
"Pergi!!!" Lian berteriak sambil mendorong tubuh sang kekasih. Air mata masih terus membanjiri kedua pipinya. Akan tetapi laki-laki itu tetap tak mau pergi dari sana. Dia yakin jika dirinya keluar sekarang maka dia akan kehilangan Lian untuk selamanya. Dan Vicky tidak mau kalau sampai hal itu terjadi. Bagaimanapun juga Lian adalah ATM berjalannya.
Vicky terus berusaha sekuat tenaga untuk melawan setiap hempasan tangan Lian. Dia tak pernah menyerah untuk bisa memeluk sang kekasih. Dan pada akhirnya, setelah melewati beberapa adegan saling dorong akhirnya tubuh Lian lemas juga. Kini Vicky dapat merangkulnya dengan mudah karena tak ada lagi penolakan dari wanita itu.
"Tenanglah dulu Lian. Dengarkan aku dulu. Semua masalah ini tidak akan pernah berakhir jika kamu terus saja berteriak-teriak seperti tadi," ucap Vicky.
"Kamu jahat.. kamu jahat…" Lian terus meracau di dalam pelukan sang kekasih.
"Iya.. iya.. aku memang jahat. Aku minta maaf. Aku memang salah karena tak bisa menahan diri semalam. Aku benar-benar menyesal, sayang." sambung Vicky. Akan tetapi tak ada respon apapun dari Lian. Gadis itu hanya terus terisak di dada sang kekasih.
"Percayalah sayang, semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji," ucap Vicky meyakinkan. Lian mendongakkan wajahnya untuk menatap sang kekasih.
"Bagaimana jika ayah tau?" tanya Lian lirih.
"Tidak akan ada yang tau. Semua tidak akan ada yang tau. Asalkan kamu bisa bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan memberitahukan kejadian ini kepada siapapun termasuk Kian."
"Tapi bagaimana kalau aku hamil?" air mata Lian kembali mengalir deras. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan menghadapi keluarganya jika sampai hal itu terjadi.
"Kamu tidak akan hamil. Percayalah padaku! Kamu tidak akan hamil secepat itu."
Lian terdiam. Dia sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.
"Percayalah kepadaku, sayang. Semua akan baik-baik saja selama kamu selalu menuruti semua perkataanku," ucap Vicky. Lian mengangguk pelan. Dan laki-laki itu pun kembali merangkul kekasihnya itu dengan sangat erat.
Saat ini tidak ada yang bisa Lian lakukan selain percaya kepada sang kekasih dan berharap jika apa yang dikatakan oleh Vicky benar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya sang ayah jika mengetahui apa yang sudah Lian lakukan selama ini. Memaksa sang adik untuk bertukar peran, baik secara fisik maupun semua fasilitas mereka, kemudian dia berbohong bekerja ke luar kota, dan sekarang dia malah kehilangan kesuciannya. Belum lagi pertanggungjawabannya kepada kakek Bimo dan juga Rama yang sudah sah berstatus sebagai suaminya itu.
***
"Mas bangun. Apa hari ini kamu tidak kerja?" ucap Kian.
Pagi itu jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 akan tetapi Rama belum juga bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya masih terbaring di bawah selimut tebal dan matanya masih tertutup rapat. Kian bingung karena biasanya dari mulai jam 6 pagi, laki-laki itu sudah bersiap, tapi ini?
"Mas…. Bangun Mas…" Kian mencoba menepuk-nepuk pundak laki-laki itu pelan. Rama sedikit menggeliat namun dia kembali terlelap.
"Ihh ini orang. Aku baru tau kalau tidurnya mirip kerbau. Susah banget dibanguninnya," gerutu Kian pelan.
__ADS_1
"Memangnya kamu sudah pernah melihat bagaimana kerbau tidur?" ucap Rama namun dengan mata yang masih terpejam. Kian langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia kaget karena ternyata laki-laki itu bisa merespon perkataannya.
"Jadi dia tidak tidur?" batinnya.
Rama membuka matanya dengan cepat, menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan lalu terduduk di atas tempat tidur. Pandangannya langsung beralih menatap ke arah Kian yang masih berdiri di sampingnya.
"Siapa yang kamu bilang kerbau? Berani sekali kamu mengatakan hal itu kepadaku?" tanya Rama seperti biasa dengan tatapan membunuh. Membuat Kian agak sedikit kesulitan menelan salivanya sendiri.
Gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk. Deretan gigi putihnya terpampang jelas. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat atau berkata apa sekarang.
"Mati aku," pikirnya.
"Hmm, a… aku… aku… aku akan pergi menyiapkan sarapan," ucap Kian sambil berlalu pergi keluar dari kamar itu.
Kian berlari menuruni anak tangga. Suara hentakan kakinya yang cepat sampai mencuri perhatian Kakek Bimo yang saat itu sedang duduk sambil membaca buku di sofa.
"Lian, jangan berlari di tangga. Nanti kalau kamu jatuh bagaimana?" teriak sang kakek. Kian tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Kakek Bimo.
"Kakek?"
"Kamu ini seperti anak kecil saja!" jawab sang kakek yang kembali membaca buku di tangannya.
"Tidak. Kenapa memangnya?" jawab sang kakek namun tak mengalihkan pandangannya dari buku itu.
"Habisnya hari ini kakek dan mas Rama sama-sama tidak pergi ke kantor," ucap Kian.
Kakek Bimo menutup bukunya lalu melihat ke arah Kian yang masih berdiri di depannya.
"Hari ini entah kenapa tapi tubuh kakek rasanya sangat lelah," ucap Kakek Bimo sambil menghela nafas panjang.
"Apa kakek sakit?" Kian langsung mendekati sang kakek dan duduk di bawah memijat kakinya. Wajahnya tersirat rasa khawatir akan kondisi kakek Bimo.
"Hey Lian. Tidak usah khawatir. Mungkin ini karena kemarin kakek terlalu memforsir tubuh kakek saja. Ada banyak hal yang harus kakek urus di kantor dan kakek sampai lupa istirahat," jelasnya.
"Kakek, usia kakek sudah tidak muda lagi. Jadi jangan terlalu memaksakan tubuh kakek untuk terus bekerja setiap saat. Bukankah masih ada Mas Rama?"
__ADS_1
Kakek Bimo menatap wajah Kian dalam diam. Beliau tidak sedikitpun menjawab perkataan sang cucu menantunya itu. Kakek Bimo bukannya tidak mau menyerahkan semua hak penting kepada Rama akan tetapi ada satu masalah yang membuat dirinya masih belum percaya penuh kepada sang cucu. Dan Kian tidak tau tentang hal itu.
Selang beberapa saat Rama turun dari kamarnya. Dia sudah tampak rapi dan wangi. Melihat sang suami turun, Kian pun meminta izin kepada sang kakek untuk pergi membuatkan sarapan bagi Rama.
"Mas aku buatkan sarapan dulu," ucap Kian.
"Tidak perlu," jawab Rama tegas. Dia langsung duduk di sofa di depan sang kakek.
"Tapi kamu kan belum makan apa-apa."
"Aku bilang tidak perlu!"
"Buatkan saja kopi untuknya Lian. Kalau memang dia tidak mau sarapan ya sudah tidak usah kamu paksa," senggah sang kakek. Kian pun mengangguk dan lalu pergi ke dapur untuk membuatkan kopi.
Selang beberapa menit kemudian, Kian pun kembali dengan secangkir kopi untuk sang suami.
"Jadi hari ini kamu tidak ke kantor?" tanya sang kakek.
"Tidak. Aku sudah bilang pada Hana kalau hari ini aku tidak bisa masuk."
"Kalau begitu bagus," ucap sang kakek sambil tersenyum.
"Karena kamu tidak pergi ke kantor, kamu bisa mengajak Lian untuk jalan-jalan," ucap sang kakek lagi. Rama baru saja akan mengeluarkan suaranya saat Kian yang secara tiba-tiba duduk dan langsung merespon ucapan sang kakek dengan cepat.
"Jalan-jalan? Aku mau. Kita mau jalan-jalan kemana, Mas?" tanya Kian dengan semangat. Namun Rama tak menjawab. Dia malah memalingkan tatapannya ke arah lain dengan jengah.
"Memangnya ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya sang kakek. Kian mengangguk.
"Kemana?"
"Kebun Binatang," jawab Kian cepat.
"Apa?" Rama melotot sambil berteriak. Sedangkan sang kakek hanya tersenyum.
****
__ADS_1
****
****