
Safira terdiam saat berhadapan secara langsung dengan Kakek Bimo. Apalagi wajah kakek Bimo yang biasanya selalu tampak ramah dan penyayang di depan Kian, akan tetapi di depan Safira berubah menjadi wajah tegas dan garang layaknya seorang pengusaha bertangan dingin. Dan inilah kakek Bimo.
"Kakek, Safira datang…." ucapan Rama terhenti oleh angkatan tangan sang kakek yang memberinya isyarat untuk tidak bersuara. Kakek Bimo kembali berjalan lebih mendekat ke arah Safira.
"Apa kabar Safira? Bagaimana petualang luar negerimu selama setahun? Lancar?" ucap Kakek Bimo ramah namun tetap auranya membuat bulu kuduk Safira meremang.
"Ba.. baik…" jawab wanita itu terbata.
"Bagus. Lalu kenapa kamu kembali kemari?"
"Aku… aku rindu pada Rama. Aku pikir aku dan Rama bisa…."
"Menikah???" potong kakek Bimo tersenyum. Safira menelan salivanya keras.
"Tapi sayang cucuku sudah menjadi milik orang lain. Jadi kamu tidak bisa mendapatkannya," ucap kakek Bimo lagi dengan santai. Safira menatap ke arah Rama yang hanya diam saja.
"Tapi apa kakek tau, selama beberapa hari ini, Rama selalu menemaniku. Setiap pulang bekerja, dia selalu datang ke apartemenku. Kami selalu bersama dan Rama tak pernah mengatakan kalau dia sudah menikah. Dan apa kakek tau, saat aku pertama kali melihat Lian, cucumu ini mengenalkannya sebagai saudaranya, bukan istrinya. Bukankah itu artinya Rama masih mencintai aku dan masih berharap bisa bersama denganku?" ucap Safira dengan nada sombong. Dia tidak suka didesak seperti itu oleh kakek Bimo.
Rama membulatkan matanya. Dia kaget karena hal yang selama ini dia dan sang istri sembunyikan dari sang kakek, sekarang malah dibongkar oleh sang kekasih sendiri. Rama menatap wajah sang kakek dengan pelan. Dia tau jika laki-laki tua itu pasti akan marah kepadanya.
Akan tetapi semua itu hanya hayalan Rama saja. Karena pada kenyataannya, kakek Bimo tidak melihat ke arah Rama sama sekali. Jangankan melihat, melirik pun tidak dia lakukan. Kakek Bimo tetap menatap Safira. Dan kini tampak bibirnya tersenyum. Sebuah senyuman yang tidak hanya membuat Rama terkejut tapi juga Safira.
"Aku tau," ucap kakek Bimo singkat.
__ADS_1
Baik Rama dan juga Safira kembali terkejut dengan perkataan singkat sang kakek. Tau? Jadi selama ini sang kakek tau jika Rama selalu menemui Safira setiap hari di apartemennya? Tapi siapa yang bilang? Sejak kapan? Dan bagaimana mungkin laki-laki tua itu hanya diam saja?
"Hmm, jadi kalian pikir aku hanyalah laki-laki tua yang bodoh yang bisa kalian tipu dengan permainan anak kecil seperti ini?" tanya Kakek Bimo. Rama dan juga Safira terdiam.
"Aku tau semuanya. Apa kalian lupa siapa aku? Aku adalah Bimo Amarta. Pemilik perusahaan Amarta's Group. Apa kalian pikir jika ini adalah hal kecil jadi bisa luput dari penglihatanku?"
"Kakek, aku… aku bisa jelaskan semuanya," ucap Rama terbata dan siap menerima amarah sang kakek atas semua yang sudah dia lakukan.
"Iya. Kamu memang wajib menjelaskannya kepadaku." kata Kakek Bimo menatap tajam ke arah sang cucu.
Safira masih menatap pasangan kakek dan cucu itu dalam diam. Bagaimana bisa dia sampai tertinggal sejauh ini? Memangnya selama dirinya pergi ke luar negeri, apa saja yang dilakukan sang ayah sampai berita sebesar ini saja tidak mereka ketahui.
Kakek Bimo kembali menatap satu-satunya wanita di depannya. Melihat dahinya yang sedikit mengerut, membuat sang kakek kembali tersenyum.
"Jangan pernah menyalahkan ayahmu jika kabar seperti ini tidak sampai ke tangan kalian," ucap kakek Bimo yang seketika menyadarkan lamunan Safira.
"Sudah aku katakan sebelumnya bukan, jika aku adalah sang pemilik perusahaan Amarta's Group, perusahaan terbesar di negara ini. Jika aku bisa mengetahui rencana kekanak-kanakan kalian dengan mudah maka bukan hal yang sulit juga bagiku untuk membuat kabar pernikahan Rama agar tidak sampai ke tangan kalian berdua," ucap Kakek Bimo lagi.
"Kamu memang laki-laki tua menyebalkan," teriak Safira.
"Safira jaga bicaramu pada kakekku!" tegas Rama.
"DIAAAMMM!!!" Teriakan gadis itu semakin kencang. Dia menatap ke arah sang kekasih.
__ADS_1
"Kamu… Kamu juga sama saja. Aku tidak akan tinggal diam atas semua kelicikan yang sudah kalian lakukan kepadaku. Aku dan ayahku akan membalas kalian semua. Lihat saja, kalian semua akan menyesal. Kalian semua akan hancur!" teriak Safira lagi. Dia benar-benar frustasi sekarang. Semua rencananya yang sudah dia susun sedemikian rupa nyatanya gagal sama sekali. Ternyata serangannya terlambat. Dia sudah kalah langkah terlalu jauh dari kakek Bimo.
"Sudahlah Safira. Hentikanlah ocehan omong kosongmu itu. Kamu dan juga ayahmu dari dulu sampai sekarang tetap saja hanya manusia lemah dimataku. Jadi seberapa tinggi pun kamu berteriak dan mengancam, itu tidak akan membuat hatiku gentar. Justru katakan kepada ayahmu yang tersayang itu. Jika dia ingin membalas dendam, terjunlah langsung sendiri. Tidak perlu memakai anak gadisnya sebagai alat. Seperti seorang pengecut saja," sindir kakek Bimo.
Safira sudah tidak tahan lagi. Lagipula dia sudah kehabisan kata-kata untuk membuat sumpah serapah kepada mereka. Semuanya kacau. Semuanya berakhir. Dan mereka harus menyusun rencana kembali dari awal untuk bisa menggulingkan kakek Bimo.
Dengan emosi, akhirnya Safira pergi meninggalkan pesta itu. Rama hampir saja memanggil namanya saat kedua matanya bertemu dengan kedua mata tajam sang kakek yang membuat dirinya mengurungkan niatnya tersebut.
"Dan kakek juga tau kalau kamu sudah memaksa istrimu untuk merahasiakan semuanya dari kakek. Apa kamu tidak malu melakukan hal itu? Sebagai seorang suami, sebagai seorang kepala rumah tangga, kamu meminta izin kepada istrimu sendiri untuk selingkuh? Dan menyuruhnya untuk tetap diam? Dimana hati nuranimu? Apa kamu tidak bisa merasakan bagaimana perasaan Lian saat kamu melakukan hal itu?"
"Maafkan aku, Kek," ucap Rama menunduk.
"Kakek sangat kecewa kepadamu. Tingkah lakumu kali ini benar-benar sudah kelewat batas. Selama ini kakek mendidikmu dengan baik, agar kamu bisa tumbuh menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Dan itu juga alasan kenapa kakek mengangkatmu menjadi CEO Amarta's Group. Tapi apa yang kamu lakukan? Bahkan sikap waspada yang selalu kakek latihkan kepadamu, semuanya hilang ditelan cinta butamu kepada wanita gila itu. Kamu terlalu menyanjung Safira, sehingga kamu melupakan untuk mencari tau siapapun yang berusaha dekat dengan keluarga Amarta."
"Apa maksud kakek?"
"Tidak mengerti? Kamu tidak mengerti? Lalu kamu pikir apa tujuan kakek selalu menolak hubungan kalian tanpa memberikan alasan yang jelas? Itu semua kakek lakukan agar kamu penasaran dan mulai mencari tau sendiri. Sehingga kamu tau apa alasan dibalik penolakanku selama ini. Tapi ternyata kakek salah. Kamu tidak peduli dan malah terus melanjutkan hubungan kalian di belakang kakek. Bahkan setelah kakek menikahkanmu dengan Lian, kamu tetap melakukan hal ini."
"Kakek, aku….."
"Kakek….." ucapan Rama terpotong oleh teriakan Kian yang memanggil kakek Bimo sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
****
__ADS_1
****
****