
Pagi hari pun telah tiba. Sebuah notifikasi pesan di dalam sebuah ponsel membangunkan Rama dari tidurnya. Sebuah pesan dari Samir yang menyuruhnya untuk menonton televisi. Rama mengerutkan keningnya bingung. Kenapa sang sahabat menyuruhnya menonton televisi sepagi itu. Acara berita pula.
Rama melihat ke arah samping dimana Kian masih tertidur dengan lelap. Perlahan laki-laki itu mendudukan badannya dan meraih remote televisi lalu menyalakan benda pipih yang menggantung di depannya tersebut.
Awalnya Rama biasa saja. Semua berita yang disiarkan televisi itu tidak ada yang menarik baginya. Sampai ketika dia hampir saja mematikan televisi tersebut, pembawa acara berita itu berbicara jika perusahaan Alistair Enterprise mengalami kebangkrutan dan akhirnya dengan terpaksa harus menutup seluruh cabang maupun inti perusahaan. Tak ada yang membahas tentang kejadian yang menimpa Kian semalam. Para pembawa acara berita itu hanya mengatakan jika perusahaan ini telah mengalami kekalahan dalam persaingan bisnis melawan Amarta's Group. Lagi dan lagi keganasan Amarta's Group kembali menelan korban.
Hampir semua warga masyarakat yang diwawancarai menyatakan pendapatnya jika hal ini terjadi karena perusahaan Alistair secara terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya kepada Amarta's Group. Selain itu ada juga yang berpendapat jika keluarga Alistair tidak pernah menghargai anggota keluarga Amarta.
"Hmm kakek. Aku tau ini semua pasti adalah ulahmu. Kabar mengenai apa yang terjadi pada Lian pasti sudah sampai ke telingamu walaupun aku tidak menceritakannya secara langsung," gumam Rama. Laki-laki itu melirik ke arah Kian yang masih belum merasa terganggu dengan suara televisi.
"Aku pikir setelah mengenal Lian, kakekku berubah jadi orang baik dan selalu memaafkan siapa saja yang berurusan dengan keluarga Amarta. Tapi ternyata aku salah. Kakek memang bukan orang sembarangan. Ketegasanmu juga tangan dinginmu dalam ******* habis musuh perusahaan ataupun keluarga, itulah yang membuatku bangga menjadi cucumu."
Kian sedikit melenguh. Kedua matanya mulai mengerjap-ngerjap. Mengetahui sang istri akan segera bangun, Rama dengan segera mematikan televisi. Dia tidak ingin sang istri kembali sedih jika sampai menonton berita yang ada hubungannya dengan kejadian semalam. Walaupun Rama sendiri tidak yakin apakah sang istri tahu jika Alistair adalah nama perusahaan keluarga milik Roni. Laki-laki yang hampir saja melecehkannya tadi malam.
"Mas sudah bangung?" tanya Kian pelan. Suaranya masih terdengar serak akibat menangis semalam.
"Sudah. Aku baru saja bangun. Apa kamu mau mandi duluan? Atau kita mandi bersama saja biar cepat?" goda Rama. Mata sayu Kian berubah menjadi melotot saat mendengar ajakan dari sang suami. Rama tergelak.
"Aku hanya bercanda. Aku mau duluan mandi. Kamu istirahatlah dulu," ucap laki-laki itu lalu turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Pandangan mata Kian terus terfokus ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Suara aliran air terdengar dari dalam kamar mandi tersebut. Tanpa sadar bibir Kian tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu manis. Tangannya menyentuh perutnya dimana tadi malam dipeluk oleh laki-laki itu. Aneh memang, ketika beberapa malam yang lalu dia sangat ketakutan jika Rama menyentuhnya tapi hari ini dia sangat menyukainya. Apa benar cinta yang sudah merubah segalanya.
Senyum Kian semakin lebar saat dirinya teringat kata-kata Rama semalam.
'Berani sekali kamu menyentuh istriku?'
__ADS_1
'Aku akan selalu melindunginya walaupun aku harus merelakan nyawaku sendiri'
'Jangan pernah takut akan hal apapun karena aku akan selalu ada disisimu menjagamu dan juga melindungimu'
Semua kata-kata yang diucapkan oleh Rama terus terngiang di telinga Kian. Membuat wanita itu terus tersenyum. Air mata yang semalam keluar sangat banyak nyatanya hari ini sudah tergantikan oleh sebuah senyum manis dan juga wajah yang merona. Baru kali ini Kian merasakan jatuh cinta dan Kian sangat bahagia.
Beberapa saat kemudian Rama keluar dari kamar mandi. Dia merasa bingung melihat sang istri yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Lian. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rama yang langsung menyadarkan Kian dari lamunannya.
"Eh iya. Aku mau mandi Mas," ucap Kian gugup.
Baru saja dia turun dari tempat tidur, pakaian bagian belakang yang semalam robek, terjatuh ke bawah memperlihatkan sebagian punggung gadis itu. Dengan cepat Kian meraihnya dan menutupnya kembali.
Kian pun mengangguk dan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan ternyata benar saja. Saat Kian selesai mandi, sebuah pakaian lengkap sudah ada di atas tempat tidur. Dengan tubuh yang masih berbalut handuk, Kian keluar dari dalam kamar mandi. Dia merasa bingung karena tak melihat Rama disana. Akan tetapi itu tidak terlalu mengganggu pikirannya. Dengan cepat Kian mengambil pakaian ganti dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
***
Rama dan juga Kian sedang melakukan sarapan pagi di restoran hotel. Laki-laki itu sangat senang ketika sang istri makan dengan begitu lahap. Dia ingat jika semalam mereka belum makan apapun di pesta itu. Dan setelah sampai di hotel, mereka malah langsung tidur.
"Lian," panggil Rama. Wanita itu menoleh.
"Pelan-pelan makannya. Hati-hati nanti tersedak," ucap Rama lagi. Kian tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf Mas tapi aku lapar. Semalam kita belum makan apa-apa kan?" tanya Kian. Rama hanya tersenyum lalu mereka pun melanjutkan sarapan.
__ADS_1
Rama terus menatap sang istri dalam diam. Dia bersyukur karena sang istri mau menepati janjinya untuk tidak mengingat kembali kejadian semalam. Tangan Rama meraih selembar tisu lalu mengusapkannya ke ujung bibir Kian dimana ada sedikit saus menempel disana. Mendapat perlakuan seperti itu yang secara tiba-tiba, membuat Kian terkejut. Akan tetapi dia kemudian tersenyum.
Sekarang Kian sudah tidak peduli lagi dengan statusnya bersama pria itu. Sikap egoisnya sudah mulai mendominasi sehingga gadis itu sekarang tidak lagi merasa takut untuk jatuh cinta kepada Rama. Dia tidak akan mau dan tidak akan rela jika harus kehilangan Rama.
Sesekali Kian merasa jika dirinya telah berubah menjadi sangat jahat kepada sang kakak. Akan tetapi pemikiran itu kemudian terbantahkan dengan pemikiran lain yang mendukung cintanya kepada Rama tanpa harus memperdulikan Lian. Toh bukan Kian yang merebut Rama, melainkan Lian yang memberikan Rama kepadanya begitu saja.
"Apa kamu suka makanannya?" tanya Rama membuyarkan lamunan Kian.
"Iya Mas. Ini sangat enak," jawab Kian sambil tersenyum.
"Ya sudah ayo habiskan dan kita akan segera kembali ke rumah."
"Kenapa? Apa kakek terus menghubungimu?"
"Bukan begitu. Tapi ada sesuatu yang harus aku kerjakan bersama Samir."
Mendengar nama Samir keluar dari mulut Rama, membuat Kian teringat akan suatu hal. Iya. Samir. Apa yang akan dia katakan kepada laki-laki itu? Samir begitu mencintainya dan rela menunggunya sampai sekarang. Tapi Kian malah mencintai pria lain. Dan itu pun adalah kakak iparnya sendiri.
"Apa aku boleh bersikap serakah kali ini?" tanya Kian dalam hati.
****
****
****
__ADS_1