semua perawatan setelah oprasi ini selesai ada tidak?" ujar ibu mertua Andre dengan tatapan sinis.
"Ada Mi,umi gak usah kawatir.ada kok udah aku siapin semuanya." jawab Andre.
Haji Malik berjalan dan menepuk bahu Andre." Jangan terlalu di pikirkan.biar semuanya Abi aja yang bayar.uangmu untuk yang lain saja." ujarnya sambil berlalu membuat Haji Nurmalia melotot tajam.
Ibu berusia 65 tahun itu menahan langkah suaminya yang hendak ke mushola.dirinya begitu geram mendengar kalimatnya barusan apa katanya tadi.suaminya yang akan membayar tagihan rumah sakit ini,enak saja tidak akan ia biarkan menantu kampret yang kere itu enak-enakan.
"Abi bilang apa tadi?mau membiayai semua tagihan rumah sakit ini?" tanya haji Nurmalia dengan mata melotot.
"Iya,kenapa emang?" jawab pria berjanggut putih itu.
"Nggak,nggak.enak saja lantas apa gunanya dia sebagai suami?umi tidak setuju kalau tagihan abi yang bayar.biarkan dia yang bayar." katanya dengan wajah emosi sambil menunjuk Andre yang berdiri di sudut pintu.
Haji Malik menarik napas berat." Mi,kenapa sih untuk anak sendiri aja mesti ribut?ini buat Manda loh,masa kamu hitungan?"
"Kalau lakinya bukan dia mah Umi juga gak bakal hitungan kali.ini mah apaan?dapat mantu zonk banget jauh dari ekspetasi." haji Nur melihat Andre dengan pandangan hina." Masih mending Raka kemana-mana meski tukang pukul dan selingkuh.setidaknya dia masih bisa membayar ini itu.meski tidak dia sendiri sekali pun,tapi masih ada orang tuanya yang bertanggung jawab.lah ini mah apa?" lanjutnya seraya mengusap dadanya seakan begitu cilaka keluarganya mendapatkan menantu seperti Andre.
Semua itu gara-gara haji Malik yang tiada angin tiada hujan tiba-tiba meminta Andre untuk menjadi suami dari putrinya yang tak kunjung ingin menikah lagi.tiga tahun lalu ia memaksa Andre untuk menikahi Amanda demi kebaikan bersama.awalnya cukup susah karena Amanda yang tidak bisa move on dari Gio,dan Andre yang sakit hati oleh pria yang sama karena Gio tak kunjung memberinya restu di tambah lagi Indri yang menolaknya dengan alasan ada anak.padahal pikir Andre anak bukanlah alasan mungkin perempuan itu mendapat tekanan dari Gio. Andre yang sakit hati pun terpaksa menerima tawaran haji Malik dan menikahi Amanda.
"Sudah mi,lebih baik minum dulu." ajak haji Malik dengan lembut mengalah agar sang istri diam.ia tak tega melihat wajah kusut Andre.bagaimana pun lelaki itu sudah menjadi penyelamatnya karena bersedia menikahi Amanda.
Tak lama seorang suster keluar memberi tahu kalau oprasi Amanda telah selesai.Andre dengan cepat memasuki ruangan itu karena sudah di perbolehkan.tadi ia tidak bisa menemani karena takut darah alhasil Nurafida yang menggantikannya di dalam sana.
"Selamat ya Pak Andre.bayinya perempuan." ucap perawat yang memberikan bayi mungil pada Andre.
Lelaki dengan beberapa bekas tindik di telinganya itu menyambut sang anak dengan perasaan haru." Terima kasih,sus." katanya dengan air mata yang sudah merembes ingin keluar.setelah mengazani bayinya Andre menimang mahluk kecil itu dengan sayang.
"Cantik deh." Andre menunjukan bayinya pada Amanda saat perempuan itu sudah berada di ruang perawatan.
"Ya." balas Amanda dengan wajah datar membuat perasaan Andre sedih.seharusnya mereka bahagia menyambut kelahiran anak cantik ini.tapi Amanda malah terlihat sebaliknya." Ceraikan aku,Ndre.anakmu sudah lahir kan?lalu tunggu apa lagi?" lirih Amanda setelah mereka lama terdiam.kalimatnya cukup membuat Andre terperangah.
"Anak kita baru aja lahir.bagaimana bisa aku menceraikanmu?ngaco." kesal Andre.meski ia tak mencintai Amanda tapi tetap saja perempuan itu ibu dari anaknya.sebisanya ia akan menghadirkan cinta di hatinya.
"Sudah kubilang namamu tak akan mampu menggantikan nama Gio di hatiku.bahkan menggesernya pun kamu tak akan mampu." ucap Amanda menatap Andre yang sedang mengelus pipi putrinya.
__ADS_1
Lelaki itu berdecih dengan wajah sinis menatap Amanda." Lantas kamu pikir,apa namamu mampu menggeser nama Indri di hatiku?tidak sama sekali.dia masih menjadi ratu di hatiku.jangan berlagak segalanya. selagi aku masih sabar padamu,dan masih memperlakukanmu dengan baik."