
"Baik, aku akan tinggal di apartemen kamu, Mas. Tapi dengan satu syarat," ucap Lian sambil menatap tajam mata sang suami.
"Apa itu?" tanya Rama santai.
"Aku ingin kamu juga ikut tinggal denganku di apartemen."
Rama dan Kian sama-sama terkejut dengan permintaan wanita itu. Rama bahkan sampai mengepalkan tangannya sendiri. Akan tetapi dia terus meredam semua emosinya agar tidak membentak Lian. Egois memang. Disaat berhadapan dengan Kian, Rama bisa bebas mengeluarkan semua amarahnya akan tetapi kepada Lian, laki-laki itu selalu berusaha meredamnya. Tapi ya mau bagaimana lagi. Mungkin karena Rama sudah merasa nyaman dengan Kian akhirnya dia bebas meluapkan segala ekspresinya kepada wanita itu.
"Itu tidak mungkin, Lian. Itu adalah hal yang mustahil," tolak Rama. Sedangkan di belakang sana Kian masih terus berdiri diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa gak mungkin sih Mas. Kita ini sudah menikah. Kita suami istri. Jadi bukan hal yang mustahil kalau kita tinggal bersama. Justru jika sepasang manusia yang tidak menikah tapi bisa hidup bersama bahkan sampai hamil, itu baru yang aneh," sindir Lian dengan mata menatap tajam ke arah Kian.
Kian sedikit menunduk. Dia tau jika ucapan Lian itu sengaja ditujukan kepadanya. Gadis itu bahkan mengusap perutnya seolah memberi isyarat pada sang jabang bayi untuk tetap tenang menghadapi hinaan dari Lian.
"Berikan aku pilihan lain selain itu!" ucap Rama.
"Tidak ada pilihan lain. Hanya itu pilihan satu-satunya. Jika Mas tidak mau tinggal bersamaku maka aku akan datang menemui kakek Bimo dan mengatakan jika cucu kesayangannya ini sudah membuang istri sahnya hanya agar dirinya bisa tinggal dengan adik iparnya sendiri." Lagi dan lagi Lian mengancam Rama. Laki-laki itu semakin kuat mengepalkan tangannya. Akan tetapi ucapan wanita itu sekarang sudah berhasil membuat emosinya meledak.
"Lian!!!" bentak Rama dengan sangat keras.
Melihat laki-laki itu berteriak dengan mata yang melotot ke arah Lian, dengan setengah berlari Kian langsung menggenggam tangan Rama.
"Mas…" ucap Kian setengah berbisik. Salah satu tangannya mengusap-usap dada Rama mencoba untuk menenangkan laki-laki itu.
__ADS_1
"Mas tenanglah. Ini rumah sakit. Jangan membuat keributan disini," ucap Kian. Rama menoleh ke arah wanita yang sangat dia cintai itu lalu menutup matanya untuk menetralisir amarah yang ada di dalam dirinya.
Melihat sang adik menyentuh sang suami, Lian marah besar. Wanita itu langsung turun dari tempat tidur, berdiri di depan Kian lalu dalam sekejap mata wanita itu mendorong Kian dengan kuat. Membuat wanita itu sedikit terhuyung ke belakang
"Jangan menyentuh suamiku! Apa kamu tidak malu menyentuh suami kakak kandungmu sendiri? Apa kamu tidak malu meraba-raba dada seorang suami di depan istrinya sendiri?" teriak Lian sambil menunjuk-nunjuk Kian.
Melihat hal itu tentu saja berhasil membuat mata Rama melotot. Dia paling tidak suka jika ada orang lain yang hendak menyakiti Kian. Apalagi wanita itu sekarang sedang hamil anaknya. Dia tidak akan memaafkan siapapun, sekalipun itu adalah Lian.
"LIAN!!!" Rama berteriak. Wanita itu langsung menoleh ke belakang dan dia melihat wajah sang suami yang merah karena marah.
Dengan tegas Rama berjalan dan memeluk Kian dengan sebelah tangannya.
"Berani sekali kamu mendorong Kian?" teriak Rama.
"Apa maksudmu Mas? Kenapa kamu malah membela gadis murahan ini dari pada istrimu sendiri? Aku istrimu Mas. Aku!" teriak Lian. Kian semakin bingung dengan pertengkaran sepasang suami istri ini.
"Iya, kamu memang istriku. Kamu memang wanita yang aku nikahi. Tapi Kian adalah ibu dari calon anak-anakku. Dia sedang hamil anakku. Jadi kamu bisa mengerti bukan mana diantara kalian yang lebih aku cintai dan pastinya memiliki posisi yang lebih penting di hatiku?" tegas Rama.
"Mas…!!!" Lian semakin berteriak.
"Lian sudah cukup. Mas kita bisa bicarakan ini nanti. Kita harus pergi ke apartemen dulu. Ayo Mas!"
Kian terus mencoba melerai pertengkaran diantara mereka. Wanita itu sadar jika mereka sedang ada di rumah sakit. Dan Kian tak mau jika mereka harus berurusan dengan keamanan rumah sakit tersebut. Akan tetapi semuanya sudah terlambat. Apa yang ditakutkan oleh Kian terjadi. Dua orang security dan satu orang dokter masuk ke dalam ruangan itu dan memperingatkan mereka bahwa keributan yang terjadi itu sudah mengganggu ketenangan pasien lain.
__ADS_1
Kian yang terpaksa meminta maaf kepada para petugas rumah sakit itu karena baik Rama ataupun Lian masih sedang dalam kondisi sangat marah sehingga mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan ucapan satu patah kata pun.
Setelah para petugas itu pergi, Kian kembali mendekati sepasang suami istri itu.
"Mas ayo! Kita pergi ke apartemenmu sekarang!" ucap Kian. Wanita itu berjalan ke arah Lian dan berusaha membantunya berjalan. Akan tetapi uluran tangan Kian dihempaskan dengan kasar oleh Lian.
"Aku gak separah itu sampai harus meminta bantuanmu," ucap Lian tegas sambil berjalan berlalu meninggalkan mereka keluar dari ruangan itu.
"Lian…" Rama sudah hampir akan marah lagi akan tetapi dengan cepat Kian memotongnya.
"Mas sudah. Ayo!" Kian menggandeng tangan Rama dan mengajaknya untuk pergi dari sana. Lian tak membawa satu barang pun karena memang sejak awal masuk rumah sakit dirinya tidak membawa apa-apa.
Mobil yang dikendarai oleh Rama pun kini mulai melaju membelah jalanan yang sudah semakin ramai. Karena Lian memaksa ingin duduk di depan akhirnya Kian yang mengalah duduk di belakang. Seperti biasa awalnya Rama ingin menolak permintaan wanita itu akan tetapi lagi dan lagi Kian mereda emosi Rama dan membuat laki-laki itu akhirnya menurut.
***
Setelah melewati beberapa jam perjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Rama dan juga kedua gadis kembar tersebut telah sampai di pelataran apartemen milik Rama. Unit milik laki-laki itu berada di lantai 24 dan memiliki ukuran yang sangat besar dan juga mewah. Baik Kian maupun Lian keduanya terkejut dengan ukuran dan juga fasilitas dari apartemen tersebut. Bagaimana tidak, baik Kian maupun Lian, keduanya baru pertama kali datang ke tempat itu. Jadi wajar jika mereka berdua menganga.
"Jika apartemennya saja bisa sebesar ini, lalu bagaimana dengan ukuran rumah keluarga Amarta? Pasti lebih besar dari ini. Hmm, lihat saja tidak lama lagi aku akan masuk ke dalam rumah keluarga Amarta. Itu pun sebagai istri sah nya Rama," pikir Lian dalam hati.
****
****
__ADS_1
****