
Dengan secepat yang dia bisa, Rama mengendarai mobil itu menuju ke arah rumah sakit dimana Lian sedang dirawat. Dia tidak memberitahukan siapapun kemana dia akan pergi, termasuk kepada Samir. Walaupun Samir sempat curiga akan tetapi laki-laki itu tidak bisa berbuat banyak. Apalagi selepas Rama pergi dari kantor, dialah orang kedua disana. Iya, selepas Rama pergi, Samirlah yang bertanggung jawab untuk menjaga perusahaan tersebut. Hanya menjaga saja, karena pada kenyataannya tetap saja hak mutlak dalam mengambil semua keputusan ada di tangan Rama.
Jalanan waktu itu tampak sangat padat. Mobil yang ditumpangi oleh Rama terpaksa harus beberapa kali berhenti karena terjebak macet. Sesekali Rama memukul-mukul kemudi mobil tersebut, dia merasa kesal. Mengingat bagaimana kondisi Lian, entah kenapa ada rasa sakit di dalam hatinya. Apalagi saat tadi sang suster berkata jika wanita itu menarik paksa jarum infus yang menempel di tangannya sehingga banyak darah yang mengucur disana. Rasanya Rama benar-benar ingin segera sampai disana.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil Rama pun telah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung berlari ke arah kamar rawat Lian.
Rama membuka pintu ruangan itu dan tampaklah beberapa suster serta seorang dokter yang sedang berada disana. Ruangan itu tampak berantakan dengan cucuran darah di lantai yang Rama yakini jika itu adalah darah dari saudara kembar istrinya itu.
"Dimana Kian?" tanya Rama kepada suster yang menghubunginya tadi.
"Dia sembunyi di kolong tempat tidur, Pak. Kami tidak bisa mengeluarkannya. Dia terus mengamuk dan selalu menusuk-nusukkan pisau di tangannya jika ada seseorang yang datang mendekatinya," ucap sang suster.
"Pisau? Dari mana dia bisa mendapatkan pisau?" tanya Rama.
"Itu… maaf Pak tadi ada salah satu suster yang datang dengan membawa buah dan pisau kecil untuk mengupas," ucap suster itu kembali. Pandangannya menunduk karena takut dengan reaksi Rama.
Rama benar-benar kesal. Bagaimana bisa rumah sakit besar seperti ini bisa melakukan kesalahan sepele seperti itu.
"Maaf Pak Rama, apa anda bisa membujuk pasien untuk keluar dari bawah tempat tidur itu? Kita harus memasangkan kembali jarum infus dan memberikannya obat penenang," ujar sang dokter.
Rama mengangguk lalu mulai berjalan perlahan mendekati tempat tidur pasien.
"Kian?" panggil Rama lirih.
Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya menoleh ke arah laki-laki itu berada. Lagi dan lagi laki-laki itu melihat kondisi wanita itu yang sangat berantakan. Ada ketakutan yang sangat dalam terpancar dari matanya. Kedua tangannya menggenggam sebuah pisau yang dia simpan di depan dadanya.
__ADS_1
"Kian, tenanglah. Ini aku Rama. Apa kamu ingat?" ucap Rama dengan tangan yang perlahan masuk untuk menyentuh tubuh Lian.
Mendengar nama Rama, air mata Lian mulai muncul.
"Mas Rama?" ucap Lian lirih.
"Iya ini Mas. Ayo kemarilah," bujuk Rama agar Lian mau mendekat. Wanita itu menggeleng.
"Gak Mas. Kalau aku keluar dari sini, nanti mereka akan kembali memukulku dan menjualku."
"Tidak. Mas tidak akan membiarkan hal itu. Mas janji akan selalu melindungi dan menjagamu. Mas tidak akan membiarkan hal buruk menimpamu. Kamu percaya kan sama Mas?" ucap Rama meyakinkan.
Lian terdiam sebentar sebelum pada akhirnya dia pun mengangguk. Perlahan wanita itu mendekati Rama dan akhirnya mereka berdua pun keluar dari sana. Dengan segera Lian memeluk erat tubuh Rama saat kedua matanya melihat ke arah suster dan dokter yang mendekat.
"Mas mereka…." ucap Lian terbata.
Laki-laki itu pun membantu Lian berbaring kembali di atas ranjang rawatnya. Salah satu tangannya terus melingkar di perut Rama, sedangkan tangan yang lain sedang dirawat oleh suster dan dokter untuk dipasang kembali jarum infus. Setelah semuanya selesai, dokter langsung memberikan obat penenang dan mereka pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Lian dan juga Rama.
"Mas," ucap Lian lirih. Kini dia sudah berbaring di atas tempat tidur. Sedangkan Rama duduk di sampingnya.
"Iya," jawab Rama.
"Apa aku boleh minta sesuatu?"
"Apa?"
__ADS_1
"Apa Mas bisa untuk terus menjagaku disini? Aku takut kalau mereka akan datang lagi kemari," ucap Lian.
"Kian, semua akan baik-baik saja. Mau ada aku atau tidak disini, kamu pasti akan aman di rumah sakit ini. Percayalah padaku."
Lian tak bisa menjawab lagi saat obat penenang itu mulai bereaksi. Wanita itu pun kini sudah tertidur dengan lelap.
Rama berdiri dari duduknya. Dia terus menatap wajah Lian yang terlelap. Ada sesuatu yang aneh yang terjadi di hatinya saat dirinya menatap wajah wanita itu. Rama menyentuh dadanya sendiri.
"Perasaan apa ini?" gumam Rama. Dia menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan.
Melihat kondisi Lian yang seperti itu, entah mengapa ada rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya. Rama berpikir bagaimana bisa rasa itu muncul padahal wanita di depannya ini bukan siapa-siapa. Dia bukan adiknya, bukan kakaknya, dan bukan juga istrinya. Tapi kenapa rasa itu terasa begitu menyakitkan? Rama terus membatin memikirkan hal tersebut.
***
"Kondisi pasien masih belum stabil. Kami sudah memberikannya obat penenang akan tetapi tekanan batin yang dia rasakan sepertinya begitu dalam. Jiwanya sangat terguncang. Dia selalu merasa ketakutan ketika dia sedang sendirian. Saya berharap jika bisa, sebaiknya anda menginap di rumah sakit malam ini. Saya takut kejadian serupa seperti tadi akan terjadi lagi jika pasien sadar nanti. Secara psikologis, pasien butuh teman yang bisa selalu ada di sisinya. Dan sepertinya hanya anda saja yang saat ini dia percaya," jelas sang dokter kepada Rama saat laki-laki itu menanyakan bagaimana perkembangan pasien.
Rama terdiam. Dia bingung. Bagaimana bisa dia menginap di rumah sakit. Alasan apa yang harus dia kemukakan kepada istrinya di rumah. Sedangkan dia tidak ingin jika istrinya itu tau kalau saudara kembarnya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Rama sudah tau bagaimana sifat istrinya itu. Dan dia tidak mau mengambil resiko dengan memberitahukan hal ini kepadanya.
"Baiklah dokter. Saya akan usahakan untuk bisa menginap malam ini disini," ucap Rama. Lalu dia keluar dari ruang dokter dan berjalan kembali menuju ruang rawat inap Lian.
Sesampainya di ruangan itu, Rama melihat Lian masih tertidur dengan lelap. Laki-laki itu kemudian duduk di sofa yang ada di sana. Dia menyandarkan tubuhnya dan pandangannya menatap langit-langit ruangan itu. Ponsel miliknya masih dia putar-putarkan di tangannya. Otaknya masih berpikir tentang apa yang akan dia katakan pada istrinya tercinta.
****
****
__ADS_1
****