
"Jadi," ucap Rama. Kian menatap ke arah wajah sang suami dan masih dalam keadaan diam.
"Bisa kamu jelaskan apa yang sudah terjadi?" tanya Rama lagi.
Kian bingung. Bagaimana dia menjelaskan semuanya dan dari mana dia akan mulai. Melihat sang istri yang sepertinya menyembunyikan sesuatu, Rama menggenggam tangan wanita itu. Dia melakukan hal tersebut agar sang istri bisa lebih tenang.
"Hey, tenanglah dan jangan takut. Aku tidak akan marah sama kamu. Aku janji. Tapi aku akan marah jika aku tahu semua yang terjadi dari orang lain. Apa kamu mengerti?" tanya Rama. Kian mengangguk. Laki-laki itu benar. Dia bisa saja dengan mudah menyelidiki semua ini dan bukan perkara yang sulit baginya untuk menemukan jawabannya. Tapi jika Rama menyelidikinya sendiri, Kian takut penyelidikannya terlalu luas dan akhirnya mengetahui siapa sebenarnya dirinya.
Kian pun memutuskan untuk menceritakannya saja. Rama mendengarkan penjelasan sang istri dengan seksama.
"Tadi pagi Kian menghubungiku. Katanya dia sedang ada masalah dan dia butuh uang 500 juta. Dia tidak bisa meminta pada ayah karena kondisi perusahaan Ayah sedang down."
"Down? Kenapa?" tanya Rama dengan kening yang berkerut.
"Aku tidak tahu. Sudah sejak lama ayah tidak lagi menghubungiku. Aku pikir semua baik-baik saja sampai akhirnya aku tahu kabar ini dari Kian tadi pagi."
"Apa kamu tanya sama Kian, untuk apa dia butuh uang sebanyak itu?" tanya Rama kembali dengan tenang.
"Aku sudah bertanya padanya untuk apa dia butuh uang sebanyak itu. Tapi Kian tidak menjawab. Katanya hanya ada masalah saja." ucap Kian. Lalu mereka berdua pun terdiam. Rama melepaskan genggaman tangannya lalu sedikit menaikkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Apa kamu tau apa yang sedang aku pikirkan?" tanya laki-laki itu. Kian menggelengkan kepalanya.
"Aku pikir uang 500 juta itu bukan untuk adikmu. Tapi untuk kekasihnya."
__ADS_1
Kian menatap wajah Rama dengan terkejut.
"Aku pernah bilang padamu sebelumnya bukan kalau aku sempat melihat Kian sedang bermesraan di sebuah club malam. Dan aku bisa menilai bagaimana karakter kekasihnya itu dilihat dari cara berpakaian dan juga tingkah lakunya."
Kian masih diam seribu bahasa. Sebenarnya dari sejak awal dia memang sudah curiga jika uang 500 juta ini adalah keinginan dari Vicky. Karena tidak mungkin sang kakak tiba-tiba saja terkena masalah yang membutuhkan uang sebanyak itu. Rasanya mustahil.
"Lian," panggil Rama lagi.
"Apa kamu mau menuruti semua perkataanku?" tanyanya. Kian mengangguk. Sedangkan Rama tersenyum.
"Jangan berikan uang itu kepada Kian! Aku tahu sebenarnya kamu bisa dengan mudah memberikan uang itu kepada Kian. Bahkan kalaupun jumlahnya lebih dari itu, aku tau kalau kamu bisa memberikannya. Karena aku pasti akan memberikan apapun yang kamu minta. Tapi, untuk kali ini saja menurutlah kepadaku. Jangan pernah berikan uang itu kepada Kian," ucap Rama. Dia menatap dalam ke arah mata Kian. Wanita itu mengangguk.
"Bagus. Kamu memang istri yang baik," ucap Rama sambil mengusak rambut sang istri.
"Ya sudah. Ini sudah malam. Ayo tidur. Kamu harus banyak istirahat biar calon anak kita bisa tumbuh kembang dengan baik," ajak Rama. Laki-laki itu membantu sang istri berbaring kemudian menutup tubuh wanita itu dengan selimut. Sebuah kecupan romantis dari bibir Rama mendarat di kening Kian. Membuat wanita itu tersenyum.
***
Vicky menatap Lian dengan jengah. Tak ada senyum manis lagi di pipinya yang selalu bisa membuat Lian jatuh hati. Kini hanya ada tatapan tajam membunuh. Saat Vicky berjalan mendekat, Lian pun mencium aroma alkohol di tubuh laki-laki itu.
"Vicky, kamu mabuk?" tanya Lian.
"Iya. Aku minum. Aku minum sedikit tapi nyatanya masih bisa membuat kepalaku sedikit berputar."
__ADS_1
"Ayo ikut aku!" Lian menarik tangan Vicky agar laki-laki itu mau mengikutinya. Sesampainya di pelataran parkir club yang lumayan lenggang, mereka pun akhirnya berbicara.
"Sayang kita harus bicara," ucap Lian lagi. Membuat Vicky semakin jengah saja.
"Bicara… bicara… memangnya mau bicara apa lagi? Aku akan bicara lagi sama kamu setelah kamu membelikan aku sebuah mobil."
Vicky membentak dan hendak pergi meninggalkan Lian. Akan tetapi dengan cepat Lian menarik tangan laki-laki itu untuk menghentikan langkahnya.
"Sayang tunggu," ratap Lian..Vicky kembali berhenti dan mendengarkan apa yang ingin wanita ini katakan tanpa berbalik sama sekali. Akhirnya Lian yang melangkahkan kakinya ke arah depan laki-laki itu. Vicky bisa melihat ada air mata mengalir deras di wajah Lian tapi laki-laki itu langsung berpaling.
"Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kamu jadi berubah seperti ini, sayang? Dulu kamu tidak pernah begini. Kamu selalu menyayangi aku dan tidak mau jauh dariku. Aku bahkan rela memilih untuk tinggal jauh dari keluargaku sendiri hanya karena kamu yang memintanya agar kita bisa selalu bersama. Tapi kenapa sekarang kamu menjadi seperti ini?" ucap Lian dengan terus menangis. Vicky menatap wajah Lian. Tatapannya begitu tajam.
"Berpikirlah sendiri kenapa aku bisa berubah menjadi seperti ini!" Dengan kasar laki-laki itu menghentakan tangannya agar genggaman tangan Lian terlepas. Dan tanpa menoleh lagi, dengan cepat laki-laki itu kembali ke dalam club malam.
Lian menatap sendu punggung laki-laki itu yang tampak semakin menjauh. Beberapa detik kemudian wajah gadis itu berubah menjadi marah, kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat.
"Semua ini karena Kian. Aku sudah membuat dirinya menjadi seorang istri pengusaha kaya raya tapi dia tidak bisa memberikan yang aku mau. Iya, benar. Karena Kian, aku jadi harus bertengkar dengan Vicky. Padahal selama ini kami tidak pernah bertengkar walaupun hanya sebentar. Tapi lihatlah sekarang. Vicky marah kepadaku. Dia bahkan tidak mau aku sentuh. Semua ini karena dia. Aku harus buat perhitungan dengan Kian. Harus!!!" gumam Lian.
Dengan cepat gadis itu berbalik. Langkahnya sangat tegas menandakan emosi di dalam dirinya sangat memuncak. Jatuh cinta memang telah membuat dirinya buta. Dia selalu menghalalkan segala cara agar bisa tinggal bersama dengan sang kekasih walaupun itu tanpa status sekalipun. Tapi Lian rela. Sekarang karena cinta itu juga, dia sangat membenci sang adik. Dia berpikir sang adiklah yang sudah menyebabkan hubungannya dengan sang kekasih menjadi retak.
"Kian, aku harus memberi perhitungan padamu!"
****
__ADS_1
****
****