
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 3 dini hari saat sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Kian. Gadis itu terbangun lalu mengambil benda pipih itu dari atas nakas. Sebuah nama bertuliskan kata 'ibu' tampak jelas memenuhi layar ponsel yang menyala.
"Ibu? Ada apa menghubungi aku jam segini?" gumam Kian.
Karena penasaran wanita itu langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Bu," sapa Kian.
"Lian, ayahmu Nak. Ayahmu!" ucap sang ibu dengan panik dari balik telepon.
Kian langsung melonjak dan terduduk di atas tempat tidur. Gerakan Kian yang secara tiba-tiba berhasil membuat Rama yang berbaring di sampingnya juga ikut terbangun. Laki-laki itu ikut duduk di samping Kian namun dia belum langsung bertanya. Dia masih terus memperhatikan sang istri yang sedang berbicara dengan ibunya di telepon.
"Ada apa Bu?" tanya Kian lagi.
"Lian, ayahmu dibawa ke rumah sakit," jawab sang ibu sambil terisak.
"Apa? Tapi bagaimana bisa? Memangnya ayah sakit apa?" tanya Kian. Melihat sang istri yang tampak mulai panik, Rama pun mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"Rumah sakit mana, Bu?" tanya Kian lagi. Air mata sudah mulai mengalir dengan deras. Sosok seorang laki-laki yang selama ini selalu ada berdiri tegak sebagai penopang hidupnya, sekarang sedang berjuang di antara hidup dan mati.
"Baik bu, aku akan segera ke sana." Kian pun menutup panggilan tersebut. Dengan berurai air mata, wanita ini menatap ke arah Rama. Seakan mengerti apa yang diinginkan oleh sang istri, tanpa bertele-tele lagi laki-laki itu pun langsung menemani Kian menuju ke rumah sakit yang sudah dikatakan oleh sang ibu.
Sepanjang perjalanan Kian terus saja gelisah. Pikirannya benar-benar tak tenang. Dia takut jika sang ayah tidak akan selamat. Akan tetapi sejauh ini, dia masih belum mengetahui apa penyebab sang ayah terkena serangan jantung dan harus dilarikan ke rumah sakit malam-malam begini.
Sesekali mata Rama melirik ke arah samping dimana sang istri berada. Satu tangannya memegang kemudi dan satu tangannya lagi mencoba menggenggam tangan Kian. Wanita itu pun menoleh.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ucap Rama menenangkan. Tapi masalahnya kata-kata itu benar-benar tidak berpengaruh sama sekali kepada Kian.
__ADS_1
"Apa kita bisa lebih cepat?" tanya Kian di sela isak tangisnya.
"Sayang, ini sudah sangat cepat. Ini mobil bukan pesawat jet. Sabar ya. Sebentar lagi kita juga sampai di rumah sakit," ucap Rama. Kian pun mengangguk. Pandangan mata gadis itu kembali ke arah samping mobil.
Selang beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Rama pun telah tiba di parkiran rumah sakit. Kian langsung turun dan berniat untuk berlari masuk ke dalam akan tetapi dengan cepat Rama menarik tangan wanita itu.
"Ada apa lagi Mas?" tanya Kian dengan nada yang sangat panik.
"Atur nafasmu, tenanglah. Kita memang ingin segera melihat kondisi ayah tapi kamu juga harus sadar jika di dalam perutmu ada bakal calon anak kita. Aku tidak mau kalau dia sampai kenapa-kenapa."
Kian terdiam. Tangannya menyentuh perutnya sendiri. Iya, dia lupa jika dirinya sedang hamil sekarang. Kejadian yang menimpa sang ayah membuat Kian tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain ingin segera bertemu dengan sang ayah. Kian pun mengangguk.
"Maaf Mas," ucap wanita itu lirih. Rama tersenyum.
"Iya sudah tidak apa-apa. Ayo, kita masuk," ucap Rama dan lalu menggandeng sang istri untuk segera masuk ke dalam.
"Bu, bagaimana bisa ayah sampai terkena serangan jantung?" tanya Kian setelah mereka mengurai pelukannya.
"Tadi malam ayah mendapat kabar dari bagian keuangan perusahaan. Katanya seseorang telah menarik uang dari bank perusahaan sebanyak 500 juta," jelas sang ibu.
"Apa?" Kian dan Rama berucap bersamaan. Keduanya langsung mengetahui siapa yang sudah melakukan hal itu.
"Ibu belum tahu siapa yang sudah melakukan hal ini. Ayah sudah terlanjur drop dan ibu harus segera membawanya ke rumah sakit."
Kian dan Rama saling memandang. Dalam pandangan mata masing-masing mereka sepakat untuk tidak menceritakan kecurigaan mereka kepada sang ibu sebelum mereka memiliki bukti yang kuat. Beberapa menit setelahnya seorang dokter pun keluar dari ruang IGD. Ibu, Kian dan juga Rama langsung mendekat ke arah dokter itu.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok?" tanya sang ibu. Dokter itu menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi mohon maaf pasien tidak bisa terselamatkan. Beliau sudah meninggal. Kami turut berduka cita," ucap sang dokter lalu pergi meninggalkan mereka.
Sang ibu menangis dan menjerit. Dia langsung berlari ke dalam ruang IGD dan memeluk jasad sang suami. Di luar Kian tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya seolah mematung tapi air mata terus mengalir di kedua pipinya.
"Sayang," panggil Rama. Lalu kaki Kian pun terasa sangat lemas. Hampir saja dia terjatuh akan tetapi dengan sigap Rama menangkapnya.
"Sayang tenanglah. Sabar. Kamu harus kuat sayang," ucap Rama dan lalu memeluk sang istri.
Kian menangis dengan keras di dalam pelukan Rama. Seperti anak kecil, wanita itu terus meronta-ronta. Dengan sekuat tenaga Rama memeluknya.
"Ayah Mas. Ayah." racau Kian.
"Iya sayang. Aku tahu. Tapi kamu harus kuat. Lihatlah ibumu di dalam lebih hancur darimu. Dia kehilangan pasangan hidupnya selama ini. Jika kamu terus seperti ini, lalu siapa yang akan menguatkan ibumu?"
"Tapi Mas, ayah."
"Ikhlaskan sayang. Ikhlaskan ayah pergi. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik."
Kian terus bersedih mengenang kebersamaan dirinya dengan sang ayah. Bagaimana laki-laki itu yang terus menyayanginya. Bahkan terkadang sang ayah selalu membela dirinya daripada sang saudara kembarnya Lian. Dan yang paling menyakitkan bagi Kian adalah sang ayah meninggal di saat dirinya sedang bertukar identitas dengan Lian. Dan sang ayah tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Sang ayah bahkan belum tau jika dirinya sedang hamil.
Tadinya Kian sudah berencana akan memberitahukan kabar baik ini kepada seluruh keluarganya jika dirinya dan Rama mengunjungi mereka minggu depan. Akan tetapi siapa sangka jika semuanya sudah terlambat. Sang ayah malah pergi tanpa tahu sesuatu apapun mengenai kedua anak kembarnya. Dan Kian sangat menyesali hal itu.
Kian mengusap air matanya. Dia berusaha menguatkan dirinya walaupun sebenarnya batinnya terasa sangat hancur. Dengan dibantu sang suami, Kian pun berjalan perlahan mendekati sang ibu yang masih menangis memeluk jasad suaminya. Tonggak di dalam keluarga itu sudah hilang. Dan kini semua anggota keluarga mengalami kegamangan.
****
****
__ADS_1
****