MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 90. KASMARAN


__ADS_3

Setelah panggilannya dengan Samir terputus, dengan segera Kian menekan tombol sang suami. Dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh sang sahabat jika ponsel laki-laki itu memang tidak aktif.


"Mas, kamu dimana sekarang? Kenapa kamu membohongi aku?" gumam Kian. Butiran air sudah mulai merembes keluar dari sudut matanya. Sesekali dia berpikir kenapa sang suami berani berbohong kepadanya. Akan tetapi sesekali pikiran Kian pun menjadi negatif takut sang suami mengalami kecelakaan atau bagaimana sehingga ponselnya tidak aktif. Kian menyesal kenapa semalam mereka tidak saling bertegur sapa di chat ataupun saling mengobrol di telepon. Tadinya Kian mengira jika sang suami pasti tertidur di mobil sedangkan Samir mengendarai mobil tersebut.


Sekali lagi Kian mencoba menghubungi sang suami akan tetapi tetap saja ponsel itu sedang tidak aktif.


"Mas aktifkan telponnya dong. Aku khawatir."


***


Sementara itu, di rumah sakit. Lian mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar matahari dari balik jendela kamar sudah mulai memaksa masuk. Ditambah suara berisik dari lorong sudah mulai terdengar membuat wanita itu kembali bangun dari tidur lelapnya.


Pandangan yang sebelumnya kabur, perlahan menjadi jelas. Dan sosok Rama lah yang pertama kali dia lihat. Laki-laki itu sedang tertidur di sofa. Di depannya tepatnya di atas meja masih teronggok satu buah laptop dan ponsel. Lian mengerti jika semalam, sebelum tidur, laki-laki itu pasti menyempatkan diri untuk bekerja terlebih dahulu.


Lian terus memandang wajah tampan laki-laki itu. Matanya yang masih terpejam, kulit wajah yang halus tanpa bulu sedikitpun, rambut yang terlihat rapi walaupun sedang berbaring. Untuk pertama kalinya dia bisa melihat laki-laki itu dengan intens dan dia baru sadar jika laki-laki yang resmi menjadi suaminya itu begitu tampan. 


Pikiran Lian mengingat bagaimana Rama menolongnya dari kejaran penjahat anak buah Roni, bagaimana Rama memeluknya saat dirinya merasa ketakutan, dan ciuman di keningnya. Lian menyentuh keningnya sendiri, merasakan sentuhan bibir laki-laki itu yang sempat menempel di dahinya walaupun hanya sekilas. Wanita itu tersenyum.


Dia benar-benar menyesal kenapa tidak sejak dulu dia merasakan hal seperti ini kepada Rama? Kenapa dulu dia sangat tergila-gila pada Vicky sampai dia siap untuk menghalalkan segala cara. Tuhan sudah mengirimkan laki-laki yang baik ke dalam hidupnya lewat perjodohan sang ayah. Tapi kenapa Lian tidak pernah bersyukur akan hal itu dan memilih untuk kabur menghindar bahkan melakukan sandiwara besar untuk bisa hidup dengan sang kekasih yang pada kenyataannya hanya memanfaatkannya saja.


Selama berbulan-bulan dia berusaha menjauh dari Rama dan terus menanamkan rasa benci di hatinya, akan tetapi hanya butuh waktu dua hari saja mereka bersama nyatanya rasa benci di hati Lian kini sudah berubah menjadi cinta. Iya, Lian merasakan cinta untuk Rama. Dia mulai merasakan jatuh cinta kepada sosok suaminya itu. Sekarang dia ingin mendapatkan Rama kembali. Dia ingin mendapatkan laki-laki itu sepenuhnya dan kini untuk selamanya. Dia sudah bertekad akan berbicara pada Kian untuk menghentikan semua permainan ini dan dia akan mengembalikan semua identitas Kian yang sudah dia curi. Kian bisa mendapatkan kembali kehidupannya dan dirinya bisa mendapatkan kembali suaminya.


Sambil menatap wajah sang suami, Lian terus berkhayal bagaimana jadinya nanti kehidupannya bersama laki-laki itu. Bahagia, romantis, pelukan, ciuman, cumbuan, semua sudah berputar di dalam otaknya. Dan hal itu membuat hati Lian begitu senang. Seandainya bisa dia ingin sekali berjingkrak, menari dan bernyanyi untuk meluapkan rasa bahagianya itu. 


Selang beberapa saat, mata yang semula tertutup itu mulai mengerjap perlahan. Lalu kemudian terbuka dengan sempurna.


"Selamat pagi, Mas," ucap Lian sambil tersenyum.


"Pagi. Kamu sudah bangun?" jawab Rama sambil membangunkan tubuhnya. 


"Iya. Mas kenapa tidur di kursi?" tanya Lian.


"Iya kalau gak di kursi, lalu Mas harus tidur dimana? Masa di samping kamu," ucap Rama tersenyum.


"Kalau Mas mau, kenapa gak bisa? Kita kan memang sudah halal," batin Lian bermonolog.

__ADS_1


"Jam berapa ini?" ucap Rama. Tangannya mengambil ponsel di atas meja dan dia pun kaget saat melihat ponselnya mati.


"Kenapa Mas?" tanya Lian melihat mimik panik di wajah laki-laki itu.


"Tidak apa-apa tapi sepertinya ponselku mati karena kehabisan daya. Mana aku lupa bawa charger lagi."


Lian terdiam. Dia bingung mau membantu laki-laki itu bagaimana. Jangankan charger, ponsel dirinya saja dia tidak bawa. 


Rama langsung membereskan semua barang bawaannya ke dalam tas kerjanya.


"Mas mau kemana?" tanya Lian.


"Mas harus langsung ke kantor. Hari ini ada rapat penting di kantor."


"Mas gak mandi dulu?"


"Nanti di kantor saja. Sekalian ganti baju di sana."


"Memangnya di kantor ada baju ganti?"


"Apa Mas bakalan balik lagi ke sini?"


"Pasti. Mas pasti datang lagi ke sini. Tapi Mas juga harus pulang dulu. Mas takut kakakmu khawatir karena Mas gak pulang. Apalagi ponsel Mas kan mati semalaman."


"Hmm."


Setelah membereskan semuanya dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Rama pun berpamitan kepada Lian.


"Dengar, kalau ada apa-apa, kamu bisa beritahu suster Angel. Nanti biar dia yang menghubungi Mas. Iya?"


"Iya. Mas hati-hati."


"Hmm. Kamu juga."


Rama pun keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Lian yang sedang senyum-senyum sendiri karena dilanda kasmaran pada sang suami.

__ADS_1


***


"Anda dari mana saja, Pak?" tanya Samir saat melihat Rama baru saja keluar dari lift.


"Sebentar, saya siap-siap dulu," jawab sang atasan lalu masuk ke dalam ruangannya.


Beberapa menit kemudian, Rama keluar dari ruangannya dalam keadaan yang sudah segar kembali dan tentu saja dengan pakaian yang berbeda. Samir tidak berani bertanya apa-apa. Dia langsung mengikuti sang atasan berjalan menuju ruang rapat di kantor itu.


Beruntungnya mereka karena Rama datang beberapa menit sebelum rapat dimulai. Alhasil rapat pun bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Dan seperti biasa, Rama kembali mendapatkan proyek besar itu.


Rama menyandarkan tubuhnya di kursi di ruangannya setelah mereka selesai melakukan rapat. Samir masih berdiri di depannya sambil membereskan semua file yang akan ditandatangani oleh sang atasan. Laki-laki itu melihat jika sang atasan memejamkan matanya di kursi tersebut. Sepertinya Rama sedang merasakan kelelahan dan Samir tidak tahu karena apa.


"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Samir kemudian.


"Hmm," gumam Rama dengan tanpa membuka matanya sama sekali.


"Tadi pagi nyonya Lian menelepon ke kantor, Pak. Dia bertanya apa anda sudah datang atau belum."


Kata-kata Samir kini berhasil membuat laki-laki itu membuka matanya dengan segera.


"Apa? Lian menelepon ke kantor?" tanya Rama kaget.


"Iya Pak."


"Lalu apa yang kamu katakan?"


"Anda belum datang."


"Ah sial," gerutu Rama.


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2