
Rama tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa jika kali ini dia sudah berhasil membuat Samir kesal dan cemburu. Kian menoleh ke arah sang suami lalu menyipitkan matanya tanda dirinya sedang menyelidiki sesuatu. Sadar dengan tatapan sang istri, Rama pun dengan cepat mengusap wajah wanita di depannya itu.
"Hayo apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rama. Dia melangkah ke arah sofa diikuti oleh Kian. Wanita itu menyimpan makanannya di atas meja tapi tetap tidak melepaskan pandangannya dari wajah Rama.
"Jangan menatapku terus seperti itu? Apa kamu mau aku lepas kendali lagi?" ucap Rama.
"Kenapa kamu melakukan hal itu, Mas?" tanya Kian pada akhirnya.
"Melakukan apa?" ucap Rama berlagak tidak mengerti.
"Jangan bertingkah bodoh seperti itu Mas. Sekarang katakan padaku apa maksudmu bertingkah seperti itu di depan Samir?"
"Waaahh istriku sudah mulai berani rupanya ya?" tanya Rama dengan melipat kedua tangannya di dadanya. Sadar dengan apa yang sudah dia lakukan, dengan cepat Kian menunduk malu.
"Bu.. bukan begitu maksudku. Aku.. aku hanya…." Kian tergagap. Dia takut jika Rama akan marah lagi kepadanya. Akan tetapi ternyata dia salah. Bukannya marah Rama malah tertawa terbahak-bahak. Melihat wajah Kian yang memerah sungguh tampak sangat lucu di mata laki-laki itu.
"Sudahlah jangan dibahas. Mana makananku!" ucap Rama. Kian dengan cepat menyiapkan makanan yang dia bawa. Setelah selesai, gadis itu meletakkan piring berisi makanan itu di atas meja di depan sang suami.
"Hey, apa kamu tidak mendengar ucapanku tadi?" tanya Rama.
"Ucapan? Yang mana?" Kian lupa. Rama menghembuskan nafas pelan lalu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.
"Aku ingin kamu menyuapiku," bisik Rama.
Kian terdiam. Dia pikir itu hanyalah kalimat untuk membuat Samir cemburu saja. Tapi ternyata laki-laki ini benar-benar memintanya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau menyuapiku?" tanya Rama lagi saat melihat Kian hanya terdiam.
Dengan tangan sedikit bergetar, Kian mulai mengangkat satu sendok berisi nasi ke arah mulut Rama. Laki-laki itu pun melahapnya dengan semangat. Baru kali ini dia merasa sangat bersemangat untuk makan di kantor. Padahal biasanya laki-laki ini selalu saja ogah-ogahan.
Setelah satu suapan berikutnya masuk ke dalam mulut Rama, laki-laki itu dengan cepat mengambil sendok di tangan sang istri. Mulai mengambil makanan di piring dan siap menyuapkannya kepada sang istri.
"Apa Mas?" tanya Kian tidak mengerti.
"Makanlah. Apa lagi? Ayo! Kamu tahu makan dari tangan orang yang kita cintai secara langsung, itu menambah makanan ini beribu-ribu kali lebih nikmat," ucap Rama. Kian mematung. Sudah beberapa bulan dia menikah dan baru kali ini Rama mau menyuapinya dan itu pun penuh dengan cinta.
"Ayo!"
Dengan ragu Kian mulai memajukan kepalanya. Mulutnya sudah terbuka dan siap melahap makanan itu saat secara tiba-tiba perutnya merasakan mual yang begitu kuat. Gadis itu menutup mulutnya kuat-kuat. Melihat sang istri yang bersikap seperti itu membuat Rama khawatir.
"Lian kamu kenapa?" tanya Rama. Namun Kian tak menjawabnya. Matanya terus menatap seluruh ruangan mencari toilet.
Dengan cepat Rama menemani Kian ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Kian muntah-muntah. Perutnya seperti ada yang mengaduk-aduk dan itu rasanya sakit sekali. Rama terus memijat tengkuk leher sang istri. Ada rasa khawatir di hati Rama melihat kondisi sang istri yang seperti itu.
"Tadi kamu makan apa sih di rumah?" tanya Rama di sela pijatannya kepada sang istri. Tapi Kian tidak menjawab. Dia hanya terus mengeluarkan isi perutnya yang sejujurnya masih kosong karena sejak tadi dia belum makan sesuatu. Kian hampir saja turun untuk makan, saat Lian menghubunginya. Dan setelah itu sudah bisa ditebak apa yang terjadi. Dia melupakan jam makannya karena memikirkan apa yang dikatakan oleh saudara kembarnya itu.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Kian selesai dengan urusan wastafelnya. Rama membantunya duduk di sofa karena tubuh Kian tampak begitu lemas. Akan tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja tubuh Kian ambruk. Wanita itu pun tak sadarkan diri.
"Lian… Lian… Apa yang terjadi?"
Rama begitu panik. Dia segera membaringkan tubuh sang istri di sofa. Mencoba mencipratkan air ke wajahnya akan tetapi wanita itu masih juga belum sadar. Dengan cepat Rama menekan tombol di mejanya untuk memanggil Samir. Laki-laki itu ikut terkejut melihat kondisi Kian yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ada apa Pak?" tanya Samir.
"Cepat siapkan mobil. Antar aku ke rumah sakit sekarang!" Titah Rama.
Dengan cepat Samir berlari untuk menyiapkan mobilnya diikuti oleh Rama yang menggendong sang istri di belakangnya. Selama mengendarai mobil tak ada satu patah kata pun keluar dari bibir Samir. Hanya saja pandangannya terus bolak balik melihat ke arah kaca spion untuk memastikan kondisi Kian baik-baik saja. Laki-laki itu juga melihat bagaimana Rama yang begitu panik terus berusaha menyadarkan sang istri tapi sampai sekarang Kian masih belum juga sadar.
Mereka pun telah sampai di rumah sakit terdekat. Kian langsung dilarikan ke UGD untuk diperiksa secara total. Samir dan juga Rama berdiri bolak balik di depan ruang UGD. Kedua laki-laki itu panik memikirkan wanita yang sama-sama mereka cintai itu. Sesekali Rama terduduk di bangku yang ada di sana, menghentak-hentakan kakinya dan lalu kembali berdiri lagi. Melihat ke arah jendela kecil yang ada di pintu dan berharap dokter segera menyelesaikan pemeriksaannya.
Sedangkan Samir, otaknya terus berpikir apa yang terjadi dengan Kian? Padahal sesaat sebelumnya kondisi gadis itu tampak baik-baik saja. Tidak ada raut wajah sakit sama sekali. Lalu bagaimana bisa Kian sampai tak sadarkan diri?
Setelah beberapa menit berlalu, seorang dokter pun keluar dari ruang UGD. Dengan cepat Rama dan juga Samir berjalan mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Rama. Sang dokter menatap kedua laki-laki di depannya ini lalu tersenyum.
"Anda tidak perlu khawatir. Pasien tidak apa-apa. Justru saya yang harus mengucapkan selamat kepada anda," ucap dokter kepada Rama.
"Selamat?" tanya Rama tidak mengerti.
"Iya. Selamat. Istri anda sedang hamil," ucap sang dokter sambil tersenyum.
"Apa?" Ucap Rama dan juga Samir serentak.
Rama dan juga Samir memang mengucapkan kata yang sama akan tetapi dalam arti yang berbeda. Di dalam pikiran Rama, dia sangat bahagia karena sang istri sedang mengandung anak mereka, sedangkan di dalam pikiran Samir, dia merasa bingung. Bagaimana bisa Kian hamil? Sedangkan di antara Kian dan juga Rama tidak ada hubungan apa-apa. Apa mereka sudah melakukan hubungan suami istri?
****
__ADS_1
****
****