
"Apa kamu gila? Ini masih kurang. Bahkan untuk melunasi bunganya saja masih jauh dari kata cukup." bentak seorang laki-laki bertubuh kekar dan besar itu.
Sebuah ruangan cukup besar berada di dalam club malam tempat Vicky dan teman-temannya berkumpul, malam itu nampak sangat mencekam. Seorang laki-laki paruh baya tapi masih memiliki tubuh yang kekar dan besar duduk dengan angkuhnya di sebuah kursi yang seperti singgasana baginya. Dua orang pengawal berpakaian hitam berdiri di samping kiri dan kanan orang itu. Dan beberapa lagi berdiri di beberapa titik di ruangan tersebut.
Seorang laki-laki sedang berdiri di tengah dengan pandangan yang menunduk. Tubuhnya sedikit bergetar karena ketakutan.
"Maaf bos. Tapi belakangan ini saya lagi tidak ada pemasukan lebih," ucap laki-laki itu.
"Kamu tidak bisa membohongiku, Vicky. Aku tahu jika kekasihmu yang kaya itu baru saja memberikan uang kepadamu untuk membeli mobil," ucap laki-laki itu yang sering disebut dengan nama bos Roni.
Bos Roni adalah pemilik klub dimana Vicky sering bermain judi. Dan karena seringnya kalah, Vicky pun tergoda untuk meminjam uang kepada Roni agar dirinya bisa terus bermain. Awalnya Vicky memang selalu menang, membuat dirinya bersemangat untuk terus bermain. Akan tetapi lama kelamaan keberuntungan mulai tidak berpihak kepadanya. Vicky mengalami kekalahan beruntun. Bukannya berhenti, laki-laki itu malah terus meminjam uang lagi dan lagi. Sampai sekarang catatan hutangnya ditambah bunganya sudah sangat besar.
Bos Roni yang sudah mulai geram dengan Vicky yang tidak mau membayar dan terkesan selalu kabur untuk bersembunyi akhirnya dengan terpaksa menyeret laki-laki itu untuk menghadap kepadanya.
Malam itu, Vicky yang baru saja berjalan-jalan dengan menggunakan mobil barunya, harus dihentikan oleh beberapa orang yang merupakan orang suruhan Roni. Mengetahui bahwa mereka adalah anak buah Roni, Vicky pun berusaha kabur. Dia menginjak pedal gas agak dalam sehingga mobil pun melaju dengan sangat kencang. Akan tetapi bawahan Roni bukanlah orang yang sembarangan. Mereka adalah orang yang ahli dan terpilih. Mobil Vicky pun berhenti setelah mereka memecahkan kaca mobil tersebut.
Masih tidak mau menyerah, Vicky hendak berlari dari kejaran mereka. Akan tetapi dengan sigap anak buah Roni menangkapnya dan sedikit memukulinya sampai pada akhirnya Vicky menyerah dan mau ikut dengan mereka. Dan disinilah dia sekarang. Berdiri di ruangan Bos Roni dengan wajah yang banyak lebam dimana-mana.
Vicky terdiam. Di dalam otaknya dia berpikir bagaimana dia bisa keluar dari masalah Roni ini. Jumlah hutang dirinya kepada bos Roni sangat besar. Sebenarnya bisa saja dia menjual mobil barunya untuk membayar hutang. Akan tetapi laki-laki ini terlalu sombong untuk melakukan hal itu. Mobil yang baru saja dia beli adalah mobil keluaran terbaru. Iya walaupun satu kaca depannya harus hancur setelah dipecahkan oleh anak buah Roni.
"Tolong beri aku waktu, bos. Aku akan mengusahakan untuk membayar lebih," ucap Vicky memelas. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Memohon dan memelas. Karena dia juga bingung harus melakukan apa. Apalagi rasa sakit di dalam tubuhnya bekas dipukuli tadi sudah mulai terasa sangat nyeri.
__ADS_1
"Baik. Aku akan memberikanmu waktu satu minggu. Dan selama itu anak buahku akan terus memantau mu agar kamu tidak berusaha melarikan diri lagi," ucap bos Roni. Vicky membuang nafas lega. Setidaknya hari ini dia bisa selamat dari kekejaman bos Roni yang terkenal dengan tangan dinginnya. Sekarang yang perlu Vicky lakukan adalah mencari cara agar dirinya bisa melunasi hutang kepada laki-laki itu. Dan tentu saja Vicky hanya memiliki satu tujuan jika dirinya sedang memiliki masalah keuangan. Siapa lagi kalau bukan sang kekasih, Lian.
***
Rama, Kian, Ibu Araya dan juga Kakek Dul sedang berkumpul bersama di ruangan kerja ayah Lukman di perusahaan keluarga miliknya. Sedangkan Lian, dia tidak ingin ikut dan memilih untuk tidur di rumah saja dari pada harus ikut bersama mereka dan bertemu dengan Rama dan juga adik kembarnya itu. Siang itu, Rama baru saja selesai membayarkan uang pesangon kepada semua pegawai dan memecat mereka semua.
Ibu Araya tampak menangis di kursi sofa. Kian duduk di sampingnya sambil mengelus-ngelus bahu sang ibu.
"Ibu tenanglah. Jangan menangis terus seperti ini," ucap Kian menenangkan.
"Mengapa semuanya jadi seperti ini, Nak? Ayahmu sudah bersusah payah agar perusahaan ini terus berkembang tapi kenapa sekarang malah menjadi seperti ini?" racau sang ibu. Dia sangat sedih karena perusahaan keluarga mereka harus hancur seperti ini.
"Semuanya sudah jalan takdir kita, Bu. Dan aku yakin akan ada mujizat di balik semua kejadian ini," ucap Kian.
"Ibu tenang saja. Perusahaan ini tidak sepenuhnya hancur. Perusahaan ayah masih ada, hanya saja kita akan memulainya kembali dari awal. Dan kali ini kita akan pastikan tidak akan ada lagi duri yang menusuk di dalamnya.
Ibu Araya menatap sang menantu.
"Nak, apa yang mencuri uang 500 juta dari rekening perusahaan itu adalah bendahara ayah juga?" tanya Ibu Araya. Rama dan juga Kian saling menatap. Dia tidak mungkin mengatakan jika yang sudah mencuri uang itu adalah anaknya sendiri.
"Bu, siapapun dia, kita tidak usah membahasnya lagi ya," ucap Kian.
__ADS_1
"Tapi Nak, jika kita tahu orangnya, kita bisa melaporkannya ke kantor polisi, bukan?"
"Bu…" panggil Rama. Wanita paruh baya itu kembali menatap ke arah sang menantu.
"Ibu tidak perlu memikirkan apapun tentang hal itu. Semua yang terjadi pada perusahaan ayah sudah menjadi tanggung jawabku sekarang. Jadi ibu tidak perlu banyak pikiran. Yang perlu ibu lakukan adalah menjaga diri ibu agar tetap sehat. Kasihan calon cucu ibu. Dia pasti ingin digendong sama neneknya jika nanti dia sudah lahir."
Ibu Araya tersenyum getir mendengar sang menantu menyebut kata cucu. Pikirannya sekarang malah berpikir bagaimana jika Rama tau jika wanita yang sedang mengandung anaknya bukanlah istrinya Lian, melainkan adik iparnya Kian. Apa laki-laki itu akan menerima Kian dan juga anak mereka. Ataukah Rama justru akan membenci Kian dan mengusirnya dari kehidupannya?
"Nak, apa kamu mau berjanji pada ibu satu hal?" ucap Ibu Araya kepada Rama.
"Katakanlah Bu! Apa itu?" tanya Rama.
"Apapun yang terjadi di masa depan kelak, berjanjilah pada ibu kalau kamu akan percaya kepada ibu dari anakmu dan juga akan selalu mencintai dan menjaga ibu dari anak-anakmu," ucap Ibu Araya dengan nada yang bergetar.
Ibu Araya sengaja menggunakan kata ibu dari anakmu, karena itu berarti dia akan berjanji untuk melindungi dan mencintai Kian, bukan Lian.
"Aku berjanji Bu."
****
****
__ADS_1
****