
Kian masih menatap wajah sang kakak kembarnya itu dalam diam. Sesekali dia menoleh ke arah Rama yang juga sedang menatapnya dengan penuh pengharapan. Kian mengerti apa yang diinginkan oleh Rama tapi dia juga tidak bisa mengabaikan saudara kembarnya sendiri. Bingung, itu lah yang sedang dirasakan oleh Kian.
"Aku…" Kian masih terbata.
Saat semuanya sedang menunggu keputusan dari wanita cantik itu, secara tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Ketiga orang itu menoleh secara bersamaan dan mereka sedikit terkejut saat melihat sosok Kakek Bimo yang datang dari sana.
"Kakek," gumam Rama lirih. Dia tidak menyangka jika sang kakek akan datang di saat yang tidak tepat.
"Kakek," ucap Rama. Dia maju mendekati laki-laki tua itu sambil tersenyum, mencoba merubah suasana tegang yang sedang terjadi di sana. Akan tetapi dengan cepat tangan Kakek Bimo pun terangkat ke atas untuk memberi isyarat pada sang cucu agar diam di tempatnya.
Tatapan tajam terlihat jelas di mata sang kakek yang ditujukan kepada dua gadis kembar di depannya. Kali ini Rama tak bisa berbuat apa-apa. Begitupun dengan Kian yang seketika terdiam. Gadis itu sudah tau jika sang kakek sedang marah maka tidak ada yang boleh berbicara kepadanya sebelum laki-laki tua itu selesai meluapkan semua amarahnya.
Tapi berbeda dengan Lian yang belum mengetahui watak kakek Bimo. Wanita ini dengan percaya dirinya turun dari atas ranjang Kian dan berjalan mendekati kakek Bimo. Wajahnya tersenyum. Lian mengira jika amarah yang tampak di wajah sang kakek ditujukan kepada Kian karena wanita itu sudah teledor dan membuat satu-satunya penerus keluarga mereka harus hilang. Lian pun merencanakan akan mengatakan yang sebenarnya dengan alasan yang tentu saja menjelek-jelekan adik kembarnya itu.
“Kakek, aku senang kakek datang. Aku…”
__ADS_1
PLAK
Ucapan Lian seketika terhenti saat tiba-tiba saja tangan kakek Bimo dengan kuatnya menampar pipi wanita itu. Lian pun terjengkang hingga terjatuh di lantai rumah sakit. Mata Rama melotot kaget melihat kejadian itu yang benar-benar di luar bayangannya. Sedangkan Kian menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat sang Kakek yang untuk pertama kalinya menampar seorang wanita.
“Kakek…. “ Kian hendak berkata sesuatu tapi sang kakek menolehkan tatapan tajam kepadanya, membuat gadis itu kembali mengurungkan niatnya tersebut.
“Kakek, apa salahku? Kenapa Kakek menamparku?” tanya Lian dengan tatapan memelas. Tangannya memegang pipinya yang masih terasa perih.
“Kamu masih beruntung karena aku hanya menamparmu saja dan tidak membunuhmu, Lian,” ucap Kakek Bimo dengan menekankan kata Lian sebagai isyarat bahwa dia sudah mengetahui semua permainan yang terjadi selama ini.
“Kakek? Kakek sudah tahu yang sebenarnya?” tanya Rama lirih.
Lian berdiri dan menatap sang Kakek masih dengan raut wajah memelas.
“Kakek. Aku tahu kalau aku salah. Aku salah karena dulu aku tidak bersyukur dan lebih mementingkan egoku sendiri. Padahal ayah dan juga Kakek sudah memberikan yang terbaik untukku. Aku minta maaf. Tapi sekarang aku menyesal. Aku mohon berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, Kek. Aku mohon. Aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi. Aku berjanji akan menjadi istri dan juga cucu menantu kesayangan kakek dan juga Mas Rama yang bisa kalian banggakan. Aku mohon Kek, tolong beri aku kesempatan. Aku mohon,” ucap Lian. Wanita itu kembali mengeluarkan air mata palsunya untuk menyentuh hati sang Kakek. Kedua tangannya dia satukan di depan dadanya memohon. Sang Kakek tersenyum kecut.
__ADS_1
“Apa katamu? Memberikan kamu kesempatan kedua? Bagaimana bisa aku memberikan kesempatan kedua kepada orang yang sudah membunuh calon buyutku yang belum lahir,” teriak Kakek Bimo. Kini semua orang yang ada di ruangan itu ikut terkejut.
“Kakek, apa maksud kakek?” tanya Kian. Sang Kakek menoleh ke arah cucu kesayangannya itu.
“Iya Kian. Kakek sudah menyelidiki semuanya. Air yang diberikan anak kecil kepadamu pada saat pesta kemarin, itu adalah air racun. Dan kakak kembarmu ini yang melakukan semuanya,” jelas Kakek Bimo.
“Bohong. Itu semua bohong,” teriak Lian. Dia sudah mulai ketakutan. Kakek Bimo tersenyum.
“Bohong? Semua orang pun tahu jika Bimo Amarta tidak pernah berbohong demi untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku memiliki bukti atas semua perkataanku.”
Mendengar hal itu Lian semakin ketakutan. Sebenarnya dia tahu betul apa resikonya jika berani bermain-main dengan keluarga Amarta. Akan tetapi dia sudah kehilangan cara agar bisa masuk ke dalam keluarga itu. Kakek Bimo pun menepuk tangannya tiga kali lalu muncullah seseorang dari arah luar dengan membawa sebuah laptop. Seseorang dimana semua orang yang ada disana pun tahu siapa dia.
"Samir," ucap Kian, Rama dan juga Lian secara bersamaan.
****
__ADS_1
****
****