
"Jadi kamu menikahi Lian juga karena dijodohkan? Kamu tidak mencintai Lian?" tanya Samir kembali.
"Tentu saja tidak. Sejak awal aku melihat kedua gadis kembar itu, aku tidak punya rasa sama sekali kepada Lian ataupun Kian. Saat itu yang ada di hatiku hanyalah rasa benci karena kakek memaksaku untuk menikah dengan salah satu dari mereka," jawab Rama.
"Jika kamu tidak mencintai istrimu, bagaimana kamu menjalani pernikahan kalian selama ini?" tanya Samir lagi. Rama hanya tersenyum.
Laki-laki itu membayangkan kejadian di saat awal-awal mereka menikah. Bagaimana cueknya dia pada sang istri, bencinya dia, bahkan dia masih ingat kata-katanya sendiri yang tidak mengizinkan Kian untuk bertingkah layaknya seorang istri.
Lalu bayangannya beralih ke arah sang istri yang begitu tulus selama ini. Senyumnya, wajah lucunya, kasih sayangnya kepada dia dan juga sang kakek. Dia baru sadar jika sang istri adalah wanita terbaik yang dia miliki. Sayangnya dia terlambat menyadari semua itu. Akan tetapi Rama tidak menceritakan semua itu. Dia hanya tersenyum saja sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah. Semua itu hanya masa lalu. Yang perlu kamu tahu hanyalah sekarang salah satu sahabatmu itu sudah berhasil mencuri hatiku," ucap Rama sambil tersenyum.
"Apa maksudmu?" Tanya Samir lirih.
"Aku jatuh cinta kepada istriku sendiri. Aku begitu mencintainya dan aku rela melakukan apa saja untuknya."
Samir mengepalkan tangannya kuat. Jika saja dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri mungkin saat ini dia sudah memukul laki-laki di depannya itu. Mendengar Rama memuji dan mengutarakan rasa cintanya kepada sang istri benar-benar membuatnya naik darah. Bagaimana tidak? Samir tau jika wanita yang sedang dia puji bukanlah istrinya Lian akan tetapi Kian wanita pujaan hatinya. Tapi Samir bisa apa? Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Rama saat ini.
"Hey kenapa kamu diam saja?" tanya Rama. Samir hanya tersenyum.
"Aku berjanji kepadamu, Samir. Mulai hari ini, saat ini, jam ini, menit ini, detik ini, aku akan selalu menaburi sahabatmu itu dengan cinta dan kasih sayang yang begitu banyak dan melimpah. Sehingga dia tenggelam di dalamnya dengan penuh kebahagiaan. Kamu bisa pegang kata-kataku. Jika suatu hari kamu melihat aku menyakiti sahabatmu itu, kamu boleh menghajarku."
***
Di rumah keluarga Amarta. Kian sedang duduk sambil makan buah-buahan segar siang itu. Seperti biasa setiap hari dia selalu diam di rumah sendiri ditemani para pelayan karena kakek Bimo sedang berkeliling memeriksa beberapa anak cabang dari Amarta's Group.
__ADS_1
"Nyonya apa anda mau makan siang sekarang?" tanya salah satu pelayan yang berjalan mendekati Kian.
"Tidak. Nanti saja," jawab Kian sambil tersenyum seperti biasa.
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi. Pelayan itu pamit untuk membukakan pintu. Dan beberapa saat setelahnya pelayan wanita itu pun kembali seorang diri.
"Siapa?" tanya Kian.
"Ada seseorang yang mengirimkan undangan ini, nyonya. Katanya untuk Tuan Rama," jawab sang pelayan sambil memberikan sepucuk undangan kepada Kian. Wanita itu menerimanya dan membacanya.
Sebuah undangan reuni dari teman-teman sekolah Rama. Kian tidak terlalu memperdulikan hal itu. Dia lalu menyimpan undangan itu di atas meja dan kembali lagi menyantap buah-buahan di depannya.
***
"Selamat sore," sapa Rama menyadarkan Kian yang sejak tadi hanya melihatnya dengan diam.
"So.. sore," jawab Kian.
Semenjak kejadian malam panjang itu, sikap Kian memang sedikit berbeda dari biasanya kepada sang suami. Ada rasa gugup jika mereka sedang berdua dan terkadang merasa takut yang membuat Kian lebih banyak menjauh dari Rama. Tapi kali ini Rama tidak mau melepaskan sang istri. Kali ini justru dia lah yang selalu berusaha mendekati sang istri. Ketika Kian menjauh, Rama mendekat. Ketika Kian terlihat cuek justru Rama terus mencurahinya dengan sejuta kasih sayang dan juga perhatian.
Terkadang Kian juga merasa heran dengan apa yang dilakukan Rama kepadanya. Rasa acuh dan juga mata tajam membunuh yang biasanya menjadi santapan dirinya sehari-hari akan tetapi belakangan ini dia tidak pernah melihatnya. Bagus? Iya tentu saja. Bahagia? Pastinya. Tapi tetap saja kejadian malam panas itu terus membuat dirinya sadar akan siapa dia sebenarnya dan posisinya di rumah itu.
Sebuah kesalahan sudah terjadi dan Kian tidak ingin jika kesalahan itu bertambah banyak dan akhirnya membuat dirinya tidak bisa menjelaskannya kepada sang kakak Lian.
Mata Rama melihat sebuah undangan yang tersimpan di atas nakas. Dia mengambilnya dan membacanya.
__ADS_1
"Ini undangan reuni. Kapan datang?" tanya Rama. Kian yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin selepas mandi hanya menatap sang suami dari pantulan cermin.
"Tadi siang," jawab Kian singkat.
Rama seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu dia pun berjalan ke arah sang istri. Melihat laki-laki itu berjalan mendekatinya, membuat jantung Kian sedikit berdebar kencang. Otaknya terus berpikir apa yang akan laki-laki itu lakukan kali ini. Dia sudah bersiap akan lari dari dalam kamar itu jika saja Rama mulai macam-macam lagi kepadanya.
Akan tetapi apa yang dipikirkan oleh Kian ternyata tidak terjadi. Rama hanya berdiri di belakang Kian dan mereka saling memandang satu sama lain dari pantulan cermin di depannya.
"Reuni itu besok malam. Aku akan datang kesana dan…." Rama menjeda kalimatnya sejenak.
"Aku ingin kamu juga ikut denganku datang ke acara itu," lanjutnya lagi.
"Tapi itu adalah acara reuni sekolahmu, Mas. Apa baik jika aku ikut hadir ke dalam acara tersebut?" tanya Kian.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang melarang jika seorang suami ingin mengajak istrinya sendiri datang ke acara reuni sekolah? Apa ada yang membuat aturan seperti itu?" tanya Rama. Kian menggelengkan kepalanya.
"Bagus. Jadi tidak ada alasan penolakan lagi. Jika kamu masih mencari-cari alasan untuk menolak, aku terpaksa akan meminta bantuan kakek untuk menyuruhmu hadir menemani aku. Karena biasanya kamu lebih nurut pada kakek daripada kepada suamimu sendiri," ucap Rama dan lalu melenggang ke arah luar kamar.
Apa? Suami? Sejak kapan Rama mengakui jika dirinya adalah seorang suami? Sejak kapan laki-laki itu mengakui hubungan pernikahan ini? Bukankah selama ini dia yang selalu menolak jika sang kakek membahas soal hubungan pernikahan ini? Dan bukankah laki-laki itu sendiri yang memerintahkan agar dirinya tidak bertingkah layaknya seorang istri dihadapannya. Tapi sekarang? Beberapa pertanyaan terus berputar di kepala Kian. Haruskah dia merasa senang akan hal ini?
****
****
****
__ADS_1