MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 24. BANDARA


__ADS_3

"Ayo dimakan Mas," ucap Kian. Matanya membulat melihat makanan cepat saji di depannya itu. Dengan segera dia melahap roti bulat tersebut beserta isinya. Sedangkan Rama masih terus memperhatikan wanita di hadapannya itu.


"Kenapa makannya jorok sekali. Seperti bukan anak pengusaha saja," pikir Rama.


Sadar sedang diperhatikan oleh laki-laki di depannya dengan intens, Kian pun yakin kalau laki-laki itu pasti sedang membicarakannya di dalam hatinya. Terbesit ide jahil di pikiran Kian. 


"Mas, makanan ini tidak akan melompat sendiri masuk ke dalam mulut," ucap Kian. Tangannya mengangkat burger milik Rama dan menyuapkannya ke dalam mulut laki-laki itu.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" teriak Rama sambil menghindar.


"Ini enak Mas. Cobalah. Apa masa kecilmu kurang bahagia ya, sampai-sampai tidak suka makan burger?" sindir Kian. Mata Rama sedikit mendelik.


Mendapat sindiran dari sang istri, Rama pun akhirnya mengambil burger miliknya dan menggigitnya sendiri.


"Sudah. Apa kamu puas?" ucap Rama. Kian tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rama lagi.


Bukannya menjawab, Kian malah mengambil tisu di sela tawanya. Wanita itu menggerakkan tangan yang sedang memegang tisu tersebut dan mengelap ujung bibir Rama dimana terdapat saos menempel disana.


"Ada saus di ujung bibirmu, Mas," ucap Kian tersenyum. Rama terdiam. Dia sedikit terpaku dengan perhatian yang diberikan oleh wanita itu. 


"Sudah," ucap Kian kembali dan itu berhasil membuat Rama tersadar dari lamunannya.


"Hmm.. aku.. aku mau ke toilet dulu," ucap Rama dan dia pun segera pergi dari sana. Kian tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.


Selama menghabiskan makanannya, Kian terus berpikir ternyata jika dia ikhlas untuk melakukan sesuatu, maka dirinya pun pasti akan merasa nyaman. Dia tahu pada awalnya dirinya merasa sangat gelisah, merasa tak tenang, dan terkadang dia merutuki nasibnya sendiri yang harus menggantikan posisi sang kakak sebagai menantu di keluarga Kakek Bimo. Harus menghadapi amarah Rama setiap kali dirinya melakukan kesalahan. Dan itu benar-benar menyebalkan.


Untungnya sikap yang diberikan Kakek Bimo kepadanya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Rama. Kian benar-benar diperlakukan layaknya sang cucu oleh Kakek Bimo. Bahkan bisa dikatakan jika laki-laki tua itu lebih memanjakannya daripada kepada cucunya sendiri.

__ADS_1


Kian membuang nafasnya pelan. Dia sudah memutuskan akan mencoba selalu berpikir positif atas jalan takdir yang sudah dituliskan untuknya. Lagipula jika dilihat-lihat, Rama tidak sekejam itu juga. Dia tidak pernah sekalipun memperlakukannya dengan kasar. Maksudnya disini adalah laki-laki itu tidak pernah sekalipun bermain tangan kepadanya. Iya, dia sempat marah kepadanya akan tetapi dia sadar jika saat itu kondisinya adalah dirinya yang salah. Jadi wajar jika laki-laki itu marah.


Lagipula mereka kan sama-sama dijodohkan jadi anggap saja jika dirinya mendapat tugas untuk menciptakan rasa cinta di hati Rama untuk sang kakak, Lian. Sehingga jika suatu hari nanti mereka bertukar identitas lagi, rumah tangga sang kakak sudah berada di jalur nyaman.


Selang beberapa saat kemudian, Rama sudah kembali dari toilet. Dia tidak kembali duduk melainkan langsung mengajak Kian pulang. 


"Ayo!!!" Ajak Rama tanpa menoleh ke arah Kian.


"Kemana?"


"Pulang. Memangnya mau kemana lagi. Kita sudah berkeliling kebun binatang kan? Ya sudah sekarang kita pulang," jawab Rama yang kini menghadap ke arah wanita itu.


"Tapi ini kan masih sore. Kenapa harus cepat-cepat pulang?"


"Aku ada perlu setelah ini jadi aku harus mengantarkanmu pulang lebih dulu."


"Perlu? Mau kemana? Bukankah hari ini Mas sudah izin tidak akan masuk kantor?"


"Kenapa kamu bawel sekali sih? Kalau aku menyuruhmu pulang ya pulang. Cerewet!"


Rama menjalankan mobilnya dengan lumayan cepat. Kian bahkan sampai sesekali berpegangan erat pada jok mobil dan memejamkan mata saat Rama secara tiba-tiba menyalip sebuah kendaraan di depannya dengan arogan.


"Mas apa kita tidak bisa sedikit lebih pelan? Ini sangat cepat. Aku takut, Mas," ucap Kian dengan mata yang masih terpejam. Rama hanya diam. Dia hanya melirik sekilas ke arah wanita itu lalu matanya kembali fokus pada padatnya jalanan sore itu.


"Memangnya Mas mau kemana sih? Setidaknya Mas beritahu aku mau kemana jadi nanti ketika kakek tanya, aku bisa menjawab," ucap Kian lagi.


Mendengar perkataan dari Kian membuat Rama seketika menginjak rem dengan cepat. Mobil pun akhirnya berhenti di samping jalan. Kakek? Iya. Kenapa Rama tidak memikirkan hal itu? Rasa senangnya karena waktu ini telah tiba membuat laki-laki itu lupa akan segalanya. 


Rama berpikir jika dia harus pulang dulu ke rumah untuk mengantarkan istrinya, itu artinya dia harus memiliki alasan kepada sang kakek jika ingin keluar lagi. Tapi alasan apa? Sedangkan untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada laki-laki tua itu rasanya mustahil. Dia pasti tidak suka dan melarangnya untuk melakukan hal ini.

__ADS_1


Rama terus berpikir jika dia harus mencari cara agar semua urusannya berhasil.


"Lian, apa kamu mau ikut aku menemui seseorang?" tanya Rama pada akhirnya.


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Kian dan Rama seperti biasa hanya mendelik.


"Siapa dia, itu bukan urusanmu. Yang harus kamu lakukan hanyalah jangan pernah memberitahu kakek kalau aku bertemu dengan orang ini."


"Memangnya kenapa?" tanya Kian tidak mengerti.


"Aku sudah bilang kalau ini bukan urusanmu jadi jangan banyak bertanya dan lakukan saja apa yang aku perintahkan. Apa kamu mengerti?" tegas Rama. Kian mengangguk.


"Bagus."


Rama pun kembali melajukan kendaraannya. Akan tetapi kini laki-laki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalan panjang dan berbelok itu telah mengantarkan mobil yang ditumpangi oleh Kian dan juga Rama menuju ke arah Bandara. Mobil itu berhenti di lahan parkir yang tersedia. Rama langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam bandara tersebut.


Tak ingin ditinggal sendirian di dalam mobil, Kian pun keluar dan mengejar sang suami pura-puranya itu.


"Mas tunggu!" Teriak Kian akan tetapi Rama tak menggubrisnya sama sekali. Laki-laki itu terus berlari sambil sesekali melihat ke arah jam di tangannya.


"Mas…." ucap Kian sambil terengah-engah. Mereka kini sudah berdiri di jalur kedatangan luar negeri. Pandangan Rama terus terfokus ke arah orang-orang yang keluar dari lorong tersebut. Matanya terus mencari seseorang yang dia kenal. Sedangkan Kian hanya bisa melihat apa yang dilakukan sang suami sambil mengatur nafasnya.


"Mas kita menunggu siapa?" tanya Kian lagi. Rama mengangkat tangannya memberi isyarat agar Kian tidak perlu banyak berbicara.


"Itu dia," ucap Rama sambil tersenyum.


Laki-laki itu berlari mendekati salah seorang yang baru saja keluar dari lorong itu. Wajahnya tersenyum sumringah melihat orang itu sudah kembali. Kian merasa heran. Sepanjang dia tinggal di rumah kakek Bimo sebagai Lian, hari ini adalah hari pertama dirinya melihat ada senyum bahagia terukir di wajah laki-laki itu. Kian berpikir lagi, siapa sebenarnya seseorang yang sudah membuat Rama sangat bahagia?


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2