
Rizky dan juga Rama masih asik mengobrol. Mereka berempat duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Sesekali Kian menyapu ruangan tersebut dengan matanya. Ingin mencari tahu apakah ada seseorang yang dia kenal disana. Walaupun sebenarnya itu mustahil juga, karena ini adalah acara reuni sang suami.
Sebagian besar wanita menggunakan dress seksi disana. Dan hanya beberapa orang saja yang menggunakan dress tertutup, salah satunya adalah Kian. Dari sejak dulu, Kian memang tidak terlalu suka dengan pakaian seksi seperti itu. Menurut Kian, pakaian seperti itu kurang bahan dan belum jadi. Apalagi selalu ada rasa malu muncul di hati Kian jika ada salah satu bagian tubuhnya yang terlihat secara langsung oleh orang lain.
"Mas, aku mau toilet sebentar," bisik Kian.
"Apa mau aku antar?"
"Tidak perlu mas. Aku bisa sendiri. Lagipula toiletnya dekat kok," jawab Kian sambil menunjuk sebuah petunjuk arah.
"Ya sudah kamu hati-hati ya."
Kian mengangguk lalu mulai berjalan perlahan menuju ke arah toilet. Tanpa Kian sadari, sepasang mata terus menatapnya dengan intens. Melihat Kian berjalan menuju ke arah toilet membuat orang itu tersenyum lalu berjalan menyusulnya.
Kian masuk ke dalam toilet yang memiliki ukuran cukup besar dengan empat bilik di dalamnya. Sayangnya saat itu tak ada seorang pun disana. Hanya ada Kian seorang. Wanita itu masuk ke dalam salah satu bilik dan menuntaskan keperluannya di sana. Setelah selesai, Kian menatap dirinya di cermin besar yang ada di sana.
"Kenapa tingkah Mas Rama semakin hari semakin baik saja. Bahkan hari ini dia bertingkah sangat romantis. Jika terus menerus seperti ini, aku takut hatiku tidak bisa diajak berkompromi lagi. Sepertinya aku harus segera menemukan Lian dan memintanya untuk mengembalikan identitasku sebelum semuanya terlambat. Iya, hanya itu satu-satunya cara. Lagipula sekarang Mas Rama sudah baik kan? Dia tidak akan menyakiti Lian," batin Kian terus bermonolog.
Lamunan Kian membuyar saat kedua matanya melihat seseorang masuk ke dalam kamar mandi. Keningnya berkerut saat tau jika orang yang masuk itu adalah seorang laki-laki.
"Maaf Pak, ini toilet wanita," ucap Kian sopan.
"Iya aku tahu," jawab laki-laki itu.
Kian mengerutkan keningnya bingung. Jika laki-laki itu tau kalau tempat itu adalah toilet wanita lalu kenapa dia bisa masuk kesana.
"Aku memang sengaja masuk kesini untuk bertemu denganmu," ucap laki-laki itu yang tidak lain adalah Roni.
__ADS_1
Kian mulai berjalan mundur untuk menghindari laki-laki di depannya.
"Menemuiku? Untuk apa? Anda siapa? Apakah kita saling kenal? Dan kenapa tidak menunggu saya di luar saja?" tanya Kian. Hatinya sudah mulai ketakutan. Tubuhnya bahkan sudah mulai gemetar.
Laki-laki itu tersenyum menyeringai.
"Kita memang belum saling mengenal. Itu sebabnya aku datang kepadamu di sini agar kita bisa berkenalan. Jika aku menunggumu di luar, suamimu itu pasti tidak akan mengijinkan aku mendekatimu."
Kian terdiam tanpa suara. Rasanya dia ingin sekali berteriak akan tetapi rasa takutnya membuat bibir gadis itu rasanya sulit sekali untuk digerakkan.
"Kamu begitu cantik, nona. Wajahmu, matamu, tubuhmu, aahh rasanya gairah di dalam jiwaku langsung bangkit hanya dengan melihatmu saja.
"Apa maumu?" Tanya Kian lirih. Kedua sudut matanya sudah mulai mengeluarkan air.
"Hey kenapa menangis. Tenanglah aku tidak akan berbuat jahat kepadamu. Aku hanya ingin berkenalan saja."
Dengan tergesa Kian berjalan melewati laki-laki itu. Akan tetapi saat sudah melewatinya, wanita itu terkejut. Dengan tiba-tiba laki-laki aneh itu memeluk tubuh Kian dari belakang.
"Lepaskan! Apa maumu! Lepaskan," Kian memberontak akan tetapi laki-laki itu malah semakin mempererat pelukannya. Seperti orang mabuk, Roni langsung menciumi tengkuk leher Kian.
Sekuat tenaga Kian memberontak. Akan tetapi saat dirinya terlepas dari pelukan Roni, laki-laki itu pun menarik baju Kian sehingga bagian lengannya sobek sampai ke punggung. Dengan cepat wanita itu meraih bajunya dan menahannya agar pakaiannya tidak terbuka. Kian menangis. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia bingung kenapa tidak ada orang lain yang masuk ke toilet itu.
Kian menyandarkan tubuhnya di dinding agar laki-laki itu tidak bisa melihat punggungnya yang sudah terbuka akibat pakaiannya yang robek. Dia ingin sekali berlari keluar dari tempat itu akan tetapi Kian berpikir bagaimana bisa dia berlari keluar dengan pakaian terkoyak seperti ini?
Roni berjalan semakin mendekat ke arah Kian. Salah satu tangannya sudah mencengkram wajah gadis itu. Kian yang ketakutan, memejamkan matanya walaupun air mata masih terus mengalir. Saat wajah mereka semakin mendekat, tiba-tiba…
BUGH
__ADS_1
Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Roni dan membuat laki-laki itu terjengkang. Kian membuka matanya dan sangat bersyukur saat dia melihat Rama datang untuk menyelamatkannya. Mata Rama melirik ke arah sang istri. Melihat kondisi sang istri yang sudah berantakan, emosi di dalam tubuh Rama pun bangkit. Dengan cepat dia memukul Roni berulang-ulang. Laki-laki itu terus terjengkang setiap kali Rama memukulnya. Rama tak memberikan sedikitpun kesempatan kepada laki-laki itu untuk melawannya.
"Berani sekali kamu menyentuh istriku!!!" Bentak Rama di sela pukulannya.
"Apa kamu tau kalau dia sangat berharga untukku?"
Rama terus memukul Roni.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitinya walaupun aku harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Air mata Kian terus mengalir semakin deras. Apalagi dia mendengar begitu tulusnya sang suami menyayangi dirinya. Kata-kata yang terucap dari bibir Rama benar-benar sudah menyentuh hatinya yang terdalam. Kini bukan hanya Rama yang tidak ingin kehilangan dirinya tapi Kian juga tidak mau kehilangan Rama.
"Rama berhenti!!!" Suara teriakan seorang wanita menghentikan gerakan Rama yang hendak memukulnya lagi. Sekarang pria itu sadar bahwa apa yang sudah dia lakukan membuat orang lain banyak yang datang ke tempat itu.
"Kakak kamu tidak apa-apa?" tanya Adel kepada sang kakak yang sudah babak belur.
"Jadi laki-laki ini adalah kakakmu, Adel? Beritahu dia agar selalu bisa menjaga batasannya. Dia akan mendapatkan balasan yang sangat berat karena sudah berani menyentuh istriku," ancam Rama.
Laki-laki itu pun mulai mendekati sang istri yang masih tampak menangis di pojok. Kedua mata Rama melihat pakaian sang istri yang sudah terkoyak di bagian belakang. Dengan cepat laki-laki itu membuka jasnya lalu memakaikannya ke tubuh Kian untuk menutupi tubuh Kian yang terbuka.
Kian memeluk sang suami dengan erat. Dia menangis di sana. Tak ada yang bisa Rama ucapkan. Dia mengerti jika sekarang yang lebih dibutuhkan sang istri hanyalah dekapannya, bukan kata-katanya. Rama mencium puncak kepala sang istri untuk membantu menenangkannya.
****
****
****
__ADS_1