
Rama duduk di samping ranjang dimana Lian sedang mendapatkan perawatan. Wanita itu sedang tidur setelah diberikan obat oleh dokter. Rama terus memperhatikan wajah wanita yang sangat mirip dengan istrinya itu. Wajah cantik itu kini penuh dengan lebam. Rama berpikir mungkin wanita ini mendapatkan banyak kekerasan. Entah siapa yang melakukan hal itu. Sekilas dia teringat kepada laki-laki yang dia yakini sebagai kekasih dari wanita itu. Akan tetapi Rama memutuskan untuk tidak ikut campur dalam hal ini. Hanya saja satu hal yang menjadi pikirannya adalah jika istrinya tahu kondisi saudara kembarnya ini, sudah dipastikan wanita itu akan histeris dan mungkin tidak akan mau istirahat.
Rama melihat ke arah jam di tangannya. Sepertinya ini sudah terlalu larut dan dia harus segera pulang. Dia tidak ingin istrinya merasa khawatir karena dirinya belum juga kembali. Setelah memastikan bahwa Lian aman dan menitipkannya pada seorang suster yang berjaga di sana, Rama pun akhirnya beranjak pulang.
Sepanjang perjalanan, Rama terus berpikir apa alasan yang akan dia katakan kepada sang istri tercinta apabila wanita itu kembali terbangun. Walaupun di dalam hati kecilnya, Rama terus berdoa jika sang istri masih tidur dan tidak akan bangun sampai besok pagi.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya Rama pun sampai di pelataran rumahnya. Rama menghela nafas panjang setelah melihat sang istri yang terjaga dan duduk di halaman rumah bersama sang kakek. Laki-laki itu pun mulai melangkah perlahan mendekati dua insan berbeda usia itu.
Melihat sang suami datang, Kian langsung berlari sambil berurai air mata. Dia berlari dan memeluk tubuh Rama dengan erat.
"Mas kemana aja? Kenapa lama sekali?" tanya Kian di sela isak tangisnya. Rama tersenyum.
"Kenapa kamu duduk di luar, sayang? Ini kan sudah malam," ucap Rama. Sang kakek berdiri dan berjalan mendekat.
"Kakek sudah menyuruhnya untuk menunggu di dalam saja. Tapi istrimu ini terlalu keras kepala. Dia tetap ingin menunggu kamu pulang di teras," ucap sang kakek.
"Iya kakek. Tidak apa-apa. Terima kasih karena kakek sudah mau menemani Lian. Sekarang kakek boleh istirahat," titah Rama.
"Baiklah kalau begitu, kakek masuk dulu ya. Kakek sangat mengantuk," ucap Kakek sambil menguap. Laki-laki tua itu pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Rama menggandeng Kian untuk masuk ke dalam. Sepanjang jalan gadis itu terus memeluk pinggang Rama. Sifat manjanya yang merupakan bawaan karena kehamilannya membuat Kian sudah tidak peduli lagi tentang status mereka. Mereka pun masuk ke dalam kamar.
Kian melepaskan pelukannya lalu duduk di samping tempat tidur. Salah satu tangannya menarik tangan sang suami agar duduk di sampingnya. Setelah Rama duduk, lagi-lagi Kian menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. Rama tersenyum sambil mencium puncak kepala Kian. Dia sangat suka ketika istrinya itu manja kepadanya.
"Mas, maaf," ucap Kian lirih.
__ADS_1
"Maaf? Maaf kenapa?" tanya Rama.
"Tadi aku tidak mengizinkan Mas masuk rumah. Aku juga memaksa Mas buat cari sop buah tengah malam seperti ini." ucap Kian sambil menunduk. Rama tersenyum. Satu tangannya mengangkat dagu Kian sehingga mereka pun bisa saling berpandangan.
"Hey, dengar. Mas gak marah jadi buat apa kamu minta maaf. Mas ikhlas, apalagi ini untuk calon anak kita." ucap Rama sambil tersenyum. Kian juga ikut tersenyum.
Rama melepaskan pelukan sang istri dan beranjak ke atas meja untuk membuka bungkusan sop buah.
"Oh iya, ini sop buah yang kamu pesan tadi." Rama menyerahkan sop buah itu. Di dalam bungkusan itu ternyata sudah ada mangkuk kecil dan juga sendok.
"Mas dapet dari mana? Ini kan udah malam? Mana ada orang yang jual sop buah sampai tengah malam? Jangan-jangan itu yang jual setan lagi."
"Hus, jangan ngomong yang aneh-aneh. Anggap aja ini adalah rezeki calon anak kita. Sudah ayo makan setelah itu langsung tidur."
Kian terdiam menatap sop buah itu. Rama yang melihat hal tersebut jadi bingung.
"Tapi aku… aku udah gak mau makan sop buah," ucap Kian lirih.
"Apa? Tapi.. tapi tadi kamu kan.. tadi…"
"Iya tadi aku emang pengen makan sop buah. Tapi Mas nya kelamaan. Aku jadinya udah gak mau makan sop buah lagi," ucap Kian tersenyum kikuk.
"Ya Tuhan. Sayang, aku udah cari ini kemana-mana loh. Kenapa sekarang kamu gak mau memakannya?" kata Rama memelas.
"Hmm, ya udah gini aja. Daripada mubazir mending sop buahnya Mas aja yang makan. Aku mau istirahat dulu. Ngantuk. Nanti kalau Mas udah makan, Mas langsung tidur aja ya," ucap Kian.
__ADS_1
Dengan wajah tanpa dosa, wanita itu langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menutup seluruh badannya dengan selimut, lalu mulai memejamkan matanya. Meninggalkan Rama yang masih terbengong dengan tangan yang memegang satu sendok sop buah. Karena kesal, satu sendok sop buah itu akhirnya dia masukan saja ke dalam mulutnya sendiri.
***
Kantor utama perusahaan Amarta's Group. Pagi itu Rama sedang mengadakan rapat dengan beberapa ketua bidang untuk membahas tentang perkembangan perusahaan selama tiga bulan kebelakang. Rama yang ditemani oleh Samir, sangat serius memperhatikan laporan dari para manajer itu.
Sesekali dia mengangguk-angguk, sesekali dia melemparkan pertanyaan, dan sesekali juga dia memberikan saran. Rama jarang sekali marah dalam pertemuan kali ini karena laporan dari para manajer itu pun cukup memuaskan baginya.
Saat Rama sedang memperhatikan penjelasan laporan dari bidang pemasaran, tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar. Awalnya Rama mengabaikannya. Akan tetapi karena panggilan itu terjadi terus menerus, akhirnya Rama pun meminta izin untuk keluar sebentar, untuk mengangkat telepon tersebut.
Rama berjalan keluar ruangan. Dari tempat duduknya, Samir hanya memperhatikan sahabat sekaligus atasannya itu.
"Ada apa suster?" tanya Rama kepada sosok yang sudah menghubunginya itu. Iya, itu adalah panggilan dari suster yang mendapat tanggung jawab dari Rama untuk menjaga Lian di rumah sakit.
"Hmm, maaf mengganggu Pak, tapi Nona Kian.. nona Kian…." ucap suster itu terbata.
"Ada apa dengan Kian?" tanya Rama sedikit panik.
"Nona Kian mengamuk. Dia seperti orang yang ketakutan. Kami sudah berusaha memberikannya obat tidur tapi dia terus mengamuk. Dokter bilang dia harus ditenangkan terlebih dahulu. Dan dokter bilang mungkin hanya anda yang bisa menenangkannya. Apa anda bisa datang sekarang?" tanya suster tersebut.
Rama melihat jam yang melingkar di tangannya. Dia berpikir sejenak. Apa baik jika dia meninggalkan rapat penting ini? Tapi hati kecilnya juga sangat mengkhawatirkan Lian. Rama menarik nafas panjang dan akhirnya dia pun mengambil keputusan.
"Baik. Aku akan segera datang ke rumah sakit." ucap Rama.
****
__ADS_1
****
****