MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 58. MEMERAS


__ADS_3

Kian sudah pulang dari rumah sakit. Sekarang dia sedang berdiri sambil melamun di dekat jendela di dalam kamarnya. Pandangannya menatap kosong ke depan dan ingatannya terus berputar tentang apa yang sudah terjadi baru saja.


Rasa gembira tampak sangat jelas terlihat di wajah Rama saat mendengar ucapan dokter yang mengatakan kalau dirinya sedang hamil. Akan tetapi berbanding terbalik dengan raut wajah Samir yang kebingungan. Kian tau apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Akan tetapi gadis itu bingung bagaimana harus menjelaskan semua yang telah terjadi kepada Samir.


Sepanjang perjalanan pulang tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Samir. Dia terus diam membisu dan hanya fokus pada kemudi mobil yang sedang dia pegang. Berbeda dengan sang suami, Rama, yang terus memegang perut Kian dan sesekali berbicara kecil seolah sedang berbicara dengan bayi di dalam perutnya.


Sesampainya di rumah, sang kakek juga tak kalah senangnya mendengar kabar gembira ini. Kabar gembira? Iya, kabar ini mungkin memang kabar gembira bagi keluarga Amarta. Akan tetapi sejujurnya kabar ini adalah kabar yang sangat menyedihkan bagi Kian. Bagaimana tidak? Rama bukanlah suaminya. Dia bukanlah istri Rama. Dan sekarang tiba-tiba saja dia hamil. Hubungan macam apa ini? Ini adalah sebuah hubungan terlarang. Ini salah. Lalu apa dia harus jujur kepada Rama tentang semuanya? Siapa dia? Dimana Lian? Dan kenapa mereka bisa bertukar identitas?


Ada rasa takut muncul di hati Kian saat memikirkan semua itu. Bagaimana jika ternyata Rama tidak mau menerimanya dan mengusirnya dari rumah itu? Apalagi sekarang keadaannya sedang berbadan dua. Lalu apakah Lian akan memaafkan dirinya jika saudara kembarnya itu tahu jika dirinya sedang hamil anak dari suaminya sendiri?


Saat Kian memikirkan Lian, dering ponselnya berbunyi. Pertanda ada sebuah telepon masuk. Kian mengambil ponselnya yang teronggok di atas tempat tidur. Muncul raut ragu di wajah Kian saat dia melihat nama seseorang yang sedang menghubunginya saat ini. Tapi dia juga tidak mungkin mengabaikannya bukan? Akhirnya Kian mengangkat panggilan tersebut.


"Halo," sapa Kian.


"Bagaimana?" tanya Lian singkat dengan nada yang ketus. Kian baru teringat dengan permintaan Kian tadi pagi.


"Hmm, maaf Lian aku belum bicara dengan Mas Rama," ucap Kian lirih.


"Kenapa? Bukankah aku sudah katakan padamu untuk cepat-cepat memberitahu Mas Rama? Kamu ini lambat sekali." Lian marah-marah dari balik telepon. Pasalnya dia sedang stress berat karena sang kekasih Vicky terus menjauh darinya sebelum Lian memberikan apa yang laki-laki itu mau.


Di luar kamar dimana pintu sedikit terbuka, Rama yang baru saja berbicara dengan sang kakek hendak masuk ke dalam kamar. Akan tetapi langkahnya terhenti saat dirinya melihat sang istri sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Rasa penasaran tentang siapa yang menghubungi sang istri muncul saat dia melihat ada raut sedih dan juga gelisah di wajah wanita itu.


"Tapi aku bingung harus memberikan alasan apa kepada Mas Rama. Aku tidak mungkin tiba-tiba saja meminta uang kepada Mas Rama tanpa alasan yang jelas. Apalagi jumlahnya sampai 500 juta," ucap Kian.

__ADS_1


Mata Rama seketika membulat sempurna saat mendengar ucapan sang istri. Seseorang dari balik telepon sedang berusaha memeras wanita itu. Tapi siapa? Dengan cepat Rama masuk ke dalam kamar. Posisi Kian yang membelakangi pintu, membuat dirinya tidak sadar akan kehadiran Rama disana. 


"Berikan padaku," ucap Rama yang langsung merebut ponsel di tangan Kian. Wanita itu tentu saja sangat kaget ketika Rama merebut ponselnya secara tiba-tiba.


"Mas…" Kian baru saja akan bicara saat tangan Rama naik dan memberikan isyarat agar wanita itu diam.


Rama melihat ke atas layar ponsel untuk mengetahui siapa sebenarnya yang sudah memeras sang istri. Laki-laki itu sangat terkejut saat ada nama 'my sister' di sana. Tentu saja pikiran Rama langsung tertuju pada saudara kembar sang istri.


Rama mengangkat ponsel itu dan menempelkannya di telinganya untuk mendengar apa yang diinginkan oleh wanita itu.


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kamu yang harus mencari cara sendiri. Berikan alasan apa saja kepada Mas Rama. Yang penting dia mau memberikan uang 500 juta kepadamu. Dan besok kamu harus membawanya sendiri untukku," Lian terus berceloteh. Dia tidak tahu jika yang sedang mendengarkannya berbicara dari balik telepon itu bukanlah Kian melainkan Rama.


Kedua tangan Rama mengepal erat. Dia langsung berbicara dengan nada tinggi pada seseorang di balik telepon itu.


Lian langsung terdiam. Dia tidak menyangka jika sang suamilah yang sejak tadi mendengarkan dia berbicara. Lian berpikir untung dia tidak menyebut nama Kian. Jika tidak, maka Rama pasti akan mengetahui pertukaran mereka.


"Jaga batasanmu Kian! Kamu ini hanya adik dari Lian. Tidak sepantasnya kamu memeras kakakmu seperti ini. Apa kamu sudah gila? Meminta uang pada kakakmu sendiri sampai 500 juta?"


Bukan hanya Lian yang terdiam tapi Kian juga. Lagi, kali ini dia melihat lagi bagaimana marahnya Rama yang begitu mengerikan. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kian untuk menghentikan semuanya. Kian hanya bisa pasrah saja dengan apa yang mungkin bisa terjadi.


"Kenapa kamu diam? Kaget? Kaget karena ternyata aku yang sedang berbicara denganmu?" Ucap Rama lagi. Masih dengan penuh kemarahan.


"Mas, aku….." ucap Lian tergagap. Namun langsung dipotong Rama.

__ADS_1


"Dengar! Mulai hari ini aku tidak mengizinkan kamu untuk menghubungi Lian lagi. Aku tidak ingin istriku menjadi sedih akibat ulahmu. Jangan berusaha mengganggu apalagi menghancurkan kebahagiaan yang baru saja kami dapatkan. Atau aku akan melupakan kalau kamu adalah adik iparku sendiri. Dan akan aku pastikan jika itu sampai terjadi maka kamu akan menyesal." Rama langsung menutup panggilan itu tanpa mau mendengarkan jawaban dari wanita di seberangnya.


Laki-laki itu menoleh ke arah sang istri dengan tatapan mata yang masih tajam. Kian yang mulai merasa takut, menundukan wajahnya. Dia tidak berani memandang mata laki-laki itu. Rama berjalan ke arah tempat tidur lalu menyimpan ponsel Kian di atas nakas. Sedangkan Kian masih belum bergerak sama sekali.


Rama duduk di pinggir tempat tidur. Dia menatap wajah sang istri yang masih terus menunduk tak berani melihat ke arahnya. Rama sadar jika sang istri pasti ketakutan melihat amarahnya tadi. Laki-laki itu pun menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan. Melepaskan emosi yang baru saja mengendalikannya beberapa saat yang lalu.


"Lian!" panggil Rama lirih. Kian menoleh.


"Iya," jawabnya pelan.


"Kemarilah!" pinta laki-laki itu sambil menepuk posisi di sampingnya. Meminta sang istri untuk duduk disana.


Kian yang mengerti maksud dari Rama, langsung berjalan mendekat lalu duduk di tempat itu, tepat di samping Rama.


"Jadi?" Tanya Rama. Kian menatap wajah laki-laki itu.


"Bisa kamu jelaskan apa yang sudah terjadi?"


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2