
Kian dan juga Lian sudah berada di sebuah lapangan kecil yang berada tak jauh dari rumah Amarta. Sebuah lapangan yang biasa digunakan anak-anak bermain bola jika sore telah tiba. Iya, Kian akhirnya memutuskan untuk mengikuti Lian dan mengetahui apa yang diinginkan oleh kakak kembarnya kali ini.
"Sekarang apa maumu Lian?" tanya Kian. Lian tersenyum. Matanya menatap wajah Kian dengan intens. Wajah sang adik kini tampak semakin cantik dan putih saja. Persis seperti wanita yang selalu melakukan perawatan. Iya, tentu saja Kian bisa melakukan hal itu. Secara dia kan istri dari pengusaha kaya raya, pikir Lian. Lian tidak tahu jika wajah bercahaya dan semakin cantik itu adalah salah satu efek dari kehamilan sang adik.
"Hey tenanglah sayang. Kenapa terburu-buru sekali," jawab Lian. Dia lalu berjalan sedikit ke arah samping agar dirinya bisa duduk di kursi batu yang ada di sana.
"Hmm, aku sangat lelah. Tau gini motorku tidak aku tinggalkan terlalu jauh tadi," gerutu Lian sambil mengipas-ngipaskan tangannya. Kian masih tetap diam mematung.
Dia benar-benar tidak peduli dengan ocehan tidak penting dari Lian. Dia mengikutinya kemari hanya agar saudaranya itu bisa bicara dengan cepat dan lalu dia akan segera kembali ke rumah. Melihat sang adik yang masih terdiam melihatnya, Lian pun membuang nafas kasar. Dia kembali berdiri lalu berjalan mendekati sang adik.
"Mana?" ucap Lian dan tangannya terulur ke depan.
"Apa?" tanya Kian tidak mengerti.
"Waaaah ternyata menjadi istri dari suami orang sudah membuat adikku ini jadi lebih sering lupa ya?" ucap Lian. Kian kembali diam.
"Kemarin aku minta 500 juta. Mana? Cepat berikan uang itu. Aku sangat membutuhkannya," ucap Lian dingin.
"Maaf Lian tapi aku tidak punya uang sebanyak itu," ucap Kian dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Penipu!" bentak Lian. Kian sedikit kaget saat sang kakak berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Air mata yang sejak tadi dia tahan pun jatuh. Dari dulu Kian memang tidak suka dibentak. Dan dia pasti akan menangis jika sampai ada seseorang yang melakukan hal itu kepadanya.
"Apa maksudmu Lian?" tanya Kian di sela isak tangisnya.
"Iya. Adikku sudah berubah menjadi seorang penipu. Apa kamu pikir aku bodoh? Bagaimana bisa kamu bilang kalau kamu gak punya uang sebanyak itu? Sedangkan semua orang tahu kalau kamu adalah istri dari Rama Amarta, seorang CEO muda terkaya dari perusahaan Amarta's Group."
__ADS_1
"Aku tidak berani untuk meminta uang sebanyak itu kepada Mas Rama," ucap Kian dengan kepala menunduk.
"Kenapa? Bukankah dia suamimu sekarang? Dengan sengaja aku sudah memberikan sebuah kebahagiaan kepadamu. Aku sudah memberikan suami kaya ku kepadamu. Tapi sekarang kamu sama sekali tidak mau membantuku? Kamu egois sekali Kian."
"Apa kamu menyesal?" tanya Kian tiba-tiba.
"Menyesal?"
"Apa kamu menyesal telah melakukan hal itu? Apa kamu menyesal telah menyuruhku untuk menggantikanmu berperan menjadi istri Mas Rama?"
"Tidak! Aku tidak menyesal sama sekali. Aku memang butuh uang, kekayaan dan semua fasilitas dunia yang dimiliki oleh Mas Rama. Tapi aku tidak sudi jika harus melayaninya. Apalagi melayani sebagai seorang istri. Cintaku dan juga tubuhku hanya milik Vicky. Dan tidak akan pernah aku biarkan siapapun mendapatkannya. Termasuk Mas Rama." jelas Lian. Kian terdiam lagi.
"Dan kamu. Kamu adalah adikku. Aku sudah mengirimmu masuk ke dalam keluarga itu agar bisa menjadi jembatan penghubung dari kekayaan Mas Rama kepadaku," tambah Lian.
"Apa?" Lagi dan lagi Kian dibuat kaget oleh pernyataan sang kakak. Jadi sejak dulu inilah yang menjadi niatan Lian menyuruhnya untuk bertukar identitas. Dulu Kian berpikir jika Lian menyuruhnya melakukan hal ini karena sang kakak memiliki cinta yang tulus kepada kekasihnya Vicky. Kian tidak tahu jika sebenarnya Lian tetap mengincar kekayaan suaminya walaupun dia tidak mengakui dengan adanya status itu.
"Tapi Lian. Aku benar-benar tidak bisa memberikan uang itu kepadamu," ucap Kian lagi pelan.
"Kenapa kamu bodoh sekali sih. Kalau kamu tidak mau meminta uang kepada Mas Rama, bukankah kamu punya perhiasan yang diberikan oleh Kakek Bimo saat aku menikah dengan Mas Rama. Kenapa kamu tidak memberikan perhiasan itu saja kepadaku agar aku bisa menjualnya. Ingat Kian semua perhiasan itu adalah milikku, punyaku, bukan milikmu."
"Tapi aku bingung Lian. Kalau sampai kakek Bimo tau jika perhiasan yang dia berikan itu hilang, aku tidak tahu harus memberikan alasan apa."
"Itu urusanmu Kian. Bukankah kamu terlahir dengan otak. Jadi gunakanlah otak itu untuk berpikir. Kenapa harus selalu aku yang membuat rencana."
Lian maju lebih dekat kepada sang adik. Dia berbicara dengan tangan yang terus menunjuk dan setengah mendorong tubuh Kian. Kian terus berjalan mundur sejalan dorongan sang kakak.
__ADS_1
"Jadi intinya. Besok aku akan datang lagi kesini. Aku akan mengambil semua perhiasan itu. Dan kamu yang harus membawakannya untukku. Apa kamu mengerti?"
"Maaf Lian. Tapi aku tidak bisa."
Sebuah penolakan yang dilakukan oleh Kian, berhasil membuat Lian murka. Untuk pertama kalinya sang adik menolak perintahnya. Dan itu benar-benar sudah membuatnya sangat kesal.
"Berani sekali kamu menolakku!" teriak Lian dengan disertai dorongan yang kuat pada tubuh Kian. Lian mendorong tubuh Kian sekuat tenaga sehingga Kian pun terjatuh, terjengkang dan terduduk dengan keras di lapangan.
"Aw…" Kian meringis dengan tangan yang memegang perutnya. Air mata sudah mengalir sangat deras. Bukan karena dorongan dari Lian akan tetapi dia merasakan perutnya yang tiba-tiba saja merasa sakit.
"Lian tolong aku. Lian." Kian meminta tolong kepada sang kakak. Tangannya terulur ke depan tapi sang kakak mengabaikannya.
"Dasar manja. Hanya didorong seperti itu saja sudah menangis seperti mau mati saja," gerutu Lian dengan mata yang mendelik.
"Lian, perutku sakit. Aku mohon tolong aku!" Kian terus meminta bantuan. Tubuhnya yang merasakan rasa sakit membuat dirinya tidak bisa berdiri sendiri.
"Lian, aku mohon," pinta Kian dengan air mata yang terus mengalir. Akan tetapi hal itu tidak bisa menyentuh hati sang kakak. Dia hanya terus menatap Kian dengan tajam dan penuh rasa benci.
"Untuk apa aku menolongmu? Kamu saja tidak mau menolongku," ucap Lian. Dia malah pergi meninggalkan Kian disana.
Kian terus menangis merasakan sakit di perutnya. Ingin sekali dia berusaha bangun tapi tubuhnya sangat lemas dan dia tidak kuat untuk melakukan hal itu. Dia tidak kuat jika harus berdiri. Apalagi jika harus berjalan ke rumahnya sendiri. Karena tidak bisa menahan rasa sakit lagi, akhirnya tubuh Kian pun jatuh tak sadarkan diri.
****
****
__ADS_1
****