MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 105. RENCANA


__ADS_3

Malam itu Rama berbaring sambil memeluk Kian di atas tempat tidur. Setelah melewati perdebatan yang sangat panjang akhirnya Lian mau ditinggal sendiri di apartemen. Akan tetapi tetap saja, bukan Lian namanya jika dia tidak memberikan sebuah syarat. 


Lian mengizinkan laki-laki itu pulang malam ini dengan syarat kedepannya Rama harus bergantian menginap setiap akhir pekan. Awalnya Lian ingin Rama bisa bergantian menginap setiap satu hari sekali akan tetapi tentu saja laki-laki itu menolak dan pada akhirnya sebuah keputusan pun dibuat bahwa Rama akan menginap di apartemen bersama dengan Lian hanya di akhir pekan saja. Lian tidak keberatan dengan hal itu. Dia setuju. Iya setidaknya untuk beberapa hari kedepan. Karena dibalik semua ini, tentu saja wanita itu merencanakan sesuatu.


"Sayang," ucap Kian. Wanita itu kini semakin nyaman berbaring di samping Rama. Apalagi saat laki-laki itu melingkarkan tangannya di perut Kian dan mengusap-usapnya. Posisi tidur Kian membelakangi Rama namun kedua tubuh mereka saling menempel dengan ditutupi selimut tebal berdua.


"Hmm," jawab Rama dengan mata yang terpejam.


"Boleh aku bertanya sesuatu? Tapi berjanji lah bahwa kamu tidak akan marah."


"Hmm."


"Sayang, mau sampai kapan kita seperti ini?" tanya Kian lirih.


"Maksudnya?" ucap Rama masih tidak mengerti.


"Sayang, sejujurnya setelah Lian kembali dan berusaha untuk masuk ke dalam kehidupanmu , membuat hati ini menjadi sangat gelisah."


"Aku tidak mengerti."


"Sayang, seberapa kuatnya pun usaha kita untuk bisa bersama dan seberapa besarnya pun cinta di antara kita, tetap saja hal itu tidak akan merubah kenyataan jika Lian adalah istri sah mu. Dia lah yang berhak memilikimu sepenuhnya." Kian terdiam sejenak sebelum akhirnya dia melanjutkan kembali obrolannya.


"Bahkan jika seandainya saja tidak ada anak ini di dalam perutku, mungkin sudah dipastikan kalau wanita yang akan kamu peluk saat ini adalah Lian, bukan aku," ucap Kian lirih.

__ADS_1


Rama membalikkan tubuh Kian sehingga mereka pun kini saling berhadapan. Salah satu tangannya mengusap lembut pipi wanita itu.


"Sayang, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Ada atau tidaknya calon anak kita di rahimmu, tidak akan semata-mata membuat aku bisa langsung menerima Lian begitu saja. Apalagi cinta dan juga hatiku sudah aku serahkan kepadamu semuanya. Lalu bagaimana bisa aku menggantikan posisimu dengan Lian dengan sangat mudah?"


"Tapi dengan seperti ini, dengan hidup seperti ini, membuat aku merasa seperti aku ini seorang pelakor. Aku merasa jika aku seperti sedang berselingkuh dengan suami kakakku sendiri. Aku tidak tenang, Mas."


"Aku mengerti apa yang menjadi kegelisahanmu selama ini. Aku sangat paham." Rama dan juga Kian sama-sama terdiam sebentar.


"Sekarang aku mau tanya sama kamu?" ucap Rama lagi. Kian menoleh.


"Apa yang kamu mau dari Mas? Apa yang harus Mas lakukan? Apa Mas harus menceraikan Lian secepatnya? Jika itu mau kamu, maka Mas akan segera mengajukan surat perpisahan ke pengadilan."


"Tidak, bukan begitu Mas. Aku tidak mau jika gara-gara aku, Lian menjadi seorang janda."


"Aku…"


Rama memeluk wanita itu. Menempelkan wajah Kian di lehernya.


"Sudah jangan pernah memikirkan tentang hal ini lagi. Ingat besok lusa adalah pesta ulang tahun kakek. Akan ada pesta besar dengan banyak saudara dan juga relasi sebagai tamu undangan. Jadi aku minta, cerialah. Ok?"


"Hmm…"


Mereka berdua pun akhirnya tidur dengan posisi saling berpelukan.

__ADS_1


*** 


Di apartemen, Lian masih juga terjaga. Walaupun kondisi tempat tinggalnya saat ini bisa dikatakan sangat nyaman akan tetapi hati dan juga pikirannya yang masih tidak bisa tenang, membuat wanita itu belum bisa tertidur. Dia terus memikirkan cara bagaimana agar dirinya bisa menyingkirkan Kian dari kehidupan Rama. Dia juga terus mencari cara bagaimana agar dirinya bisa masuk ke dalam kehidupan keluarga Amarta sebagai istri dari Rama tentu saja.


"Sial. Kenapa jadi ribet seperti ini sih? Padahal aku kira semua bisa dengan mudah dikembalikan." Lian terus menggerutu di atas tempat tidur.


"Aaah, lagian si bodoh itu kenapa juga bisa hamil. Bukannya sejak awal aku sudah peringatkan dia untuk tidak melayani Mas Rama di atas ranjang? Aahh menyebalkan! Jika sudah begini, semuanya akan menjadi sangat sulit. Apalagi ditambah Mas Rama yang sangat mencintai gadis bodoh itu." Lian terdiam. Otaknya masih terus berpikir.


"Satu-satunya penghalang aku untuk bisa masuk ke dalam keluarga Amarta hanya anak itu. Iya, calon bayi di dalam perut Kian adalah batu terbesar yang sudah menghalangi jalanku. Hmm, sepertinya aku harus menyingkirkan batu besar itu. Untuk selamanya." Lian tersenyum menyeringai sesaat. 


"Tapi tunggu! Bagaimana aku bisa melenyapkan bayi itu? Rama pasti melarang aku untuk mendekati Kian setelah pertengkaran tadi siang di rumah sakit. Aaahhh…"


Lian menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur. Salah satu tangannya meraih sebuah remote lalu menyalakan televisi yang ada di depannya. Beberapa kali wanita itu mengganti saluran televisi karena menurutnya tidak ada yang menarik. Sampai satu berita menghentikan jarinya yang akan menekan tombol pindah.


Iya, satu berita yang memberitahukan jika pemilik perusahaan terbesar di negara ini, pemilik perusahaan Amarta's Group, Bimo Amarta, akan mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran di salah satu gedung hotel milik mereka. Sebuah pesta yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi swasta.


"Hmm, pesta ulang tahun Kakek Bimo ternyata," gumam Lian dengan senyum menyeringai. Di dalam otaknya terdapat sebuah ide yang sangat cemerlang.


Setelah mendapatkan rencana yang dia mau, akhirnya wanita itu pun bisa tidur dengan nyenyak. Entah rencana apa yang sudah Lian susun. Yang jelas itu akan berdampak buruk bagi Kian. 


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2