
Malam itu Kian tidak bisa tidur. Dia terus berjalan bolak balik di kamarnya. Hatinya terus merasa gelisah apalagi sesaat yang lalu sang suami sudah menghubunginya dan mengatakan jika dia tidak bisa pulang malam ini karena harus pergi ke luar kota untuk menemui klien besok pagi bersama Samir. Kian tentu saja percaya apapun yang dikatakan oleh laki-laki itu. Dia tidak memiliki rasa curiga sama sekali kepada Rama. Kian selalu berpikir, memangnya apa yang bisa laki-laki itu sembunyikan darinya. Dulu sewaktu Rama berselingkuh dengan Safira pun, laki-laki itu mengatakannya dengan jujur kepadanya.
Di rumah sakit, seperti halnya Kian, Rama pun sama tidak bisa tidur. Untuk pertama kalinya dia harus berbohong setelah dirinya berbaikan dengan Kian dan menjalin hubungan baru dengan wanita itu. Rama berharap jika sang istri percaya dengan semua kata-katanya dan tidak bertanya kepada Samir kemana dia pergi.
"Mas." Suara dari Lian menyadarkan Rama dari lamunannya. Laki-laki itu berdiri dan lalu berjalan mendekati Lian.
"Iya, Mas disini. Kamu tenang aja. Istirahat ya," jawab Rama. Tangannya membelai kepala Lian. Wanita itu menatap Rama dengan intens.
"Apa ada yang sakit?" tanya Rama lagi. Lian menggelengkan kepalanya.
"Mas gak pulang?" tanya Lian lagi.
"Mas khawatir sama kamu. Mas takut kamu ngamuk lagi kayak tadi siang," ucap Rama sambil tersenyum. Lian pun ikut tersenyum.
"Maaf ya Mas, tadi siang aku udah ngerepotin kamu. Aku bahkan sudah ngerepotin semua orang."
"Iya gak apa-apa. Asal jangan diulangi lagi ya. Mas pasti bingung bagaimana harus mengatakannya pada ibu jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadamu saat berada dalam pengawasan mas." Lian kembali tersenyum.
"Mas," panggil Lian lagi.
"Iya?"
"Aku lapar," ucap Lian sambil tersenyum kikuk.
Dengan segera laki-laki itu mengambil makanan rumah sakit yang baru saja di antar beberapa saat yang lalu. Sepiring nasi, sayur, dan juga buah ada di sana. Sangat telaten Rama menyiapkan semuanya. Dan tanpa rasa ragu laki-laki itu pun mulai menyuapi Lian. Wanita itu makan dengan lahap.
"Jika kamu makan dengan lahap seperti ini, Mas yakin kamu bakalan cepat sembuh. Dan kita bisa segera keluar dari rumah sakit ini," ucap Rama.
Mendengar perkataan laki-laki itu, kunyahan Lian pun terhenti. Satu sendok makanan yang berasal dari tangan Rama pun harus terhenti di udara karena wanita itu tidak mau membuka mulutnya lagi.
"Ada apa Kian?" Tanya Rama. Dia menyimpan kembali sesendok makanan itu ke atas piring.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rama.
"Aku hanya berpikir kemana aku akan pergi setelah keluar dari rumah sakit ini. Aku tidak mungkin kembali ke rumah sewaku yang dulu. Karena jika aku ke sana, Vicky pasti akan datang lagi untuk menyakitiku."
"Vicky?" tanya Rama.
Lian kembali terdiam. Dia berpikir sepertinya dia telah salah berbicara. Kenapa juga dia harus mengatakan nama Vicky kepada Rama. Sekarang dia harus berpikir lagi bagaimana mengarang cerita agar Rama percaya kepadanya.
"Mas, aku udah kenyang," ucap Lian mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya," jawab Rama. Laki-laki itu pun menyimpan kembali piring nasi di atas meja. Dia tidak berniat untuk melanjutkan pembahasan mengenai laki-laki bernama Vicky itu.
"Sebaiknya sekarang kamu tidur. Istirahat yang banyak. Jangan pernah berpikir apa-apa dulu. Soal nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, nanti kita bisa bicarakan sama-sama," ucap Rama lagi sambil tersenyum. Lian mengangguk.
Lian pun tertidur sesaat setelah Rama menaikkan selimutnya sampai ke dada wanita itu. Sementara Rama kembali ke arah sofa dan lalu membuka laptopnya untuk memeriksa laporan pekerjaan hari ini yang baru saja dikirimkan oleh Samir.
***
Dengan cekatan Kian membantu para pelayan untuk menyiapkan sarapan. Walaupun kondisi wanita ini sedang hamil muda akan tetapi tidak membuat Kian menjadi sosok yang pemalas. Dia justru merasa tidak betah jika harus berbaring di tempat tidur seharian. Dia lebih suka mengerjakan sesuatu apapun itu, yang penting tubuhnya bisa bergerak.
Saat Kian sedang merapikan meja makan, terdengar ponselnya berbunyi. Wanita itu sangat senang saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
"Samir," gumam Kian. Wanita itu sangat senang saat mengetahui bahwa orang yang sudah menghubunginya adalah Samir. Bagaimana tidak bahagia, semenjak laki-laki itu tahu tentang berita kehamilannya, Samir tidak pernah sekalipun menghubunginya.
Kian lalu naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya disana, barulah wanita itu mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," ucap Kian.
"Halo. Maaf nyonya mengganggu anda pagi-pagi," ucap Samir.
Perkataan laki-laki ini kembali menyadarkan Kian bahwa dia masih belum bisa mendapatkan sahabatnya kembali.
__ADS_1
"I.. iya.." jawab Kian lirih dan terbata.
"Saya mau minta tolong, apa Pak Rama ada? Saya hanya mau mengingatkan jika hari ini kami ada rapat penting dengan klien. Biasanya jika ada rapat seperti ini, Pak Rama suka datang lebih awal. Tapi hari ini dia masih belum datang. Apa Pak Rama masih tidur?"
Kian mengerutkan dahinya bingung.
"Rapat? Di kantor? Tapi bukankah semalam Mas Rama bilang kalau dia ada pertemuan dengan klien di luar kota sehingga semalam dia tidak pulang?" batin Kian bermonolog.
"Halo," ucap Samir lagi saat Kian tak terdengar berbicara.
"Samir, memangnya hari ini kalian tidak ada rapat di luar kota?" tanya Kian lirih. Hatinya sudah mulai tercekat.
"Tidak ada Nyonya. Memangnya ada apa?"
Jawaban Samir benar-benar membuat Kian kaget. Apalagi semalam suaminya berkata jika dia berangkat bersama Samir. Tapi buktinya sekarang, laki-laki itu ada di kantor dan mereka tidak ada jadwal meeting di luar kota. Jika memang seperti itu lalu kemana suaminya itu pergi?
"Nyonya?" panggil Samir lagi.
"I.. iya…"
"Tolong sampaikan kepada Pak Rama agar segera berangkat ke kantor. Karena masih ada yang harus dia tandatangani sebelum rapat dimulai. Saya sudah menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif."
"Ba.. baik.." Hanya itu yang bisa Kian katakan sebelum mereka pun menutup panggilan tersebut.
Kian kembali melamun. Ternyata inilah jawaban atas kegelisahan semalam. Sang suami yang untuk pertama kalinya berbohong kepadanya. Tapi kenapa? Dan apa atau siapa yang sudah membuat Rama berani untuk berbohong? Pikir Kian.
****
****
****
__ADS_1