
"Apa maksudmu?" tanya Lian. Dia semakin tidak mengerti. Vicky menatap mata gadis itu lalu tersenyum menyeringai.
"Bagaimana bisa kamu mencintai kakak tirimu sendiri?" ucap Vicky.
"Apa? Apa maksudmu? Jelaskan apa maksudmu!" Lian terus meminta penjelasan. Dia benar-benar tidak mengerti permainan apa yang sedang dimainkan oleh laki-laki itu.
Vicky mendorong tubuh Lian ke samping sehingga wanita itu pun tersungkur jatuh ke tanah.
"Ayah Lukman, ayahmu. Dia adalah ayahku juga. Ayah kandungku."
Lian membulatkan matanya mendengar sang kekasih berkata seperti itu.
"Bohong. Kebohongan macam apa yang sedang kamu mainkan?" teriak Lian. Tapi Vicky malah tertawa.
"Ini bukan kebohongan, Lian. Tapi ini adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang sangat menyakitkan." ucap Vicky. Lian masih terdiam.
"Ayah Lukman adalah kekasih ibuku. Tapi hubungan mereka tidak direstui oleh kakek Dul. Ayah Lukman berkata jika saja ibu hamil, maka kakek Dul pasti akan setuju dan merestui hubungan mereka. Akan tetapi setelah ibuku hamil, ayah Lukman malah menikah dengan ibumu. Dia meninggalkan ibuku yang sedang dalam keadaan hamil."
"Apa?" gumam Lian lirih.
"Ibuku terus berjuang sendiri untuk bisa membesarkanku. Ketika usiaku menginjak lima tahun, sebenarnya ibu pernah mengajakku untuk bertemu dengan ayah Lukman. Tapi ayah menolak kami. Dia menyangkal. Dia bilang tidak kenal dengan kami. Apa kamu bisa merasakan bagaimana kondisi ibuku saat itu? Di sekolah, di rumah, semua orang mencaci kami. Mereka bilang ibuku wanita yang tidak baik dan aku adalah anak haram. Tekanan batin yang dirasakan oleh ibuku, membuat dia tidak kuat untuk menahan itu semua. Akhirnya dia bunuh diri."
"Dan sejak saat itu, dendam di hatiku untuk ayah Lukman semakin besar. Aku berjanji pada diriku sendiri jika aku pasti akan menghancurkan ayah Lukman dan keluarganya. Dan aku ucapkan terima kasih kepadamu karena kamu secara tidak langsung sudah membantuku untuk menghancurkan keluarga ayahmu sendiri." Vicky tertawa.
Sakit, itulah yang dirasakan oleh Lian saat ini. Laki-laki yang selama ini selalu dia cintai, selalu dia bela di depan semua orang, ternyata hanya memanfaatkannya saja untuk membalas dendam kepada sang ayah. Dan bodohnya Lian, cinta di hatinya untuk laki-laki itu telah membuat dia buta. Dia selalu menuruti apapun yang dikatakan oleh Vicky.
__ADS_1
Iya, laki-laki itu memang benar. Apa yang diucapkan oleh laki-laki itu semuanya memang benar. Keluarganya hancur itu semua karena ulahnya. Vicky benar-benar menjadikan dirinya boneka untuk membalas dendam dan laki-laki itu berhasil. Dia sudah menghancurkan kehidupan adiknya sendiri, dia juga yang sudah menghancurkan perusahaan keluarga mereka, dan dia juga yang sudah membuat sang ayah meninggal.
Mendengar itu semua, tubuh Lian benar-benar lemas. Pandangannya kosong dan air mata mengalir semakin deras. Di dalam hatinya dia merutuki diri sendiri. Bagaimana bisa dia begitu bodoh? Sekilas, rasa menyesal muncul di dalam hatinya. Dia ingin sekali berlari memeluk sang ayah lalu meminta maaf kepadanya. Akan tetapi semuanya tidak mungkin. Semuanya sudah terlambat. Ayahnya sudah pergi untuk selamanya. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Vicky mulai melangkah kembali mendekati Lian. Raut ketakutan sudah tergambar jelas di wajah wanita itu.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku, Vicky?" tanya Lian di sela isak tangisnya. Vicky tersenyum menyeringai.
"Apa yang akan aku lakukan kepadamu? Hmm apa ya? Aku sudah melakukan semuanya kepadamu. Aku bahkan sudah mengambil mahkotamu. Lalu apa lagi yang harus aku lakukan kepadamu?" ucap Vicky. Bibirnya tersenyum mengejek.
Lagi dan lagi ucapan Vicky berhasil menggores hati Lian sangat dalam. Iya, laki-laki itu memang benar. Tidak ada lagi apapun yang tersisa pada dirinya yang bisa dia pertahankan. Semuanya sudah dia serahkan pada laki-laki itu. Bahkan mahkota kebanggan seorang wanita yang seharusnya dia serahkan kepada suaminya, malah dia serahkan kepada kekasihnya itu.
Dengan cepat Vicky menarik tubuh Lian, sedikit mengangkatnya sehingga tubuh kecil itu pun kembali berdiri.
"Ayo ikut aku!" ucap Vicky setengah menyeret Lian.
Vicky terus menyeret tubuh sang kekasih. Mereka pun berhenti tepat di sebuah pelataran rumah yang cukup besar. Dengan tatapan yang sedikit buram, Lian melihat ada beberapa orang laki-laki disana. Mereka menatap dingin kepadanya. Lian menelan salivanya keras. Pikirannya sudah negatif. Dia takut jika Vicky akan meninggalkannya di sini.
"Jadi ternyata kamu benar-benar memberikan kekasihmu ini untuk membayar semua hutang-hutangmu?" tanya seorang laki-laki yang Lian sendiri tau jika itu adalah bos Roni. Bos pemilik klub malam tempat mereka selalu berkumpul.
"Iya. Tapi Bos harus pastikan jika semua hutangku lunas," jawab Vicky.
"Vicky apa yang kamu lakukan?" tanya Lian lirih.
Bos Roni menatap Lian dari atas sampai bawah. Belum lagi pakaian tidur Lian yang sangat menggoda baginya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menghapus semua catatan hutangmu," ucap Bos Roni lagi.
"Ok. Aku pergi."
Vicky melepaskan cengkraman tangannya lalu dia pun berjalan pergi meninggalkan mereka semua. Lian yang panik hendak menyusul Vicky akan tetapi para lelaki itu menghalangi jalannya.
"Bawa dia ke dalam!" titah bos Roni. Lalu dia berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Saat mereka hendak membawa Lian masuk, wanita itu berlari. Beberapa laki-laki berhasil mengejarnya akan tetapi dengan cepat Lian melawan mereka. Dia mengambil barang apapun yang ada di sana yang bisa dia gunakan untuk membela dirinya. Ada vas bunga, batu, kerikil, dan lain-lain.
Akhirnya setelah melewati mereka semua, Lian pun berhasil kabur dan keluar dari rumah itu. Wanita itu kembali berlari secepat mungkin. Sesekali dia melihat ke belakang dan dia melihat ada empat orang laki-laki yang masih mengejarnya.
Lian takut, tubuhnya gemetar, air mata terus turun, tapi dia tidak bisa berhenti. Dia tidak tahu dimana sekarang dirinya berada. Dia hanya berharap bisa bertemu dengan seseorang yang dapat membantunya. Entah membantu melawan mereka atau membantunya bersembunyi dari orang-orang jahat itu.
Beberapa kali wanita itu terjatuh. Apalagi luka di telapak kakinya tampak semakin parah. Hal itu terlihat jelas dengan darah yang terus mengucur memberi tanda di setiap langkahnya.
"Siapapun tolong aku," batin Lian terus berteriak. Akan tetapi sejauh mata memandang tak ada satupun orang yang bisa dia lihat. Bahkan tak ada satu rumah pun yang bisa dia datangi. Wanita itu benar-benar putus asa. Dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan sekarang.
Kakinya terus berlari menyusuri jalanan kosong tersebut. Saat sampai di pertigaan jalan tiba-tiba saja
"Aaaaaaaaa…."
****
****
__ADS_1
****