
Ayana menatap wajah Gio yang berada tepat di atasnya.lelaki itu tengah mer*mas dadanya dan sesekali melum*tnya kasar. kedua tangan Ayana terulur meyentuh rahang Gio membuat lelaki itu menghentikan aksinya.perlahan jari jemari Ayana menelusuri rahang tegas dan kokoh itu." Aku kangen kamu." ucap Ayana membuat Gio yang tengah menatapnya itu mengerjap." Kangen Gi,kangen banget. kangen semuanya.tentang kita." lirih Ayana dan air mata yang mengembun itu mulai jatuh melintasi sudut matanya.
"Jangan hukum aku seperti ini,aku tersiksa dan sakit sekali rasanya,rasanya aku seperti mati dengan diamnya kamu selama ini." Ayana mulai tak bisa menghentikan laju air matanya." Katakan apa yang ingin kamu katakan.maki aku sepuas yang kamu mau.bila perlu pukul aku dan hukum aku jika itu bisa membuat hati dan sikapmu hangat kembali,aku bersedia." tangis Ayana luruh di bawah kungkungan Gio.
Sama dengannya mata lelaki itu mengembun dia memalingkan wajahnya ke samping." Aku hanya capek." balas Gio seadanya.ia tau dan sadar mungkin Ayana tersinggung oleh penolakannya.
Ayana membuat wajah Gio kembali menghadapnya." Bohong.kamu bohong'kan?kamu cuma ngehindarin aku. kamu jijik kan sama aku?kamu jijik sama tubuh ini,karena kamu tetap mengira aku telah tidur dengan dia_hmmpp" Gio membungkam mulut Ayana dengan ciumannya yang brutal hingga Ayana kesulitan mengimbangi.dan ciuman panas itu berlangsung cukup lama baru ia lepaskan ketika Ayana memukul lengannya karena kekurangan oksigen.dan entah sejak kapan pakaian keduanya juga sudah terlepas begitu saja.dan saat ini mereka sudah polos.
Dada Ayana naik turun sama halnya dengan Gio.mereka hampir kehabisan napas keduanya terengah.mereka saling menatap namun mulut keduanya bungkam hanya mata mereka yang seakan saling mengungkapkan betapa rindu keduanya.
"Sentuh aku,seperti biasa." pinta Ayana lembut dan memohon." f*ck me,please." Gio tak menjawab dengan ucapan hanya hentakan kejantanannya yang menerobos masuk ke dalam sana tanpa pemanasan lebih dulu.dalam sekali hentak mereka telah menyatu dengan sempurna.Ayana memejamkan matanya merasakan perih dan sakit bersamaan.
Ayana menggigit bibir menahan rasa yang benar-benar perih di bawah sana.biasanya Gio akan bermain-main dulu untuk menyenangkan istrinya.setelah puas baru Gio akan ke permainan inti.tapi sekarang Ayana merasa lelaki ini seperti bukanlah Gio.ini seperti orang asing.Ayana mencengkram lengan Gio ketika merasai hentakan lelaki itu yang semakin menggila bahkan ujung pay*dar*nya pun terasa sangat perih akibat lum*tan kasar lelaki itu tubuh ringkih itu terombang-ambing seiring pergerakan liar Gio yang seperti tengah kesetanan.
"S*it.rasanya masih sama.senikmat biasanya." Racu Gio di tengah pergerakannya.Meluruh sudah air mata Ayana mendengar ucapan suaminya itu.ia menggigit bibir menekan rasa sakit itu dan mencoba untuk tidak peduli.
"Ohhh,yang.ini gila,sshhhh.uhhmmhhh." Gio bergerak brutal dan menciumi dada Ayana dengan kasar.dia melampiaskan rasa sakit di hatinya.ia membayangkan tubuh Ayana di sentuh dan di c*mbu oleh Jerrian dan itu membuatnya makin menggila." Kamu miliku,f*ck." umpatnya kasar seraya mencengkram bahu ringkih Ayana membuat sang istri meringis.
Bayangan jika Jerrian benar-benar menyentuh istrinya berkeliaran di kapala.ia menyesap dengan kuat mer*m*s. menggigit dan ******* dada Ayana dengan kasar.bahkan meninggalkan bekas ungu kebiruan di leher dan seluruh tubuh istrinya.saat ini keadaan Ayana bak anjing dalmatian.eh macan tutul dong.Gio bersumpah Ayana hanya akan mengingat sentuhannya.ia akan membuat Ayana tidak akan mengingat sentuhan lalaki biadab itu dia meyakinkan sang istri bahwa selamanya hanya sentuhan Gio lah yang mampu membuat Ayana menggeleper nikmat seperti biasa.
"Sakit.." rintih Ayana membuat kesadaran Gio kembali.ia memelankan gerakannya dengan lembut tak lama Gio menggeram lirih wajahnya mendongak ke atas dengan mata terpejam dan mulut terbuka.desisan lirih dari mulutnya masih terdengar oleh Ayana seiring dengan semburan rasa hangat yang membasahi rahimnya.
"Maaf.maaf udah nyakitin kamu.aku khilaf." Gio mengecup seluruh wajah sang istri dengan lembut.kemudian beranjak setelah menutupi tubuh Ayana.
Selepas membersihkan diri dan menyelimuti istrinya Gio meninggalkan kamar.ia merenung hampir semalaman di teras rumah.ia meremas rambutnya kasar. menyesal karena sudah kelewat batas pada sang istri.Gio sedang kacau mengingat masalah yang menimpanya ibunya sakit dan belum menunjukan adanya perubahan tentang penyakitnya bukannya membaik kesehatan Mira malah semakin memburuk." Anjing." umpat Gio menendang kursi ketika semua masalah terasa mencekiknya.
...☘☘☘☘☘☘...
"Kenapa harus pulang ke rumah kalian sih?di sini aja dulu." komentar Frans ketika Ayana meminta ijin akan kembali ke rumahnya hari ini.
"Kelamaan di sini Pah.kasian rumah di biarin kosong begitu.nanti juga kami bakal sering nginep kesini lagi kok." ujar Ayana sembari melirik Gio yang hanya diam.
"Ya udah gapapa.tapi rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian kapan pun itu.pulang lah di sana juga rumah kalian ini." Monica menyikut lengan Frans memberi kode agar suaminya itu tak protes lagi.
"Makasih Mah," balas Gio seadanya menantu Frans itu akhir-akhir ini memang mendadak jadi pendiam sekali.ia hanya akan bicara seperlunya saja.dan mereka kehilangan Gio yang selalu hangat.
"Ya udah aku beresin barang anak-anak dulu deh." Ayana beranjak dari kursi dengan langkah pelan dan sedikit mengangkang.Frans yang kebetulan melihat ke arah putrinya itu mengerutkan dahi melihat cara jalan Ayana yang aneh.
"Dek,kamu kenapa?" tanyanya kawatir ia beranjak dari kursi hendak menghampiri putrinya." Kenapa jalanmu begitu?."
Ayana menegang ia lupa mengatur cara jalannya di depan orang tuanya itu.Ayana berbalik dan tersenyum." Kemarin lagi mandi kepeleset Pah,licin karena air sabun pinggang aku kepentok pintu kaca." Dusta Ayana.
"Pinggangmu kepentok sampe jalanmu ngangkang begitu?." selidik Frans.ia melirik pada Gio yang hanya diam sejak tadi.
"Udah di obatin?coba Mamah lihat." Monica mendekat dan segera di stop oleh Ayana.
"Gak usah Mah.ini gapapa kok di oles jambuk juga sembuh." kilah Ayana ketakutan.membuat kedua orangtuanya saling pandang.
"Apa yang kamu lakukan pada Ayana?." sentak Frans pada Gio hingga lelaki itu terlonjak kaget.
"Pah." tegur Monica.
"Pah,ini bukan salah Gio dan gak ada hubungannya sama Gio.aku itu jatuh,dan bukan karena Gio." sela Ayana saat Gio baru akan membuka mulutnya.
Frans melihat keduanya bergantian.jujur ia tidak percaya begitu saja." Benar begitu Gi?" tanyanya pada Gio.Frans menatapi anak menantunya itu dengan garang.
Gio melihat Ayana yang menggelengkan kepalanya.tanda meminta Gio untuk tidak mengakui dan tetap bungkam." Iya Pah. Aya memang jatuh di kamar mandi.nanti siang aku mau beli alas untuk ubin kamar mandi biar gak licin."
Ayana bernapas lega ia tersenyum tipis pada Gio tanpa kedua orang tuanya sadari." Tuh denger Pah.mana mungkin Gio macam-macam sama aku." ujarnya membuat Gio tersindir dan makin membeku.
"Saya tidak akan memaafkan kamu,Gi. kalau apa yang saya takutkan itu terjadi dua yang tidak akan saya beri maaf selingkuh,dan kdrt.bagi saya itu sudah fatal apa pun alasannya saya tidak menerima." ucap Frans penuh penekanan.Gio mengangguk paham.jika mertuanya sudah menggunakan kata saya,maka itu adalah peringatan tanda bahwa ucapannya benar-benar tidak main-main.
"Aku mengerti Pah." balasnya.
"Selepas makan siang temui saya di kantor." usai mengatakan itu Frans berlalu dari sana.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Makasih,dan maaf menyulitkanmu,yang." ujar Gio sebelum berangkat kerja.
Ayana tersenyum dan mengangguk." Iya. maaf juga soal ucapan Papah yang tadi." balas Ayana.
"Gak masalah.Papah wajar.namanya juga orang tua,emang ada orangtua yang diam aja ketika anaknya terluka.atau ada yang menyakiti."
"Iya,kamu bener." Ayana tersenyum kemudian mendekat dengan langkah pelan menghapus jarak di antara mereka.tangan lentik itu terulur merapikan rambut Gio yang berantakan." Kenapa gak di rapiin dulu?ini berantakan dan kusut." ujarnya sembari merapikan rambut itu dengan jemarinya." Nah udah rapi.ganteng kan kalau gini enak di lihatnya." Ayana tersenyum puas melihat hasil tataannya itu.
__ADS_1
Gio menatap dalam istrinya tanpa kata ia menarik Ayana ke dalam pelukannya. mendekapnya erat layaknya benda berharga yang pernah ia miliki." Maaf untuk semuanya.maaf atas kelakuan aku semalam.semalam aku khilaf dan benar-benar gak bisa berpikir sehat, sekarang aku menyesal."
Gio menyembunyikan wajah Ayana dalam dadanya.ia mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali dengan kata maaf dan penyesalan yang tak henti ia ucapkan." Gak apa.aku tidak minta itu,cukup kamu seperti dulu dan terima aku dengan semua kesalahan yang pernah aku perbuat.itu sudah lebih dari cukup Gi." ujar Ayana seraya mengelus punggung Gio.
"Iya,aku janji.makasih.sayang." balas Gio dengan perasaan bahagia.Gio janji mulai saat ini ia akan menerima semuanya.ia akan melupakan kejadian itu dan harus berdamai dengan dirinya sendiri.belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan sang istri seperti sebelumnya.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Gio duduk di hadapan ayah mertuanya diam tak bersuara.ia melihat Frans yang tampak santai dengan kopi dan cerutu di tangannya.pria tua itu memang tidak bisa lepas dari cerutu berang sedikit saja. pandangannya dingin membuat tenggorokan Gio terasa menyempit.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanyanya membuat Gio sedikit mengangkat wajahnya.
"Kami ribut kecil Pah.hanya salah paham." akunya tak menutupinya lagi.toh Frans juga pasti sudah tau.
"Dan kamu menyakitinya begitu?kamu mukul Aya?."
"Nggak Pah.aku gak mukul Aya." bantah Gio dengan cepat kemudian ia terdiam bingung dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Lalu?"
"Aku_"
"Menyetubuhinya dengan kasar?" tebak Frans membuat Gio menegang.pria tua itu menghujam Gio dengan tatapan membunuh.melihat kediaman Gio,Frans mengetatkan rahangnya." Kamu kira putri saya itu binatang?dia manusia yang memiliki perasaan,tidak sepantasnya kamu melakukan itu."
"Nggak,Pah.aku_"
"Keluar,Papah ada janji sama orang." usir Frans sebelum Gio menyelesaikan kalimatnya kemudian tanpa di minta dua kali Gio keluar dengan sopan.selepas kepergian Gio,Frans menyugar rambutnya dengan kasar.ia berusaha mengendalikan diri mati-matian untuk tidak menghajar Gio sungguh hatinya sakit melihat putrinya mendapat kekerasan dari menantunya itu. jika saja Ayana tak mencintai pria itu mungkin saat ini Frans sudah meminta putrinya untuk bercerai.
Namun sayang,putri semata wayangnya itu begitu mencintai Gio.mana mungkin ia memisahkan mereka begitu saja. sebetulnya mudah bagi Frans untuk membuat keduanya bercerai.tapi melihat kebahagiaan putrinya itu Gio,ia tak bisa mengambil langkah itu.terlebih dia pula yang telah membuat mereka bersatu.
Sementara di tempat lain Gio yang masih kalut itu menendang kaki kursi dengan kencang.ia tidak bisa baik-baik saja karena Frans sudah mulai mengancam. karena kecerobohan dan kebodohannya itu akhirnya Gio merugi sendiri.jika saja semalam ia tak hilang kendali mungkin pagi ini tidak akan mendapat tatapan tajam beserta ancaman dari ayah mertuanya itu.
Gio berdiri sambil menatap bagian tim produksi yang sedang mengepak barang. hari ini ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik pikirannya terbagi antara masalahnya sendiri juga kondisi ibunya yang malah semakin memburuk.
"Dokter bilang apa Ka?" tanya Gio,saat ini ia tengah menerima telepon dari Indri. kakanya itu mengabarkan bahwa ibunya kembali drop sekarang kesulitan bernapas setelah sadar.
Dokter mengatakan Mira mengalami sakit kepala hebat,edema atau pembengkakan otak.Mira sering sakit kepala parah dan karena itu akibatnya otak mengalami tekanan kuat hingga mengalami darah bocor dari otaknya.karena itu Mira merasakan sakit kepala yang parah bahkan ibunya Gio itu sempat tak sadarkan diri sebelum kesulitan bernapas.
"Ya udah,sebentar lagi aku kesana.bilang tim dokter aku setuju." tandasnya kemudian menutup panggilan.ia menghembuskan napas berat.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Laper gak?." tanya Ayana mengagetkan Gio yang sedang mengisi gelas dengan air dingin.
"Nggak,aku udah makan tadi sama ka Indri." jawabnya,kemudian menenggak air minum terlebih dulu." Kamu laper?udah makan?"
"Lumayan,makanya aku nawarin kamu. takutnya lapar dan gak sempat makan." jawab Ayana sembari berjalan ke kulkas mengambil bubur kacang merah dalam kemasan instan untuk di hangatkan.
Gio teridam melihat cara jalan Ayana yang masih aneh.seketika perasaan bersalah kembali menghantamnya.lagi-lagi ia menyesal telah berbuat di luar batas pada istrinya itu.Gio berjalan menghampiri Ayana yang sedang berdiri di depan microwave sedang menunggui buburnya hangat.tidak bicara Gio langsung memeluk istrinya dari belakang,ia menangis di bahu Ayana membuat perempuan itu keheranan namun Ayana hanya diam tak bergerak mau pun bicara." Maaf,maafin aku." bisik Gio lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya,gak apa.lupakan Gi,lupakan semuanya.mari mulai dari awal dan saling memperbaiki.aku mohon,maafin aku. maafin kebodohan aku." Ayana memegang tangan Gio yang memeluk pinggangnya.
"Iya,sayang.iya." balas Gio.
"Sekarang kita fokus pada kesembuhan ibu.gak usah mikirin yang lain-lain.kuliah kamu juga berantakan kan?setelah ini aku akan minta Papah buat kasih kamu kelonggaran.kamu gak usah megang proyek besar lagi kaya kemarin.fokus aja sama kuliah kamu dan di helm Gi,jangan lagi pegang mesin.aku gak mau melihat kamu terus kesulitan seperti sekarang ini. kamu capek,kamu lelah raga dan batin maka mulai dari sekarang gak usah memaksakan diri,jangan memfostir tenaga kamu juga.kamu ini manusia,bukan robot."
Sebelum melanjutkan bicaranya Ayana mengeluarkan mangkuk bubur itu setelah microwavenya mati.masih dengan Gio yang memeluknya di belakang,namun itu tidak mengganggunya sama sekali.setelah itu ia berbalik badan melepaskan pelukan Gio dan menghadap suaminya.ia meraih kedua tangan Gio yang tergantung bebas.
"Mari mulai semuanya dari awal.lupakan yang terjadi akhir-akhir ini.anggap aja itu ujian untuk kita.kondisi aku kaya gini,aku gak nyalahin kamu,aku maklumin kok kamu memang kalut maka bisa khilaf seperti kemarin.tapi aku minta.tolong jangan di ulangi lagi,aku takut."
Gio mengangguk dengan sorot mata memancarkan rasa bersalah yang dalam." Iya,yang,aku janji." jawabnya pelan.Ayana tersenyum kemudian memeluk lelakinya dan mengajaknya menyantap bubur yang sudah hangat itu.keduanya kembali mencair meski Gio masih sedikit malu-malu dan merasa bersalah akibat tindakannya itu.
"Gimana kabarnya dia sekarang ya?" tanya Gio setelah mereka mengobrol cukup lama.
Tangan Ayana yang hendak memasukan gelas ke dalam kitchenset itu terhenti mendengar pertanyaan Gio." Kamu bisa tanya Papah." jawabnya tidak minat membahas.
Gio mengangguk mengerti dan memutuskan untuk tidak membahasnya lagi." Yuk tidur." ajaknya kemudian tanpa ijin langsung menggendong istrinya menuju kamar.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Pah?." sapa Gio ketika Frans duduk di depannya.pria tua itu meletakan ponsel di meja kemudian menatap Gio.
"Bagaimana kondisi Aya?"
"B-baik,Pah.tadi pagi aku bawa ke dokter." jawab Gio cepat dan terbata.
__ADS_1
"Jadi benar itu karena ulahmu?."
Gio menunduk merasa bersalah." Iya Pah. maaf.aku khilaf." akunya kemudian.
Frans menatap Gio dengan bengis dia mengetatkan rahangnya mengepalkan tangan dan berusaha menekan emosi yang sudah menguasai diri." Saat kamu melakukan itu,apa tidak terlintas di otakmu sedikitpun bahwa menyakiti Ayana sama dengan bunuh diri?kamu lupa pada perjanjian awal kita Gi?" Frans menatap Gio yang masih tertunduk itu." Saya udah bilang jangan pernah sakiti anak saya.baik lahir,mau pun batinnya." lanjutnya penuh penekanan membuat Gio membeku.
"Saya tau,kesalahan Ayana kemarin memang bukan kesalahan kecil.tapi itu semua murni karena saya,saya udah jelaskan bukan?" tanyanya lagi membuat Gio mengangguk cepat.setelah Gio dan Ayana pulang Frans memang menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.dan Gio percaya dengan apa yang mertuanya itu katakan.tentu saja ia percaya Frans tidak mungkin berbohong.maka dari itu Gio bersukur karena tidak membawa Ayana kerumah sakit.karena ia percaya bahwa semuanya tidak seperti bayangannya di awal.ia yakin bahwa Ayana dan si bajingan itu tidak sampai sejauh itu.
"Iya Pah."
"Terus apa yang membuat kamu berbuat seperti itu?." tekan Frans membuat Gio semakin menciut." Anak saya itu manusia dia istrimu yang harus kamu perlakukan dengan baik.sama seperti sebelumnya. terlepas dengan kesalahan yang dia lakukan kemarin.selama pernikahaan kalian.dia gak pernah berbuat yang aneh-aneh bukan?saya tidak sedang membela Ayana,tapi saya tidak menerima perlakukan kamu pada putri saya."
Gio mengangguk sungguh-sungguh." Aku minta maaf Pah.aku janji itu yang pertama dan terakhir setelah ini aku akan memperlakukan Ayana dengan baik.sama seperti sebelumnya.kemarin aku kacau dan benar-benar khilaf sehingga kelepasan." Gio menahan napas kala tak mendapat tanggapan dari Frans.ia sedikit melirik ayah mertuanya itu masih menatapnya dengan tarapan yang sulit Gio artikan.Frans akhirnya mengangkat gelas tehnya yang tinggal separuh lalu meminum hingga habis.kemudian meletakan kembali.
"Istri itu bukan hanya sekedar objek napsu, tempat pelampiasan hasrat dan fantasi saja.dia adalah teman hidup.teman diskusi untuk masa depan yang sedang kamu rencanakan.teman cerita saat ada masalah menimpa.wanita yang akan menemanimu hidup mengarungi bahtera rumah tangga. dia yang menjadi patner dalam setiap urusan.wanita yang mengandung dan melahirkan anak-anakmu,wanita yang perlu kamu hormati setelah ibumu,yang perlu kamu arahkan dan bimbing.kamu mengambilnya dari saya untuk kamu jaga dan sayangi,terlepas bagaimana awalnya tapi pernikahan kalian sah'kan?dan pada akhirnya kalian juga saling mencintai.lalu kenapa semua itu harus terjadi dan kamu tidak memikirkannya hanya mengedepankan ego dan napsumu. "
Frans menatap anak menantunya itu yang membisu.wajahnya pucat dan tegang membuatnya akhirnya tak tega." Tenang Gi,tak perlu setakut itu.saya masih beri kamu kesempatan jadi tolong gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.melihat bagaimana Aya dalamnya dia mencintai kamu.itu juga yang jadi alasan saya untuk tidak mengambil langkah.jadi mulai saat ini perbaiki dirimu.minta maaflah dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi dan_"
"Jangan pisahin kami Pah,aku mencintainya.tolong jangan.aku janji Pah. aku akan memperbaiki diri dan gak akan mengulanginya lagi,juga_"
"Buktikan saja,saya tidak butuh kata-kata dan janjimu." potong Frans membuat napas Gio hampir berhenti." Buktikan dulu baru saya akan percaya." lanjutnya.
"Iya Pah aku janji dan_"
"Gimana ibumu?saya gak sempet lihat dari kamarin." Frans menyela kalimat Gio mengalihkan topik pembicaraan membuat menantunya itu terdiam seketika.
"Kondisi ibu makin parah.kemarin sempat sesak napas.dan nyeri kepala hebat.dokter bilang ibu ada pembengkakan pada otak." jelas Gio dengan suara pelan.
"Minta tim dokter untuk melakukan yang terbaik untuk ibumu.jangan kawatirkan soal biaya saya akan menanggung semua berapa pun itu.ada baiknya memang di bawa ke singapur aja,disana fasilitasnya lebih canggih sehingga penyembuhan pun lebih cepat."
"Iya Pah,soal biaya aku masih ada tabungan dan_"
"Gunakan tabunganmu untuk biaya sekolah anak-anak apa lagi Jemi sebentar lagi masuk Tk.untuk biaya ibumu biar itu jadi urusan saya." potong Frans membuat Gio kembali diam tak bisa membantah setiap ucapan ayah mertuanya itu.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Sebulan lebih sudah berlalu,hubungan Gio dan Ayana tentu saja sudah membaik kembali seperti semula.hanya saja mereka jarang ada waktu bersama karena kesibukan masing-masing,keduanya hampir jarang bertemu.bahkan di rumah mereka sendiri pun mereka hampir tidak pernah bertemu.karena Gio selalu pulang tengah malam.Gio selalu pulang larut malam dan terkadang menginap di rumah sakit.jika pun ia pulang maka akan ketiduran di sofa atau di kamar anaknya. biasanya begitu sampai di rumah Gio akan masuk ke kamar sang anak untuk melihat mereka karena seharian tidak bertemu.tapi selalu berakhir dengan ketiduran di kamar anaknya sehingga ia tidak masuk ke kamarnya dan Ayana.hampir satu bulan ini Gio selalu seperti itu dan ia baru sadar selama hampir satu bulan ini tidak pernah berhubungan lagi dengan Ayana.
Gio melepas sepatu beserta jaketnya.dan ia menimbulkan suaranya.Gio sengaja bergerak dan berjalan agar Ayana terganggu dan bangun.supaya ia tidak perlu membangunkan istrinya itu untuk meminta di layani.
"Gi?.." sapa Ayana kemudian ia melihat jam hampir pukul 3 subuh." Baru sampe?"
"Iya,capek yang.macet ada truk nabrak pembatas.jadi ngaret gini sampe rumah dua jam mobil gak gerak tadi." jelas Gio seraya menaiki ranjang.ia menarik selimbut yang di pakai istrinya kemudian merapatkan tubuhnya pada Ayana.
"Ibu gimana?tadi ka Indri wa,katanya masih belum ada perubahan,iyakah?" Ayana mengabaikan ucapan Gio,ia menghawatirkan ibu mertuanya itu.
Sebelum menjawab Gio menarik napas berat.pikirannya kembali tertuju pada sang ibu." Iya,tapi udah bisa makan dikit-dikit kemarin tetap muntah terus."
"Aku gak bisa datang hari ini.aku mual banget Gi,dan keleyengan gitu gak tau kenapa.aku jadi gak bisa lihat ibu hari ini." ujar Ayana wajahnya sedih penuh penyesalan." Andai aku bisa bangun dan jalan mungkin tadi udah kesana.mau maksain takut malah pingsan lagi."
"Mau ke dokter,yang?aku kawatir loh kamu mual-mual gitu." Gio mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Gak usah.nanti aja kalau misal seminggu gak sembuh.baru ke dokter." balas Ayana membuat Gio mendekus.
"Sakit kok harus nunggu seminggu sih emang apa salahnya kalau sekarang di periksa?."
"Cuma sakit kepala dan gak enak badan juga mual.itu doang Gi,aku gak sakit kok."
"Ya itu sama aja sakit.itu udah sepaket masih bilang gak sakit,heran aku."
"Gak mau,peluk aja maunya."
Gio menyeringai." Ya udah kalau gitu,yuk. Yang."
"Yuk apa?" tanya Ayana tak paham.
"Ck,aku kangen." Gio tak bicara dan langsung menindih istrinya namun seketika saja ia terguling ke samping karena dengan secepat kilat Ayana berlari ke kamar mandi.
Huek
Huek
Ayana berjongkok di kloset memuntahkan seluruh isi lambungnya.Gio yang terkejut pun jadi lebih panik sekarang ia membantu sang istri dengan mengurut tengkuknya.
"Gak mau tau ke dokter sekarang.lambung itu." paksa Gio setelah Ayana membaringkan diri di kasur.
__ADS_1
"Gi,gimana kalau aku hamil?." Ayana menatap Gio yang membeku.setelah lama berpikir ia yakin gejala yang di rasa beberapa Hari ini mungkin saja dirinya tengah mengandung.
"Hamil?."