
"Kamu sudah pulang, Mas?"
Kian yang sedang berdiri di dekat jendela kamar, membalikkan badannya saat terdengar suara pintu kamar dibuka. Rama menoleh ke arah sang istri yang menyambutnya dengan senyuman.
Tanpa banyak bicara laki-laki itu berjalan masuk, menyimpan tas di atas sofa dan membuka kemejanya lalu menggantungkannya. Sudut mata laki-laki itu menoleh ke arah jam di dinding kamar yang menunjukkan hampir tengah malam.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Rama sedikit acuh.
"Menunggu Mas pulang," jawab Kian.
"Kenapa?" tanya Rama lagi.
Kenapa? Sebuah pertanyaan yang langsung menyadarkan Kian akan posisinya selama ini. Iya juga. Kenapa dia harus bersusah payah menahan kantuk hanya untuk menunggu laki-laki ini pulang. Memangnya siapa dia? Dia bukan saudaranya juga bukan kekasihnya. Dia juga bukan istrinya. Lalu kenapa dia harus menunggu laki-laki itu pulang? Kenapa juga dia selalu merasa khawatir jika laki-laki itu belum kembali?
Bukankah perannya sebagai seorang istri dan seorang menantu di rumah itu hanya berpura-pura saja? Iya pura-pura tapi kenapa semakin lama Kian jadi menjadi sering menggunakan perasaan dan juga hatinya sendiri?
Tak… tak…
Suara jentikan jari yang terdengar tepat di depan wajah Kian menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Kian melihat wajah Rama yang berjarak cukup dekat dengannya dan hal itu membuat dirinya reflek mundur beberapa langkah.
"Kamu kenapa?" tanya Rama sambil berlalu pergi mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Wanita itu langsung memegang dadanya. Dia merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ada apa ini? Sebuah pertanyaan yang muncul di dalam pikiran Kian. Melihat wajah Rama yang begitu dekat dengan wajahnya membuat wanita itu sedikit gemetar. Bukan gemetar takut akan tetapi gemetar malu. Iya malu. Bahkan jika saja dia melihat wajahnya sendiri sekarang, mungkin warnanya sudah berubah menjadi merah.
Kian menjatuhkan tubuhnya di pinggir tempat tidur. Duduk disana dengan pikiran yang masih melayang entah kemana. Gambaran wajah sang kakak ipar terus berputar di dalam pikirannya. Dan hal itu membuat dirinya sedikit tersenyum.
"Lian apa kamu sudah gila?" ucap Rama yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu menoleh dan lalu berdiri.
"Hmm, aku… aku…" Kian terbata-bata. Dia bingung harus berkata apa. Secara detak jantungnya saja masih belum normal.
"Tadi melamun, sekarang senyum-senyum sendiri. Kamu memang wanita aneh," kata Rama lagi. Laki-laki itu langsung naik ke atas tempat tidur dan mulai membaringkan tubuhnya disana. Sedangkan Kian kembali duduk di tepi ranjang.
"Mas, tadi kakek sempat nanya Mas," ucap Kian tiba-tiba dan itu berhasil membuat mata Rama yang baru saja terpejam kembali terbuka.
"Lalu? Apa yang kamu katakan?" tanya Rama. Dia bangun dan duduk menghadap ke arah Kian.
"Kamu berkata seperti itu?"
"Hmm," Kian mengangguk. Rama terdiam lagi.
"Oh iya tadi juga aku sempat kompres kakek karena badan kakek panas," lanjut Kian.
"Kakek panas? Memangnya kamu tidak panggil dokter?"
__ADS_1
"Kakek gak mau. Dia bilang cuma ingin dikompres saja. Tapi aku sudah memberikannya obat juga. Habis itu beliau tidur."
"Oh iya Mas, tapi jujur ya, sebenarnya aku memang khawatir dengan kondisi kakek. Badannya lemas gitu. Jadi aku pikir jika nanti pagi kondisi kakek masih seperti itu, kita harus bisa membujuknya untuk mau pergi ke rumah sakit."
Rama menatap Kian lekat. Sekilas dia berfikir kenapa sifat wanita di depannya ini bertolak belakang dengan sifat wanita yang dia cintai. Wanita yang kini sedang duduk di depannya yang dia ketahui merupakan istri sahnya sangat menyayangi sang kakek. Tapi kenapa dia, wanita yang sangat dia cintai, Safira, malah membenci sang kakek.
"Kenapa Lian?" gumam Rama pelan. Kian menoleh.
"Hmm???" tanya wanita itu.
"Kenapa kamu sangat menyayangi kakek? Padahal hubungan kita terjalin bukan atas dasar suka dengan suka atau mau dengan mau. Hubungan kita terjalin atas dasar perjodohan atau dengan kata lain adalah pemaksaan. Lalu kenapa kamu masih menyayangi kakek padahal dia adalah dalang dibalik perjodohan ini? Dia adalah orang yang sudah merenggut masa depanmu yang menyenangkan hanya untuk menjadi istriku?" tanya Rama. Dia sangat penasaran dengan cara berpikir istrinya itu. Kian tersenyum.
"Mas, dari sejak awal hubungan kita terjalin, aku tidak pernah menganggap jika ini adalah sebuah paksaan. Aku selalu berpikir bahwa semua yang sudah terjadi kepadaku adalah sudah menjadi suratan takdir yang harus aku jalani. Aku selalu mencoba untuk terus bersyukur atas semua ini agar aku bisa melewati semuanya dengan ikhlas dan juga tenang. Aku selalu bersyukur karena sudah bertemu dengan kakek Bimo. Aku juga sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Aku sangat bahagia," ucapan Kian terhenti sejenak.
"Dan tentang kakek Bimo. Iya, Mas benar. Aku sangat menyayanginya. Sudah aku katakan sebelumnya jika aku selalu menganggap semua yang terjadi ini takdir. Jadi sampai sekarang, aku tidak pernah sekalipun berpikir jika Kakek Bimo adalah seseorang yang sudah menghancurkan masa depanku dengan memaksaku untuk menikah dengan cucunya. Tidak! Aku tidak pernah berpikir serendah itu. Apalagi kakek Bimo sangat baik kepadaku dan sudah menganggap aku sebagai cucunya sendiri. Lalu kenapa aku harus menganggap dia sebagai orang asing? Aku sangat menyayangi kakek Bimo. Bahkan Mas tahu? Mungkin aku akan lebih menyayangi kakek Bimo ketimbang sama Mas," ucap Kian diakhiri dengan tawanya yang renyah. Dan itu berhasil membuat Rama tersenyum simpul.
Sekarang Rama tau jika wanita di depannya kini memang memiliki hati yang sangat tulus untuk keluarganya. Tapi hal itu tidak menjamin jika Rama akan berpaling dari sang kekasih hati dan mencintai wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu, bukan? Sampai saat ini, cinta dan juga hati Rama hanya milik Safira seorang. Dan niatannya untuk bercerai dengan sang istri dan menikahi sang kekasih, tidak pernah pupus hingga sekarang. Itu akan tetap menjadi prioritas utamanya saat ini. Rama tidak peduli dengan sang istri sebaik apapun dia. Yang Rama hanya pedulikan adalah dia bisa bersatu dengan sang kekasih yang sudah mencuri hatinya beberapa tahun ke belakang itu.
Lalu bagaimana dengan Kian? Akankah dia berhasil merebut cinta sang suami kakak iparnya itu dari selingkuhannya?
****
__ADS_1
****
****