
Mobil yang ditumpangi oleh Rama dan juga Kian kini sudah sampai di pelataran parkir rumah sakit dimana Lian sedang dirawat saat ini. Kian tampak sangat gelisah, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak kembarnya itu. Dia sangat berharap jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Dia pasti akan merasa sangat sedih jika sampai terjadi sesuatu yang kritis pada wanita itu. Seberapa kejamnya pun Lian menghancurkan kehidupannya, akan tetapi rasa sayang di hati Kian untuk sang kakak tidak akan pernah luntur walau hanya sedikit.
Dengan cepat Kian melepas sabuk pengamannya. Dan tanpa menunggu sang suami membukakan pintu mobil, Kian langsung membuka pintu dan keluar dari mobil tersebut. Melihat sang istri yang tergesa-gesa, Rama langsung berteriak.
"Sayang," teriak Rama sesaat setelah dia keluar dari mobil. Wanita itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. Rama berjalan mendekati sang istri lalu menggandengnya.
"Kita masuk sama-sama," ucap laki-laki itu. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, wanita itu mengangguk lalu mengikuti apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.
Sesekali Kian menoleh ke arah laki-laki yang sedang menggandengnya di sisinya itu. Di dalam hatinya dia menggerutu kenapa jalannya lambat sekali. Saat Kian mencoba berjalan sedikit agak cepat, tangan Rama langsung mencengkram bahu wanita itu kuat, memberikan isyarat agar Kian berjalan dengan perlahan saja. Akhirnya mau tidak mau, Kian pun mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
Tok.. tok.. tok..
Rama mengetuk pintu sebuah ruangan lalu dia membukanya. Lian yang saat itu sedang menonton televisi langsung menoleh ke arah pintu. Wajahnya terlihat begitu senang saat dia melihat siapa yang sudah datang.
"Mas Rama," gumam Lian sambil tersenyum lebar.
Akan tetapi senyum lebar itu langsung berubah menjadi cemberut saat dia melihat salah satu tangan Rama memeluk tubuh Kian. Kedua tangannya seketika mencengkram kain selimut yang menutupi kakinya dengan kuat. Dia tidak suka jika melihat Rama terlihat romantis dengan Kian.
"Kian…" teriak Kian. Tanpa bisa dicegah lagi wanita itu langsung masuk dengan setengah berlari lalu memeluk saudara kembarnya tersebut. Lian membalas pelukan sang adik dengan tersenyum.
"Lian akhirnya kamu datang juga. Aku sangat merindukanmu," ucap Lian seraya melepaskan pelukan sang adik.
Rama terlihat tersenyum melihat keakraban sang istri bersama saudara kembarnya itu. Dia sangat senang jika seandainya wanita yang memiliki wajah yang sama dengan sang istrinya itu benar-benar berubah.
Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati kedua wanita yang ada di depannya. Salah satu tangannya mengusap kepala Kian dengan lembut.
"Sayang, Mas harus kembali ke kantor. Kamu tunggulah disini. Nanti sepulang kerja, Mas akan menjemputmu." titah Rama kepada Kian. Wanita itu pun mengangguk sambil tersenyum. Sebelum pergi, tak lupa Kian mencium punggung tangan Rama, dan laki-laki itu mencium kening Kian. Sebuah ritual yang selalu mereka lakukan jika sang suami hendak pergi keluar rumah.
Melihat adegan itu, Lian tampak tersenyum kecut. Sesekali dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Bukan karena malu melihat adegan romantis di depannya, melainkan dia merasa kesal dan juga marah melihat suami sah nya harus bermesraan dengan adik kandungnya sendiri.
Setelah Rama pergi, kini tinggalah dua gadis kembar yang saling bersitatap satu sama lain. Sesekali mereka tersenyum akan tetapi belum ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Kian menggenggam tangan sang kakak.
__ADS_1
"Apa kabar Lian?" tanya Kian. Dia duduk di samping sang kakak masih di atas tempat tidur pasien.
"Baik," jawab Lian singkat.
"Lian apa yang terjadi denganmu? Bagaimana bisa wajahmu penuh luka seperti sekarang ini?" tanya Kian akan tetapi Lian hanya diam.
"Apa semua ini dilakukan oleh Vicky?" tanya Kian lagi. Lian mengangguk pelan.
"Jadi benar ternyata semua ini karena ulah Vicky?" tanya Kian lebih meyakinkan lagi.
"Iya. Dan dia juga bilang alasan dia melakukan hal ini adalah karena dia marah kepadamu," jawab Lian. Kian terdiam sejenak.
"Aku minta maaf Lian. Aku tidak tahu jika apa yang sudah aku lakukan kemarin malah membuatmu menjadi seperti ini. Tadinya aku hanya ingin menyelamatkan semua perhiasanmu yang akan dijual oleh Vicky. Dan aku yakin jika dia melakukan hal itu pasti tanpa sepengetahuanmu," jelas Kian.
"Hmm iya kamu benar. Tak apa sudahlah," jawab Lian tertunduk.
Sebenarnya ada rasa senang di dalam hati Kian saat melihat saudara kembarnya ini tampak lebih tenang dari biasanya. Padahal biasanya Lian selalu tampak menggebu-gebu dalam membahas segala sesuatu. Tapi tidak dengan sekarang.
"Lian," panggil Kian.
"Apa ada sesuatu yang kamu rahasiakan?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak mengerti, bukankah Vicky sangat mencintaimu? Dia bahkan rela melakukan apapun untukmu. Tapi kenapa hanya karena masalah sepele, dia bisa menyakitimu sampai separah ini?" tanya Kian. Lian terdiam sejenak.
"Aku tidak tau apakah ini benar atau tidak. Sepertinya aku harus bertanya kepada ibu tentang kebenarannya. Tapi aku bingung bagaimana caranya untuk bertanya pada Ibu," ucap Lian lagi.
"Ibu? Kenapa harus bertanya kepada ibu? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Kian semakin penasaran.
"Kemarin Vicky bilang kalau dia itu… dia itu adalah kakak tiri kita."
__ADS_1
"Maksudnya?"
Lian pun menceritakan semua yang Vicky katakan kepadanya kemarin. Kian kaget bukan main. Dia tidak pernah mengira jika sang ayah yang selalu dia sayangi dan dia hormati berani melakukan kesalahan seperti itu. Dia tidak percaya jika sang ayah memiliki seorang anak di luar pernikahannya dengan sang ibu.
"Tapi bisa saja Vicky berbohong bukan?" tanya Kian lagi.
"Aku tidak tahu. Itu sebabnya aku ingin bertanya kepada ibu. Tapi aku bingung bagaimana menanyakan tentang ini jika posisi kita masih bertukar seperti ini," tanya Lian.
"Kamu tidak usah khawatir. Ibu tahu kok kalau kita bertukar identitas," ucap Kian. Lian terdiam.
"Tau? Sejak kapan?" tanya Lian.
"Sejak ayah meninggal," jawab Kian tegas. Lian pun berpikir dan akhirnya dia ingat bagaimana sikap sang ibu sedikit berubah setelah kematian sang ayah. Awalnya dia tidak pernah mengira jika hal itu terjadi karena sang ibu sudah mengetahui semuanya. Lian pikir mungkin karena efek merasa kehilangan sang ayah saja. Tapi ternyata inilah sebabnya.
Mereka berdua kembali terdiam. Keduanya fokus pada pikirannya masing-masing.
"Kian," panggil Lian.
"Iya."
"Apa kamu bahagia tinggal bersama Mas Rama?" tanya Lian. Kian sedikit bingung dengan pertanyaan Lian yang secara tiba-tiba itu.
"Maksudnya?"
"Apa kamu bahagia berperan sebagai istrinya Mas Rama? Aku lihat kamu sepertinya sangat menikmati sandiwara ini."
"Aku tidak mengerti," ucap Kian. Lian kembali terdiam beberapa saat.
"Kian, aku ingin kita mengakhiri pertukaran identitas ini?"
****
__ADS_1
****
****