
Jam di tangan Kian sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan deras malam itu malah sudah mulai reda. Akan tetapi sampai sekarang orang yang ditunggu belum juga datang. Sesekali gadis itu kembali membuka ponselnya hanya untuk melihat apakah laki-laki itu membalas pesannya atau tidak. Akan tetapi sunyi. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Tanda di aplikasi pesan miliknya itu hanya terlihat dua ceklis berwarna hitam saja.
"Hmm, kamu kemana Mas? Apa yang sedang kalian lakukan sampai selarut ini?" gumam Kian.
Gadis itu kembali menatap langit yang semakin gelap saja. Hawa dingin terus menusuk pori-pori kulitnya membuat tubuh Kian mulai menggigil. Gadis itu kembali duduk di kursi yang ada disana dan menggosok-gosok tangannya lagi.
"Mas kenapa kamu tega ngelakuin hal ini sama aku?" batin Kian meratap. Bulir air mata kembali menerobos keluar. Rasa kecewa, rasa terluka, ditambah rasa dingin dan juga rasa takut terus menjalar di seluruh hati dan juga badannya.
"Apa Mas Rama sudah duluan pulang ke rumah ya?" ucap Kian kemudian. Kedua tangannya mengusap matanya yang masih basah. Sebuah pemikiran tentang suami pura-puranya itu sudah sampai di rumah dan sedang tidur pulas dan nyenyak di kamarnya mulai memenuhi otak Kian. Akan tetapi sesaat kemudian gadis itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran yang dirasa tidak masuk akal tersebut.
"Gak gak.. gak mungkin Mas Rama ngelakuin hal itu. Aku tau kalau dia emang nyebelin sama aku tapi dia paling tidak berani jika harus berhadapan dengan kakek Bimo. Disuruh menikah dan meninggalkan pacarnya aja, dia nurut. Gak. Mas Rama gak mungkin pulang sendiri. Bisa habis dia urusan sama kakek Bimo jika ngelakuin hal itu."
Kleteng kleteng
Suara sebuah kaleng yang ditendang menyadarkan Kian dari lamunannya. Gadis itu melihat ke bawah dimana sebuah kaleng bekas bergelinding ke arahnya. Selang beberapa saat kemudian, Kian melihat bayangan tiga orang laki-laki berjalan menuju ke arahnya.
"Hey, kenapa kamu menendangnya ke sana?" Ucap laki-laki ke 1. Dari cara bicaranya terdengar jika mereka sedang mabuk.
"Maaf, aku pikir lurus. Ternyata belok," jawab laki-laki ke 2.
"Hey, kenapa ada wanita cantik sendirian di taman malam-malam begini?" ucap laki-laki ke 3 sambil mengucek matanya. Diikuti oleh kedua temannya yang juga melihat ke arah Kian.
"Hey, itu manusia, bidadari, atau kuntilanak?" tanya laki-laki ke 1. Mereka bertiga terus berjalan mendekati Kian membuat tubuh gadis itu semakin bergetar ketakutan.
"Siapa kalian? Pergi!! Jangan mendekat!!" teriak Kian.
Ucapan Kian berhasil membuat ketiga laki-laki itu tersenyum.
"Dia manusia, bro," ucap laki-laki ke 3.
__ADS_1
"Iya. Cantiknya!" Kata laki-laki ke 2.
Mereka bertiga sudah semakin dekat saja kepada Kian. Air mata yang tadi sempat terhenti, karena rasa takut, kini terjatuh lagi.
"Pergi!!" teriak Kian. Akan tetapi ketiga laki-laki itu sudah masuk ke dalam gazebo taman tempat Kian berteduh.
"Wahh semakin dekat ternyata gadis ini terlihat semakin seksi dan menggoda," ucap laki-laki ke 1.
"Iya kamu benar. Hey Nona, sedang apa kamu sendirian disini? Sedang menunggu pelanggan ya?" tanya laki-laki ke 3.
Ketiga laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Apa? Pelanggan? Apa mereka berpikir kalau Kian adalah wanita panggilan atau wanita yang suka menjajakan tubuhnya di pinggir jalan?
"Hey Nona. Bagaimana kalau kamu layani kita bertiga saja? Tenang saja kami punya uang untuk membayarmu."
Ucapan laki-laki ke 2 itu semakin membuat Kian ketakutan. Air mata semakin deras keluar dan dia tidak tau harus bagaimana. Ingin berteriak? Tapi siapa yang akan mendengar. Dari sejauh mata memandang taman itu sepi. Tak ada satu orangpun disana ataupun hanya sekedar lewat. Bahkan tak ada satu kendaraan pun yang melintas kesana. Sedangkan toko-toko yang berjejer juga semua sudah tutup. Lalu pada siapa Kian harus meminta tolong?
"Mas tolong aku!" batin Kian memanggil sang suami.
"Kurang ajar! Cepat kejar gadis itu!" ucap laki-laki yang meringis tadi.
Walaupun dengan langkah yang sedikit sempoyongan akan tetapi kedua laki-laki itu terus berlari mengejar Kian. Gelapnya malam dan pandangan yang sedikit tertutup air hujan, membuat Kian terpeleset dan jatuh. Saat dirinya membalikkan badan hendak berdiri, celakanya ketiga laki-laki itu sudah berdiri di depannya dengan senyum menyeringai.
"Mau lari kemana sayang?" tanya laki-laki 1 yang berjalan terlebih dulu mendekati mangsanya.
Laki-laki itu membungkuk dan tangannya bersiap untuk menyentuh pipi Kian saat tiba-tiba
BUGH
Sebuah tendangan keras mendarat di tubuh laki-laki itu, membuat dia jatuh terpelanting ke arah samping. Kedua laki-laki di belakangnya terkejut dan lalu melihat seorang laki-laki tegap dan tampan berdiri di samping wanita itu.
__ADS_1
"Mas," panggil Kian lirih. Rama membantu Kian berdiri.
"Hey, siapa kamu? Berani sekali mengganggu kesenangan kami?" teriak laki-laki ke 3.
"Jangan pernah berani mengganggu wanita ini atau kalian akan menyesal," ucap Rama dingin dengan pandangan mata yang menusuk.
"Kurang ajar."
Ketiga laki-laki itu menyerang Rama secara bersamaan. Akan tetapi Rama sangat mudah mengalahkan mereka. Apalagi kondisi mereka juga sedang mabuk. Dan itu membuat serangan mereka selalu saja meleset. Rama memukul dan menendang ketiga laki-laki itu sampai mereka kalah dan akhirnya meminta ampun.
Rama sudah hampir menyerang kembali ketiga laki-laki yang sudah terduduk babak belur itu. Akan tetapi dengan cepat Kian menahannya.
"Mas jangan. Kalau kamu menyerangnya lagi, mereka bisa mati," ucap Kian. Melihat ada celah, ketiga laki-laki itu berlari dan langsung kabur dari sana.
"Hey!!!" teriak Rama.
"Mas sudah. Jangan dikejar. Yang penting aku tidak apa-apa," ucap Kian lagi.
Rama menatap wanita di hadapannya. Wanita yang ia ketahui sebagai istrinya itu tampak sangat berantakan. Pakaian putihnya sudah kotor terkena lumpur, rambutnya berantakan, dan tak terlewat juga wajahnya sudah tampak pucat karena kedinginan.
"Ayo!" ajak Rama. Dia melepaskan kemejanya dan memasangkannya ke tubuh sang istri lalu memeluknya dari samping dan membantunya berjalan ke arah mobil.
Kian sesekali mencuri pandang kepada laki-laki di sampingnya. Tampan. Setelah lebih dari sebulan mereka tinggal bersama, baru kali ini Kian bisa menyadari jika sosok laki-laki yang merupakan suami dari kakaknya itu sangat tampan. Apalagi perhatiannya dan juga pelukannya malam ini. Walaupun dia tidak memeluknya secara utuh tapi dengan posisi seperti ini saja sudah membuat jantung Kian berdetak sangat kencang. Dan Kian sadar kalau rasa ini berbeda dengan rasa takut yang dia rasakan tadi.
"Hati, apa yang sudah terjadi padamu?"
****
****
__ADS_1
****