MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 40. BERBICARA DENGAN SAMIR


__ADS_3

Pagi hari di sebuah cafe yang masih belum terlalu ramai pengunjung, dua insan sedang duduk sambil melamun. Iya, mereka adalah Kian dan juga Samir. Kian sudah menceritakan semuanya kepada sang sahabat tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Jadi ini semua adalah rencana Lian?" gumam Samir.


"Iya," jawab Kian.


"Dan kamu mau menuruti gadis gila itu?"


"Aku tidak punya pilihan lain. Lian mengancamku jika sampai aku tidak mau menuruti semua keinginannya maka dia akan melukai dirinya sendiri."


"Dan kamu percaya jika dia akan melakukan hal itu?"


"Iya aku percaya," jawab Kian pasti.


"Ayolah Kian. Dia hanya menggertak saja. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Dia tidak mungkin melukai dirinya sendiri. Apalagi sampai menghabisi nyawanya sendiri."


"Tidak Samir. Kamu tidak tau. Dia pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya."


"Maksud kamu?" tanya Samir tidak mengerti.


"Dulu Lian pernah hampir mengakhiri hidupnya karena dia merasa jika ayah berlaku tidak adil kepadanya. Dia bilang jika ayah selalu menuruti keinginanku tapi tidak dengan keinginannya."


"Memangnya apa yang dia inginkan saat itu?" tanya laki-laki itu lagi.


"Sebuah motor," jawab Kian dan Samir hanya tersenyum kecut.


"Lalu sekarang, kenapa dia tidak mengancam bunuh diri di depan ayahmu jika ayahmu tidak merestui hubungannya dengan kekasihnya itu?"


"Dia pernah melakukan hal itu. Tapi untuk yang satu ini, ayah benar-benar keras kepala. Atau mungkin juga sudah bosan dengan rengekan Lian. Aku tidak tau. Hanya saja, untuk masalah ini, ayah memberikannya sebuah pilihan. Menikah dengan Mas Rama atau dihapus dari daftar anggota keluarga. Dan Lian tidak mau itu terjadi."


"Tentu saja dia tidak akan mau dipecat dari anggota keluarga. Selama ini sumber penghasilannya adalah keluarganya bukan?" tanya Samir. Kian mengangguk.


Samir dan Kian terdiam kembali. Keduanya hanya bisa memutar-mutar sedotan yang ada di dalam minuman yang sudah mereka pesan. Samir berpikir ternyata inilah jawaban dari semua pertanyaannya selama ini.

__ADS_1


Dia tau sewaktu pernikahan kedua sahabatnya itu dirinya tidak datang secara langsung. Akan tetapi waktu itu dia sempat melihat foto pernikahan mereka dan Samir yakin jika yang sudah menikah dengan Rama dan sah menjadi istrinya adalah Lian. Tapi kenapa saat kemarin di pesta ulang tahun perusahaan yang muncul justru adalah Kian?


Samir tidak habis pikir bagaimana bisa Lian sebegitu kejamnya sampai melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan masa depan adik kembarnya sendiri demi untuk kepuasan hatinya. Wanita itu benar-benar sudah gila, pikir Samir.


"Mau sampai kapan kamu melakukan hal ini? Berpura-pura menjadi Lian di depan Rama, Kakek Bimo bahkan di depan semua orang?" tanya Samir.


"Aku tidak tau," jawab Kian lirih.


"Kamu jangan gila Kian. Kamu tidak bisa selamanya berpura-pura menjadi orang lain dan menghabiskan hidupmu untuk tinggal bersama suami orang lain."


Kian hanya diam menunduk. Dia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang sahabat.


"Kamu punya kehidupan sendiri, Kian. Kamu punya masa depan sendiri. Kamu juga butuh pernikahan sendiri dan tinggal bersama keluargamu sendiri, suamimu sendiri dan mungkin juga anak-anakmu sendiri," jelas Samir lagi.


"Tapi aku benar-benar tidak tau Samir. Aku benar-benar tidak tau," jawab Kian putus asa.


"Apa kamu tidak ada rencana untuk mengatakan semua ini kepada Kakek Bimo, Rama atau kepada keluargamu sendiri mungkin?" tanya Samir lagi. Kian menggelengkan kepalanya.


"Kamu benar-benar sudah tidak waras, Kian," ucap Samir frustasi. Dia sadar jika Kian terus saja memainkan perannya seperti ini, itu artinya selama itu pula dia tidak akan bisa maju untuk melamar gadis yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Kemarin aku bertemu dengan keluargamu," Samir membuka kembali obrolan.


"Lalu?" tanya Kian. Dia kembali mendongak untuk menatap wajah sang sahabat.


"Aku bertanya dimana Kian dan mereka bilang sudah lebih dari dua bulan, Kian tidak tinggal lagi bersama mereka. Katanya Kian pergi bekerja ke luar kota dan tinggal disana," jelas Samir.


"Iya, mereka benar," jawab Kian. Lagi dan lagi dia berusaha menutupi semua kebohongan yang diciptakan oleh sang kakak kembarnya. Samir tersenyum kecut.


"Kamu tak perlu berbohong lagi untuk menutupi semua kebohongan Lian," jawab Samir.


"Apa maksudmu?" tanya Kian.


"Beberapa minggu yang lalu aku melihat Lian sedang duduk di sebuah cafe di dekat perbatasan kota. Dan dia sedang bermesraan dengan seorang laki-laki yang sekarang baru aku tau kalau itu adalah kekasihnya," ucap Samir. 

__ADS_1


"Kamu melihat Lian?" tanya Kian lagi.


"Iya. Waktu itu aku baru saja mengantar Rama menemui klien dan di perjalanan aku melihat kejadian itu."


"Apa Mas Rama juga melihatnya?" tanya Kian gelisah.


"Tenanglah. Dia tidak melihatnya," jawab Samir dan Kian pun membuang nafas lega.


"Jadi benar kan kalau kamu mengetahui semua ini?" tanya laki-laki itu lagi.


"I.. iya.." Jawab Kian ragu.


"Sudah aku duga."


Samir kembali tersenyum kecut dengan kepala yang menggeleng. Dia benar-benar tidak percaya jika Kian bisa melakukan hal sejauh ini hanya demi untuk memberikan kebahagiaan untuk kakak kembarnya itu.


"Sejujurnya aku memang tau jika dia tidak tinggal di luar kota. Tapi sampai sekarang aku belum pernah melihatnya lagi. Sejak hari itu saat dia datang ke rumah untuk berpamitan, aku benar-benar tidak tau apa-apa lagi tentang Lian. Bagaimana keadaannya, apakah sehat atau tidak, bahagia atau tidak, aku benar-benar tidak tau. Lian malah selalu menolak panggilan teleponku dan tak pernah sekali pun membalas pesan yang aku kirim kepadanya," jelas Kian. Kali ini dia yang memecah keheningan.


"Apa yang kamu lihat? Apa Lian sehat?" tanya Kian lagi. Samir sempat memandang Kian untuk beberapa saat.


"Samir," panggil Kian yang berhasil menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.


"Iya…"


"Bagaimana keadaan Lian?" tanya Kian lagi.


"Aku tidak tau. Saat itu jarakku cukup jauh dengannya. Tapi jika aku melihatnya dengan sekilas sepertinya dia sangat bahagia tinggal dengan kekasihnya itu," jawab Samir acuh.


"Syukurlah jika Lian baik-baik saja," jawab Kian membuang nafas lega.


Samir terus menatap wanita yang sedang duduk di depannya itu. Wanita yang sejak dulu dia cintai. Wanita yang menjadi dambaannya sejak awal dirinya mengenal cinta. Dia benar-benar tidak mengerti apakah wanita ini memiliki sifat yang terlalu baik ataukah terlalu bodoh?


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2