MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 108. MEMERIKSA CCTV


__ADS_3

Setelah adanya pemberitahuan jika anak di dalam kandungan Kian telah pergi dan tidak bisa diselamatkan, semua orang tampak melamun terdiam tak bersemangat. Kakek Bimo melamun dan merenung di dalam rumah. Rama duduk melamun di kursi di depan ruang rawat Kian. Laki-laki itu belum memiliki keberanian untuk menemui Kian. Sedangkan Kian sendiri berbaring di atas tempat tidur dengan posisi menyamping. Air mata terus jatuh dari sudut matanya membasahi bantal yang menjadi tumpuan. Begitu juga dengan Ibu Araya dan juga Kakek Dul yang baru saja mendengar kabar duka ini. Semua tampak bersedih.


Hanya satu orang yang merasa senang dengan kejadian ini. Dia sangat bahagia karena rencananya untuk menghilangkan satu-satunya batu penghalang dirinya masuk ke dalam keluarga Amarta telah berhasil.


"Dengan hilangnya anak itu, maka Rama tidak memiliki alasan lagi untuk menahan Kian di dalam rumahnya. Kini mau tidak mau, dia harus mengusir Kian dari keluarga Amarta. Dan aku akan menjadi istri satu-satunya Rama Amarta," gumam Lian sambil tertawa di dalam apartemennya.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya Rama memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rawat Kian. Dia sempat berdiri sebentar di depan pintu untuk mengumpulkan tenaganya agar siap menghadapi wanita itu. Dia sadar jika kondisi wanita yang sangat dia cintai itu, saat ini pasti sedang hancur. Dan dia harus bisa memberikan kekuatan kepadanya. Lalu bagaimana dirinya bisa menjadi penopang bagi Kian jika seandainya dirinya sendiri dalam keadaan rapuh.


Perlahan Rama membuka pintu ruangan tersebut. Hatinya merasa terenyuh saat melihat wanita yang sudah mencuri hatinya itu tengah berbaring dengan posisi membelakanginya. Terlihat bahu Kian naik turun menandakan jika wanita itu sedang menangis. Dan penilaiannya itu diperkuat dengan suara isak tangis yang terdengar lirih dari dalam ruangan tersebut.


"Sayang," panggil Rama sesaat setelah dirinya berada di depan wanita itu. Kian menoleh menatap wajah sang suami. Air mata yang sejak tadi sudah keluar, kini semakin deras saja.

__ADS_1


"Sayang sudahlah. Sabar," ucap Rama. Dia membungkukkan tubuhnya untuk memeluk wanita itu.


"Anak kita, Mas. Anak kita," ucap Kian lirih di sela tangisnya.


"Iya sayang. Tidak apa. Semua akan baik-baik saja."


Rama memeluk wanita itu dengan sangat erat. Dia menciumi kepala Kian dan terus membisikkan kata-kata penyemangat bagi wanita itu. Kejadian kali ini telah membuat keduanya benar-benar hancur. Kebahagiaan yang selama ini selalu menghiasi hari-hari mereka, sekarang semuanya lenyap. Satu-satunya sumber kebahagiaan sekaligus tanda cinta mereka berdua, kini sudah pergi untuk selamanya.


Keesokan harinya, dengan tegas dan penuh amarah, Kakek Bimo berjalan ke arah gedung tempat dirinya merayakan pesta ulang tahun kemarin. Laki-laki paruh baya itu langsung berjalan ke arah cctv untuk melihat apa yang sudah terjadi disana. Beberapa petugas disana memberikan hormat kepada sang nomor satu di perusahaan Amarta's Group itu.


"Perlihatkan aku rekaman cctv dari semua kamera saat acara kemarin. Aku ingin lihat apa yang sudah terjadi kepada cucu menantuku sampai dia menjadi seperti itu," ucap tegas kakek Bimo.

__ADS_1


Pegawai bagian operator itu langsung membuka rekaman kemarin. Semua masih tersimpan lengkap dan juga gambar yang jelas. Satu persatu, jam per jam, semua diputar dan mereka menatap layar itu dengan sangat teliti.


Kening Kakek Bimo sedikit berkerut saat dia melihat gambar dari arah pintu masuk dimana dengan sangat mudahnya seorang wanita bisa masuk tanpa melewati pemeriksaan.


"Tunggu! Siapa wanita itu?" tunjuk Kakek Bimo.


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2