
Pagi itu Lian sudah bersiap di dalam kamarnya. Menggunakan pakaian sederhana layaknya sang adik. Dia memandang layar ponselnya sebentar dan lalu berbicara sendiri.
"Hmm Vicky. Semoga setelah ini kamu bisa kembali lagi seperti dulu," ucap Lian.
Setelah dirasa sudah cukup sempurna, gadis itu pun turun ke bawah menemui sang ibu dan juga kakek Dul. Ibu Araya terus menatap sang anak dengan tajam sepanjang gadis itu turun dari tangga dan menuju meja makan dimana dirinya sedang sarapan.
Lian duduk di sana dan ikut bergabung untuk sarapan. Tak ada pembicaraan sama sekali saat itu. Kejadian menyedihkan kemarin nyatanya masih menimbulkan rasa duka di hati semua orang. Sehingga mereka pun merasa tidak semangat untuk menjalani hidup ini. Apalagi kakek Dul. Orang bilang jika kita ditinggal meninggal oleh orang tua kita maka artinya kita kehilangan masa lalu kita. Sedangkan jika kita ditinggal meninggal oleh anak kita maka artinya kita kehilangan masa depan kita.
"Kakek, Ibu, aku akan keluar dulu sekarang. Ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan," ucap Lian di sela makannya. Baik kakek Dul maupun Ibu Araya tidak ada yang menjawab. Akan tetapi Lian tidak peduli. Lagi pula bagi Lian, dia bukan meminta izin melainkan memberitahukan jadi dia tidak perlu pendapat ataupun jawaban dari dua orang di depannya ini.
Setelah selesai sarapan, gadis itu pun langsung berpamitan. Dia mencium punggung tangan sang kakek lalu sang ibu.
"Aku pergi dulu," ucap Lian sesaat sebelum dirinya pergi.
Ibu Araya terus menatap punggung sang anak yang berjalan menjauh menggunakan sepeda motornya. Di dalam pikirannya masih terus terngiang cerita yang sudah dikatakan oleh Kian. Sesekali bahkan dia membayangkan bagaimana kerasnya Lian saat sedang memaksa sang adik untuk menuruti semua ide gila yang sudah dia ciptakan.
"Seberapa besarnya pun kamu berusaha bertingkah seperti Kian, sekarang hal itu tidak akan berpengaruh lagi pada Ibu. Ibu sudah tahu kebenarannya dan kali ini Ibu tidak mau salah langkah lagi," batin Ibu Araya bermonolog.
***
Dengan cepat Lian mengendarai sepeda motornya. Setelah mendapat kabar dari temannya yang memberitahukan dimana keberadaan sang kekasih Vicky, dia pun langsung meluncur ke sana. Sejak penolakan membelikan mobil untuk Vicky, laki-laki itu sangat susah sekali dihubungi. Hanya beberapa chat saja yang dia balas. Sedangkan dua hari kebelakang, laki-laki itu malah tidak bisa dihubungi sama sekali. Itu sebabnya Lian terpaksa harus menghubungi salah satu teman mereka untuk mengetahui dimana keberadaan sang kekasih.
Sebuah rumah sederhana milik seorang laki-laki bernama Indra tengah menjadi tujuan Lian saat ini. Indra adalah salah satu teman Vicky yang juga dikenalkan kepada Lian saat mereka selalu berkumpul bersama.
Indra adalah laki-laki yang cuek dan tidak pernah ikut campur dengan urusan orang lain. Mereka selalu berkumpul tapi Indra tidak pernah mau mendekati seorang wanita manapun. Walaupun pada kenyataannya wajah tampan Indra banyak memikat hati para wanita disana. Indra memang selalu berkumpul dengan kelompoknya Vicky. Mereka selalu minum bersama. Tapi jika tentang perkara wanita, Indra memiliki perbedaan pendapat dengan Vicky maupun yang lainnya.
__ADS_1
Disaat semua laki-laki sangat senang bergonta ganti wanita bahkan sampai berhubungan layaknya sepasang suami istri, Indra justru enggan berdekatan dengan wanita manapun. Terkadang semua temannya selalu meledeknya akan tetapi Indra selalu cuek dan mengacuhkan semua yang mereka katakan. Namun walaupun begitu, mereka semua terus berteman dengan baik dan saling menerima kelebihan maupun kekurangan masing-masing.
Tok.. tok.. tok..
Lian mengetuk pintu rumah Indra. Selang beberapa saat kemudian sang pemilik rumah pun muncul dan membukakan pintu.
"Lian?" ucap Indra bingung. Pasalnya ini masih terlalu pagi untuk mereka berpacaran. Laki-laki itu pun berpikir apakah memang segila itu jika kita merindukan seseorang yang kita cintai.
"Indra, aku ingin bicara dengan Vicky. Apa dia ada?" tanya Lian.
Indra sempat terdiam sebentar. Dia memperhatikan penampilan wanita yang kini sedang berdiri di depannya ini. Pakaian sederhana yang menutupi tubuhnya. Sangat berbeda dengan Lian yang biasanya selalu menggunakan pakaian seksinya. Dengan menggunakan pakaian seperti ini, Lian tampak begitu cantik di mata Indra.
"Indra?" panggil Lian lagi. Indra melonjak.
"Iya…" jawab laki-laki itu dengan sedikit terkejut.
"Iya ada. Masuklah!" jawab Indra.
"Tidak. Aku hanya ingin bicara pada Vicky saja. Apa aku bisa meminta tolong kepadamu untuk memanggilnya? Aku akan menunggu di sini saja," jawab Lian. Lagi dan lagi Indra terbengong melihat sikap Lian. Akan tetapi tak ayal juga dia masuk ke dalam rumahnya dan memanggil Vicky.
"Ada apa kamu mencariku?" tanya Vicky setelah beberapa saat menunggu.
Lian yang sedang duduk di bangku yang ada di teras rumah, mendongak dan melihat sang kekasih sedang berdiri di depan pintu. Melihat sosok laki-laki yang selama ini sangat dia rindukan, Lian pun tersenyum lalu bangkit dan berlari untuk memeluk Vicky.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Lian di sela pelukannya. Akan tetapi tangan sang laki-laki tetap berada di bawah dan tak mau membalas pelukan wanita itu.
__ADS_1
Lian pun melepaskan pelukannya dan lalu memberikan sebuah kertas kepada sang kekasih.
"Apa ini?" tanya Vicky. Dia membuka lipatan kertas itu dan melihat hasilnya.
"Itu rekeningmu. Aku sudah mentransfer uang sejumlah yang kamu mau. Itu uang untuk kamu beli mobil," jelas Lian sambil tersenyum. Vicky membaca isi dari kertas itu dan ternyata benar. Itu adalah bukti pengiriman uang dari bank.
"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Apa dari suamimu yang kaya raya itu?" tanya Vicky dingin.
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan uang itu sayang. Yang penting sekarang adalah kamu bisa membeli mobil yang kamu mau. Iya kan?".
"Hmm," gumam Vicky menjawab pertanyaan sang kekasih. Lian lalu kembali memeluk Vicky.
"Sayang, apa setelah ini kamu akan kembali seperti dulu?" tanya Lian di dalam pelukannya.
"Apa maksudmu?" tanya Vicky.
"Aku ingin Vicky yang dulu. Yang selalu mencintaiku, yang selalu menyayangiku, yang selalu membelaiku, yang selalu baik kepadaku. Apa aku akan mendapatkan kekasihku kembali?" tanya Lian. Kepalanya mendongak menatap wajah sang kekasih akan tetapi kedua tangannya masih memeluk pria itu.
"Hmm…." Gumam Vicky kembali. Lian tersenyum bahagia mendengar jawaban dari sang kekasih. Dia lebih mempererat pelukannya dan sesekali mencium pipi sang kekasih.
Tanpa mereka berdua sadari jika sejak dari tadi, ada sepasang mata yang sedang menatap dari dalam rumah. Sepasang mata dari seorang pria tampak memerah karena cemburu. Dan siapa lagi pemilik sepasang mata itu jika bukan Indra.
****
****
__ADS_1
****