
Samir mengeluarkan semua buah-buahan yang ada di lemari pendinginnya. Ada apel, anggur, pepaya, melon, jeruk.
"Kamu punya sampingan jadi penjual buah?" tanya Rama sambil tersenyum. Samir mendelik. Lalu Rama pun tersenyum kikuk dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Samir kemudian mengeluarkan susu kental manis. Dengan lincahnya laki-laki itu memotong-motong buah dan memasukkannya ke dalam mangkuk berukuran cukup besar lalu mencampurkannya dengan larutan air susu. Rama sedikit menganga melihat sahabatnya itu mengolah semua bahan tersebut.
"Tutup mulutmu!" ucap Samir sambil tersenyum. Dengan segera Rama pun menutup mulutnya. Wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Apa itu enak?" tanya Rama.
"Mau mencobanya?" ucap Samir. Laki-laki itu pun mengambil sebuah mangkuk dan menuangkan sop buah itu ke dalamnya. Saat mencoba makanan itu, Rama merasakan kagum. Rasanya benar-benar enak.
"Bagaimana?" tanya Samir.
"Sempurna. Ini bahkan lebih enak dari pada sop buah yang dijual di kafe," puji Rama. Samir tersenyum.
"Jadi, berapa kamu akan membayarku?" tanya Samir. Rama mengerutkan keningnya.
"Membayar? Membayar apa?" tanya Rama tidak mengerti.
"Membayar sop buah ini lah," ucap Samir lagi. Lalu dia menutup mangkuk itu dan memasukkannya ke dalam paper bag agar bisa dengan mudah dibawa pulang oleh sahabatnya itu.
"Hmm, mana ada? Yang ada juga aku akan memerintahkanmu membuka kedai sop buah di kantin kantor. Aku yakin akan banyak pegawai yang membelinya. Dan keuntungannya akan menjadi milik perusahaan Amarta" ujar Rama sambil tertawa.
"Hmm, memangnya Amarta's Group semiskin itu ya?" balas canda Samir. Mereka pun tertawa bersama.
Setelah semua sudah disiapkan dengan rapi, sop buah itu pun langsung dibawa pulang oleh Rama. Sebelum pergi dari sana, Samir tak lupa mengingatkan Rama untuk berkata pada sang istri jika sop buah itu dia dapat dari hasil membeli, bukan buatan Samir. Dan Rama pun mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
***
Lian terus berlari membelah jalanan malam yang gelap dan juga sepi. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan jika Vicky tidak bisa mengejarnya. Telapak kakinya sudah mulai mengeluarkan darah karena wanita itu berlari dengan tanpa menggunakan alas kaki. Rasa perih di telapak kakinya hanya bisa membuat gadis ini meringis saja. Tapi tidak bisa menghentikan langkahnya untuk terus berlari.
Berbulan-bulan dia menjalin hubungan dengan Vicky. Bahkan sampai harus melawan sang ayah sendiri. Lian bahkan mengorbankan masa depan adik kembarnya sendiri hanya untuk menuruti semua nafsunya agar bisa hidup bersama sang kekasih.
Tapi sekarang, laki-laki itu. Laki-laki yang selalu dia bela bahkan di depan seluruh anggota keluarganya, nyatanya malah akan membunuhnya. Karma macam apa ini, pikir Lian.
Lian yang sejak tadi terus berlari, sudah mulai merasa kelelahan. Gelapnya malam itu ditambah pikirannya yang panik, membuat Lian berlari tak tentu arah. Yang ada di dalam pikirannya saat itu hanya lari dan lari saja. Sehingga sekarang dia tidak tahu sedang berada dimana.
Sebuah suara langkah kaki, membuat Lian kembali merasa takut. Dengan segera pandangannya berkeliling mencari tempat atau mungkin sesuatu yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi. Akan tetapi tak ada apapun di sana. Lian terus mencari, hingga pada akhirnya dia menemukan sebuah gang kecil yang cukup gelap. Gadis itu pun berlari ke arah gang tersebut lalu bersembunyi disana.
Keringat sudah membanjiri sekujur tubuhnya, jantungnya berdetak dengan sangat kencang dan deru nafasnya tidak beraturan. Lian semakin ketakutan saat mendengar suara langkah kaki itu semakin keras saja, dan itu artinya pemilik langkah kaki itu semakin dekat. Lian mulai menangis. Baru kali ini dirinya merasakan takut. Biasanya masalah apapun yang datang kepadanya selalu dia hadapi dengan egois dan acuh. Tapi sekarang semuanya berbeda. Nyawanya sedang dalam bahaya. Dan Lian tidak mau mati.
Dahi wanita itu sedikit mengerut saat suara derap langkah kaki itu menghilang. Lian berusaha menajamkan pendengarannya akan tetapi suara itu memang sudah tidak ada. Lian mengeluarkan nafas lega. Dia berpikir semuanya sudah berakhir. Sampai secara tiba-tiba…
TAP
"Kamu mau kemana, sayang?" ucap Vicky. Lian kaget. Untuk pertama kalinya dia merasa takut bertemu dengan Vicky. Untuk pertama kalinya dia merasa sedih karena bertemu dengan laki-laki itu.
"Vi.. Vicky…? Ucap Lian lirih. Vicky tersenyum.
Laki-laki itu menatap Lian dari atas hingga ke bawah. Baju tidur tipis dan sedikit transparan itu membuat gairah Vicki muncul. Hasrat untuk memakan sang kekasih tiba-tiba saja menguat. Apalagi dia melihat buliran keringat yang membanjiri dahi dan juga lehernya, bagi Vicky semua itu sungguh sangat menggoda.
Vicky mendorong tubuh Lian hingga terbentur ke dinding gang itu. Satu tangannya masih mencengkram tangan Lian, dan satu tangannya lagi mulai menelusuri wajah gadis itu.
"Vicky kamu mau apa?" tanya Lian lagi. Akan tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Dia terus menelusuri setiap jengkal wajah Lian. Bahkan jari tangan Vicky kini sudah meluncur ke arah leher dan terus meluncur ke bawah. Lian memejamkan matanya. Kali ini apa yang sedang dilakukan oleh sang kekasih tidak bisa membuat gairah di tubuhnya bangkit. Lian malah merasakan takut yang luar biasa. Kini di mata Lian, Vicky sudah berubah menjadi psikopat kejam.
__ADS_1
"Aaaaa…" Lian berteriak saat satu kaki Vicky menginjak kaki Lian yang terluka. Darah dari telapak kakinya kembali mengucur. Air mata semakin deras mengalir. Akan tetapi Vicky tidak peduli dengan hal itu.
"Vicky hentikan. Aku mohon tolong hentikan. Kalau kamu marah pada Kian, kalau kamu marah karena Kian sudah mempermalukanmu, kita bisa membalas Kian dengan mempermalukan balik dia. Kenapa kamu harus terus menyiksaku seperti ini?" tanya Lian.
Penjelajahan jari Vicky berhenti. Matanya kembali menatap tajam mata Lian. Gadis itu bahkan sampai bergidik ngeri melihat tatapan tajam itu.
"Lian Putri Sahara. Aku tidak tahu jika dibalik sikapmu yang angkuh dan kejam, ternyata kamu ini bodoh. Sangat bodoh." ucap Vicky dengan senyum menyeringai.
"Apa maksudmu?" tanya Lian tidak mengerti.
"Selama berbulan-bulan kita saling berhubungan. Kamu bahkan rela untuk melawan keluargamu sendiri. Dan kamu juga rela menumbalkan adikmu untuk tinggal bersama suami sah mu. Hanya untuk tinggal denganku. Kenapa?" tanya Vicky masih dengan senyum yang mengerikan.
"Itu.. itu.. itu karena aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Vicky."
Vicky tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Lian terus menatapnya dalam ketakutan.
"Kenapa kamu mencintaiku? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Apa setelah jatuh cinta, kamu tidak pernah mencari tahu siapa dan bagaimana laki-laki yang kamu cintai ini?"
"Aku.. aku tidak mengerti."
"Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata masih sangat polos Lian. Sehingga sebuah cinta bisa langsung membuat matamu buta."
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana bisa kamu mencintai kakak tirimu sendiri?"
****
__ADS_1
****
****