
"Mas," Kian memanggil dengan kaki yang melangkah ke dalam ruangan sang suami. Mendengar suara yang dia kenal, Rama yang saat itu sedang mengetik di laptopnya, langsung menoleh ke arah pintu. Dan benar saja, dia sangat terkejut saat melihat siapa yang sudah datang.
Rama berjalan dengan cepat untuk mendekati sang istri.
"Sayang, kamu datang kemari? Ada apa?" tanya Rama. Dia memeluk sang istri lalu menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Mereka berdua pun duduk. Tangan Rama masih menggenggam kedua tangan Kian.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu datang kemari?" tanya Rama lagi. Salah satu tangannya mulai membelai kepala sang istri dan memainkan rambutnya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bosan saja di rumah. Kakek pergi katanya mau keliling kantor cabang," jawab Kian. Rama tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum, Mas?" tanya Kian.
"Tidak biasanya kamu merasa bosan di rumah sendirian. Kita menikah sudah lumayan lama loh dan baru kali ini aku mendengar kamu merasa kesepian tinggal di rumah," jawab Rama. Kian hanya mengangkat kedua bahunya sendiri.
"Apa mungkin karena anak papah ini ya, yang mau ketemu sama papah?" ucap Rama. Laki-laki itu mendekatkan kepalanya ke perut Kian. Wanita itu tersenyum. Entah kenapa tapi dia selalu merasa senang dan sangat suka jika Rama sudah melakukan hal itu.
Tok… tok… tok…
Terdengar suara pintu diketuk dan itu berhasil membuat wajah Rama yang semula tersenyum menjadi cemberut.
"Sial, siapa lagi yang mengganggu kesenanganku?" gumam Rama. Kian hanya tersenyum melihat reaksi laki-laki di depannya itu.
"Masuk!" titah Rama. Lalu tak lama setelahnya Samir pun masuk.
"Maaf Pak, ini beberapa file yang bapak perintahkan kemarin. Semuanya sudah lengkap," ucap Samir. Pandangan matanya terus fokus menatap sang atasan dan tak sedikitpun melirik sahabat perempuannya itu.
Rama berdiri lalu menerima berkas itu.
"Baik, akan aku pelajari nanti," jawab sang atasan.
Samir mengangguk lalu dia pun keluar dari ruangan tersebut.
"Dia kenapa?" Tanya Kian. Rama menoleh ke arah sang istri.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Rama.
"Samir," jawab Kian. Rama mengerutkan keningnya bingung.
"Apanya yang kenapa? Dia biasa saja," jawab Rama sambil melangkah mendekati sang istri kembali. Laki-laki itu pun duduk di samping sang istri lalu meletakkan berkas yang tadi diberikan Samir di atas meja di depannya.
"Sejak tadi aku datang, dia bertingkah seolah kami ini tidak saling mengenal. Dia bersikap layaknya seorang bawahan kepada istri atasannya," ucap Kian lagi. Rama tersenyum.
"Lalu? Dimana bagian yang salahnya? Kamu kan memang istri atasannya."
"Bukan itu maksudku. Hanya saja…." ucapan Kian dipotong dengan cepat oleh Rama.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan. Jika memang Samir bertingkah seperti itu ya wajar saja. Itu artinya dia profesional. Jika di luar kantor, kalian mungkin memang bersahabat. Tapi di dalam kantor, apalagi di jam kerja seperti sekarang ini, kamu adalah istri dari atasan dimana dia bekerja saat ini," jelas Rama. Kian hanya mengangguk pasrah.
Kian masih menatap ke arah pintu yang sudah tertutup. Sedangkan Rama, tangannya mulai mengambil berkas yang ada di atas meja pemberian Samir tadi. Dia membuka isinya dan membacanya serius selembar demi selembar. Kening laki-laki itu sedikit berkerut saat membaca beberapa poin penting dari berkas itu.
Setelah puas memikirkan keanehan pada diri sang sahabat, Kian pun berbalik dan melihat sang suami sedang serius dengan berkas yang dia baca.
"Apa kamu sedang sibuk, Mas?" tanya Kian.
"Apa kamu sedang sibuk? Jika kamu sedang sibuk, aku akan pulang saja," ucap Kian.
"Tidak juga. Hanya memeriksa beberapa file penting tentang perusahaan keluargamu," jawab Rama.
"Perusahaan keluargaku?" tanya Kian.
"Iya. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang sudah membuat perusahaan ayah Lukman mengalami penurunan."
"Lalu?"
"Seperti yang sudah aku duga. Orang kepercayaan ayah Lukman adalah penyebab utamanya. Dia bekerja sama dengan perusahaan lain untuk bisa menghancurkan perusahaan kalian."
"Orang kepercayaan?" Kian tidak mengerti.
"Bendahara perusahaan kalian yang sudah bermain di bawah tangan."
__ADS_1
"Apa?" Kian terdiam.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas? Apa kita tidak bisa menyelamatkan perusahaan ayah?" tanya Kian lirih. Dia sangat sedih. Karena dia tahu bagaimana perjuangan sang ayah untuk bisa mendirikan perusahaan tersebut.
"Bisa. Kita akan bangkitkan perusahaan keluarga kalian kembali."
"Caranya?"
"Biarkan mereka menganggap perusahaan ini bangkrut dan semua karyawan akan diberikan pesangon karena kejadian ini. Lalu setelah itu, kita akan bangkitkan perusahaan itu lagi."
"Pesangon? Tapi Mas, perusahaan saja sudah bangkrut, lalu bagaimana kita bisa membayar uang pesangon untuk semua karyawan?"
"Hey, ada aku sayang. Tenanglah. Aku yang akan membayar pesangon semua karyawan," ucap Rama. Kian hanya terdiam.
"Setelah semua selesai, aku akan membantu ibu Araya untuk membaliknamakan perusahaan itu menjadi milikmu. Hanya milikmu saja. Setidaknya untuk sementara. Sampai saudara kembarmu itu sadar dan kembali ke jalan yang benar, maka semua perusahaan akan menjadi milikmu, Lian Putri Sahara."
Kian kaget mendengar hal itu. Bukan karena balik nama perusahaan akan tetapi Rama akan merubah perusahaan itu menjadi milik Lian. Itu tidak mungkin. Lian akan menyalahgunakan semua aset perusahaan yang ada. Dan kali ini jika sampai itu terjadi, bukan hanya perusahaan keluarganya yang hancur. Ada kemungkinan perusahaan Amarta juga akan terkena imbasnya.
"Ada apa sayang?" tanya Rama saat melihat sang istri melamun. Kian sedikit melonjak lalu melihat ke arah Rama.
"Mas, kira-kira bisa tidak jika perusahaan jangan atas nama aku ataupun Kian?" tanya Kian pelan.
"Memangnya kenapa? Kamu takut? Tenanglah sayang, aku akan selalu mendampingimu."
"Tidak Mas bukan begitu. Hanya saja aku tidak mau permasalahanku bertambah dengan Kian. Mas tahu sendiri kan jika dia sedang membenciku saat ini. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan jika sampai dia tahu kalau perusahaan menjadi milikku seorang." Kian terdiam sebentar.
"Mungkin lebih baik, jika perusahaan diambil alih oleh Amarta's Group saja. Selain mudah untuk mendapatkan klien maupun tender, perusahaan Amarta's Group juga akan menjamin perkembangan perusahaan kami. Perusahaan Amarta's Group sudah terkenal dimana-mana. Jadi kepercayaan klien untuk bekerja sama dengan perusahaan kami juga akan cepat. Bagaimana?"
Kini Rama yang terdiam. Dia mulai berpikir apa yang sang istri katakan. Memang benar jika nama perusahaan Amarta's Group akan membawa dampak positif bagi perusahaan ayah mertuanya itu yang bisa dibilang masih sangat kecil di dunia bisnis.
"Baiklah kalau begitu. Perusahaan milik ayah Lukman akan aku ambil alih." ucap Rama. Kian tersenyum.
****
****
__ADS_1
****