MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 112. DITANGKAP


__ADS_3

Kian, Lian dan juga Rama sangat kaget melihat kehadiran Samir disana. Semuanya terdiam bahkan wajah Lian terlihat semakin pucat. Wanita itu sadar jika dari sejak dulu hanya Samir sajalah yang bisa membedakan diantara dirinya dengan sang adik kembarnya itu. 


"Kenapa? Kenapa kamu melihat Samir seperti itu? Kamu takut kepada Samir?" tanya kakek Bimo kepada Lian. Sedangkan orang yang dibicarakan hanya tersenyum lalu duduk di sofa dan langsung membuka laptop yang ada di tangannya.


Samir mengangguk memberikan isyarat kepada Kakek Bimo jika file yang dibuka sudah siap. Kakek Bimo pun memutar layar laptop tersebut hingga terlihatlah dengan jelas semua adegan yang terjadi di pesta ulang tahun kakek Bimo kemarin. Kedua tangan Rama mengepal kuat saat dia melihat Lian memasukkan sebuah serbuk obat ke dalam minuman dan lalu menyuruh anak kecil untuk mengantarkannya kepada Kian.


Adegan selanjutnya pun benar-benar membuat Rama murka. Dia menatap tajam nan membunuh kepada Lian. Sebuah tatapan yang untuk pertama kalinya membuat Lian bergidik ngeri. Sedangkan Kian, melihat adegan itu, air matanya kembali mengalir. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya merasa terpukul dan kecewa. Dia benar-benar tidak menyangka jika sang kakak bisa melakukan sampai sejauh itu hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Padahal jika saja sang kakak memintanya dengan tulus, dia siap berbicara dan meyakinkan Rama agar mereka berpisah. Tapi kenapa harus membunuh janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya.


Sang kakek menutup layar laptop itu dan lalu dibawa kembali oleh Samir yang langsung berdiri tegak di belakang kakek Bimo.


"Setelah aku mengetahui semua kejadian ini, aku memang memerintahkan orang kepercayaan Amarta untuk menyelidiki alasan dibalik kejadian ini. Aku memang memberi waktu selama dua hari. Tapi lihatlah, hanya kurang dari satu hari, aku bisa mengetahui semuanya. Dan itu semua adalah karena Samir," ucap kakek Bimo. Semua orang menatap ke arah Samir.


"Hmm, kebetulan aku mengenal operator cctv gedung hotel tersebut. Dan karena penasaran aku pergi menemuinya dan ingin melihat semua kejadian disana. Sebelumnya aku minta maaf karena aku harus menggunakan jabatanku sebagai asisten utama CEO Amarta's group sehingga aku bisa mendapatkan akses tersebut. Dan setelah kami bertemu, dia bilang jika Tuan Bimo juga baru saja melihat cctv itu." Samir menjeda ucapannya. Dia lalu melihat ke arah Kian.


"Kian, sebelumnya aku minta maaf karena aku harus melanggar janji yang sudah aku katakan padamu. Aku tidak bisa merahasiakan lagi semua yang terjadi. Terlebih kepada Tuan Bimo. Aku tidak akan tinggal diam jika ada orang lain yang hendak menyakitimu. Walaupun itu adalah kakak kandungmu sendiri," jelas Samir.

__ADS_1


Semua orang terdiam. Hanya satu orang yang tampak memberontak. Dengan cepat Lian berlari menyerang Samir. 


"Berani sekali kamu ikut campur dengan kehidupan kami?" teriak Lian dan siap memukul Samir. Akan tetapi gerakan tangannya dihentikan oleh tangkapan tangan Rama yang dengan tanpa diduga langsung melayangkan tamparan ke arah pipi wanita itu.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Lian.


"Seharusnya aku yang bertanya apa yang sudah kamu lakukan? Berani sekali kamu membunuh anakku yang bahkan belum lahir ke alam dunia ini?" teriak Rama. Lian tersenyum kecut.


"Tentu saja aku berani. Aku akan melakukan apapun agar aku bisa mendapatkan apa yang aku mau. Walaupun itu harus mengorbankan nyawa janin yang ada di dalam perut Kian," ucap tegas Lian. Dia sudah tak bisa mengendalikan diri lagi dengan berpura-pura baik dan memelas kasih sayang. Sekarang dia mulai mengeluarkan taringnya.


Lalu masuklah dua orang polisi wanita dan satu orang polisi laki-laki. Kedua polwan itu langsung menangkap Lian.


"Apa-apaan ini?" tanya Lian memberontak.


"Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah membunuh keturunanku bisa hidup dengan tenang di dunia ini. Kamu harus membusuk di penjara, Lian. Dan kamu tenang saja karena disana jika beruntung kamu akan bertemu dengan kekasih tercintamu, Vicky," tutur Kakek Bimo.

__ADS_1


Baik Rama maupun Kian tidak mengira jika sang kakek sudah menyiapkan sampai sejauh ini. Melihat polisi yang sudah mulai mencengkram kedua tangannya, Lian akhirnya kembali memelas. Dan kali ini dia meminta tolong kepada sang adik dan juga sang suami.


"Kian.. Kian. Aku mohon tolong aku. Aku janji, aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Tapi jangan biarkan kakek Bimo mengirimku ke penjara," pinta Lian. Dia kemudian menghadap ke arah Rama.


"Mas, mas, aku mohon tolong aku, Mas. Bagaimanapun juga aku ini masih sah sebagai istrimu. Mas." Suara Lian semakin mengeras saat kedua polisi wanita itu mulai menariknya keluar dari ruangan tersebut.


Saat mereka hampir saja keluar dari pintu, tiba-tiba saja suara Rama menginterupsi.


"Tunggu!"


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2