
Ayana menggigiti kukunya sambil melamun dan sesekali dahinya mengerut juga gelengan kepalanya itu yang membuat Gio terkekeh. sejak tadi Gio memperhatikannya sembari mengayun Jeivan di gendongan.masih tidak bisa di percaya oleh kepala Ayana kalau ternyata selama ini Rehan dan Aneska itu keduanya memiliki hubungan.dan tak hanya sekedar hubungan saja tapi mereka juga sampai memiliki anak.bagaimana bisa Ayana ketinggalan info sepenting ini.dirinya terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai lupa dan abai pada sekitar.
"Aneh gak sih?kok bisa ya mereka?" Ayana menatap Gio yang sedang mengelap mulut putranya itu akibat gumoh." Kamu kaget dan ngerasa gimana gak sih sama mereka?."
Gio menggelengkan kepalanya sambil berjalan menuju tong sampah untuk membuang tisu bekas." Nggak lah.kenapa harus aneh?namanya jodoh sama siapa aja jadi.gak ada yang tahu." ujarnya yang langsung mendapat cibiran dari Ayana.
"Jangan bilang kamu udah tau dari awal,ya?"
"Nggak"
"Terus kok gak kaget gitu?harusnya kamu kaya aku tadi.dan sampe sekarang masih gak percaya tau."
"Biasa aja menurut aku mah.lebih kagetan pas kamu tiba-tiba minta cerai.itu sih bukan kaget lagi tapi kaya mau lepas nyawa aku." ucap Gio dengan wajah serius tanpa melihat Ayana fokusnya pada putranya saat ini yang sedang mengedip dan meletkan lidahnya.
Ayana terdiam sembari menatap Gio yang sedang mengelusi pipi anaknya itu.ada perasaan bersalah di hatinya.dia tak menyangka bahwa ternyata memang permintaan talak darinya membuat Gio seterluka itu.saat itu Ayana kira Gio akan biasa aja karena justru lelaki itu senang pikirnya karena Gio akan bebas mencari yang lain di luar sana,namun ternyata tak seperti dugaannya.
Wanita itu berdiri lalu menghampiri Gio kemudian memeluknya dari samping." Maaf ya." ujarnya dengan perasaan bersalah.
Gio merangkul Ayana dengan satu tangannya." Iya,yang lalu biar aja berlalu." katanya sambil mencium pelipis istrinya itu.
"Jadi mau ke ibu?" tanya Ayana.
Gio terlihat berpikir ia menimbang apakah saat ini adalah saat yang tepat membawa Ayana ke rumahnya.atau justru lebih baik ia urungkan saja keinginan istrinya itu.biar lah nanti sesekali mereka berkunjung kesana. bukannya apa Gio hanya takut kedatangan mereka akan menjadi gunjingan banyak orang.
"Gi? " Ayana mengguncang tangan Gio dan lelaki itu tersadar lalu mencubit ujung hidung Ayana.
"Tunda dulu aja gimana?" tanyanya kawatir saat mereka tiba nanti malah jadi bahan omongan sekampung.masalahnya di tempat Gio itu orang-orangnya seperti intel semua. mengintai dengan lihai setiap gerak-gerik dan pergerakan sesama tetangga.congornya tetangga Gio itu ibarat ujung pisau jepang tajam dan mematikan.
"Ih kenapa harus di tunda-tunda sih?aku maunya besok kesana.udah lama juga gak nengokin ibu." Ayana kekeuh membuat Gio mengangguk pasrah.
Karena ini hari minggu Ayana mengajak Gio mengunjungi tempat tinggal Aneska. semalam mereka sudah janji dan sahabatnya Ayana itu meminta dirinya untuk datang kesana.katanya sih Aneska ingin curhat entah apa yang akan di ceritakannya itu.tapi Ayana yakin pasti Aneska akan menceritakan hubungannya dengan Rehan.
"Gede juga Nes.luas lagi.enak ini mah gak sumpek kaya apart lo yang dulu." ujar Ayana setelah mereka memasuki penthouse Aneska yang luas dan megah itu.
"Iya dong,gue sengaja carinya yang gedean. untung bokap iyain waktu itu.soalnya dia pikir emang gue mau segera nikah kan.taunya hamil dulu baru nikah." Aneska terkekeh di akhir kalimatnya saat melihat wajah Ayana yang terkejut.
"Jadi,lo hamil dulu baru nikah,gitu?" Ayana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya membuat wajahnya terlihat begitu lucu.
Aneska mengangguk seraya duduk di sofa yang langsung di susul oleh Ayana." Itu lah hidup,Ay.rumit gak bisa di tebak." ujarnya membuat Ayana mengerutkan dahi.
"Emang awalnya gimana sih sampe kalian berakhir punya bocah?."
"Panjang pokonya.bentar gue cerita.ambil es buah dulu ya.gak lama kok orang gue udah siapin.mungpung Renesa masih pules." katanya sambil berlalu dari sana.
Ayana beranjak mencari Gio yang sejak tadi tak ikut kesana.tadi Rehan mengajak Gio ke tempat teman lelaki itu.untuk melihat koleksi motor sport dan antik milik temannya Rehan. rupanya kini mereka sudah kembali dan suaminya itu tengah mengobrol bersama Rehan di ruangan lain yang bersisian dengan ruangan billiard juga di sana.ia membiarkan saja mereka saling bertukar cerita lagi pula ia sendiri akan mendengarkan curhatan Aneska setelah ini.
Sekembalinya Ayana benar saja Aneska menyajikan es buah dan camilan lainnya.tak lupa membawakan juga untuk dua lelaki itu. setelahnya Aneska bercerita mengenai awal pertemuan dirinya dengan Rehan yang tak di sengaja.ia menceritakan keseluruhan awal mula hubungan mereka terjalin.meski tak semuanya ia ceritakan termasuk aibnya.tentu saja Aneska juga masih waras tak mungkin ia ceritakan kalau sebenarnya awal mula ia dan rehan bertemu karena one night stand.alias cinta satu malam yang berakhir keterusan.
Aneska hanya menceritakan bahwa ia mengajak Rehan kawin kontrak,bukan juga karena mereka bersama tanpa menikah.kalau bahasa jermannya sih semacam kumpul kebo gitu lah.karena merasa bahwa lelaki itu cocok dengannya dalam segala hal.termasuk dalam selera dan gaya-gaya s*k keduanya sama-sama menyukai dan punya selera yang sama.selain karena itu tentu saja karena Rehan juga sudah sepakat dan mereka tidak sedang dalam ikatan pernikahan atau pun pacaran.keduanya sama-sama single dan bebas.
Waktu itu setelah kelahiran bayi mereka dua hari lalu.tak di sangka ayah dan ibu Aneska mengunjungi apartmentnya kala itu sebelum mereka pindah ke tempat yang sekarang mereka tinggali.kehadiran Rehan dan bayi membuat keduanya syok dan hampir pingsan, lucunya pada saat itu Rehan langsung bersujud di bawah kaki Antonio-Ayah Aneska dan memohon ampun setelah babak belur akibat beberapa pukulan maut yang di layangkan oleh ayahnya Aneska itu.
"Ampun,Om.saya akui saya bersalah.tapi saya akan tanggung jawab.saya akan menikahi Neska,Om.janji." ucap Rehan waktu itu dengan tubuh bersimpuh di bawah kaki Antonio.
"Saya gak butuh janjimu kampr*t.Sekarang juga kau nikahi putri saya,bedebah buruk rupa kau." wajah Antonio begitu murka menatap Rehan." Sialan,kau sudah merusak putriku, b*bi."geramnya seraya menendang Rehan hingga terjungkal lelaki itu meringis dengan sekujur tubuh yang babak belur.
"Pa,sudah,Pa.kasian anak orang.heh.bisa mati dia.Papa mau cucu kita jadi yatim dari bayi?." teriak Ana membuat Antonio semakin geram saja dan malah menambah satu tendangan lagi di sel*ngk*ngan Rehan. membuat pria muda yang baru dua hari menjadi ayah itu hampir sekarat.
"Jangan di hajar itunya dong Pa,gimana sih. dia akan menikahi Neska.nanti kalau itunya gak bisa bangun lagi.gimana nasib anakmu?." ucap ibunda dari Aneska itu membuat sang suami menatap tak percaya padanya. bisa-bisanya di saat seperti ini istrinya itu masih memikirkan nasib Aneska dan burung empritnya lelaki bajingan itu.harusnya burung emprit itu musnahkan saja lah karena benda itu juga putrinya melahirkan bayi.
"Sudah,Pa.kita bisa bicarakan ini dengan kepala yang dingin." ajak Ana sembari menarik tangan suaminya itu." Kepala Papa masih ngebul gini.sana mending siram dulu pake air aqua." Katanya membuat Rehan yang tengah merasakan rasa sakit itu terkekeh dalam diam." Nes ambilkan air dulu di kulkas untuk Papa." masih bisa-bisanya meminta sang anak mengambilkan air.karena dirinya tetap menjaga Antonio kawatir menyerang Rehan lagi.
"Saya minta maaf,Pa_"
"Pa,Pa.kepala kau.enak saja.jadi aja belum sudah panggil Papa." Antonio memotong kalimat Rehan membuat pria itu semakin menunduk." Cepat bawa duit kesini.dan minta surat dari rt rw tempatmu.sekarang juga kalian harus menikah." tegasnya membuat Rehan ketar ketir.
"Heh jawab,jangan diam aja." tegur Ana kala melihat Rehan hanya diam hampir saja kepalanya mengenai lantai saking tunduknya.
"Iya tante_"
"Cih,tante katanya?oma dong.kan saya sudah punya cucu.gimana sih kamu ini." sela Ana membuat suaminya menarik napas berat.
__ADS_1
"Lima juta cukup gak om?" tanya Rehan membuat air yang hendak di minum oleh Antonio itu menyembur keluar.mata calon ayah mertua Rehan itu hampir gelinding mendengarnya.
"Apa kau bilang?lima juta?itu untuk apa?untuk kawin?kalau memang iya,lebih baik kita duel sampe mati.ayok." tantangnya membuat Rehan hampir ngompol di tempatnya.
"Bu_bukan om.untuk beli cincin mas kawin. kalu biaya pesta saya ada tabungan kuliah sekitar 25jt.tapi selain itu demi tuhan saya gak punya lagi.adanya juga uang warung emak.gak mungkin saya mintain,kasian emak saya warungnya hampir bangkrut sekarang gak bisa belanja lagi karena di hutang sekampung." jelas Rehan dengan wajah prihatin membuat Ana tersentuh dengan dramanya calon menantunya itu.
"Kalau memang kere kenapa berani ngehamilin anak saya? tolol" Antonio menatap nyalang pada Rehan.
"Karena saya di paksa sama Neska_"
"Hmm.Pa." Aneska memotong kalimat Rehan membuat lelaki itu menoleh padanya." Begini sebenarnya kami_"
"Diam Sayang.biarin kadal sawah ini ngomong dulu." sela Antonio." Tadi sampai mana?" tanyanya kembali pada Rehan.
"Anu,mmm_"
"Ngomong yang bener jangan am em am em, kau ngomong apa kumur-kumur." bentak Antonio membuat Rehan terjangkit.
"Kami ada kesepakatan om.Neska meminta saya agar dia hamil.setelahnya dia minta saya pergi dan anggap aja kami gak saling kenal lagi.dengan imbalan saya akan dapat uang dari dia.dan dia mau biayai kuliah saya juga asalkan saya berhasil nghamilin dia." jelas Rehan membuat Aneska menatapnya tajam serasa di kuliti di depan kedua orangtuanya.
"Lalu kau setuju dong pasti,dan dengan senang hati ya?." tebak Antonio dengan wajah mengejek.
"Ih,nggak dong.makanya dengerin dulu saya belum selesai ini." ucap Rehan lantas membuat Antonio melotot padanya." Maaf gak sengaja,om.hehehe " Rehan meringis menatap takut-takut pada calon ayah mertuanya yang galak itu.
"Ck,andai saja kau bukan ayah dari cucuku. saat ini sudah aku jadikan kepalamu itu tumbal proyek.kepalamu yang kosong itu tumbalkan saja." dengus Antonio kesal.apa salah dan sodanya eh dosanya sih di masa lalu sehingga tuhan mengirimkannya menantu seperti itu.sudah jelek,miskin dan kere dah gitu minim sopan santun,di tambah ngelunjak lagi.pikir Antonio.
"Dia bohong Pa,Ma.kami saling mencintai kok aku mencintai dia.makanya kami sepakat untuk memiliki anak dulu supaya Mama dan Papa ngerestuin kami." ujar Aneska karena tidak tahan melihat Rehan yang terus membuka aibnya itu.
"Kau mencintai putriku?." tanya Antonio pada Rehan dengan tatapan hendak melahap lelaki itu.
Tak di sangka dan tak di duga jawaban Rehan di luar perkiraan BMKG.jawabannya adalah." Nggak om.jujur saya belum suka sama Neska cuma kalau sayang sih iya.tapi saya janji saya akan mencintainya pelan-pelan." ujarnya membuat hati Aneska kebelah.
"Sudahlah.pusing saya sama omongan kalian yang beda-beda gak tau mana yang bener." ujar Antonio seraya beranjak." Dimana obat asma Papa,Ma?." dia melirik istrinya yang sedang menatapi mereka." Hapalin ijab qobul, beres isya kau nikahin Aneska." putusnya sembari menghampiri cucunya yang sedang berada di dalam ayunan listrik itu." Hadeuh, muka macam kutil badak aja sok-sokan mau nikahi putriku." ujarnya sambil berlalu.
"Ish,sia-sia dong gue belajar debus di banten kalau ngelawan aki-aki aja gak bisa." rutuk Rehan sembari memegangi pinggangnya." Padahal mah tinggal pites aja tuh pinggang aki-aki,langsung patah paling." pria itu masih saja merutuki calon ayah mertuanya." Tau gitu,Kapan-kapan mah gue teken aja dadanya, pasti asmanya kambuh." setelahnya dia tertawa dalam hati dia memiliki ide yang bagus Rehan akan membeli kucing setelah ini supaya mertuanya itu tidak datang kesana.
"Adu,aduh.siapa ini,hmm?cantik sekali perawan opa.aduh matanya mirip oma ya. cipit dan imut." pria yang masih mempertahankan ketampanannya di usia tua itu menggendong cucunya dengan hati-hati.
"Ya allah,Nes." Ayana menganga tak percaya apa yang barusan di dengarnya itu.oh tuhan demi kerang yang ada di dalam laut Ayana sungguh tak percaya.
"Lega gitu gak sih?." balas Ayana ikut merasakan kelegaan yang di rasakan sahabatnya itu.
"Tapi ada sedihnya juga,Ay." ucap Aneska sambil menatap ke atas menerawang teringat akan pembicaraannya dengan Giselle tadi pagi bahwa ternyata anaknya memang memiliki kelainan.keanehan dan kecurigaannya selama ini pada sang anak ternyata memang benar adanya.
"Kenapa?"
Aneska meminum air putih terlebih dulu.baru saja merasakan lega namun ia kembali sesak teringat pada sang putri.anak cantik yang menjadi kebanggaan keluarganya itu." Anes harus terapi,kata Giselle,kemampuan motorik dan sensorinya kurang.dia juga kan belum bisa ngomong.baru bisa bilang Papi sama susu doang." jelasnya lirih wajahnya menjadi sedih membuat Ayana terdiam.
"Gue ngerasa gagal jadi orang tua,Ay." Aneska hampir menangis namun berusaha di tahannya." Gue iri dan malu sama lo,lo banyak anak tapi mampu ngedidik dan ngurus mereka dengan benar.sedangkan gue baru satu aja gak becus."
"Hey." Ayana mendekat dan memeluk temannya yang sejak dari orok itu." Jangan ngomong gitu ah.lo ibu yang hebat.percaya lah allah nitipin Nesa ke lo,karena allah tau kalau lo itu kuat dan bisa menjaganya." ucapnya menenangkan.
"Belum juga dua tahun kan?wajar kalau belum bisa ngomong di umur segitu.nanti juga ngomong kok,Nes.kalau untuk sensori dan motorik memang perlu di terapi sih.gue lihat dia belum bisa berdiri dengan bagus.masih ngesot ya?" tanya Ayana yang di angguki Aneska." Mungkin dia emang masih betah ngesot.Nes.namanya juga anak-anak tumbuhnya beda-beda.lo gak boleh sedih pokonya,tetep harus happy kiowok."
"Lo juga pokonya." balas Aneska sambil memeluk Ayana dan mengcup pipi sahabatnya itu.
"Yang,yuk pulang." tiba-tiba suara Gio terdengar membuat keduanya menoleh.lelaki itu duduk di sebelah Ayana tangannya berada di atas paha Ayana." Katanya mau belanja dulu buat besok.yuk keburu macet nanti." ajaknya lagi.
"Ya udah." kemudian Ayana pamit kepada temannya itu." Maaf ya jadi ganggu waktu istirahat kalian." ucapnya lagi pada Rehan yang di balas gelengan oleh pria itu.
"Gapapa Ka.malah bagus sering-sering mampir nanti ya." katanya yang di balas dua jempol oleh Gio.
...☘☘☘☘☘...
Keesokannya Gio dan Ayana sudah bersiap hendak ke rumah Mira.sudah berkali-kali Gio menghubungi kakanya namun belum juga mendapat balasan.agak sedikit heran namun Gio mencoba berpikir postif mungkin saja kakanya itu sedang menjajakan jualannya dan lupa membawa ponsel.agak sedih sebetulnya mengingat sang kaka setiap harinya berjualan kue untuk menyambung hidupnya dengan sang anak.karena sudah dua bulan ini Indri selalu menolak uang pemberian darinya. karenanya Gio menjadi serba salah.
"Sepi banget." ucap Ayana saat mereka baru sampai di halaman rumah.keduanya mengetuk pintu dan mendengar suara tangis Indri yang menyayat.tak pikir panjang Gio langsung membuka pintu yang kebetulan ternyata tak di kunci begitu terbuka lelaki itu berlari menghampiri kakanya.
"Ka?." panggil Gio seraya memasuki kamar Indri yang memang terbuka terlihat perempuan ringkih di ujung ranjang tengah memeluk lutut menangisi selembar foto." Kenapa?apa yang terjadi?." tanya Gio sembari mendekati kakanya itu.
Indri mendongak dan terkejut namun tangisnya kembali pecah begitu melihat Gio." Gi.." suaranya amat lirih membuat hati Gio teriris.tak bersuara lagi Gio langsung memeluk sang kaka membenamkan tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jangan nangis,jangan takut.ada aku,Ka." bisiknya seraya mengusapi punggung kakanya itu.
"Mas Bian udah pergi,Gi.kasian Billa dia belum sempat ketemu lagi dengan ayahnya." ucap Indri dengan tubuh terguncang.
"Udah takdir yang kuasa.gapapa jangan takut. Billa sama kaka masih punya aku.bukannya dia tak ada kontribusi apa-apa kan di hidup kalian?kenapa di tangisi?biarkan dia pergi dengan tenang dan menyesali perbuatannya karena telah menyia-nyiakan kalian." balas Gio.tentu saja dia amat tau mengapa sang kaka menangisi pria itu.karena Gio tau bahwa seburuk apa pun kelakuan Bian.Indri masih mencintainya.tak peduli walau mulutnya kadang mengatakan hal-hal yang kasar pada pria itu.tapi hati Indri hanya di isi oleh Bian. kadang cinta memang tak masuk di akal.
"Iya kaka tau." cicit Indri." Tapi kasian Billa.Gi." ucapnya lagi dan tambah menangis.
"Kasian Billa apa kaka?" tanya Gio sengaja membuat sang kaka semakin menangis." Pria seperti itu di tangisi.masih banyak lelaki yang pantas untuk di cintai Ka." ucapnya yang menambah kesedihan Indri.
"Kenapa kasian Billa?kita juga yatim sejak kecil gapapa tuh.padahal ayah kita orang yang bener-bener kita segani dan kasihi.tapi tidak masalah bagi kita saat dia pergi karena kita tau bahwa yang bernyawa akan kembali pada pemiliknya.apa lagi billa.dia tidak mengenal ayahnya dengan baik.aku rasa kepergian Bian baginya bukan apa-apa.suatu saat dia akan mengerti dan pasti menerima semuanya." jelas Gio membuat Indri terdiam.
"Jangan nangis udah.lebih baik besarkan Billa dengan baik.didik dia seperti ibu mendidikmu untuk menjadi perempuan kuat dan hebat sepertimu." Gio mengelusi punggung kakanya itu dengan sayang.
Ayana yang tadi berdiri di pintu itu akhirnya memilih pergi ke teras kemudian duduk di sana sambil mengusap air matanya.dalam hati ia memaki dirinya sendiri karena memiliki hati yang cemburuan.Ayana akui dia begitu cemburu melihat kedekatan dan kehangatan Gio bersama kakanya itu.entah lah rasa cemburu ini muncul dan tak terbendung semenjak mereka berpisah.dirinya memang parah dan keterlaluan.mengapa harus ada rasa cemburu di hatinya.padahal Indri jelas adalah kaka iparnya.lalu mengapa ia harus cemburu para perempuan itu.
"Yuk ke depan.aku sama Aya dan Jeivan.aku keluar duluan ya takut Aya pengen istirahat." ucap Gio sambil berlalu kemudian mencari istrinya yang ternyata berada di teras rumah.
"Yang.?" sapanya begitu melihat Ayana yang sedang duduk menatap ke depan pada tanaman hasil tangan rajin Mira semasa hidup." Masuk,sayang.istirahat gih,biar aku yang pegang adek." suruh Gio dengan lembut.
Ayana menoleh sambil tersenyum.ada jejak air mata di kelopak mata indahnya itu membuat Gio terkejut." Kamu nangis?" tanyanya panik.tanganya membingkai wajah istrinya yang sedang dalam mood yang buruk sepertinya.
"Nggak.ngantuk tadi nguap terus." elak Ayana seraya menyerahkan putranya.
"Seriusan Sayang?kamu nangis denger Ka Indri atau karena yang lain?" tentu saja Gio tidak percaya begitu saja.hey,berapa tahun dia bersama Ayana tentu saja sudah hapal seluruh tabiat istrinya.
"Hih kamu ini." bantah Ayana.ia berdiri setelah anaknya itu di pangku oleh Gio." Nggak lah. udah ah aku ke dalam dulu." katanya segera menemui Indri.
"Yang sabar Ka.ka Indri masih punya kami. Jangan takut Gio akan selalu ada untuk kaka dan Billa.begitu pun aku." katanya wajahnya berusaha menampilkan rasa hangat.padahal dalam hati cemburu berat apa lagi melihat kaka iparnya itu yang kini bak remaja saja. Indri tidak terlihat seperti perempuan yang sudah memiliki anak.badan ramping dan wajahnya yang manis dan cantik membuatnya terlihat seperti remaja dua puluhan.
"Iya Ka.terima kasih datang di saat yang tepat." balas Indri sambil memeluk Ayana." Terima kasih.sudah bersedia kembali dengan Gio.semoga allah memberkahi rumah tangga kalian.aku seneng luar biasa kalian kembali bersama." ucap Indri dengan senyum hangatnya.
Gio sengaja membiarkannya dulu nanti dia akan coba tanyakan saat Ayana dalam keadaan tenang.perempuan itu memang tidak bisa di paksa dalam keadaan moodnya yang sedang kurang baik.bisa panjang urusan dan berakhir dengan perdebatan.Gio tersenyum menatap kedua perempuan yang berharga dalam hidupnya itu.
Sore harinya mereka makan setelah Indri masak menu kesukaan Ayana.namun Gio perhatikan sikap Ayana ini agak beda kali ini tidak seperti biasa.entah karena merasa canggung setelah mereka rujuk dan mungkin saja Ayana merasa malu dan canggung.atau karena ada hal lain pikir Gio.beberapa saat kemudian tebakannya berbeda dan mengarah ke tebakan kedua.lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Nggak mungkin lah,masa iya Aya cemburu sama ka Indri?." batin Gio sembari menimang anaknya.
"Ka gak usah di cuciin piringnya gapapa.biar aku aja." cegah Indri saat Ayana mengangkat piring bekas dirinya dan Gio makan.
"Gapapa Ka.sekalian cuci tangan." balas Ayana dan langsung membawa piring-piring itu ke dapur.Indri tak bisa mencegah lagi karena merasa istri adiknya itu agak berbeda sekarang.
Saat malam Ayana tidur lebih dulu setelah berbincang sebentar dengan Indri.ia membawa anaknya ke kamar meninggalkan Gio dan Indri yang masih di ruang tv." Sana susul ka Aya,Gi." suruh Indri.ketika Gio tak menyadari kalau istrinya itu sudah lebih dulu masuk kamar.ia sibuk berbalas pesan dengan Andre.
"Oh iya." jawabnya sembari pergi ke kamar.
"Sayang?" sapa Gio usai ikut bergabung dalam selimbut.ia memeluk Ayana yang bergeser itu seperti tidak ingin menempel dengan Gio." Kenapa?ada yang salah sama aku?" tanyanya seraya mengecupi wajah istrinya dari samping.
"Apasi?" sahut Ayana ketus sekali kentara bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Kayanya ngambek nih?cantiknya aku ini kenapa sih,Kenapa,hmm?." rayu Gio sambil menciumi telinga Ayana membuat perempuan itu kegelian." Ayok bilang dong kenapa.kok jadi ngambekan gini?."
"Jangan peluk-peluk ka Indri lagi." ucap Ayana dengan pelan." Gak tau kenapa sekarang aku gak terlalu suka ngelihat kamu meluk ka Indri. mungkin kamu boleh ngelakuinnya tapi jangan di depan aku kaya tadi."
Gio memeluk istrinya sambil mencium wanitanya itu." Jadi karena itu?ya udah aku gak akan ngelakuin lagi.maaf tadi reflek aja namanya ke kaka sendiri.jangan mikir yang enggak-enggak ya?dia kaka aku.Sayang."
"Iya aku tau.makasih udah ngertiin aku." Ayana berbalik badan dan memeluk Gio membuat pria itu tertawa." Peluk,Gi." pintanya karena Gio sudah tak memeluknya lagi.
"Iya,Sayang." Gio langsung melakukannya sebelum perempuan cantik itu kembali ngamok.setelahnya tangan itu menelusup masuk ke dalam baju terusan Ayana dan merogoh isinya lalu mengeluarkannya tanpa bisa Ayana tahan." Nyusu euy,udah lama." katanya membuat sang istri mendekus tapi tetap suka karena ia sendiri pun doyan kok.
"Ahhhhh terus,mmm." pinta Ayana yang langsung di bungkam oleh Gio.
"Ssst,ada Billa di luar.nanti denger." bisik pria itu membuat mata Ayana mau keluar.
"Serius kamu?." katanya panik sembari melepaskan Gio tapi pria itu malah tambah kuat menyesap membuatnya kembali merebahkan diri.
...☘☘☘☘☘☘...
__ADS_1
Paan sih Gio ini,kok ganteng banget gitu ngapain sih,ngapain coba.bikin kepala migrain aja deh😍terima kasih ya buat yg masih baca