
"Samir apa aku bisa meminta tolong? Aku benar-benar butuh bantuanmu," pinta Kian. Samir menatap wajah wanita itu lekat.
"Bantuanku?" tanyanya ragu.
"Iya," jawab Kian tegas.
"Bantuan apa?"
"Aku ingin kamu kembali ke tempat dimana kamu melihat Lian waktu itu. Aku ingin kamu mencari tau dimana dia tinggal sekarang. Apakah dia sehat atau tidak? Apakah dia bahagia atau tidak?" kata Kian dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Samir terdiam sejenak.
"Kenapa kamu ingin sekali mengetahui tentang Lian? Bukankah Lian sendiri sudah tidak ingin lagi berurusan denganmu? Itu sebabnya dia selalu mengacuhkanmu selama ini?"
"Aku tidak bisa menyimpulkan jika Lian memang sengaja mengacuhkanku. Aku kan tidak tau bagaimana kondisinya saat ini. Mungkin saja dia sedang dalam keadaan masalah dan akhirnya tidak sengaja melakukan hal itu kepadaku."
"Lalu jika Lian memang benar sedang ada masalah, apa yang akan kamu lakukan?"
Kian kembali terdiam. Pertanyaan Samir lagi dan lagi berhasil membungkam mulut wanita ini. Betul juga. Apa yang akan dia lakukan? Bukankah selama ini dia tidak melakukan apa-apa? Semua yang dia lakukan adalah atas kehendak Lian. Lalu apa yang akan dia lakukan ketika sudah mengetahui bagaimana kondisi saudara kembarnya itu.
"Apa kamu akan meminta Lian kembali ke posisinya sebagai istri sah nya Rama?" tanya Samir lagi.
Kian masih tetap diam. Dia tau seharusnya pertanyaan itu bisa dijawab dengan mudah dan cepat olehnya. Tentu saja jika Lian menginginkan posisinya kembali, dia harus dengan suka rela mengembalikannya, bukan? Rama adalah suami Lian, bukan suaminya. Jadi sudah sepantasnya jika Kian bisa mengembalikan semua itu kepada kakak kembarnya itu, kan?
Tapi kenapa mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Samir justru malah membuat hatinya sakit? Pertanyaan itu bak ibarat sebuah silet yang mengiris hatinya. Sakit. Tanpa terasa setitik air mata jatuh di pipinya. Dan itu membuat Samir bingung. Kenapa wanita di depannya ini menangis?
"Kian? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Samir lagi membuyarkan lamunan wanita itu.
"Iya, aku… aku baik-baik saja." jawab Kian masih terbata.
"Jadi?"
"Apa?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku Kian. Apa kamu akan mengembalikan posisi Lian sebagai istri sahnya Rama jika dia memintanya sendiri kepadamu?"
Kian menatap Samir lekat. Dia menelan salivanya agak berat lalu menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
"Iya tentu saja. Bukankah itu adalah sebuah kebenaran yang memang seharusnya terjadi bukan?" jawab Kian sambil tersenyum. Tapi dia masih tidak mengerti kenapa hatinya terasa begitu sakit mengucapkan hal itu.
"Baguslah kalau begitu. Baik aku akan membantumu. Aku akan berusaha mencari tau dimana Lian tinggal sekarang dan bagaimana keadaannya. Aku akan segera menghubungimu jika aku tau sesuatu tentang Lian," ucap Samir. Kian mengangguk.
***
"Aaaaaaaaaaahhhhhh, kurang ajar!!! Dasar laki-laki tua kurang ajar!! Lihat saja aku akan membunuhmu!!!"
Safira berteriak-teriak seperti orang gila. Tangannya bahkan melempar dan menghancurkan semua barang yang dia pegang. Kondisi di dalam rumahnya kini sudah sangat berantakan. Banyak sekali kotoran dan juga pecahan gelas yang berserakan.
"Safira ada apa? Kenapa kamu marah-marah dan menghancurkan seisi rumah seperti ini?" tanya seorang laki-laki yang tidak lain adalah sang ayah, Ayah Doni.
"Semua ini adalah ulah laki-laki tua itu. Dia sudah mempermalukan aku di acara pesta ulang tahun perusahaan mereka, ayah," rengek Safira.
"Maksudmu Bimo?"
"Iya dia. Memangnya siapa lagi?"
"Apa yang terjadi?" tanya sang ayah penasaran.
"Jadi kemarin kamu dipermalukan seperti itu? Lalu kenapa kamu baru pulang sekarang?"
"Maafkan aku ayah. Kemarin aku sangat kesal dan pergi ke club lalu pulang cukup larut ke apartemen. Jadi aku baru bisa pulang sekarang," jawab Safira menjelaskan.
Ayah Doni berjalan ke arah sofa lalu duduk disana. Dia terdiam disana dengan raut wajah seperti sedang memikirkan sesuatu. Safira berjalan mendekati sang ayah lalu duduk di depannya.
"Ada apa ayah?" tanya Safira.
"Ayah pikir, kamu sudah tidak bisa menjalankan cara halus lagi untuk mendapatkan Rama," ucap ayah Doni.
"Maksud ayah?" tanya Safira tidak mengerti.
"Ayah yakin jika setelah ini, Rama pasti akan mulai menyelidikimu. Dan bukanlah perkara yang sulit baginya untuk mendapatkan semua informasi tentang kita," jelas ayah Doni.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Yah?" tanya Safira lagi.
__ADS_1
"Lakukan plan B," ucap ayah Doni sambil menatap tajam wajah sang anak.
"Plan B. Waw aku suka plan B. Sudah lama aku menunggu rencana ini dilakukan," ucap Safira sambil tersenyum.
"Pastikan kamu melakukannya dengan cepat. Ayah tidak ingin rencana kita untuk menghancurkan laki-laki tua itu mengalami kegagalan karena terlambat."
"Iya ayah. Ayah tenang saja. Besok aku akan lancarkan rencana kita. Mulai besok, mau tidak mau, kakek tua itu harus merestui hubunganku dengan Rama. Aku tidak peduli jika Rama tidak akan menceraikan istrinya. Yang penting aku bisa masuk menjadi salah satu anggota keluarga Amarta."
***
Keesokan paginya, Rama baru saja selesai mandi. Saat dia keluar dari kamar mandi tersebut, kedua matanya tertarik kepada satu set pakaian kerja yang sudah tampak rapi di atas tempat tidur. Laki-laki itu pun mendekati pakaian tersebut lalu menatapnya beberapa saat.
"Apa Lian yang menyiapkan semua ini?" gumam Rama. Pandangannya kini beralih ke arah pintu kamar yang masih tertutup. Rama yakin jika sang istri sedang menyiapkan sarapan untuk kakek Bimo.
Sebenarnya egonya menyuruhnya untuk mengabaikan pakaian itu dan lebih memilih mengambil pakaian lain dari dalam lemari, akan tetapi saat laki-laki itu berjalan beberapa langkah menjauh, Rama pun akhirnya memutuskan untuk memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh sang istri saja.
Setelah dirasa cukup rapi dan sudah siap untuk pergi bekerja, Rama berjalan keluar dan menuruni anak tangga untuk bisa berkumpul bersama yang lain di luar makan.
Kian tersenyum saat kedua matanya melihat jika sang suami menggunakan pakaian yang sudah dia siapkan tadi. Hatinya terasa sangat berbunga-bunga. Jika saja tidak sadar, dia ingin sekali melompat saking senangnya.
"Kamu kenapa?" tanya Rama yang membuyarkan lamunan Kian.
"Aku mau sarapan. Apa kamu tidak akan mengambilkannya untukku?"
Waw benar-benar sebuah kejutan yang tidak pernah Kian duga sebelumnya. Pertama pakaian kerja itu dan sekarang sang suami ingin dia diladeni oleh sang istri? Kian benar-benar mendapatkan jakpot yang sangat besar dan sangat istimewa.
Dengan cepat Kian mengisi piring kosong di depan sang suami dengan nasi beserta lauknya.
"Ini sarapan atau makan besar?" sindir Rama dan Kian hanya menunduk.
"Sudah makan saja yang ada. Bawel sekali. Masih untung istrimu itu mau mengambilkan kamu makanan. Kalau tidak, masak sendiri sana!" tegas sang kakek.
****
****
__ADS_1
****