
Kian terus mengeluarkan semua isi perutnya. Kepalanya sudah sangat pusing lalu Rama dengan segera meminta Samir untuk mengirimkan teh manis hangat ke ruangannya. Setelah dirasa sudah selesai, Rama menggandeng Kian untuk sampai ke sofa. Dia mendudukkan sang istri di sana. Secara bersamaan Samir pun masuk dengan satu gelas teh manis hangat yang langsung Rama berikan kepada Kian.
Melihat kondisi sang sahabat yang begitu lemah dengan wajah yang sangat pucat sebenarnya menimbulkan rasa khawatir di hati Samir. Akan tetapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak ikut campur ke dalam masalah keluarga atasannya itu kecuali jika dirinya diperintahkan.
"Apa kita akan membawa nyonya ke rumah sakit, pak?" tanya Samir. Belum juga Rama menjawab, Kian sudah mendahului.
"Tidak… tidak… tidak… Mas, aku gak mau pergi ke rumah sakit. Gak mau," ucap Kian.
"Tapi sayang. Kamu harus diperiksa dokter," ucap Rama.
"Aku gak mau Mas. Hal ini biasa terjadi pada orang hamil kok."
"Memangnya dari mana kamu tahu kalau hal seperti ini adalah hal biasa bagi ibu hamil?"
"Dari internet."
"Tapi tetap saja kita harus ke rumah sakit. Setidaknya dokter Selia pasti akan memberikanmu obat atau vitamin agar kamu tidak lemas begini."
"Aku tidak mau, Mas. Kalau Mas mau ke rumah sakit, pergi aja sendiri. Aku akan minta Samir mengajakku jalan-jalan saja," ucap Kian. Rama mengerutkan keningnya. Sedangkan Samir malah melotot karena kaget dia harus dibawa-bawa dalam pertengkaran mereka.
"Kenapa jadi bawa-bawa Samir segala sih?" ucap Rama kini sudah mulai marah. Seperti biasa setiap kali sang istri menyebut nama Samir dan menunjukkan kedekatannya, laki-laki itu pasti selalu cemburu dan marah.
Samir yang tidak mau terjebak diantara pasangan di depannya ini, lebih memilih untuk keluar saja dari ruangan itu dan membiarkan pasangan sejoli ini menyelesaikan pertengkarannya.
Kian yang baru saja mendapat bentakan dari sang suami, langsung terdiam. Kepalanya menunduk dan wanita itu pun mulai terisak. Sesekali tangannya mengusap air mata yang sudah mulai terjatuh. Melihat hal itu, Rama pun menarik nafas dalam. Dia berjalan mendekati sang istri lalu duduk di sampingnya.
"Maafkan aku," ucap Rama lirih. Kian masih tak bergerak dari posisinya semula.
Melihat sang istri hanya diam saja, Rama langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Akan tetapi sekuat tenaga Kian menolaknya.
"Lepasin ih," kata Kian di sela tangisannya. Rama pun menuruti keinginan wanita itu.
"Kamu gak mau aku peluk? Kamu gak mau maafin Mas?" tanya Rama.
"Aku mau maafin Mas tapi dengan satu syarat," ucap Kian.
__ADS_1
"Ok. Apa syaratnya?"
"Aku ingin makan es sop buah yang ada di ujung jalan dekat taman kota."
"Tapi itu jauh banget, sayang."
"Aku gak peduli. Pokoknya aku mau Mas anterin aku beli es sop buah disana. Titik."
"Tapi…."
"Kalau Mas gak mau, ya udah. Aku gak akan mau maafin Mas sampai kapanpun."
Rama menyandarkan tubuhnya dengan kasar di sofa. Pekerjaannya masih menumpuk tapi sang istri malah merengek seperti ini. Ingin sekali dirinya mengeluarkan ego dan juga mata tajam membunuhnya pada wanita di sampingnya ini seperti dulu. Akan tetapi cinta dan juga calon anak mereka sudah menjadi benteng penghalang dirinya melakukan hal itu.
"Apakah semua wanita hamil itu selalu menyebalkan seperti ini? Hmm, untungnya cinta. Jika tidak, sudah habis kamu sayang," oceh Rama dalam hati. Namun tetap saja dia menuruti keinginan sang istri.
***
Sore itu Indra sedang mengendarai motor besarnya mengelilingi jalanan kota. Setelah beberapa jam berkeliling, laki-laki itu pun menghentikan kuda besinya tepat di depan sebuah kios kecil penjual es teh di pinggir jalan. Dia memesan satu cup es teh manis dan meminumnya di sana. Sebuah kursi dari plastik menjadi tempatnya beristirahat sambil menikmati minuman manis dan dingin itu.
Sungguh suatu kebetulan yang tidak disengaja. Tepat di depan kios es teh itu ada sebuah mini market dimana Lian terlihat baru saja keluar dari dalam sana. Indra yang melihat hal itu sangat bersemangat.
"Lian!" panggil Indra. Lian yang baru saja akan naik ke atas motornya, langsung berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya tersenyum saat melihat siapa yang sudah menyapanya.
"Indra…" ucap Lian sambil tersenyum.
"Hai, apa kabar?" sapa Indra ketika posisi mereka sudah dekat.
"Baik. Aku baik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh iya, Ndra. Maaf ya kemarin aku langsung pulang. Gak pamitan dulu sama kamu," ucap Lian yang teringat saat kemarin dia datang ke rumah laki-laki itu.
"Gak apa-apa. Santai aja," jawab Indra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya apa kamu sedang terburu-buru?" tanya Indra lagi.
"Tidak juga. Kenapa memangnya?"
"Hmm, sebenarnya aku sedang minum es teh di seberang sana. Kalau kamu gak keberatan bisakah aku mentraktirmu minum?"
Lian menoleh ke arah tempat yang ditunjuk oleh Indra. Sebuah kios kecil. Sejujurnya Lian belum pernah makan atau minum di kios kecil seperti itu. Akan tetapi dia juga merasa tak enak jika harus menolak laki-laki itu.
"Baiklah," akhirnya Lian setuju. Laki-laki itu tersenyum senang, lalu mereka pun berjalan berdampingan kembali ke kios es teh itu.
Kini satu gelas es teh manis sudah ada di genggaman tangan Lian. Dia juga ikut duduk di salah satu kursi plastik yang ada di sana. Ini adalah pengalaman pertama baginya. Dan Lian masih tampak canggung.
"Ayo diminum. Ini enak banget loh," ajak Indra. Lian tersenyum lalu dengan perlahan gadis itu pun mulai menyedot minuman dinginnya. Ada rasa sejuk dan juga segar tercipta di leher Lian. Sensasi dingin yang seketika menghilangkan rasa dahaga yang sejak tadi sangat menyiksa.
"Gimana?" tanya Indra. Kedua matanya menatap wajah wanita itu.
"Enak. Ini enak. Ini seger banget," jawab Lian sambil tersenyum.
"Benar kan apa yang aku bilang?"
"Hmm. Jujur ya, Ndra. Ini pengalaman pertama aku minum di pinggir jalan seperti ini," ucap Lian. Dia sudah mulai merasa nyaman duduk bersama laki-laki itu.
"Oh iya? Kasihan sekali," sindir Indra sambil tersenyum. Lian melotot.
"Kamu nyindir aku ya?" tanya Lian. Sekarang Indra malah tertawa.
"Iya, aku kasihan aja sama kamu. Kemana aja kamu selama ini?"
"Bukannya begitu. Sejak dulu aku pikir makanan dan minuman di pinggir jalan itu tidak enak, banyak debu, kotor. Jadi aku lebih suka makan dan minum di restoran."
"Jangan suka menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja. Mereka yang berjualan di sisi jalan seperti inilah yang akan merasa sangat bahagia jika dagangannya ada yang beli. Apalagi sampai habis terjual. Mereka berjualan demi untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Mereka berjualan demi untuk istri dan juga anak-anaknya. Sedangkan pemilik restoran, dia sudah kaya walaupun kita tidak sering datang kesana. Bukan berarti memberikan nilai jelek kepada restoran ataupun orang-orang yang makan disana. Tapi alangkah baiknya jika kita memiliki rezeki lebih, belilah makanan atau minuman yang dijual pedagang kecil. Selain kita kenyang, kita juga membantu mereka."
Lian menatap intens ke arah laki-laki yang kini sedang duduk di sampingnya. Dia merasa ada yang berbeda dengan sosok Indra yang sudah dia kenal.
****
__ADS_1
****
****