MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 100. MENGANCAM


__ADS_3

Siang hari setelah jam istirahat tiba, Rama meminta izin untuk keluar. Karena hari ini di kantor sedang tidak terlalu sibuk, akhirnya Rama berpikir akan meluangkan waktu untuk menyelidiki kembali kebenaran di antara Kian dan juga Lian. Bukan karena dia tidak percaya pada Kian, akan tetapi dia hanya butuh sesuatu untuk meyakinkan dirinya sendiri. Setidaknya keyakinan itu akan membuat dia bisa mengambil keputusan tentang apa yang harus dia lakukan.


Samir yang melihat kepergian Rama yang secara tiba-tiba itu, dia yakin jika laki-laki tersebut pasti akan terus mencari kebenaran atas kebimbangan yang sedang melanda dirinya. Sesaat Samir terdiam. Akan tetapi sesaat setelahnya dia pun teringat kepada sosok Kian. Dia berpikir mungkin saat ini wanita itu pasti sedang sedih dan terpuruk.


Samir duduk di kursinya, melamun. Ponsel miliknya berputar-putar di sela-sela jari jemarinya. Setelah beberapa saat laki-laki itu menatap layar ponsel dimana terpampang nomor Kian di atasnya. Ada rasa ragu ketika dia ingin menghubungi sahabat masa kecilnya itu. Akan tetapi dia juga merasa sangat khawatir dengan wanita itu. Akhirnya Samir pun memutuskan untuk menghubungi Kian saja. Lama nada sambung terdengar hingga pada akhirnya sebuah suara wanita yang sangat dia rindukan itu terdengar dari balik telepon.


"Halo," ucap Kian lirih. Samir terdiam sejenak. 


"Halo, Kian. Ini aku Samir," jawab Samir gugup.


"Iya aku tau. Nomor kamu kan ada di ponselku," canda Kian sambil sedikit tersenyum. Samir merasa lega karena wanita itu masih bisa bercanda di sela masalah yang sedang dia hadapi.


Kian sangat senang karena disaat dirinya sedang membutuhkan seorang teman, Samir menghubunginya. Dan kali ini dia bersikap biasa layaknya seorang sahabat. Bukan seperti bawahan dan nyonya atasan lagi.


"Kian apa kamu baik-baik saja?" tanya Samir lagi. Terdengar gadis itu membuang nafas panjang.


"Aku tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?" balas Kian sambil tertawa.


"Sudah cukup sandiwaranya. Aku sudah tau semuanya. Tadi Rama berbicara denganku tentang apa yang sudah terjadi pada kalian," ucap Samir. Tawa Kian seketika berhenti.


"Jadi dia benar-benar bertanya kepadamu? Dia tidak percaya kepadaku?" gumam Kian. Kini terdengar jelas suara kesedihan di dalam diri Kian.


"Mungkin bukannya tidak percaya tapi dia butuh sesuatu untuk lebih meyakinkan hatinya sendiri. Coba kamu bayangkan berada di posisinya, setelah nyaman bersama seorang wanita, mencintai wanita tersebut, tapi ternyata dia mengetahui jika wanita itu bukanlah istrinya sendiri. Rama pasti shock. Setiap orang yang mendapatkan kabar seperti ini pasti butuh waktu untuk menenangkan diri dan juga meyakinkan hatinya sendiri."


"Aku tahu. Sejak awal aku memang salah. Seharusnya aku menolak pertukaran identitas ini. Atau setidaknya aku mengatakan yang sebenarnya kepada Mas Rama saat kami untuk pertama kalinya bersama. Jika saja aku melakukan hal itu, mungkin Mas Rama tidak akan semarah ini," ucap Kian disertai isak tangis.

__ADS_1


"Kian, semua sudah terjadi. Dan semua sudah diluar kendali kita. Kita tidak bisa menyalahkan apa yang terjadi di masa lalu karena semua itu sudah menjadi takdir yang harus kita jalani. Sekarang yang harus kita lakukan adalah terus mendukung Rama. Karena dia sedang sangat membutuhkan teman."


"Tapi setelah kejadian semalam, Mas Rama tidak mau berbicara denganku. Bahkan menoleh atau menyapa pun dia tidak mau. Lalu bagaimana aku bisa terus mendampinginya?" tanya Kian sudah frustasi.


"Setidaknya tetaplah di sisinya apapun yang terjadi. Dan untuk temannya berbagi, kamu tenang saja. Aku akan selalu ada disisinya juga."


"Aku titip Mas Rama padamu. Jangan biarkan dia terjebak di jalan yang salah. Aku tahu hatinya pasti sedang bimbang saat ini. Aku hanya berharap dia tidak akan termakan hasutan Lian."


"Kamu tenang saja. Aku akan selalu menjaga Rama. Kamu juga usahakan jangan terlalu banyak pikiran. Tetap jaga pola makan dan pola istirahat. Ingat ada calon anak kalian yang masih tumbuh di rahimmu."


"Iya. Terima kasih Samir."


"Sama-sama."


*** 


Rama terus menjalankan mobilnya tak tentu arah. Awalnya dia ingin menemui sang ibu mertua untuk menanyakan hal yang sama yang sebelumnya dia tanyakan kepada Samir. Akan tetapi setelah dipikir ulang menurutnya percuma saja dia datang ke sana. Jawabannya pasti akan sama dengan jawaban laki-laki itu. Secara sang ibu juga tidak ada di lokasi saat kejadian pertukaran itu terjadi. Sang ibu hanya mengetahui sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Kian kepadanya. Dan seperti yang dikatakan oleh Samir, bahwa cinta yang tulus akan membuat sang ibu percaya dengan semua perkataannya.


Saat sedang mengendarai mobilnya, tiba-tiba saja ponsel Rama berdering. Dia melihatnya dan sedikit mengernyit saat melihat nama suster Angel yang menghubunginya. Dengan cepat dia mengangkat panggilan tersebut.


"Iya suster. Ada apa?" tanya Rama.


"Ini bukan suster, Mas. Ini Lian. Istrimu," ucap Lian dengan menekankan kata istri. Rama terdiam sejenak. Rasanya hatinya sedikit tidak rela mendengar wanita itu berkata jika dia adalah istrinya.


"Ada apa Lian?" tanya Rama tidak bersemangat.

__ADS_1


"Mas bisakah Mas datang ke rumah sakit sekarang?" tanya Lian dengan manja.


"Ada apa? Apa ada masalah?"


"Hmm, gak ada apa-apa sih. Aku hanya ingin ketemu Mas aja. Aku kangen sama Mas."


Rama terdiam lagi. Ternyata yang dikatakan Samir tentang kedua gadis kembar ini memang benar. Mereka berdua memiliki sifat yang berbeda. Dalam hal ini saja contohnya. Kian tidak pernah meminta dirinya pulang di saat jam kerja. Wanita itu malah selalu bertanya jika dirinya pulang cepat. Kian selalu berkata agar dirinya bekerja seperti biasa dan jangan berlagak walaupun dirinya adalah seorang CEO. Tapi Lian? Dia malah memintanya menemuinya dan meninggalkan pekerjaannya.


"Aku sedang bekerja Lian," tolak Rama.


"Ayolah Mas. Kamu ini adalah CEO Amarta's Group. Kamu bebas keluar masuk jam kerja. Kamu tidak seperti karyawan biasa yang terikat oleh jam kerja. Kamu bos di perusahaan itu," rengek Lian. Lagi-lagi Rama terdiam.


"Mas, setelah lama kita tidak bersama, aku sangat merindukanmu. Aku ingin berlama-lama menatap wajahmu, aku ingin sekali memelukmu. Aku istrimu, Mas. Istri sah mu. Apa kamu tidak bahagia bisa bertemu dengan istri sah mu sendiri?"


"Bukan begitu Lian, hanya saja…"


"Kalau Mas gak mau datang, aku akan mencabut paksa jarum infus yang ada di tanganku ini," ancam Lian dengan suara yang keras.


"Apa-apaan wanita ini?" pikir Rama. Laki-laki itu kaget setelah mendengar wanita itu mengancamnya. Satu kebenaran lagi yang dia rasa telah dirinya temukan. Ternyata Kian benar jika Lian akan selalu mengancam jika keinginannya tidak dia dapatkan.


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2